
Bianca sedikit resah, hari ini untuk pertama kali dirinya meninggalkan Rain berdua dengan pengasuh. Meskipun pengasuh Rain yang bernama Laila dipekerjakannya dari sebuah lembaga yang terpercaya, tetap saja nuluri keibuannya tergugah.
Setelah meninggalkan pesan panjang lebar kepada Laila, akhirnya Bianca berangkat juga bersama Julian. Sementara Lydia ia perintahkan untuk tetap di rumah agar ikut menjaga buah hatinya.
Saling berbalas pesan saat berada di dalam mobil, Bianca menanyakan apakah Skala sudah sampai di kantornya. Berbeda dengannya, belahan jiwanya itu sudah berangkat dari satu jam yang lalu. Bisnis Skala makin berkembang pesat, bahkan PG Factory berencana mendirikan sebuah pabrik baru dalam waktu dekat.
Tersenyum bahagia saat melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung Neil Fashion, aura Bianca Nampak berbeda di mata para karyawannya. Bahkan menurut mereka sang direktur terlihat lebih bersahabat dari sebelumnya.
Ya, Rain mengubah Bianca, buah cintanya dengan Skala itu membuat dirinya menjadi sosok yang lebih sabar dan dewasa, termasuk dalam memecahkan misteri kematian sang mama. Bianca membiarkan Billy mengurus perceraiannya terlebih dulu dengan Diana. Ia tidak ingin menemui Billy dalam situasi yang masih berbalut kemelut seperti sekarang, apalagi menanyakan tentang perasaan kakak laki-lakinya itu ke sang mama lima tahun silam.
Bianca meregangkan punggung dan tangannya setelah dua jam bergelut dengan tumpukan berkas. Memutar kursi empuknya, gadis itu berdiri lalu berjalan mendekat ke arah jendela. Dipandanginya lalu lalang kendaraan yang seolah tak letih memenuhi jalalan siang itu.
Pikirannya melayang, membuat bibirnya tiba-tiba saja tersenyum saat mengingat rengekan manja suaminya pagi tadi.
“Mama! Tidak hanya Rain, Papa Skala juga butuh asupan gizi. Lihat! karena kurang piknik muka aku terlihat lebih tua.”
"Dasar!" gumam Bianca.
Beberapa kegagalan yang harus dilalui Skala saat ingin bercinta dengannya membuat mereka harus sama-sama bersabar. Ya, bagaimanapun ada bayi mungil yang tengah tumbuh dan lebih membutuhkan perhatian.
Entah kenapa belakangan Rain tiba-tiba saja rewel saat mereka berniat untuk melakukan ritual pelepasan kecebong. Contohnya semalam, baru tiga detik Skala mengedipkan mata memberikan kode ke Bianca untuk melakukan hiya hiya, anaknya tiba-tiba saja terbangun dan menangis. Rain tidak mau tidur lagi sampai larut malam meskipun Bianca menyusui dan Skala menimangnya.
Meraih ponsel sesaat setelah kembali ke mejanya, Bianca membuka galeri foto yang sekarang dipenuhi oleh gambar bayinya. Sungguh karena Skala lah dirinya bisa merasakan kebahagian dan melupakan segala kenangan yang menyakitkan dari masa lalunya. Mungkin tanpa laki-laki itu, sampai sekarang Bianca masih akan terseok-seok meratapi jalan hidupnya.
[Kemana Bayu?]
Pesan dari Skala membuat Bianca mengernyitkan dahi, untuk apa suaminya itu menanyakan keberadaan sekretarisnya.
[Bayu baru saja meminta izin keluar katanya ada urusan, kenapa?]
[Aku di depan]
Bianca seketika berdiri, setengah berlari ia buka pintu ruang kerjanya. Bibirnya mencebik kesal mendapati Skala dengan santainya duduk di atas meja Bayu sambil mengayun-ayunkan kakinya.
__ADS_1
“Ish … dasar!” cibirnya melihat kelakuan slengekan Skala.
Dasi yang sudah tidak dipakai, lengan baju tertekuk sampai ke siku. Benar-benar tidak mencerminkan suami seorang direktur perusahaan fashion.
“Apa sudah makan?” tanya Skala sambil melompat turun dari meja, dilingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Bianca. Dengan sedikit kasar, laki-laki itu menarik tubuh istrinya hingga membentur dadanya.
“Aku merindukanmu,” ucapnya sambil menatap dalam manik mata Bianca. Ia mendorong tubuh istrinya pelan sampai masuk ke dalam ruang kerjanya kembali.
“Ska ini masih siang bolong!”
“Memang kenapa?”
Skala yang menciumi ceruk leher Bianca seolah tak perduli, bahkan tangannya sudah meremas bagian belakang tubuh istrinya gemas.
“Geli ih!”
“Hem … sebentar saja, aku mendatangimu karena aku tidak bisa membuat dia tenang.”
Meraih tangan Bianca, Skala dengan sengaja membuat sang istri menyentuh mahkluk amazon miliknya di bawah sana. Papa Rain itu mulai menyatukan bibirnya, menyalurkan hasrat ke sang istri yang beberapa hari tak pernah tersampaikan apalagi tertuntaskan.
Keduanya semakin larut dalam ciuman panas, mengangkat tubuh Bianca. Skala membawa istrinya ke sofa dan langsung duduk agar Bianca berada di atas pangkuannya. Masih saling membelitkan lidah, Bianca yang sudah tidak tahan melompat dari atas tubuh Skala. Dengan hasrat yang menggebu-gebu, dibukanya kemeja Skala, ia campakan penutup atas tubuh suaminya itu ke lantai.
“Aku mana tahan, Ska!” ucap Bianca sambil menarik ikat pinggang suaminya. Matanya menatap takjub mahkluk amazon di tengah hutan belantara, sementara tangannya dengan sengaja meremas si anaconda dengan gemas.
“Ahhh ….” Skala mengerang. Tatapannya sayu, otaknya telah dipenuhi oleh candu akan kenikmatan yang selalu dia dapatkan saat mengoyak mulut piranha.
“Ughh … Ca, aku sudah tidak tahan, bisakah kita mulai saja?”
Bianca mengangguk, menyibakkan rambutnya ke sisi kanan, ia naik ke pangkuan Skala. Tanpa menunggu perintah, ia tumbukkan piranha ke anaconda yang sudah meronta-ronta. Mulut Skala sampai mengaga saat merasakan sensasi yang selalu membuatnya menggila. Bergoyang pelan, Bianca sukses membuat suaminya klojotan, bahkan ia belum mempraktikkan jurus baling-baling bambu yang diajarkan ibu-ibu geng sultini blok kamboja dalam pelatihan malam jumat kemarin.
“Oh .... please , aku tidak tahan.”
Skala mengerang, ia tak berdaya saat Bianca menghujamkan piranhanya dalam-dalam. Rasanya menggigit dan memberikan sensasi yang tak bisa diungkapkan.
__ADS_1
Deru napas mereka memburu, Skala sampai ikut menghujamkan miliknya agar segera mencapai puncak nirwana. Didekapnya erat tubuh Bianca, dikecupinya leher dan pipi istrinya itu dengan rakusnya. Sesekali ia tampar bagian belakang tubuh Bianca yang terlihat lebih menggoda saat istrinya itu meliuk-liuk dan menari di atas pangkuannya.
Sampai pada akhirnya gelombang itu datang dan menerjang mereka secara bersamaan, Bianca mendekap erat tubuh Skala yang bergetar hebat sama seperti dirinya.
Seolah tak ingin berakhir keduanya membiarkan anaconda mengeram di dalam mulut piranha. Mereka kembali saling mencumbu, mengusap pipi satu sama lain penuh kasih, sampai sebuah bunyi pintu yang terbuka membuat Skala dan Bianca kalang kabut.
“Jangan masuk!” teriak mereka bersamaan.
—
—
—
—
—
—
—
—
—
—
...LIKE...
...KOMEN...
...Bagi kopi 🤣...
__ADS_1
...makasih...
...Info update follow IG na @Nasyamahila...