
Bianca yang pagi itu terlihat sudah siap untuk menghadiri pertemuan penting dengan seseorang designer ternama, terlihat ragu. Baru beberapa menit yang lalu Ia berkata pada suaminya akan bertemu dengan designer yang bernama Sherlin itu, lalu Skala berkata bahwa Sherlin sempat berkencan buta dengannya dulu.
"Kakek pernah hampir menjodohkan ku dengan dia."
"Kenapa kamu tidak bercerita tentang gadis-gadis yang pernah hampir dijodohkan dengan 'mu ke aku?" tanya Bianca sedikit kesal.
"Kamu tidak pernah bertanya, lagi pula kalau aku tiba-tiba cerita kamu pasti akan cemburu buta." goda Skala.
"Ish ... awas kamu ya!" Bianca mencebik kesal, bagaimana pun juga Ia tidak bisa mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan, lagi pula hanya kencan buta, Skala tidak pernah benar-benar jatuh atau suka ke Sherlin.
Akhirnya Bianca bertemu dengan designer itu, sepertinya Prawira memiliki selera tinggi ke wanita yang dulu akan dijodohkannya dengan sang cucu kesayangan. Jelas Sherlin begitu anggun dan cantik, Bianca tidak bisa memungkiri yang satu itu.
Terlibat perbincangan serius, ponsel Bianca bergetar. Ia tengok dan ternyata ada beberapa chat yang masuk di group geng sultini blok Kamboja. Alisnya terangkat ke atas sementara matanya menyapu sekilas pesan yang nampak di layarnya.
"Sherlin, apa kamu bisa mendesignkan produk celana anuable untuk Neil Fashion?"
Pertanyaan Bianca membuat wanita itu kebingungan, "Maaf! celana apa-?"
"Anuable, produk yang memudahkan untuk melakukan itu."
Sherlin tercekat, permintaan macam apa ini? bagaimana bisa dia mendesign produk mesum seperti itu. Meskipun merasa permintaan Bianca aneh, Sherlin berkata akan berusaha mencoba melakukan apa yang ibunda Rain itu minta. Setelahnya mereka terlibat perbincangan ringan.
***
Sore harinya, Bianca terlihat berseri-seri. Ia dan Rain bahkan menyambut Skala di depan pintu rumah. Melompat ke pelukan sang papa, Rain terlihat sangat manja.
“Kenapa dia?” tanya Skala ke Bianca.
__ADS_1
Istrinya itu hanya tersenyum, “Aku bertanya ke dia, apa dia mau adik?"
"Lalu apa Rain mau?" Skala menatap wajah putra kesayangannya itu gemas.
"Awalnya dia tidak mau, tapi setelah aku berkata papa akan memberikannya sebuah mobil sport, dia mengangguk berkali-kali."
"Astaga Rain, kenapa matre mama 'mu menurun kepada 'mu seperti ini?"
Bocah berumur tiga tahun itu hanya tertawa, tak peduli dengan sang Papa yang belum mandi, persis seperti Bianca yang selalu menempel pada Skala.
***
"Bagaimana pertemuan 'mu dengan Sherlin?"
Saling berpelukan di atas ranjang markas mereka, Skala bertanya dengan lembut sambil menepuk-nepuk punggung Bianca.
"Kamu tidak menanyakan hal yang tidak-tidak kan Ca?"
Bianca menggeleng, Ia angkat kepalanya. Dibelainya pipi Skala lalu sebuah kecupan di bibir. "Aku tidak peduli, lagi pula kamu juga sudah menjadi milik 'ku, lebih baik kita fokus memberikan adik untuk Rain."
"Apa ini kode?" Skala melompat ke atas tubuh Bianca yang nampak menyatukan kedua tangannya ke depan dada.
"Selain meminta design untuk office look produk Niel Fashion, aku juga meminta Sherlin mendesign celana anuable."
Skala pun terkekeh geli mendengar dua kalimat terakhir istrinya. "Kamu ya, memang mesum."
"Em ... No... No idenya dari Mina."
__ADS_1
"Apa? bocah itu?" Skala yang masih mengungkung tubuh Bianca mengerutkan matanya.
"Ish ... dia sudah menikah, dia bukan bocah." Bianca menggigit sensual bibir bawahnya, Ia menarik tengkuk Skala sampai kepala suaminya itu jatuh di sebelah kepalanya. "Aku tidak sabar mencoba produk yang di design mantan kencan buta 'mu," bisiknya erotis.
"Aku tidak sabar menemui piranha kesayangan 'ku." Skala mencumbui pipi Bianca dan menggigit telinga istrinya itu.
_
_
_
_
_
_
_
_
masih Ada orang ga ya?? 😛
Like dan Komen ya
love you
__ADS_1