Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Masa Lalu


__ADS_3

Pertemuan singkat kedua cucu Prawira itu dengan asisten Madam Zi membuahkan satu nama beserta profil lengkap wanita yang sudah mereka pilih bersama.


Seorang politikus ternama yang Skala harap bisa mengimbangi tingkah polah kakeknya, begitu juga Tama yang berharap agar pria tua itu mendapat pasangan yang sedikit berbeda, anti mainstream. Siapa tahu Skala dan Tama ingin maju menjadi kandidat presiden dan wakil presiden di bawah bimbingan calon nenek mereka.


Presiden dan wakil presiden rakyat mesumable.


"Ska, sepertinya aku pernah melihat salah satu wanita yang dipilihkan Madam Zi untuk kakek, tapi aku lupa dimana." Tama menatap adik sepupunya yang terlihat menatap keluar jendela, melamun.


Skala yang memang tidak fokus buru-buru meminta maaf karena tidak mendengarkan apa yang Tama ucapkan barusan.


"Maaf Tam, kamu bilang apa?"


"Sudahlah lupakan!" Tama tak menganggap penting prasangkanya tentang foto wanita yang tidak dia ingat siapa, padahal wanita itu adalah ibunda Nuna.


Mengalihkan pembicaraan, Skala lantas bertanya kepada Tama apakah kakak sepupunya itu ingin sekalian menjenguk kedua orang tuanya di penjara. Namun, Tama menolak tawarannya.


"Aku akan menemui mereka saat kakiku sudah pulih seratus persen, aku bisa berkunjung nanti."


Tama langsung memalingkan mukanya, sepertinya suami Felisya itu masih tidak sanggup berhadapan dengan wanita yang melahirkannya jika mengingat kembali perbuatan keji perempuan itu kepada Skala.


***


Setibanya di rumah, Skala yang duduk di atas ranjang terlihat termenung. Ia bingung menjelaskan tentang kakak iparnya yang menjadi kandidat pilihan Madam Zi ke istrinya.


Bianca yang baru keluar dari kamar mandi terlihat mengusap perutnya sambil mengerutu karena merasakan gatal di area itu. Ia harus sabar menghadapi ketidak nyamanan yang kadang memang dialami oleh wanita hamil yang berada atau sedang menginjak trimester akhir kehamilan.


"Jangan digaruk! sini aku elus-elus." Skala menawarkan diri.


Bianca mendekat kegirangan, gadis itu menyingkap kausnya hingga terpampang perutnya yang sudah memperlihatkan garis yang seakan membagi tubuhnya menjadi dua bagian.


"Bagaimana pertemuanmu dengan Madam Zi?" tanya Bianca sambil mengacak-acak rambut suaminya.


Skala pun bercerita kepada sang istri perihal pertemuannya dengan asisten madam Zi dan bukan mak comblang itu sendiri yang datang. Air muka Skala berubah saat mengingat Diana menjadi salah satu kandidat yang diajukan wanita itu.


"Tapi Ca, salah satu wanita yang madam Zi pilihkan adalah Kak Diana."


Menghentikan tangan Skala yang masih sibuk mengusap perutnya, Bianca menolak dengan tegas informasi yang Skala sampaikan. "Tidak mungkin! pasti kamu salah lihat Ska, Kak Diana kan masih menjadi istri Billy, aku tahu mereka saling mencintai jadi mustahil dia mendaftarkan diri ke mak comblang sebelum bercerai dengan Billy." Bianca menatap Skala kebingungan.


"Aku juga berpikiran seperti itu pada awalnya, tapi aku benar-benar melihat dengan mata kepalaku sendiri itu adalah Kak Diana. Apa kamu tidak merasa aneh? kenapa dia meminta bantuan mak comblang untuk mencarikan jodoh sedangkan dia masih memiliki suami?"


Pertanyaan Skala membuat Bianca terdiam, pikiran mama peanut itu melayang, memikirkan sang keponakan jika kemungkinan yang dilihat Skala adalah benar sang kakak ipar.

__ADS_1


***


Sementara tanpa semua orang tahu, Diana menyimpan semua luka hatinya seorang diri. Ibunda Nuna itu sudah sejak lama tahu bahwa sang suami tidak mencintainya lagi, bahkan lima tahun yang lalu Billy pernah jujur kepadanya bahwa Ia mencintai istri dari Papanya, yaitu Kiran.


Salah satu alasan Diana bertahan di keluarga Nataniel tak lain adalah sang puteri semata wayang, Diana ingin melihat Nuna lulus sekolah menengah atas, setelahnya dia ingin berpisah dengan Billy.


Membuka pintu kamar sang anak, Diana melihat Nuna sedang sibuk dengan laptopnya. Wanita itu lantas memilih pergi tanpa menyapa agar tak mengganggu puterinya yang sedang belajar.


Diana melangkah masuk ke dalam gudang yang letaknya terpisah dari rumah utama, Ia menatap sebuah lukisan lusuh yang dibuat oleh Brian tergantung pada tembok. Perlahan wanita itu menurunkannya secara hati-hati, netranya menatap sebuah brangkas yang berada di baliknya.


Perlahan Diana menekan empat angka yang merupakan kode untuk membuka perangkat itu, matanya menatap ke dalam, tak ada emas atau intan permata di dalam sana, yang ada hanyalah dua buah buku diary.


Lima tahun yang lalu, Diana tahu bahwa sang suami jatuh cinta ke istri kedua sang ayah, usia yang tak terpaut jauh, keelokan wajah, bakat Kiran serta kelemah lembutan hati ibunda Bianca itu menjadi alasan yang paling masuk akal bagi Diana yang sedang terluka di saat Billy berkata tidak mencintainya lagi.


Diana yang tahu bahwa ibu mertuanya sering menulis diary secara diam-diam mencurinya. Ia penasaran ingin mengetahui bagaimana perasaan Kiran yang sebenarnya kepada sang suami. Diana tak berani bertanya langsung ke sang mertua, hidupnya selama ini dipenuhi rasa tak percaya diri, sifatnya sangat jauh berbeda dengan Nuna.


Sementara fakta yang Diana dapat dari mencuri rahasia orang lain sungguh memilukan hati, juga cukup menjadi alasan kenapa Kiran tak pernah bercerita bahwa buku diary miliknya hilang, kemungkinan Kiran takut jika sang puterilah yang mengambilnya, jadi Kiran membiarkannya selama tidak menimbulkan masalah di dalam hubungannya dan Bianca.


***


Madam Zi


^^^Asisten Ko^^^


^^^[ Iya Madam, mereka memilh ibu Irena ]^^^


"Ah sepertinya aku salah langkah," gerutu Nuna yang tengah sibuk dengan laptopnya.


Belakangan banyak sekali wanita dan Pria jomblo yang ingin memakai jasanya. Bocah berumur Lima belas tahun itu memiliki pekerjaan menjanjikan meskipun dibilang nyleneh dan tak wajar.


Aluna Senja Natania, bukanlah bocah biasa. Gadis itu meyembunyikan kecerdasan otaknya yang di atas rata-rata dengan sikap konyolnya. Sejak Lima tahun yang lalu bocah itu menjadi Madam Zi dan menjodohkan orang-orang yang umur dan tingkat kedewasaan di atas dirinya. Sejak Ia mendengar curahan hati Bianca dan mengetahui keretakan rumah tangga orangtuanya.


Jika onty bisa, onty ingin punya uang yang banyak dan mengajak mama pergi jauh dari keluarga ini, onty Bian menyesal kenapa tidak onty lakukan sebelum mama meninggal.


"Aku sudah tidak mencintaimu lagi." Ucapan yang keluar dari bibir Billy ke sang mama itu terdengar jelas di telinga Nuna, dan sejak saat itu Nuna ingin membuat mamanya bahagia, terlepas dari sang papa dan agar tidak bernasip sama seperti mama tantenya.




__ADS_1















...Maaf ya harusnya publish kemarin ini 🤧...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...ADD FAVORITE...


...RATE BINTANG 5...


Madam Zi : Otor apakah readermu ada yang butuh jodoh?


Otor : Ada madam, itu yang baca senyum-senyum tapi ga pencet LIKE, jodohin aja sama Tukul Piranha

__ADS_1


__ADS_2