Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Duka


__ADS_3

Setelah buka bersama, Zapata naik ke kamarnya untuk melaksanakan sholat maghrib. Setelah itu ia rebahan untuk kembali melepas penat. Pikirannya melayang-layang pada wanita yang ia temui di Padang waktu itu. Sorot matanya, bibirnya, wanita itu mirip Sherly.


Sherly apa kabar ya? Kenapa ga pernah bikin story lagi di Whatsapp.


Zapata membuka ponselnya, sudah hampir dua minggu ia tak pernah melihat postingan Sherly. Baik itu Whatsapp ataupun sosial media yang lain.


Untuk mengetahui apakah dirinya sudah di blokir oleh Sherly ia pun akhirnya memposting sebuah foto pemandangan Kelok 9 kala itu. Sebelum itu, Zapata juga sudah mengatur privasinya sehingga postingannya hanya bisa di lihat oleh Sherly saja.


Foto itu ia beri caption "Do you miss me like I miss you?"


Artinya:"Apakah kau merindukanku seperti aku merindukanmu?"


Setelah mengirim postingan itu, Zapata keluar masuk Whatsapp hanya untuk memeriksa Sherly sudah melihat postingannya atau belum. Sedangkan sekarang sudah 30 menit postingannya masih belum juga di lihat oleh Sherly.


"Sherly kemana sih? Apa sholat tarawih? Tapi masih jam 7 kurang, apa perginya gak kecepetan. Masjidnya aja deket rumah, jalan dua menit juga nyampe" celoteh Zapata masih dengan memegang erat ponselnya.


Tok Tok Tok


Pintu kamarnya ada yang mengetuk. Zapata berdiri untuk membukakan pintu.


"Ada apa, Bi?"


"Mas, kata Pak Suhai tadi Mas Ta minta cuciin mobil"


"Oh iya, ini kuncinya. Emang Pak Suhai ga jadi pergi taraweh?"


"Ya gak jadi mungkin, Mas. Kan disuruh cuci mobil"


"Bilang sama Pak Suhai, pergi aja tarawih pakek mobil saya. Kan pulang tarawih bisa cucinya, cuci di tempat cucian mobil aja biar ga repot. Ini duitnya" Zapata menyerahkan kunci mobil serta uang cuci mobilnya kepada Bibi untuk diserahkan pada Pak Suhai.


Bibi pun segera pergi membawa kunci mobil Zapata. Sedangkan Zapata ia masih kelelahan dan memilih untuk menghabiskan waktunya dirumah saja.


Zapata merebahkan tubuh dan memeriksa ponselnya lagi. Kali ini ia tampak lebih bersemangat karena ternyata status Whatsappnya itu sudah dilihat oleh Sherly. Ia duduk di atas tempat tidur sembari menunggu akankah Sherly mengomentari postingannya itu. Detik demi detik, ternyata harapannya tak terkabulkan. Ponselnya tidak menerima pesan dari siapapun. Malah notifikasi yang tidak penting yang muncul.


Zapata pun merebahkan tubuhnya lagi. Memain-mainkan ponselnya di tangan lalu akhirnya ketiduran.


Pukul 21.00 pintu kamarnya di ketuk dengan tidak santai. Zapata terperanjat dan setengah kesal membukakan pintu kamarnya.


"Mas Ta, Pak Suhai kecelakaan!"


◇◇◇


Berita kecelakan maut itu telah tersebar dengan cepat. Nanda yang sepulang tarawih nonton TV bersama papa mertuanya juga ikut terkejut melihat berita kecelakaan maut yang sampai membuat mobil mewah itu hancur seketika. Mobil itu dengan cepat teridentifikasi karena bagian belakangnya masih utuh sehingga plat nomornya bisa segera dilacak.


Sebagai orang yang begitu dekat dengan Zapata, tentulah tidak sulit bagi Nanda untuk mengenali kendaraan milik sahabatnya. Ditambah lagi setelah kamera menyoroti plat nomor yang berakhiran ZPT. Nanda langsung berdiri dari duduknya, lalu dengan histeris mengucap istighfar.


"Astaghfirullahal'adzim. Gak mungkin"


"Kenapa Nan?" tanya papa mertuanya.


"Itu mobil Zapata, Pa"


"Zapata kecelakaan?" kaget papa dengan volume yang kencang. Nanda mengangguk, ia tak mengira kalau pengemudinya adalah sopir Zapata. Sebab Zapata jarang menggunakan jasa sopir kalau kemana-mana.

__ADS_1


Sherly yang sedang menuruni tangga langsung mendengar ucapan papanya itu. Kakinya seketika melemah, masih mencoba menampik kalau yang ia dengar barusan adalah salah. Dengan sugesti bahwa ia salah mendengar, akhirnya kaki Sherly punya kekuatan lagi dan ia pun buru-buru menuruni tangga.


"Ada apa, Pa?" tanya mama yang muncul dari kamarnya. Sejurus kemudian Sherly sampai juga ke dekat papanya.


"Itu, Zapata kecelakaan. Papa liat di Breaking News barusan"


"Iya Ma, aku tau betul itu mobil Zapata. Ini aku lagi coba hubungi ponselnya masuk tapi ga di angkat"


Sherly terduduk setelah mendapat berita buruk itu. Air matanya menetes teringat lagi dengan kalimat "Do you miss me like I miss you". Ia yakin betul kalau kalimat itu pasti ditujukan untuknya. Karena sejujurnya ia pun sama, sama rindunya dengan Zapata.


Sherly berlari naik ke kamarnya. Jika panggilan Bang Nanda tak di angkat, mungkin saja panggilan darinya akan di angkat.


Tuuuut Tuuuut Tuuutt


Tuuut Tuuuut Tuuuut


Sudah dua kali tak terjawab, Sherly tetap mencoba menghubungi kesekian kali sembari terus berharap kalau Zapata baik-baik saja.


Tuuuut Tuuuut Tuuuut


Pupus sudah harapannya, berulang kali percobaan masih tak dijawab juga. Ia mulai kehilangan harapan. Ia mengusap air matanya yang terus mengucur membasahi pipi.


Sherly turun kebawah, mungkin saja Bang Nanda sudah mendapat kabar. Saat sampai bawah, ternyata Bang Nanda dan yang lain sudah tidak ada, mungkin sudah pergi menyusul ke rumah sakit yang disebutkan di Breaking News tadi, pikirnya. Sherly yang tidak ikut nonton jadi tidak tahu rumah sakit mana tempat Zapata di bawa.


Sherly pun meninggalkan rumah dengan tujuan pergi kerumah Zapata. Ia harus kesana secepatnya. Ia harus jadi yang pertama kali tahu tentang kabar Zapata.


Tok Tok Tok


Sherly pucat pasi menunggu pintu utama terbuka. Bibi membuka pintu utama dengan wajah sembab.


Sedangkan Sherly menangis karena dirinya dan Zapata belum sempat bertemu lagi setelah ia bentak-bentak di pinggir jalan kala itu. Ia hanya kecewa pada Zapata, bukan benci sepenuhnya.


Ia tidak bisa benci pada orang yang telah membuat harinya penuh tawa. Kini ia sadar, kalau waktu tak bisa di gantikan dengan apapun.


◇◇◇


Sedangkan Zapata, sejak mendapat kabar kalau Pak Suhai mengalami kecelakaan ia langsung bergegas pergi menuju rumah sakit yang disebutkan Bibi. Terlalu panik, ia sampai lupa dengan ponselnya.


Saat sampai dirumah sakit, ia menemui bagian resepsionis untuk menanyai tentang korban kecelakaan maut yang barusan terjadi. Pihak resepsionis bilang kalau jenazah sudah di antarkan ke kamar mayat untuk di observasi. Syok, namun ia cepat-cepat berpikir positif kalau yang meninggal tersebut bukanlah Pak Suhai. Sebab Zapata sendiri memang tidak menonton siaran beritanya yang menyebutkan kalau itu adalah kecelakaan maut. Sedang Bibi juga tadi bilangnya cuma kecelakaan. Tidak ada info tambahan.


"Korban yang masih hidup maksud saya Mbak" ralatnya.


"Mohon maaf Pak, tapi tidak ada korban yang selamat" ujar resepsionis itu.


Sesak di dada sampai rasanya susah untuk bernafas. Zapata menahan air matanya agar tak menetes sehingga hanya sempat mengembun di kelopak matanya buru-buru ia usap.


Setelah ia memastikan dan benar kalau Pak Suhai kini telah tiada, Zapata terduduk di samping pembaringan Pak Suhai. Sopir yang telah berjasa lebih dari 10 tahun bekerja dengannya, bahkan sudah ia anggap sebagai keluarga. Sekalipun Zapata sebenarnya tak terlalu membutuhkan jasa sopir, namun ia tak pernah mau memberhentikan Pak Suhai. Karena ia tahu Pak Suhai menggantungkan hidup padanya. Gaji dari Zapatalah yang menjadi satu-satunya sumber penghidupannya. Sebagai bentuk balas budi Pak Suhai, ia kerap membantu satpam untuk menjaga keamanan rumah Zapata.


Zapata mengurusi administrasi jenazah Pak Suhai yang akan di kirim pada keluarga di Cirebon yang kebetulan sudah di hubungi oleh pihak rumah sakit berdasarkan kartu identitas yang di temukan dalam dompet Pak Suhai, lalu Zapata juga sempat menjenguk jenazah yang satunya yang menjadi lawan tabrakan Pak Suhai. Ia menyampaikan turut berduka pada keluarga korban tersebut. Mereka sama berdukanya dengan Zapata.


Zapata duduk di depan kamar mayat bersama keluarga korban yang lain. Tak lama kemudian muncullah Nanda dan papa mertuanya juga kedua orang tua Zapata yang ternyata mereka tak sengaja sampai kerumah sakit di waktu yang bersamaan.


"Zap, kamu ga kenapa-napa?" tanya Mamanya khawatir.

__ADS_1


"Yang mama liat gimana?" jawabnya.


"Zapata! Mama kamu nanya serius malah di jawab begitu" tegur Papanya. Sedang Nanda dan papa mertuanya hanya diam menunggu penjelasan dari Zapata.


"Aku ga kenapa-napa. Yang bawa mobil Pak Suhai. Dia aku suruh tarawih pakek mobil aja biar sekalian pulangnya cuci mobil"


"Terus keadaan Pak Suhai gimana?" tanya mamanya lagi.


"Meninggal, Ma" jawab Zapata.


"Iya tau, maksud mama gimana kondisinya. Katanya ada bagian yang putus"


"Iya, jari kelingking kanan putus. Kepala hancur sama bola matanya satu pecah. Tadi aku masuk dokter lagi jahit-jahit. Akhirnya disuruh keluar"


"Ya allah, innalillahi wainnailaihiroji'un" ucap semua orang.


Orang tua Zapata dan yang lain juga berbela sungkawa pada kerabat korban yang satu lagi, mereka juga sempat memberikan bantuan materi karena sebetulnya di kejadian ini tidak ada yang bisa di salahkan memang, namun sebagai orang yang lebih mampu dan turut merasakan iba pada keluarga korban akhirnya seamplop uang diserahkan pada ibu korban. Sedangkan keluarga Zapata kemungkinan besok ikut ke Cirebon untuk menemui keluarga Pak Suhai disana.


"Kamu besok ikut ke Cirebon?" tanya Papanya.


"Iyalah Pa, Pak Suhai udah aku anggap kaya oom sendiri"


"Kalo gitu, kamu pulang saja istirahat. Disini biar papa sama mama yang urus jenazahnya. Kita berangkat iring-iringan sama ambulans"


Karena lelah, capek, dan tidur yang terpotong akhirnya Zapata nurut pada papanya itu. Ia keluar dari rumah sakit bersama Nanda dan papanya Dinda yang juga mau pulang.


"Om tadi panik banget Ta, Om kira yang kecelakaan itu kamu. Apalagi Nanda teriak-teriak histeris makin gak karuan lagi jadinya. Makanya Oom ajak Nanda buru-buru susul kesini"


"Iya om, aku sendiri ga nyangka bakal dapat kabar kaya gini. Sebelumnya aku ga begitu panik soalnya orang rumah bilang Pak Suhai kecelakaan tapi ga bilang kalo kecelakaan maut. Pas sampe sini resepsionis bilang gak ada korban yang selamat, langsung mau copot jantung rasanya. Mana aku baru abis pulang dari Padang tadi siang, betul-betul udah kehabisan tenaga malam ini"


Mereka saling cerita sampai ke mobil Zapata.


"Lo pulang hati-hati, Ta. Jangan menung, jangan main hp" kata Nanda memberi peringatan.


"Hp aja ga bawa" sahut Zapata yang sudah duduk di dalam mobilnya.


"Pantes, gue telpon ga di angkat-angkat"


"Mana sempat gue keinget hp, bangun tidur aja udah langsung jantungan"


"Ya udah pulang sana, hati-hati" timpal papa Dinda.


Mobil Zapata pun berlalu meninggalkan parkiran rumah sakit. Ia mengendarai mobil terbilang cukup pelan karena ada rasa takut setelah kejadian kecelakaan yang menimpa sopirnya. Sedangkan tentang mobilnya yang rongsok, ia tidak peduli. Karena baginya, mobil bisa di beli sedangkan orang seperti Pak Suhai takkan ada lagi.


Sesampainya di rumah, Zapata turun dari mobil dan berjalan cepat. Ia sampai tak sadar telah melewati mobil pemberiannya sendiri yang sudah lama menjadi kendaraan pribadi Sherly.


Zapata membuka pintu, ia baru sadar kalau pintu tak di kunci.


Kenapa pintunya gak dikunci?


Ia masuk dan berjalan pelan, takut kalau rumahnya kemasukan maling dan mencelakai seisi rumah.


Sayup-sayup terdengar isakan tangis seorang perempuan dari ruang keluarga. Zapata pun mempercepat langkahnya menuju sumber suara.

__ADS_1


Dari posisinya berdiri, tampaklah perempuan yang sedang duduk membelakanginya dengan ciri-ciri rambut hitam ikal tidak terlalu panjang. Wanita yang ia kenali dengan ciri-ciri tersebut cuma satu.


"Sher... Ly?"


__ADS_2