
Rintik hujan mulai turun sejak pagi tadi, cuaca yang dingin menusuk tulang itu hampir saja mengalahkan niat seseorang untuk menimba ilmu. Gerakan menarik selimut sampai ke leher terancam gagal karena pintu yang terbuka memunculkan wajah ramah khas seorang ibu.
"Sher, bangun! Ditungguin di meja makan ga nongol-nongol taunya masih molor"
Mama menarik selimut Sherly agar anaknya segera terbangun. Ia juga mengipas-ngipaskan selimut pada tubuh Sherly.
"Dingin" ucap Sherly dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Sherly, kata kamu hari ini ada kegiatan BEM. Mau ngampus pagi kan? Sher, bangun dong"
Sherly masih betah dengan posisinya. Hingga akhirnya sang mama menelepon Tian dengan niat membuat malu Sherly. Sebab Sherly biasanya akan malu kalau Tian sampai di beritahu kejelekannya. Dan juga, mama belum tahu kalau Sherly sudah putus dari Tian.
"Halo" sapa Tian dari seberang telepon.
"Halo Tian, ini Tante. Bisa tolong jemput Sherly sekarang gak biar dia mau bangun. Kalo di bangunin sama Tante kayanya udah ga mempan"
Sherly secepat kilat terduduk setelah mendengar nama Tian disebut-sebut. Ia mengucek mata dan masih berfikir bahwa itu hanya mimpi.
Sedangkan di telepon, Tian sedang menjawab ucapan Mamanya.
"Maaf Tante, sekarang Tian udah di kampus. Gimana kalo minta tolong jemput sama Puput aja, biar Tian hubungin Puput sekarang juga" Dalam hatinya Tian, gak mungkin juga Puput akan mau menjemput Sherly. Apalagi setelah mereka dipergoki Sherly waktu itu Puput malah terlihat sangat tidak suka pada Sherly.
"Oh begitu ya Tian?"
Ha?
"Mama telepon siapa?" tanya Sherly yang langsung full kesadarannya saat itu juga.
"Telepon Tian" jawab mama dengan ponsel yang sudah di jauhkan dari telinganya.
"Ih mama, jangan coba-coba telepon Tian lagi ya. Aku udah putus sama dia. Mama malu-maluin aku nih. Haduh ma, kalo ketemu Tian gimana nih? Aku malu"
"Makanya, waktu mama bangunin sekali kamu langsung bangun. Kan mama jadi kehabisan ide kalo kamu susah dibangunin. Ya tadi mama kepikiran Tian aja" ujar mamanya membela diri.
"Ah mama, aku ga mau ketemu Tian lagi pokonya. Mama juga, jangan sebut-sebut nama itu lagi. Menyebut nama mantan sama kaya ngomong kotor"
"Mendebat mama bisa, buruan mandi ga bisa!? Lihat jam Sherly, lihat jam!" Musnah sudah aura ramah yang terbawa sampai ke pintu kamar di gantikan dengan wajah sangar karena Sherly masih saja nyaman di tempat tidur. Duduk bertopang dagu pada sebuah bantal.
Tapi setelah gertakan sang mama, Sherly langsung melihat jam dan panik karena akan terlambat ke kampus. Ia membuang bantalnya sembarangan dan berlari meraih handuk.
Blam
Pintu kamar mandi terkunci rapat dari dalam. Mama akhirnya turun dengan masih menggenggam ponsel Sherly yang ternyata belum di matikan oleh Tian. Tian mendengar semua percakapan Sherly dengan mamanya.
Saat sudah tak ada suara Sherly lagi dan posisi saat itu mama Sherly tengah menuruni tangga barulah Tian mematikan panggilannya.
●●●
Jam setengah 10 Sherly baru sampai di kampus. Ia segera menaiki lift menuju ruangan yang biasa di pakai oleh anak BEM. Saat membuka pintu, semua anggota BEM ternyata sudah berkumpul dan mereka tengah berdiskusi. Sesaat, semua perhatian mereka tertuju pada Sherly yang baru datang.
__ADS_1
"Kok baru datang, Dek?" tegur sang ketua BEM pada Sherly. Teguran itu sekilas terdengar biasa namun penuh arti.
"Saya-..."
"Dia ga bisa datang tepat waktu soalnya mobilnya bermasalah. Tadi dia sudah menghubungi saya, Kak" sambar Tian memotong ucapan Sherly.
"Ya sudah, silahkan duduk" ucap sang Ketua itu akhirnya.
Karena keterlambatannya itu, Sherly hanya ikut rapat 10 menit saja. Setelah beres-beres ruangan, Sherly pun keluar dari ruang rapat dan ingin segera menuju ke gedung fakultasnya.
Saat ia keluar, ternyata Tian tengah berdiri di depan ruangan dengan membelakangi pintu. Ia sedang berbincang dengan salah satu anggota BEM sambil membelakangi Sherly. Posisi Tian yang terlalu dekat dengan pintu membuat Sherly tak bisa keluar. Lawan bicara Tian sudah mengkodenya, namun Tian tak mengerti.
"Misi" ucap Sherly. Barulah Tian berbalik dan memberi jarak agar Sherly bisa lewat.
Tian tersenyum. Sherly hanya melewatinya sambil menunduk. Sherly langsung menuju lift agar bisa segera pergi dari sana.
Sherly sudah menekan tombol lift namun tak kunjung ada satu pintu lift pun yang terbuka. Ia berdiri melipat tangan, makin tak sabaran karena melihat Tian yang sedang berjalan ke arahnya.
"Aduh, jangan bilang si kunyuk itu juga mau turun" kesal Sherly.
Huh, benar saja. Saat ini Tian juga tengah berdiri di depan lift bersama Sherly. Namun keduanya tak saling sapa.
Lama menunggu, akhirnya datanglah seorang Office Boy menghampiri mereka.
"Liftnya rusak" ujarnya.
Lift disana tersedia ada dua, hanya saja satu untuk umum dan satu lagi untuk petinggi kampus. Seperti rektor, ketua komite kampus, dan para tamu terhormat.
"Yang lain tadi turunnya pakek tangga darurat" ujar Office Boy itu lagi.
"Ah gitu, makasih infonya Mas" jawab Sherly.
Office Boy itu pun pergi ke arah asalnya ia datang. Sherly pun juga langsung menuju ke sebuah pintu paling pojok di koridor itu yang bertuliskan Pintu Darurat.
Tian mengikutinya juga karena memang sama-sama ingin turun. Demi Tuhan, di tangga itu sangat sepi. Tidak ada satu orang pun selain mereka berdua. Rasanya sedikit seram apalagi penerangannya sangat minim karena hanya di sinari oleh sebuah lampu yang berada di tangga lantai yang paling tinggi.
Tidak tahu mengapa, Sherly merasa ketakutan disana padahal Tian ada dibelakangnya. Ia pun mempercepat langkah turunnya. Persis seperti olahraga, ia harus turun dari lantai 5 ke lantai 1. Nafasnya mulai ngos-ngosan, kaki yang tadinya berpijak pada posisi yang tepat hingga akhirnya jadi salah posisi.
Sherly terjatuh karena kakinya menginjak sisi tangga paling pinggir. Membuat bobot tubuhnya harus di topang oleh sisi kaki yang tidak siap itu.
"Aw" pekiknya karena terkilir.
"Sher, lo gapapa?" Tian menyusul Sherly yang sudah terjerembab.
"Aw, kaki gue sakit"
"Lo kenapa sih Sher, buru-buru banget turunnya. Kaya di kejar setan aja" ucap Tian sembari memeriksa pergelangan kaki Sherly.
"Emang" jawab Sherly dengan berpura-pura tidak menjawab.
__ADS_1
"Ayo, gue bantu berdiri" Tian sudah dengan posisi siap mau membopong tubuh Sherly.
"Gue masih bisa jalan" tolak Sherly.
"Iya tau, tapi bisa turun?"
Sherly memandang ke arah bawah. Masih ada dua lantai lagi untuk sampai ke lantai 1. Ia menggigit bibir bawahnya, sembari berpikir.
Kenapa gue harus terjebak disini sama Tian dah?
"Ya udah, tapi ga perlu di bopong. Kita turunnya pelan-pelan aja, gue pegangan sama lo. Lo di depan" tutur Sherly.
"Oke"
Sebelum berjalan, Sherly membetulkan posisi tasnya. Yang semula hanya bergelayut di bahu, ia ubah jadi menyilang di tubuhnya.
Tian turun di depan, Sherly di belakang dengan berpegangan pada pundak tian. Untuk satu anak tangga mereka habiskan kurang lebih 10 detik. Dan lama kelamaan, untuk satu anak tangga jadi 30 detik.
"Aw" setiap kali turun anak tangga, Sherly meringis. Karena kakinya sudah semakin parah rasa sakitnya.
Mereka berhenti, Sherly langsung mendudukkan tubuhnya. Tian memeriksa kakinya lagi.
"Bengkak, Sher. Kayanya gara-gara masih kamu paksain buat jalan"
"Aku ngesot ajalah" ucap Sherly sembari mempraktekkan turun di satu anak tangga.
"Bisa kotor Sher baju sama celana kamu"
"Ga cuma itu, tapi ****** aku juga sakit" elus Sherly pada bok*ngnya itu.
"Aku gendong di punggung aja. Ayo, buruan naik" Tian berjongkok di depan Sherly.
Sherly masih diam, masih banyak pikiran-pikiran berkecamuk di kepalanya.
"Ingat ya Sher, 15 menit lagi kita mau ngumpul tugas"
Ucapan Tian mengingatkan Sherly dengan tugas kuliahnya.
"Iya iya"
"Eh bentar, sini tas lo gue kalungin aja" Sherly pun menyerahkan tasnya yang langsung di kalungin Tian.
Kemudian Sherly naik ke punggung Tian. Awalnya Tian susah berdiri, tapi cuma sebetar. Karena setelah itu Sherly aman-aman saja. Tian bisa menjaga keseimbangannya selama menuruni tangga.
Pintu darurat lantai satu sudah kelihatan, kurang lebih beberapa detik lagi mereka sampai. Tian memutar tubuh sehingga Sherly yang membuka pintu itu tanpa harus turun dari gendongan Tian.
Saat pintu terbuka, ada Puput yang berdiri bersama beberapa orang lainnya.
Tian menurunkan Sherly dan mengembalikan tasnya. Belum sempat berterima kasih, Tian langsung pergi menghampiri Puput yang nampak emosi melihat mereka berdua main gendong-gendongan.
__ADS_1