
Beberapa jam sebelumnya.
Bianca mencoba bersikap tenang, ia menarik napas dalam-dalam saat merasakan perutnya terasa sedikit kram. Jangan sampai terjadi hal yang buruk ke little peanut nya karena dirinya yang terlalu panik. Ia menerima tisu yang disodorkan Lydia untuk menyeka air matanya, sejurus kemudian Bianca mengingat bahwa ibu-ibu geng sultininya tadi senam di depan rumah bu Dewan. Siapa tahu ibu-ibu tadi sempat melihat suaminya.
[Suamimu pergi bersama papanya Dewa. Mereka ke festival memancing sekaligus ada panggung hiburan, suami Eli dan suami Erin juga ikut ]
"Apa?"
Bianca yang panik seketika berubah menjadi kesal membaca balasan bu Dewan atas pertanyaannya di group chat gengnya.
Apakah pergi menonton panggung hiburan begitu penting bagi sang suami sampai ponselnya pun tidak dibawa, begitu pikir Bianca.
***
Kembali ke Laki-laki yang mendapatkan sepucuk surat cinta dari sang istri. Skala merasa tidak bisa tinggal diam diperlakukan seperti ini. Ia harus bisa masuk sekalipun butuh memanggil buldozer dan mendobrak pintu rumahnya.
Skala tidak mau bernasib ngenes dan tidur bersama nyamuk-nyamuk nakal. Apalagi ia merasa memiliki darah yang manis, sudah pasti tubuhnya akan habis disedot pasukan nyamuk penghuni blok kamboja.
Menoleh ke belakang, Skala menatap dua bodyguard tak berguna yang berdiri mematung. Bukannya mencari solusi, mereka malah saling pandang dengan mimik wajah kebingungan.
"Cepat cari alat untuk membuka pintu atau jendela," bentak Skala kesal.
"Ba-ba-baik, Tuan!" jawab mereka terbata-bata.
"Duo bodyguard sontoloyo itu pun pergi ke arah gudang belakang. Meninggalkan Skala yang terus mengguyar rambunya kasar berkali-kali.
Sialan, tak seharunya aku mengikuti kegiatan tidak berguna mereka, batin Skala geram.
Meskipun begitu, tak bisa dipungkiri bahwa Skala sangat menikmati kegiatannya bersama bapak-bapak tadi. Namun, ia tak pernah memikirkan bahwa Bianca akan marah separah ini sampai harus menyediakan bantal dan selimut di depan pintu rumah.
Skala juga sudah malas teriak-teriak. Ia tahu Bianca tak akan semurah hati itu meskipun dirinya menangis dan menjerit dari luar rumah. Ketimbang merayu istrinya dari luar, Skala lebih baik mencari cara agar dapat membuka pintu rumahnya secara paksa.
Otak cerdasnya berbicara cara terbaik untuk meluluhkan banteng betina yang sedang mengamuk adalah memeluknya dengan erat. Sambil mendengarkan ocehan-ocehan Bianca yang pastinya memakan durasi jauh lebih lama dari ritual pelepasan kecebong.
Begitulah wanita, bahkan mereka mampu membahas masalah tahun lalu dan tahun lalunya lagi jika sedang marah.
Tak berapa lama kemudian, Simon dan Dodi datang dengan membawa palu dan dua linggis. Mereka langsung menuju ke arah pintu tanpa diperintah Skala. Bagaikan maling, Simon dan Dodi mulai membuka pintu itu dengan dua alat yang mereka temukan di gudang.
__ADS_1
Skala yang sudah malas hanya memperhatikan mereka sambil tangannya mengelus kantong ikan bakar hasil pancingannya. Ikan bakar pembawa mala petaka lebih tepatnya.
Saat mereka mulai berisik membuka pintu dengan palu dan linggis, seseorang dari dalam membuka pintu tiba-tiba hingga dua pengawal itu terjungkal masuk ke dalam.
"Berisik!" bentak Bianca kesal. Ia tak mau melihat Skala yang berdiri menatapnya. Badak Afrikanya dianggap tak kasat mata oleh Bianca.
"Ca ...!" Skala berlari pelan ke arah Bianca. Laki-laki itu langsung memeluk istrinya meski seharian belum mandi. Lagi, Bianca hanya terdiam kaku tanpa menanggapi. Gadis itu berjalan kembali menuju markas dengan Skala yang masih enggan melepas pelukan di pinggangnya.
Sesampainya di markas, Bianca menghempaskan tangan Skala agak kasar. Ia duduk di sofa sembari menikmati semangkuk salad buah yang belum sempat ia makan.
"Aku kangen banget sama kamu dan Little Peanut kita." Skala ikut duduk di samping Bianca, lalu mengelus perut sang istri dengan lembut. Di mana Skala berharap Bianca akan segera memafkannya walau sepertinya itu mustahil.
Tertegun menelan saliva, Bianca sedikit heran saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang suami. Entah mengapa, semua kesal yang ada di hatinya hilang begitu tahu Skala sudah pulang dan baik-baik saja, dadanya terasa berdenyut-denyut dan malah ingin memeluk laki-laki yang tengah berusaha membujuknya itu.
Seharian ini dirinya khawatir sekaligus marah tak jelas karena Skala tak kunjung pulang, ia takut sesuatu yang buruk menimpa belahan jiwanya itu. Untunglah ia tadi mencari tahu keberadaan suaminya dan bertanya di group chat geng sultini si biang informasi. Jika tidak, mungkin dia akan pingsan lagi seperti waktu Skala hilang.
Bianca murka karena suami yang ia khawatirkan ternyata malah pergi memancing bersama para suami geng sultininya. Di mana tempat pemancingan itu dihadiri oleh biduan-biduan cantik yang sangat menggoda mata pria.
"Maafin papa ya, Sayang. Kamu pasti kangen 'kan, sama papa?" Skala berbicara pada Little peanut. Membiarkan Bianca yang masih merengut masam dan tak mau diajak bicara.
Bianca semakin bingung. Apakah ini yang disebut ikatan batin antara ayah dan anak? Karena jujur saja, di dalam hati Bianca seperti ada yang melarang saat ia hendak menghukum Skala tidur di luar. Alhasil, ia membukakan pintu untuk suaminya saat mendengar suara berisik di luar.
Lalu ... saat ia hendak marah dan mendiamkan suaminya, rasanya seperti ada yang menahan hati Bianca agar jangan marah lagi pada Skala. Sungguh, biasanya ia tak sebaik itu jika Skala melakukan kesalahan.
Bianca sedang memahami perasaan aneh yang bersarang di hatinya. Selayaknya ia memiliki dua hati yang berbeda sekarang. Di mana ia tidak dapat melakukan kehendaknya dengan sesuka hati.
Ah, sepertinya Little peanut di dalam kandungannya sudah mulai membalas kasih sayang sang papa yang sudah dia curahkan setiap harinya selama ini. Bianca merasa luluh, apalagi saat melihat mata teduh Skala, ingin sekali ia membanting laki-laki itu ke atas ranjang dan menindihnya jika bisa.
__ADS_1
Otor : Harusnya habis itu Hiya Hiya tapi jangan, jangan ntar aku di sleeding NT 😂
Reader PRHH, Mesumable, alumni UH AH : Sabar ini ujian!
...LIKE...
...KOMEN yang banyak...
...VOTE...
...ADD FAVORITE...
...makacih 🥰...
__ADS_1