Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Urutan Berapa?


__ADS_3

Bianca menatap jam yang ada di dinding, kemudian berpaling melihat Skala yang sudah hampir dua jam duduk sambil menimang anaknya.


"Ska, kamu dari semalam belum tidur lho! sini biar Rain sama aku, dia juga sudah saatnya mendapat ASI lagi," pinta Bianca.


Respon dari Skala hanyalah menggelengkan kepala, tanpa melepaskan pandangan dari bayi mungil yang berada di pelukannya, Ia pun menjawab, "Aku tidak lelah."


"Aku masih tidak percaya makhluk mungil Ini anak kita Ca."


"Kamu masih tidak percaya kalau pabrik mu bisa menghasilkan bayi lucu seperti Rain? Bawa sini Ska…la! kamu tidak ingat? dokter bilang dua jam sekali dia harus menyusu." Bianca meminta Rain dari tangan suaminya.


Skala akhirnya berdiri dan dengan sedikit terpaksa menyerahkan sang putera ke pelukan istrinya.


"Tenang saja, besok setelah pulang ke rumah aku akan membiarkanmu bersama Rain sepanjang malam, tanpa merebutnya darimu," ucap Bianca dengan senyum liciknya.


Skala belum tahu bahwa menjaga bayi bukanlah perkara gampang, Rain baru berumur satu hari, maka seperti bayi pada umumnya yang dia kerjakan hanyalah tidur dan menangis saat lapar, atau saat merasa kurang nyaman.


Bianca baru saja akan menempelkan asetnya ke mulut sang anak, tapi tiba-tiba pintu kamar rawatnya terbuka lebar tanpa suara ketukan terlebih dulu. Terang saja, Skala langsung melonjak kaget dan menutupi bagian dada istrinya dengan tubuhnya, seperti memeluk Bianca dengan Rain yang berada di tengah.


Skala terlihat menggertakan giginya, Ia kesal melihat Tama masuk kedalam tanpa permisi. bagaimanapun juga Skala tidak ingin bukit jajahannya yang untuk sementara sudah dikuasai Rain dilihat oleh laki-laki lain.


"Bisa tidak kamu mengetuk pintu sebelum masuk? kamu pikir Ini rumahmu sendiri?" Skala mengomel.


Tama mencebikkan bibirnya melihat kelakuan sepupunya. Ia yang datang sendirian tanpa sang istri sebenarnya hanya mampir setelah mengambil hasil tes DNA.


Skala menarik kakak sepupunya untuk keluar kamar agar sang istri ingin menyusui anaknya dengan nyaman. Tama masih saja terus menggoda Skala. Meskipun cucu kesayangan Prawira itu menghalangi pandangannya, Tama terlihat berusaha menoleh ke sana kemari agar bisa melihat Bianca.


"Kamu mau dihajar?"


Tama tertawa sambil meminta ampun ke Skala yang mengancam akan menghajarnya. Kedua papa muda itu lalu duduk di kursi tunggu yang berada di luar. Tama mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya ke Skala agar ia bisa membaca dan mengeceknya hasil tes DNA itu sendiri.


"Hasil tes mengatakan aku memiliki sembilan puluh sembilan persen kecocokan DNA dengan papa mertuamu, itu artinya aku adalah anak kandung Nataniel dan Bianca adalah adikku."


"Mustahil!" Skala masih tak percaya, Ia tatap dalam-dalam wajah Tama.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Skala penasaran dengan keputusan yang akan diambil sepupunya.


"Entahlah! sepertinya cukup Bianca dan kamu saja yang tahu, aku tidak berniat masuk ke dalam keluarga Nataniel."


Saat keduanya masih membicarakan hal itu, Skala kaget karena tiba-tiba perawat masuk tergesa ke dalam kamar. Ternyata Bianca menekan tombol emergency agar seseorang segera datang ke kamarnya.


"Ada apa?" tanya Skala yang terkejut dengan kehadiran perawat. Ia masuk ke dalam dengan cemas.


"Tidak ada apa-apa, Rain muntah, aku kira dia kenapa-kenapa ternyata kata suster dia cuma kekenyangan."

__ADS_1


Skala pun bernapas lega, melihat suster mengganti baju bayi kecilnya dengan cekatan di atas ranjang. Tama yang ikut masuk pun tersenyum, karena dia dan Felisya juga mengalami hal yang sama.


***


Tak ada box bayi, belum ada kamar yang dihias dengan ragam pernak pernik bayi. Bianca dan Skala memutuskan tidur bertiga di markas sambil menyiapkan kamar bermain sang anak.


Bayi kecil itu tertidur di antara kedua orangtuanya, Skala menggerakkan jari telunjuknya yang sengaja dia genggamkan ke tangan Rain. Ia ciumi tangan mungil anaknya berkali-kali.


"Kamu cuti tiga bulan kan?" tanyanya ke Bianca.


"Hem, tapi kondisional ya."


Skala menatap Bianca dengan pandangan heran. Ia tengah menerka keinginan sang istri di dalam pikirannya sekarang.


"Aku tidak akan menomor duakan Rain, dia prioritasku sekarang, tapi memang jika mendesak aku mohon kamu izinkan aku pergi ke kantor ya." Bianca membujuk.


Skala mengangguk pelan, hal yang terpenting baginya sekarang adalah kebahagiaan Bianca. Ia sadar istrinya harus bahagia agar Rain juga ikut bahagia.


"Jadi aku sekarang di urutan ke berapa dalam prioritas hidupmu?" goda Skala. Ia bangun, sedikit menggeser Rain dan berpindah berbaring di belakang istrinya. Memeluk Bianca yang masih memandangi wajah damai anaknya yang terlelap tidur.


"Kamu? benar ingin tahu?" Membalik badannya, Bianca memandangi wajah Skala sambil berpura-pura berpikir.


"Sepertinya sulit ya bagimu memutuskan di urutan ke berapa suami sultanmu ini berada?"


"Kamu di urutan nol."


Skala tertawa, didorongnya kening sang istri dengan keningnya.


"Nol itu juga angka Ska, kamu selalu ada di urutan atas, kurang dari nomor satu dalam hidupku," ucap Bianca memberi alasan.


"Lalu apakah Rain di posisi satu?" Skala membelai pipi Bianca, menciumnya lembut.


Bianca menggeleng, "nomor satu adalah Neil Fashion."


Sontak Skala menatap belahan jiwanya itu dengan pandangan tak percaya, bagaimana bisa Bianca tidak mengutamakan anaknya.


"Lalu Rain?"


"Rain Ada di posisi yang sama denganmu, kalian tidak bisa diberi urutan, bagiku kalian yang paling berharga."


Skala tersenyum, tangannya menarik tengkuk Bianca, bibir mereka hampir menyatu saat Rain tiba-tiba saja bangun dan menangis. Namun, bukan Skala namanya jika tidak bersikap seenaknya.


"Pinjam mama sembilan belas detik ya Rain!"

__ADS_1


Skala meminta izin ke bayi yang baru berumur kurang dari satu minggu itu, Ia benar-benar melumaat bibir Bianca selama sembilan belas detik, itu berarti sembilan belas detik Ia membiarkan anaknya menangis, setelahnya Skala bangun dan membiarkan istrinya menggendong Rain.


"Melepaskan kecebong membutuhkan waktu lebih dari sembilan belas detik Rain, apalagi sampai bisa menjadi bentuk sepertimu, butuh waktu berjam-jam."


Ucapan Skala terdengar menggelikan di telinga Bianca. Ia pun sadar harus mulai beradaptasi dengan kehadiran malaikat kecilnya dan Skala itu.


"Tenang saja papa! mama punya bala tentara," ucap Bianca. "Geng sultini blok kamboja."


Skala langsung tertawa mendengar kalimat yang terlontar dari bibir sang istri, Ia pun mengacungkan telunjuknya ke Bianca.


"Cerdas!" Setidaknya perkara hiya hiya aman sentosa.


-


-


-


-


-


-


otor : Alumnus UHAH mana suaranya?


Reader : Sibuk mengikuti perkuliahan di novel sebelah.


otor : mau ambil gelar apa lagi sekarang?


Reader : MA tor Master Anuable


Otor :



...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE nya di Sorry Mr. CEO aja ya...


...makasih...

__ADS_1


__ADS_2