Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Masih Sendiri


__ADS_3

Sejak kejadian waktu itu, Mia dan Tian jadi seperti Tom dan Jerry. Dikampus, tidak akan pernah ditemui Tian dan Mia ditempat yang sama. Satu angkatan sudah tahu semua kisah mereka. Kalaupun sekelas, mereka pasti akan saling duduk berpencar jauh.


Lain halnya dengan hubungan Tian dan Sherly-Puput. Mereka makin akrab, bahkan kadang Tian dengan sukarela menjemput kerumah mereka jika hendak pergi ngampus. Mia bahkan pernah melabrak Sherly karena saat itu keduanya terlihat jalan bersama. Untunglah Tian membelanya, jadi kedua perempuan itu tak sempat adu mulut. Yang akhirnya Mia pergi meninggalkan mereka dengan penuh amarah.


Ujian semester telah usai, tak lama lagi memasuki bulan puasa. Sherly dan Puput sedang dalam perjalanan pulang dari latihan drama.


"Hari pertama puasa, bukber yuk" ajak Puput.


"Gila lo, hari pertama puasa udah langsung buka diluar. Sama keluarga dulu lah dirumah. Seminggu setelah itu baru kita bukber diluar, ajak temen-temen kampus atau anak drama. Pasti seru" jawab Sherly.


"Ah iya juga sih. Emm, terus hubungan lo sama Tian gimana?"


"Wah keren banget bridgingannya. Dari bukber, ke hubungan gue sama Tian" ledek Sherly.


Puput terkekeh, memang keduanya tidak ada sangkut-paut. Tapi Puput penasaran.


"Ya gak ada hubungan apa-apa. Kita bertiga kan cuma temen"


"Tapi Tian baik 'kan?"


"Iya, baik" sahut Sherly.


"Tian juga ganteng 'kan?


"Iya, ganteng"


"Lo suka Tian?"


"Iya, eh. Apaan sih, mana ada gitu"


"Ceileh. Udah muji-muji masa masih gak suka" goda Puput.


"Put, gue tuh cuma suka mandangin aja. Tian kan enak gitu buat dipandang, itu doang"


"Tapi gue liat-liat, gue raba-raba, gue terawang-terawang kayanya dia suka sama lo"


"Di lihat, di raba, di terawang. Emangnya Tian duit?"


"Iya, Tian banyak duitnya kan?" goda Puput lagi.


"Hiiiii" ucap Sherly mengernyit.


"Apa? Bilang aja lo sengaja menghindari pertanyaan gue kan?"


"Tian, baik sih. Tapi belum tentu direstui abang gue. Lo kan tau, dikit aja cela tuh cowok bisa langsung di blacklist sama abang gue"


"Bang Nanda serem banget ya"


"Hm, baru tau" sengit Sherly.


****


Satu bulan kemudian


POV Sherly


"Bu, aku lapar.Tahan sebentar ya nak.


Bu, aku haus. Nanti ibu buatkan sesuatu.


Berbukalah dengan yang manis. Hadirkan sirup Marjan untuk berbuka sekeluarga"


Iklan yang langsung aku lihat saat baru saja menyalakan TV. Aku sengaja menyalakan televisinya walau tidak ada yang menonton. Karena menurutku rasa lapar bisa sedikit berkurang kalau mendengar iklan di TV, apalagi iklan-iklan makanan dan minuman segar seperti yang aku lihat barusan.


Setelah menyalakan TV, aku pergi ke di dapur membantu Bi Hanum, mama, dan Kak Dinda membuat makanan untuk berbuka puasa. Kakak dan abangku sengaja hari ini berbuka di rumah kami, karena sudah 3 minggu puasa mereka baru sempat kali ini berkunjung kesini. Dan menu yang kami buat hari ini sederhana tapi banyak macamnya.


Yang manis-manis ada sop buah dan kolak biji salak sedangkan makanan asinnya ada RisMa alias risol mayo (mayones). Lauk pauknya ada tumis ayam suwir, sayur capcay, dan cumi sambal ijo.


Aku kebagian membuat Risol. Jika sedang beraktifitas begini, waktu berjalan terasa sangat cepat. Baru sebentar aku membuat risol, tahu-tahu papa bilang sudah jam 5 sore.


Setelah kupikir-pikir, wah pantesan aku yang disuruh bikin risol. Karena ternyata sangatlah ribet.


Pertama, aku harus membuat kulitnya dulu. Lalu setelah itu harus membuat isiannya. Belum lagi harus menggulung-gulung dan menggorengnya. Apalagi mama memberitahukanku untuk membuat agak banyak agar bisa buat bagi-bagi tetangga, sebagai balasan karena kemaren mereka juga sempat kasih makanan untuk kami.


"Ma, nanti mama aja ya yang goreng. Cape ma"


"Ya udahlah, nanti minta tolong bibi aja buat lanjutin kalo kamu capek"


Setelah menggulung semua risol sampai habis, aku pun meminta Bibi untuk melanjutkannya.


Setelah itu aku beranjak ke kamar untuk beristirahat selagi masih ada waktu sebelum berbuka.


Sampai dikamar, aku memilih rebahan sambil bermain ponsel. Dan aku terperanjat kala melihat notifikasi chat dari Tian yang mengajakku berbuka diluar.


Aku memukul jidatku. Kenapa baru baca sekarang. Mana belum mandi lagi. Duh, gimana ya jawabnya. Aku ngebatin.


Akhirnya kubalas.


"Sbb (Sorry baru bales) kayanya gue gak bisa"


Tian


"Lho, kenapa?"


Sherly

__ADS_1


"Gue belum mandi, baru selesai masak. Kalo pun gue mandi sekarang, tetep aja bakal telat kesananya"


Tian


"Ya udah, biar gue yang kesana. Sekalian buka sama keluarga lo"


Ih, si Tian kenapa si? Aneh banget.


Sherly


"Kaya lo puasa aja" balasku tak mau menanggapinya dengan serius.


Tian


"Dih, sembarangan. Mau bukti?"


Sherly


"Jangan aneh-aneh deh"


Tian


"Gue depan rumah lo"


Cletak


"Awww" ringisku karena tak siap dengan kehadiran Tian yang tiba-tiba sampai menjatuhkan ponselku kewajah. Tapi aku langsung menengok ke jendela kamarku untuk memastikannya.


"Apa? Tian serius? Kok bisa? Kenapa dia berani banget?" ujarku masih berdiri di depan jendela. Disana, tepatnya diluar pagar rumahku, aku melihat ada mobil Tian. Fix, beneran mobil Tian. Aku hafal platnya.


"Duh" ringisku sebelum keluar dari kamar.


Hal yang aku takutkan kalau ada teman laki-laki kerumah adalah abangku. Walau abangku bertanya biasa saja, tapi itu sudah cukup membuat nyaliku hilang. Karena pasti aku akan diintrogasi perihal siapa dia dan bagaimana kelakuannya. Bang Nanda sangat protektif dan juga posesif. Dia tidak hanya as a police dikantor, tapi juga dirumah. Selama ini Tian menjemputku tidak sampai masuk rumah, hanya menunggu dimobil. Tapi kali ini, kelewatan bagiku kalau tak menawarinya masuk.


Sebelum membuka pintu, aku menghembuskan nafasku ditelapak tangan. Guna memastikan nafasku bau bunga kasturi seperti kata mama atau tidak. "Ah, ternyata tidak. Hanya sedikit bau naga. Tapi itu wajarkan? Namanya juga lagi puasa" Setelah menggumam, aku pun membuka pintu selebar-lebarnya untuk menyambut Tian.


Aku melambaikan tangan diteras, menyuruhnya masuk biar ngobrol di sini saja. Apa gunanya ada kursi di depan rumah kalau tidak dimanfaatkan.


Tian turun, tapi terlihat pintu penumpang disebelahnya juga ikut terbuka.


Arggg, ternyata ada Puput. Syukurlah. Gue kira dia sendirian, bisa mati kutu gue.


"Legaaa" ujarku.


"Ada siapa Sher?" tanya Bang Nanda dari dalam rumah sambil gendong baby Umar.


"Puput bang" jawabku singkat. Lalu Bang Nanda berlalu pergi kekamarnya.


Puput dan Tian berjalan kearahku.


"Kita berdua mau ajak lo bukber" ucap Tian.


"Gue belum mandi. Udahlah buka disini aja, kita bertiga buka diruang tamu biar tetep ada sensasi bukber diluar"


Tian dan Puput aku persilahkan duduk diruang tamu. Sedangkan aku beranjak kekamar untuk mandi.


Selama aku mandi, ternyata mereka berbincang dengan Bang Nanda dan Kak Dinda sembari menghibur baby Umar yang tengah merengek ngantuk tapi tak dibolehkan tidur oleh bundanya karena menjelang maghrib. Setelah selesai mandi, aku menuju ruang tamu dengan mengangkut satu-persatu makanan, minuman, dan alat makan untuk kami nanti.


"Kenapa gak bareng aja di meja makan, Sher?" tanya kakak.


Aku langsung menggerakkan bola mataku menuju abang. Kak Dinda langsung mengangguk paham. Berbeda dengan Tian yang memandangku aneh karena telepati kami barusan.


Dug dug dug


"Allahu akbar... Allahu akbar"


Bedug berbunyi tanda waktu berbuka telah tiba. Disusul adzan yang berkumandang menggema dan bersahut-sahutan dari masjid ke masjid.


Kami membatalkan puasa dengan seteguk air putih lalu berdoa bersama. Tian memipin do'a berbuka puasa. Makin meningkatlah poin dirinya dimataku.


Setelah makan beberapa kudapan, akhirnya kami sholat maghrib berjama'ah diruang tengah. Papa iseng menunjuk Tian untuk berdiri menjadi imam sholat kami, tapi ia malu dan menggeleng sungkan. Akhirnya Bang Nanda maju dan mulai mengucap takbir.


Usai sholat maghrib, kami bertiga berbincang sebentar diruang tamu. Lalu Tian dan Puput pamit pulang. Aku sebenarnya masih ingin mereka disini tapi karena abangnya Tian menelpon dan mengajaknya pergi mau tak mau akhirnya kami pun bubar.


Sekepulangan mereka, aku membereskan meja dan kembali ke kamar. Sampai akhirnya Puput sampai kerumahnya dan menghubungiku.


"Lo tau gak? Si Tian tadi bilang, dia tuh sebenarnya pengen ajak lo buka berdua. Tapi bingung caranya. Dia tau ajakannya pasti ditolak sama lo. Karena lo tuh nempelnya ama gue mulu makanya dia kepikiran buat ajak gue, eh gak taunya lo tetep gak bisa" ujar Puput ditelepon.


"Hahaha, tuh dia tau. Terus apa lagi info yang lo tau?" tanyaku penasaran.


"Gue udah bilang dari jauh-jauh hari, kayanya dia naksir lo. Mana tau, kalo kalian tadi buka berdua mungkin dia udah nembak lo"


"Waduh, itu yang gue gak siap" sahutku.


"Kenapa ga siap?" tanya Puput.


"Gue gak diizinin pacaran. Terus juga nanti pacaran eh malah putus, kan jadi runyam akhirnya. Bagusnya, jadi temen biasa ajalah"


"Tapi lo siap kalo dia jadian sama orang lain?" tanya Puput lagi.


Hening.


Aku cuma bisa diam. Tak bisa menjawab pertanyaannya. Tapi sebenarnya aku tahu jawabannya. Karena hatiku mendadak perih kalau-kalau pertanyaan Puput jadi kenyataan. Itu artinya, aku memang tertarik pada Tian. Hanya saja, aku masih berusaha keras untuk menampiknya.


"Sher, lo suka Tian 'kan?" tanya Puput.

__ADS_1


"Ih, dibilangin nggak ya nggak" kilahku.


"Ya elah Sher. Segitu gengsinya. Gue tau dari gelagat lo dan Tian, kalian tuh sama-sama suka. Udah deh, akui aja" ucap Puput dengan mantap.


"Iya, gue suka Tian. Tapi suka doang"


"Hm, masih aja gengsi digedein" celetuk Puput.


"Udah ih, gue mau siap-siap teraweh (tarawih)"


"Okee, bye Sher"


Setelah panggilan berakhir, hatiku jadi berbunga-bunga karena mengetahui kalo Tian juga suka padaku. Tapi setelah itu, aku kembali menetralkan perasaanku lalu mengambil wudhu dan turun kebawah.


Jangan sampai ada gelagat mencurigakan karena bisa-bisa Bang Nanda curiga dan mengintrogasiku tentang siapa laki-laki yang datang barusan bersama Puput. Karena sudah menetralkan perasaanku sebelum turun kebawah, aku jadi aman dari Bang Nanda.


Aku, Bang Nanda, mama, dan papa akhirnya berangkat menuju masjid dengan berjalan kaki karena jaraknya dekat. Kak Dinda tak bisa ikut, karena harus menjaga baby Umar dirumah.


POV Sherly end


***


Lebaran


Allahu akbar, Allahu akbar... Laa ila hailallahu Allahu akbar.


Suara takbiran mulai dilafadzkan semua orang malam ini. Besok sudah lebaran, semua rumah tengah disibukkan dengan menata kue dan memasak makanan untuk disantap keluarga besar esok hari. Tak terkecuali di rumah orangtua Zapata.


Pemuda itu tengah bermain ponsel di sofa sambil mengenakan baju koko dan kain sarung. Jujur saja, ia tak begitu bahagia menyambut lebaran sejak dirinya menginjak dewasa dan mulai ditanya kapan nikah oleh keluarganya. Salah satunya Tante Jeni, adik kandung sang mama yang menurutnya paling rese' dikeluarga. Karena pertanyaannya selain menyinggung juga sangat memojokkan. Karena tantenya itu sering membandingkan Zapata dengan si Kenny, anak perempuan Tante Jeni yang usianya lebih muda dari Zapata tapi lebih dulu menikah.


Itu sebabnya Zapata tak bersemangat malam ini. Apalagi setiap lebaran Tante Jeni tak pernah absen, selalu hadir dari pagi sampai sore dirumahnya. Memang rumah orangtua Zapata jadi tempat kumpul adik-beradik mamanya sejak kedua kakek-nenek Zapata meninggal dunia.


"Ta, mama minta tolong kamu jemput kue pesenan mama dirumah Nanda ya. Mama lupa jemputnya tadi sore waktu pergi sama papa. Uangnya udah mama transfer juga ke Dinda" ucap mamanya.


"Ya ma" jawabnya lalu segera pergi menuju salah satu mobil sport kesayangannya.


Sampai dirumah Nanda, ia menjerit-jerit minta dibukain pagar karena sang satpam pribadi dirumah itu tengah pergi ke masjid.


"Eh Ta, mau jemput kue ya?" tanya Nanda lalu membukakan pagar untuk sahabatnya itu.


"Udah tau nanya" jawabnya kesal karena sudah kelamaan nunggu.


"Masuk dulu, kuenya masih dibungkus Dinda" ujar Nanda mengajaknya masuk.


"MashaAllah, pantesan suka manggil aku Aisyah karena ternyata dia pria soleh yang tak sabaran ingin segera bertemu belahan jiwanya" sambut Sherly saat Zapata baru saja melongokkan wajahnya ke pintu.


"Jangan banyak cincong, ada minuman apa? Bagi dong" titah Zapata.


"Gak boleh, buat lebaran" cegat Sherly melarang Zapata mengambil minuman kaleng yang masih tersusun rapi disalah satu rak ruang tamu.


"Kan malam ini udah masuk lebaran" jawab Zapata.


"Nggak, besok baru lebaran"


"Pelit banget" ujarnya merajuk.


"Foto dulu baru boleh minum" ucap Sherly.


"Ya udah, foto aja" jawab Zapata tak keberatan.


"Sini, berdiri dulu disitu. Aku mau foto dari atas sampe bawah"


"Buat apa" protes Zapata tapi nurut juga.


"Ada deh"


Sherly pun mengambil beberapa foto Zapata yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Kostumnya saat ini, adalah momen langka untuk mereka lihat.


"Udah, mau minuman yang mana?" tanya Sherly.


"Seprit"


"Katanya pengusaha sukses manca negara, tapi Sprite (seprait) aja bacanya seprit" ledek Sherly.


"Kalo pun dibaca Seprit gak mengubah rasa kan? Ya udah" jawabnya enteng.


"Nih Ta kuenya" ucap Bang Nanda baru datang dari dapur.


"Wah, mantep nih baunya" pujinya.


"Sekalian tuh ada bonusnya juga dari Dinda" kata Bang Nanda menunjuk ke dalam kantong plastik.


"Sip, makasih ya. Eh, jangan lupa silaturahmi kerumah gue. Sekalian kumpul kita" ajaknya.


"Aman" sahut Bang Nanda.


Sherly tiba-tiba menengadahkan tangan pada Zapata.


"Apa ini?" tanya Zapata sambil menghalau tangan Sherly.


"Gitu aja gak ngerti. Mana THR buat aku sama Umar?"


"Hii, sok bawa-bawa nama Umar. Padahal kalo dikasih, pasti kamu nilep kan?" tuding Zapata.


"Buruanlah Bang Ta, minta THR" rengek Sherly.

__ADS_1


"Gak bawa dompet, nih cek kalo gak percaya. Makanya besok main kerumah, biar dikasih THR" kata Zapata.


Akhirnya setelah dibebaskan oleh Sherly, Zapata pun bisa segera pulang kerumahnya.


__ADS_2