
Dikeesokan harinya, Sherly yang malas berangkat sendirian akhirnya menawarkan diri untuk menjemput Puput. Namun, tawarannya itu lagi-lagi ditolak Puput dengan alasan ia sudah dijalan mau ke kampus.
Sherly pun akhirnya berangkat ngampus minta dianterin sopir seperti dulu. Sesampainya di kampus, ia langsung ke parkiran untuk memastikan apakah Tian sudah sampai kampus atau belum. Ternyata disana tidak ada mobil Tian, dan Puput pun memilih duduk dibangku yang tersedia di dekat parkiran karena jam kuliahnya saat itu memang belum masuk waktunya.
Sherly
"Yank, aku udah dikampus. Kamu dimana?"
Tian
"Masih dijalan sayang. Tadi mobil aku mogok, terus ketemu Puput akhirnya nebeng dia"
Sherly
"Ya ampun, kenapa ga hubungin aku aja? Kan bisa aku susul"
Sherly merasa panas dadanya. Karena ia sebagai pacar merasa seperti tidak dibutuhkan oleh Tian.
Tian
"Maaf sayang, aku cuma ga mau ngerepotin kamu aja. Nih untungnya ada Puput, kamu ga usah khawatir"
Sherly
"Ya udah, kamu udah sampe mana?"
Tian
"Udah masuk gerbang kok sayang"
Benar saja, tak berapa lama mobil Puput masuk ke area parkiran dan berhenti tak jauh dari tempat Sherly berada. Tian turun lalu mengambil ranselnya yang ada di bangku tengah. Kemudian disusul Puput yang ikut turun dan tak lupa mengembalikan ponsel pada Tian.
Setelah menerima uluran ponselnya dari Puput, Tian langsung berbalik dan menghampiri Sherly yang berdiri mematung memperhatikan keduanya.
"Ke kelas yuk, 5 menit lagi mulai" ajak Tian. Sedangkan Puput langsung ngacir pergi lebih dulu setelah memberikan ponsel Tian tadi.
Sherly berjalan bersisian dengan Tian dan menaiki tangga menuju kelas mereka. Ada pertanyaan yang menggelayut di pikirannya.
"Yank, kan tadi aku pas masih dirumah sempet chat Puput katanya udah otw. Terus kamu kan kemaren sore bilang bakal ngampus agak telat. Terus gimana ceritanya yang nebengin kamu malah Puput?"
__ADS_1
"Panjang Yank ceritanya. Oh iya, kamu ga bawa mobil ya hari ini?" tanya Tian.
"Iya, lagi males berangkat sendiri"
"Ya udah nanti pulang bareng aku aja"
"Mobil kamu emang udah ga kenapa-napa?"
"Nanti dibawa abang. Soalnya aku titip ke dia di jalan tadi"
Keduanya pun sampai ke kelas.
Seperti biasa, Sherly duduk kalau tidak disamping Tian ya disamping Puput. Tapi sepertinya untuk kali ini Puput sudah diapit lebih dulu oleh temannya yang lain. Itu tandanya Sherly akan duduk disamping Tian.
Selagi dosen belum masuk ke kelas, Sherly masih terus melanjutkan perbincangan mereka tadi.
"Yank, tadi yang bales chat aku siapa? Aku liat tadi Puput balikin HP kamu" ujar Sherly.
"Oh iya, memang Puput yang bales tapi sesuai perintah aku. Dia cuma bantu ngetik. Kan aku lagi nyetir Sayang. Kamu sendiri kan yang bilang lagi nyetir jangan main HP"
Sherly hanya mengangguk. Namun setelahnya, terlihat jelas binar bahagia di wajahnya. Ia begitu karena tersanjung akan sikap Tian yang hapal dengan hal kecil yang pernah ia ucapkan. Kesannya, Tian lelaki yang penurut dan mudah diatur. Sehingga Sherly sebagai pacar kayanya ga perlu nuntut berlebihan kalau Tian semudah itu mau nurut padanya.
"Kenapa senyum-senyum terus sih?" tanya Tian dengan mengusap pipi Sherly lembut.
"Iyalah, bisa pulang bareng kamu tuh berasa kaya mendapat suatu keajaiban. Udah lama kan kita ga semobil gini?"
"Ya udah, besok aku jemput. Tapi kalo aku harus mampir Distro, gimana?"
"Ya gapapa. Kalo mampir Distro, kamu ga perlu jemput aku. Emmh, tapi kan kita ga setiap hari masuk jam 8. Berarti tetap bisa dong jemput aku?" tawar Sherly.
"Iya-iya, pokonya aku kabarin dulu kalo aku ga bisa jemput, ya!?"
Sherly mengangguk senang. Karena sekarang Tian sudah kembali seperti semula yang mau lagi untuk menjemputnya.
()()()
Satu minggu berlalu
Zapata tengah duduk mengulas senyum yang terkesan dingin diwajahnya. Ia baru saja mendapat kabar dari orang suruhannya yang ia tugaskan untuk memantau Puput sejak dirinya berada di Belanda sampai sekarang, meski Zapata sudah berminggu-minggu pulang ke Indonesia.
__ADS_1
"Jadi, apa yang dia lakukan?" tanya Zapata datar.
"Pergi ke sebuah mall lalu makan malam dan ke bioskop, Pak"
"Sudah kamu cari tahu siapa lelaki yang bersamanya?"
"Sudah Pak, teman kuliahnya. Berteman juga dengan Non Sherly"
"Menurut kamu, hubungan mereka itu seperti apa?"
"Maaf Pak, saya tidak berani menduga terlalu jauh"
"Jangan takut! Saya hanya ingin mendengar pendapat kamu yang melihat langsung"
"Sesekali mereka bergandengan tangan, Pak. Tapi, mungkin saja pergaulan anak muda zaman sekarang memang biasa seperti itu"
"Baiklah, silahkan pergi!"
Zapata sendiri diruang kerjanya. Melepas jas dan mengendurkan dasinya. Ia tidak mengerti jalan pikiran Puput. Menurut Zapata, tidak susah untuk menjadi wanitanya.
Cukup diam, menyayangi, dan setia hanya padanya. Apa itu sangat sulit untuk dijalani?
Apa selama ini ia masih kurang dalam hal memberikan atau menunjukkan kasih sayangnya pada Puput? Mengapa Puput tidak menyampaikan saja apa isi hatinya. Apa kemauannya.
Apa ini terjadi karena Puput sudah tak menganggap dirinya ada? Puput kecewa karena ia pergi begitu saja tanpa memberi kabar terlebih dulu.
Zapata menarik nafas dalam.
Ia mendongakkan kepala di sandaran kursi kerjanya. Menutup mata dan kemudian setetes air mengalir di pipi kanannya.
Kamu menunggu hanya beberapa bulan saja tak bisa. Lemah!
Coba bayangkan aku, yang harus menunggu lebih lama dari itu. Bukankah sudah jelas bahwa aku ingin serius denganmu. Sekalipun aku pergi tanpa kabar, aku tetap sadar kalau kamu tujuan aku untuk pulang. Terkadang, pergi tanpa memberitahu itu menyenangkan bagiku. Lalu dicari, dikejar-kejar untuk meminta penjelasan.
Tapi kamu? Berbeda dari mereka-mereka yang pernah singgah dihatiku. Tanpa banyak usaha kamu menyimpulkan sendiri seolah aku memang ingin pergi darimu.
Aku sangat kecewa dengan sikapmu. Tapi, tekadku sudah bulat. Atas nama kedua orang tuamu dan kehormatanku sebagai seorang lelaki yang sudah memintamu dihadapan keluarga besarmu, aku tidak akan membiarkan kita berakhir sekonyol ini. Dan hatiku tak semudah itu berpaling ke yang lain. Beruntunglah kamu selama kamu masih menguasainya. Put, aku akan tetap perjuangkan kamu.
Lain halnya dengan apa yang dirasakan Zapata yang sudah tahu kelakuan Puput dibelakangnya, kini Sherly justru merasa Tian semakin aneh. Seringkali pesan yang ia kirimkan pada Tian hanya dibalas sekenanya. Atau malah dibalas berjam-jam kemudian. Padahal Sherly bolak-balik membuka kolom chat milik Tian yang bertuliskan online.
__ADS_1
Lantas mengapa Tian mengabaikannya?