Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Medan Pertempuran


__ADS_3

"Onty ... opa marah, opa bertengkar dengan papa, Nuna takut, opa menghancurkan semua perabotan."


Suara sang keponakan membuat Bianca yang baru saja ingin mengistirahatkan tubuhnya bangun kembali. Ia merasa sesuatu yang buruk telah terjadi. Meskipun dia ingin papanya mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi oleh sang kakak. Namun, jelas Bianca tidak ingin sampai terjadi keributan besar.


"Aku akan pergi ke rumah papa."


"Lalu Rain?" Skala hanya bisa memandangi istrinya yang hilir mudik kebingungan, dari mulai berganti baju mengambil tasnya lalu kembali lagi masuk ke kamar ganti.


"Rain 'kan bisa bersamamu."


"Tidak, aku tidak bisa membiarkan kamu pergi sendiri." Skala meraih lengan istrinya yang terlihat panik. "Tenanglah Ca!"


Bianca seketika tersadar bahwa sedari tadi dia tidak benar-benar mempedulikan suaminya. "Ska, aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi."


"Tenang! aku akan ikut denganmu, kamu tidak boleh ke sana sendirian"


"Kalau begitu aku akan menitipkan Rain ke Feli."


Skala mengangguk, mengusap pipi istrinya agar Bianca bisa sedikit lebih tenang.


***


Tama yang mendengar cerita Bianca saat menitipkan anaknya juga ikut merasa khawatir. “Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi.”


Tanpa meminta izin ke istrinya ataupun Skala, Tama meraih tubuh Bianca. Memeluk adik perempuannya itu erat-erat.

__ADS_1


Sikapnya sukses membuat Skala terkejut, ingin membentak laki-laki itu tapi Felisya terlebih dulu mencegahnya. Ibunda Lintang itu tahu betul bahwa suaminya hanya menganggap Bianca adik, Tama menganggap gadis itu adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang, Ia takut kehilangan Bianca.


“Aku pasti akan kembali dalam kondisi utuh, memangnya aku mau pergi ke medan perang?” Bianca melepas pelukan sang kakak, ia tersenyum sambil menatap ke arah suaminya yang sudah memasang muka masam.


“Sekarang apa bedanya dengan medan perang, bukan kah kamu bilang papamu sedang menghajar Billy," ucap Tama cemas.


“Sudahlah ayo pergi!” Skala menarik tangan istrinya, pelukan Tama tadi membuatnya benar-benar cemburu.


Tidak ada yang boleh menyentuh Bianca, meskipun hanya ujung rambutnya.


***


Saat Nataniel meluapkan emosi, semua pembantu di rumahnya tidak ada yang berani untuk sekedar menenangkan pria itu. Bahkan Nuna pun tak berani, yang bisa dia lakukan hanya menangis ketakutan di dalam dekapan salah satu pembantu di sana setelah menghubungi tantenya. Gadis itu berharap sang tante segera datang sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.


Semua barang-barang di ruang tengah sudah berserakan, pajangan kristal, guci sampai meja kaca hancur karena amukan Nataniel. Pria itu mengeluarkan semua tenaganya untuk marah, terlebih lagi mengingat perusahaannya yang dikelola oleh Billy sedang tersandung masalah pajak, Nataniel semakin emosi.


Melihat sang mama jatuh pingsan, Billy pun meradang. Ia bangkit dan mengambil sebuah pajangan kristal dan melemparkannya ke arah Nataniel.


“Jika terjadi sesuatu kepada mama, aku akan membunuh papa,” teriak pria itu. “Panggil ambulance cepat!” mata Billy melotot ke arah salah satu pembantu yang hanya bisa membeku melihat perkelahiannya dan sang Papa.


Bianca yang baru datang pun langsung bergegas masuk ke dalam, ia bahkan tidak sempat menutup pintu mobil suaminya. Apalagi saat ia melihat sebuah ambulance sudah berada di halaman rumah papanya, Bianca semakin panik. Setali tiga uang dengan istrinya, Skala juga ikut berlari masuk ke dalam.


Di dalam rumah, Bianca melihat tubuh Salma yang sudah dibaringkan ke atas brankar oleh petugas medis. Mengedarkan pandangannya, Ia terkejut melihat banyak pecahan dan serpihan barang-barang. Bianca yakin bahwa papanya benar-benar sedang murka. Gadis itu hanya melihat Papanya yang masih berdiri sambil mengatur napas, Ia tidak melihat Billy di sana. Dada Nataniel terlihat naik turun menahan amarah. Bianca ingin mendekat, tapi Skala dengan sigap mencekal pergelangan tangannya.


“Di sini saja! Biar aku yang menenangkan Papa.”

__ADS_1


Bianca mengangguk menuruti sang suami. Nuna menghambur memeluknya sebentar lalu keponakannya itu berlari mengikuti petugas medis yang membawa Salma menuju ke rumah sakit.


“Temani mereka!” perintah Bianca ke salah satu pembantu yang terlihat berdiri gemetaran. Bagaimana tidak ketakutan? rumah Nataniel berantakan seolah sudah berubah menjadi sebuah medan pertempuran.


“Pa –.” Skala menyapa mertuanya, berusaha meraih stik golf yang masih digenggam Nataniel erat-erat. “Papa tenang! kita bisa –“


Tercekat, mata Skala tiba-tiba saja melebar. Billy berjalan cepat keluar dari dalam dengan membawa sebuah pisau dapur. Laki-laki itu menghujamkan benda tajam itu tanpa aba-aba.


“TIDAK!”


Bianca berteriak histeris, tubuhnya tiba-tiba saja lemas. Semua orang yang berada di sana juga tak kalah terkejut sama seperti dirinya. Melihat kejadian itu beberapa orang pembantu yang sedari tadi hanya membeku langsung menghambur ke arah Billy, mereka tidak bisa tinggal diam melihat tindakan yang dilakukan anak tuannya itu, bahkan salah seorang di antaranya langsung menelpon petugas kepolisian.


-


-


-


-


...LIKE...


...KOMEN...


...bagi Kembang 🌹...

__ADS_1


...Untuk info novel follow Na di @nasyamahila...


...Makasih zeyengggg...


__ADS_2