Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Menepati Janji


__ADS_3

Setelah menonton pertunjukan drama Sherly dan Puput tadi, ia pun memilih untuk segera pulang. Tapi sebelum itu, papanya meminta ia untuk datang keruangannya terlebih dahulu.


POV Zapata


"Ada apa, Pa?"


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Papa.


"Baik-baik saja, tidak ada masalah. Tumben papa nanya pekerjaan aku, ada apa?"


"Begini, besok sore akan ada kejutan dikantormu" ucap Pak Raffa memancing rasa penasaran anaknya.


"Ah, begitu. Ya sudah, kalau begitu biarkan aku pulang dan bersabar menunggu hari esok dari rumah saja ya Pa" sahut Zapata.


"Ada apa sama kamu, Ta? Apa kamu tidak ingin bertanya seperti apa kejutannya?"


"Sudah berapa kali dalam hidupku di beri kejutan saat ulang tahun. Dan aku tidak terkejut Pa. Mungkin jantungku memang sangat prima sehingga dia tidak lemah"


"Ta, papa ini serius"


"Pa, aku sudah besar. Gak suka kejutan lagi. Kalau memang uang papa berlebih, cukup transfer saja. Tidak usah dibuat-buat kejutan. Nanti apa kata seluruh karyawanku"


"Pulang pulang, memang cuma mama yang betah ngobrol sama kamu" sungut Pak Raffa mengusirnya.


"Aku memang mau pulang, tapi papa yang menahanku" gumamnya lalu menutup pintu.


Aku pun pulang bersama... emh maksudku dengan mobil sport kesayanganku. Ia sudah kuanggap seperti anak sendiri. Dalam seminggu pasti kucuci. Hanya saja, menurutku cuci mobil sama dengan ritual manggil hujan.


Dulu kata orang atau mitosnya, memandikan kucing bisa mendatangkan hujan. Untuk yang satu itu, aku belum bisa membuktikan karena aku tak punya kucing. Tapi kalau ada yang bilang cuci mobil bisa mendatangkan hujan, kalian wajib percaya. Karena aku sudah membuktikannya beribu-ribu kali.


Awalnya okelah aku menentang kebenaran itu meski aku mengalaminya langsung, tapi di minggu berikutnya kejadian lagi. Bagaimana bisa aku menentang sesuatu yang sudah aku alami berkali-kali.


Tapi aku ini kan seorang pengusaha tajir yang banyak sibuknya, tak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Hanya saja sempat kutanyakan pada semua temanku. Tapi itu hanya basa-basi saja. Dan jawaban mereka sama dengan pengalamanku. Hubungan kami akhirnya jadi begitu erat dan seringkali mencuci mobil bersama sebagai bentuk kami sedang keroyokan menantang hujan.


Sampai dirumah, kulihat beberapa ARTku sudah kembali dari kampung mereka. Tampaknya mereka tengah sibuk menata barang. Apa tidak capek? Baru saja pulang dari kampung sudah langsung bekerja.


"Bi, bi Atun" panggilku dari jarak 10 meter.


"Mas Ta, nama saya Maimun" sahutnya sambil melirik kearahku tanpa memutar badannya.


"Biasa juga saya panggil Aisyah bibi nurut-nurut aja"


"Namanya juga dipanggil majikan, Mas"


"Bi, pesan saya jangan terlalu gila kerja. Bibi istirahat aja. Baru balik dari Lampung 'kan?" tanyaku. Aku memang sangat family man dan peduli dengan semua yang bekerja padaku.


"Mas Ta, saya memang baru balik dari kampung. Tapi bukan dari Lampung" sahut bibi lalu kembali dengan kesibukannya.


"Lho, udah pindah?" tanyaku yang penasaran dan mendekatinya.


"Aduh Mas Ta, saya memang gak pernah tinggal di Lampung. Jangankan tinggal disana, kesana aja belom pernah" jawab Bibi seraya memutar mata jengah.


"Terus bibi dari mana?"


"Dari Pejambon Jakarta Pusat, Mas. Saya kan orang Jakarta"


"Lho, kalo gitu kenapa kemaren bibi gak masuk kerja. Kan deket?" protesku.


"Kan Mas Ta sendiri yang nyuruh saya gak usah kerja. Terus saya disuruh balik ke keluarga, lebaran sama keluarga" ujar Bibi lagi sambil berdiri memegang sapu dan menatapku.


Astaga, jadi gue yang nyuruh? Teledor banget sih. Gara-gara itu gue jadi serba sendiri. Sampe dikuras habis lagi sama Sherly-Puput.


Aku memukul kepalaku pelan, menyesali perbuatanku sendiri.


"Terus ini? Bi Atun mau pukul saya?" tebakku seraya melepas jas dan membuka 2 kancing kemeja teratas. Bersiap-siap melakukan perlawanan. Dengan hujan saja aku tidak takut, apalagi sapu.


"Mas Ta, ini sapu buat bersihin sampah kulit kuaci sama kulit kacang" tunjuk Bibi ke sisi samping kursi.


Ah iya gue baru ingat, lebaran ketiga Nanda, Bibin, sama Rama pada silaturahmi terus kita nonton home alone sambil makan cangcimen (kacang-kuaci-permen). Bukan karena tidak ada kue lagi, melainkan kue lebaran dirasa kurang sopan untuk menemani nongkrong kami.


"Ya udah Bi, saya lagi males debat. Saya kekamar dulu ya" pamitku.

__ADS_1


Sesampainya dikamar, ternyata kondisi kamarku sangat berantakan. Persis seperti keadaan saat aku tinggalkan. Niatku, mau memanggil Bi Atun untuk membersihkannya. Tapi, aku menimang-nimang sebentar. Tak jadi, sebab aku malas bertemu dengannya. Ia selalu saja menyanggah ucapanku. Tampaknya, hubungan kami perlu dipikirkan lagi. Sebab, sudah tidak sefrekuensi.


Sehabis makan malam sendiri, atau biasa kusebut dengan solo karir. Aku pun kembali naik ke kamar untuk segera beristirahat.


Kubuka pintu kamar. Dan waaaah... Sangat berantakan. Akhir-akhir ini aku menyukai ketidak-rapian. Tampaknya itu hal yang bagus. Karena sesuatu yang rapi bagiku terlalu biasa, tidak ada tantangannya.


Sedangkan saat ini, wow. Penuh tantangan. Untuk melangkah saja, aku harus memikirkannya dengan matang. Salah-salah, bisa retak jam tanganku. Atau mungkin, bisa luka kakiku.


Belum lagi, hendak memilih menjatuhkan badan ke sisi kasur yang mana. Karena kasur sudah penuh dengan pakaianku. Tapi, aku punya ide. Kukumpulkan mereka seperti tumpukan sampah yang menggunung. Dan yap, aku bisa tidur dengan leluasa tanpa takut pakaian itu kusut karena ulahku.


Dikeesokan paginya, seperti biasa aku bangun tepat waktu. Mandi lalu sholat subuh. Setelahnya aku kebawah untuk sarapan roti dan kopi. Lalu jam 7 aku siap-siap berganti pakaian dengan setelan kerja. Jangan kalian bayangkan, tentu ketampananku lebih tinggi dari ekspektasi kalian.


Setelahnya, aku meraih kunci mobil yang dipilih secara acak. Aku memang tipe lelaki yang tidak peduli terhadap hal-hal remeh. Yang mana yang mengenai jariku, maka itu yang kupilih.


Sampai dikantor, baru saja aku keluar lift Eko sudah berdiri menyambutku. Seperti hari-hari lalu, kalau sudah begini tandanya ada masalah.


"Ada apa lagi Ko?" tanyaku dengan langkah penuh wibawa dan Eko berjalan tepat dibelakangku.


"Langsung keruang meeting saja pak" ujarnya.


Akupun melewati ruanganku. Berjalan lurus dengan tatapan menghunus dan membuka pintu ruang meeting.


Akh, kosong rupanya. Padahal wajahku sudah ku atur sekejam mungkin. Ternyata pas dibuka, tidak ada siapa-siapa.


"Ada apa ini Ko?" tanyaku sembari mengusap wajah agar si wajah kejam tadi segera hilang.


"Pak, Perusahaan Kinder mau menarik seluruh sahamnya dari perusahaan kita" ujar Eko dengan serius.


"Terus?"


"Mereka justru tengah menyiapkan kontrak kerja sama dengan perusahan kompetitor kita pak"


"Ya sudah, lepaskan saja semua sahamnya. Ko, tanpa mereka juga kita tetap jaya. Sejujurnya, mereka tuh gak ada artinya. Tapi kan, biar perusahaan kita gak dikatain sombong, makanya saya setuju waktu itu dengan kemauan mereka nyetor saham ke kita"


"Pak, tapi ini pasti akan berdampak pada keuangan perusahaan"


"Tenang saja. Memang itu yang saya incar"


"Maksudnya pak?" tanya Eko melongo.


"Pak, saya sudah serius mendengarkannya tapi... huh" Eko membuang nafas. Helaan nafasnya sampai mampu menggerakkan kertas ditanganku.


"Ko, apa saya masih punya hal yang harus dikerjakan?" tanyaku. Karena aku berniat ingin pulang saja atau pergi keluar untuk menikmati hidup.


"Tidak ada Pak, sebenarnya memang ada meeting hari ini bersama perusahaan Amonika. Tapi sekretarisnya sudah menghubungi saya pagi tadi mengabarkan bahwa meetingnya dibatalkan" ungkap Eko.


"Ya sudah ko, kamu kembali keruangan. Saya mau istirahat disini saja" titahku.


"Pak, kerja saja belum sudah mau istirahat"


"Zulkarnain, mau saya pecat?" ancamku.


Eko pun langsung ambil langkah seribu setelah mendengar ancamanku. Walau ia tahu ancamanku hanya dimulut saja, tapi baguslah ia tetap takut. Dengan begitu, aku bisa mengendurkan dasiku dan mulai berangan-angan sembari menatap kelangit-langit.


"Gila, gue hari ini keren banget. Benar-benar jati diri seorang bos sejati. Ketika perusahaan lain menarik sahamnya dan jelas berdampak buat keuangan perusahan gue, tapi gue tetap tenang dan bahkan bersedia menyerahkan uang pribadi untuk ketentraman hidup para karyawan gue. Mereka harus bangga punya bos kaya gue. Uhuk uhuk... Astaghfirullah" pekikku saat kulihat dilayar ponsel kalau Sherly sudah mengirimkan padaku gambar mobil incarannya.


"Ekoooooo, ayo kita mengemis ke perusahan Kinder" teriakku. Tangan kiriku tergesa-gesa meraih jas yang kusampirkan ke sandaran kursi sedangkan tangan kanan dengan cepat meraih gagang pintu.


"Mana Eko?" tanyaku pada petugas pantry.


"Pulang pak, tadi katanya gak ada kerjaan lagi"


Ah sialan si Eko.


Akhirnya aku bekerja sendirian. Aku menghubungi secara langsung sekretaris Mr. Tom dengan nomor pribadiku. ****, mendadak rasanya seperti cowok murahan.


Berbicara dalam bahasa inggris* Tapi author kasih subtitle😏


"Halo, selamat siang. Benar ini dengan mbak Christy?" sapaku dengan seramah mungkin. sembari aku bercermin di ruangan pribadiku. Huek, jijik sekali mendengar kalimatku sendiri.


"Saya Eko, sekretaris Mr. Zapata. Saya ingin menanyakan alasan mengapa perusahaan Kinder ingin menarik seluruh sahamnya dari perusahaan kami?" ucapku mengaku-mengaku sebagai Eko. Dengan begini, wibawaku tidak akan jatuh dimata lawanku.

__ADS_1


"Sejujurnya perusahaan kami tidak keberatan. Tapi, alangkah baiknya kita bertemu secara langsung agar sama-sama mendapat kepuasan dari berakhirnya kerjasama ini" ujarku dengan tetap angkuh.


"Ya, dan tolong sampaikan pada Mr. Tom kalau bosku mengetahui rahasianya" Tut. Kumatikan panggilan itu sambil menatap lurus ke cermin. Meski ada kekhawatiran akan bangkrut, tapi aku tetap memuji caraku menghadapi masalah. Tetap slay, sway, and savage.


Aku membuka kembali kolom chat Sherly. Mobil Audy dengan spek mirip mobil yang kupunya. Apa aku tipu saja dia? Aku berikan saja mobil bekasku padanya. Toh mirip juga kan, sama-sama Audy tapi beda tipe.


Sembari menatap dan terus menyapu layar zoom in-zoom out, tiba-tiba aku dikagetkan lagi dengan pesan Sherly.


Sherly


"Janganlah dirimu menipu diriku. Sebab aku tahu🗡🗡🗡"


Aku hanya bisa ketawa nafas. Sengklek!Bagaimana bocah ini bisa tahu isi kepalaku.


Aku


"Masih kecil jangan mainan piso" balasku.


Sherly


"Jangan mengalihkan pembicaraan🔫"


Busyet, gue ditodong.


Aku


"Selow brodis, belahlah dadaku jika tak percaya"


Hm giliran udah dapet jawaban yang diharapkan, chat gue cuma jadi koran. Dibaca tak perlu dibalas. Ternyata, ada yang lebih sakit dari rindu. Centang abu yang tak kunjung membiru.


Setelah itu, aku keluar dari ruang pribadiku menuju meja kerjaku. Aku memang menyediakan ruang pribadi tempatku beristirahat di dalam ruang kerjaku.


Belum sampai ke meja kerja, aku sudah melihat bertumpuk-tumpuk kertas diatas meja. Aku pun jadi terfokus kesana dan berniat memeriksanya.


"Apa ini?" Kuperiksa satu persatu ada lembar fotonya juga.


Perasaan, ni kantor lagi gak buka lowongan. Yang ada malah otw gulung tikar. Kenapa banyak kertas berisi data diri?


Aku memeriksa satu persatu. Ternyata menarik juga. Aku pun membacanya satu demi satu sembari memuji beberapa yang cantik-cantik. Yaa, lumayanlah.


"Nama: Gesharma Sherenneta P.


No. HP: 08237558****


Hobi: Memancing perdebatan


Motto hidup: Lakukan hal-hal yang membuatku cepat kaya"


Heh, siapa orang yang punya motto hidup seperti ini. Kucari-cari tidak ada fotonya. Tapi unik juga, akhirnya kusimpan kontaknya.


Belum sampai habis aku membaca kertas-kertas itu. Karena aku teringat dengan Eko yang memilih meninggalkanku sendirian di kantor sedangkan ada hal yang harus ia kerjakan. Akupun duduk di kursi kebesaranku dan menghubunginya.


Tapi berkali-kali panggilan itu tidak diangkat. Nampaknya Eko memang tengah bersiap-siap menjadi pengangguran.


Setelahnya, aku memilih pergi menuju tempat penjualan mobil untuk memesankan mobil yang Sherly mau. Dan lagi, warna yang Sherly mau itu tidak tersedia, melainkan harus dipesan secara indent. Sampai disana aku pun menyampaikan detail tipe mobil yang dimaksud oleh Sherly. Setelah urusan mobil selesai, akupun pulang kerumah.


"Bi, masak apa?" tanyaku pada Bibi yang lain lagi. Ini bibi dirumahku memang sangat banyak. Aku bahkan memanggil mereka dengan nama sesuai kemauanku. Apa rumahku memang jadi pengungsian para janda. Seingatku, mereka memang janda semua.


"Ayam semur sama cumi goreng krispi Mas. Tapi kalo Mas Ta lagi pengen makan yang lain, akan saya buatkan" jawabnya.


"Tidak usah. Saya makan yang ada saja" ucapku. Tapi dalam hati berkata, kita latihan miskin dari sekarang ya Bi.


Setalah menemui Bibi didapur, akupun beranjak menuju kamar untuk melemparkan dasi dan jasku. Saat pintu kamar kubuka, semua sudah kembali normal. Rapi. Dilantai juga tidak ada barang yang berserakan. Enak dilihat, tapi jadi kurang seru. Akhirnya aku mengeluarkan beberapa baju kaos dan kemeja yang ku buang ditengah-tengah kamar. Selain itu jam pasir di atas nakas juga aku pindahkan ke lantai biar ada tantangannya. Menjadi laki-laki yang tidak rapi jauh lebih menggoda, bukan? (sambil mengendurkan dasi biar ada kesan seksi)


POV Zapata end.


 


Ditempat berbeda


"Bagaimana Zul? Apa anakmu sudah menyerahkannya pada Zapata?"

__ADS_1


"Sudah, dia bilang sudah ia letakkan dimeja kerjanya"


"Baguslah, semoga ada yang menarik" ucap Pak Raffa puas.


__ADS_2