Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
Bonus Bab 3 : Berpetualang


__ADS_3

Menghentikan mobilnya di depan pagar menunggu sang pembantu rumah tangga membukakan pintu, Bianca heran karena putranya yang baru saja dia jemput dari rumah Prawira langsung turun dan berjalan ke arah rumah tetangganya.


Melongokkan kepalanya dari jendela, Bianca memanggil bocah itu sambil keheranan.” Rain, hei … Rain, mau kemana?”


“Ke rumah Onty Mina,” jawab Rain santai.


“Apa tidak cukup bermain seharian di rumah kakek buyut?” tanya Bianca heran melihat tingkah putra kesayangannya.


“Lintang saja tidak pulang, kenapa aku tadi harus pulang?” rajuk Rain dengan muka kesal.


Kali ini Skala yang gemas, alih-alih keluar dari dalam mobil dia malah melongokkan kepalanya persis seperti yang dilakukan sang istri.


“Hei … Rain, sampaikan salam papa ke Uncle Nic.”


Bianca melotot tak percaya, bukannya mencegah sang anak pergi ke rumah tetangganya, Skala malah seolah menyuruh Rain bergegas pergi ke sana.


“Apa?” tanya Skala berpura-pura tak bisa membaca maksud Bianca. “Biarkan saja! aku butuh asupan gizi Ca!” rengeknya.


-


-


Mendorong tubuh istrinya sesaat setelah membuka pintu markasnya, Skala ingin segera melucuti pakaian yang melekat di tubuh Bianca. Namun, fokusnya teralihkan dengan notifikasi ponselnya dan juga milik Bianca yang berbunyi secara bersamaan.


Beni


[Pak, saya tahu siapa orang yang berebut tanah itu dengan bapak, orang itu tak lain adalah istri anda sendiri, Ibu Bian]


Bayu


[Bu, orang yang menawar tanah dengan harga tiga puluh miliar ternyata adalah pak Skala.]


Langsung meletakkan ponsel mereka seolah baru saja menerima pesan yang tidak penting, Bianca langsung bersikap manis, Ia bahkan melebarkan lengannya dan memeluk sang suami.

__ADS_1


“Sayangku,” ucapnya merayu.


Untuk mengembangkan bisnis masing-masing, baik Skala dan Bianca sedang mengincar sebuah tanah di pusat kota. Skala yang berpikir istrinya masih tidak tahu perihal masalah tanah itu bersikap terbuka. Ia membiarkan Bianca bergelayut manja di dalam dekapannya. Skala bahkan membiarkan wanita itu menggerayangi Anaconda miliknya.


“Berapa hari kita tidak melakukan itu Ska?”


“Entahlah Ca, aku sudah lupa karena terlalu lama,” jawab Skala. Jelas ia berdusta, mana mungkin seorang Skala Prawira bisa lupa kapan terakhir melepaskan anacondanya untuk berpetualang ke dalam sarang piranha.


“Aku akan menyiapkan air untuk kita mandi.” Bianca berbisik manja ke telinga Skala, membuatnya merinding apalagi saat istrinya itu dengan sengaja menggigit kecil cuping telinganya.


“Tidak usah mandi, untuk apa jika nanti kita berkeringat lagi.”


Mengangkat dan membanting tubuh Bianca ke ranjang, Skala melepas kaus yang melekat di badannya. Meskipun awalnya hanya ingin merayu, tapi Bianca akhirnya kalah iman juga. Ia menarik Skala sampai pria itu terjerembab menindih tubuhnya.


“Aku akan memberimu servis, tapi setelahnya lakukan apapun yang aku minta!”


Skala yang tidak memiliki prasangka dan berpikir istrinya tidak akan meminta yang aneh-aneh, dengan sukarela menyerahkan tubuhnya. Ia berbaring terlentang setelah melepas kemeja Bianca, membiarkan emak Rain itu memanjakan anaconda miliknya, sungguh perlakuan Bianca membuatnya tak bisa berkata-kata. Skala hanya bisa mendesau, merintih nikmat sambil sesekali menutup mata.


Bianca tak berhenti sampai di sana, seolah tangannya memiliki mata, dengan mudah Ia melesatkan anaconda Skala masuk ke dalam mulut piranha miliknya. Menghentakkan pinggangnya dengan ketukan dua satu dua, Bianca sukses membuat Skala kelimpungan. Suaminya itu hanya bisa mengumpat kenikmatan.


Bianca bahkan meminta Skala memasukinya dari belakang. Namun, ibunda Rain itu masih terus mendominasi permainan, Ia tak membiarkan sedetikpun suaminya bekerja. Memaju mundurkan tubuhnya, Bianca sukses membuat Skala mengerang dan mencengkeram pinggangnya. Ia merasakan tubuhnya ikut bergetar bersamaan dengan Skala. Sesuatu mengaliri pahanya.


Roboh, Skala terengah-engah. Ia kelelahan padahal tidak melakukan apa-apa.


"Oh Ca, kamu benar-benar brutal," ucapnya sambil melebarkan lengan karena Bianca meringsek sambil menarik selimut ke arahnya.


Saling menautkan bibir mereka dan memainkan lidah, Bianca menangkup pipi sang suami, menjauhkan muka kemudian tertawa. Dipeluknya Skala erat-erat. Biar kata sudah tidak six pack seperti dulu, Bianca benar-benar masih sangat mencintai pria itu.


"I love you," bisik Skala mesra. Dielusnya lengan Bianca yang nyaman menyembunyikan muka di ketiaknya.


Bianca menganggukkan kepala, lantas menjauhkan mukanya. Ditatapnya wajah Skala yang terlihat bahagia karena baru saja mendapat nikmat surga dunia.


"Aku sudah memberimu servis yang memuaskan, iya kan?" tanya Bianca.

__ADS_1


"Hem... " jawab Skala sambil mencium kening istrinya.


"Saatnya aku mengatakan apa yang aku minta."


"Katakan saja!"


"Biarkan aku membeli tanah di pusat kota, jangan berebut denganku."


"Apa?"


Skala melebarkan manik matanya, sementara Bianca sudah tersenyum manis karena kemenangan sudah berada di depan matanya.


_


_


_


_


"Rain, apa kamu tidak pulang?" tanya Nic melihat anak tetangganya itu masih asyik tidur tengkurap di depan televisi di ruang keluarga miliknya. "Ayo Uncle antar!"


Rain hanya menggeleng, anak itu sepertinya sudah menganggap rumah Nic dan Mina seperti rumahnya sendiri.


Lagi pula kemana papa dan mama anak ini? sudah malam, apa tidak takut anaknya di culik kolongwewe. Gumam Nic dalam hatinya.


_


_


_


_

__ADS_1


Like sama Komen aja


🤗


__ADS_2