Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Bucin Akut


__ADS_3

POV Puput


Sekepulanganku dari rumah Zapata, tentu saja aku langsung membersihkan diri dan menunaikan sholat. Lalu makan malam bersama keluargaku dan tak lupa menemani mamaku menonton televisi. Karena sejak kepergian papa, mama seperti kehilangan teman cerita. Denganku pun mama tak terlalu banyak bicara, hanya sesekali megomentari artis di TV. Sedangkan Arse, lagi-lagi kami harus membawanya ke psikolog karena ia begitu banyak berubah sejak papa tiada.


Terkadang, aku merasa akulah orang yang paling menyedihkan didunia ini. Tapi saat aku melihat -entah itu di lingkungan sekitarku ataupun di sosial media- ternyata masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih menyedihkan dibanding aku.


Setelah menemani mama nonton TV, akupun masuk ke kamar. Biasanya, jam 9 begini pacarku akan menghubungiku. Tapi, nampaknya ia sedang sibuk. Karena sudah cukup lama aku menunggu nyatanya ponselku tak kunjung berdering. Sedangkan mau telpon duluan, takut ganggu.


Akhirnya aku mengambil buku harianku serta penanya. Aku akan menulis kegiatan seru yang aku jalani dengan pacarku tadi sore.


Ini adalah cerita bahagia yang aku tulis setelah dua kisah sedih yang aku alami di satu hari yang sama. Hm, kisah sedih yang memang terbiasa aku pendam sendiri. Yakni tentang rasa sakit hatiku karena Tian dan juga kepergian papa.


Aku membaca part dimana aku menumpahkan rasa sedihku tentang Tian yang kini sudah resmi jadian dengan Sherly. Aku sejujurnya jatuh hati pada Tian. Tapi, aku tahu sejak awal. Aku bukan typenya. Bahkan aku juga tahu berapa kali Tian curi-curi pandang pada Sherly. Karena aku selalu memperhatikannya.


Aku juga yang selalu "cie-cie'in" Sherly kalau kedapatan memperhatikan Tian. Tapi, saat itu Sherly memang tidak jatuh cinta padanya, hanya sebatas suka saja. Suka karena Tian ramah. Suka karena Tian royal kepada kami berdua. Tidak lebih. Tapi, seringnya aku mengajak Tian duduk dengan kami membuat Tian dan Sherly semakin dekat. Dan aku, jadi semakin tak terlihat di mata Tian.


Sherly sahabatku, dia memang tidak pernah tahu akan perasaanku pada Tian. Karena aku terlalu pandai memendam rasa. Terlalu lihai menyembunyikan luka.


Pa, aku sudah cape untuk pura-pura bahagia. Kini aku tahu rasanya menjadi dewasa. Ternyata, dewasa tidak sesimpel kedengarannya.


Aku mulai menulis tentang Zapata. Gak perlu pakek "bang" karena ia sendiri memintaku untuk memanggilnya sayang.


Dear Diary...,


Kamu pasti kaget kalau aku bilang bahwa yang menjadi pacar tak kasat mataku ternyata adalah Zapata. Opss!


Iya, dia yang membuatku sering begadang bahkan sampai lupa waktu.


Sempit banget ternyata Jakarta ini ya?


Kau tahu, aku jadi punya banyak pengalaman baru dan seru-seru setelah kami bertemu.


Menemani ziarah, yahh keinget papa lagi😓


Em, terus main badminton bareng.


Demi apa, ototnya mengalihkan duniaku. Sampai detik ini, si Otot masih berkeliaran di kepalaku. Kalau saja aku berani, pengen coba raba-raba dikit. Ya pengen tahu aja, sekeras apa sih absnya ayang hihihi


Eh satu lagi, tadi kita sempet bahas tentang liburan keluar negeri bareng Sherly. Kan waktu lebaran dia udah janji mau biayain kita berdua liburan hehe, dan disitu kita punya niat yang... Emh, kayanya nanti aja aku bocorin. Soalnya takut ga jadi.

__ADS_1


Sedang asyik menulis diary, tiba-tiba ponselku berdering. Siapa lagi kalau bukan Zapata.


"Halo By" sapaku. Memang aku sangat labil, kadang manggil sayang kadang manggil Baby. Selama beliau senang-senang aja dan gak protes kayanya ga masalah.


"Kok kamu gak telpon aku duluan?" tanyanya.


"Lho? Aku kira kamu lagi sibuk. Bisa jadi ada kerjaan mendadak" jawabku.


"Aku sengaja nungguin kamu telpon duluan. Eh ternyata malah beneran ga ditelpon sama sekali"


"Haha, iya-iya besok kalo kamu ga telpon aku bakal telpon duluan kok" ucapku biar kelar nih urusan telpon-menelpon.


"Udah makan?"


"Udah, kamu sendiri udah makan belum?" tanyaku.


"Belum, males nyuap sendiri"


Aku tertawa mendengar si pacar yang kadang manjanya suka lupa usia.


"Kok ketawa? Suka ya kalo aku sekarat gak makan-makan?"


"Yank, kesini. Aku laper, tolong suapin makan"


"Udah hampir jam 10 By. Atau aku pesenin makan online ya, makanan favorit kamu biar kamu gak males makan lagi"


"Ya udah deh" jawabnya pasrah.


Akupun memesankan makanan kesukaannya di aplikasi dengan alamat pengantaran yang sudah ku atur menjadi alamat rumahnya. Aku memesan cukup banyak karena aku tahu berapapun harganya pasti sanggup dibayar Zapata.


"Udah nih udah aku pesenin. Kamu tunggu aja ya"


Sampai makanan itu datang dan Zapata makan, kami tetap terus lanjut telponan. Zapata memang senang bercerita, beda denganku yang lebih pasif. Bahkan perbincangan kami sudah sampai jauh.


Salah satunya, dimana nanti jika aku sudah bisa magang, ia memintaku untuk magang di perusahaannya saja. Padahal saat ini aku baru semester 2, kan masih lama tapi semua seolah sudah Zapata persiapkan untukku.


Saat jam sudah mencapai tengah malam, aku mengajak Zapata untuk segera tidur. Lelaki itu sudah bilang akan ada pertemuan penting esok pagi tapi sanggup begadang terus-terusan.


"Dibilangin ngeyel, kamu tuh besok ada pertemuan jam 7 pagi. Nanti telat lho"

__ADS_1


"Tenang aja, aku gak akan telat asalkan kamu yang bangunin"


"Lah, aku kuliah jam 10 besok. Gimana kalo aku bangunnya juga telat?"


"Gak sholat subuh?"


"Kan lagi haid"


"Oohh, ya udah deh. Ayo tidur" pungkasnya.


Akhirnya kami memutus sambungan telepon dan sama-sama tidur di pelukan selimut masing-masing.


Keesokan paginya, aku bangun jam 7 pagi. Kubereskan tempat tidur lalu mencuci muka. Setelah itu sarapan dan berjemur sebentar selagi masih ada waktu untuk berleha-leha. Niatnya, jam setengah 9 baru aku akan mandi.


Setelah berjemur, aku kembali ke kamar dan membuka ponsel. Ternyata ada satu pesan dari biduan eh salah, be the one. Siapa lagi kalau bukan Zapata.


Be The One a.k.a Zapata


"Ngantuk banget😪"


Sepertinya pesan itu dikirim saat ia sudah berada ditengah-tengah pertemuan. Karena dikirim sudah lewat dari jam 07.00.


Puput


"Begadang terooos😠" balasku.


Setelah itu aku pergi mandi. 15 menit selesai, karena tidak keramas. Lalu aku bersiap-siap mengenakan celana jeans dan kemeja flanel yang kancingnya kubiarkan terbuka. Saat sudah siap dengan segala persiapan kuliah barulah aku cek ponsel lagi. Dan ternyata ada balasan dari biduan.


Zapata


"Ampun makk😔"


Puput


"Baek-baek kau ya, mamak kuliah dulu" balasku.


Lalu aku pun berangkat menuju kampus dan tentunya kembali melihat Tian dan Sherly berduaan.


Aku tidak sakit hati lagi. Karena aku punya biduan ganteng yang bahkan bisa memanjakanku dengan segala macam cara. Dia mapan, dia tampan. Aku padanya.

__ADS_1


__ADS_2