
POV Zapata
Aku tak tahu kenapa tiba-tiba waktu buka mata aku sudah berada diruangan yang serba putih. Sebuah tiang dengan cairan infus berdiri disamping brankarku.
Tidak ada jam dinding disini. Ponselku tak ada, jam tangan juga tidak ada lalu bagaimana aku bisa tahu saat ini jam berapa. Yang aku ingat, setelah aku menc*um Sherly tadi dan dia pergi meninggalkanku, aku masih berusaha untuk mengejarnya. Dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa. Lalu, siapa yang membawaku kesini?
KRIEETT
Suara pintu yang terbuka. Aku menunggu siapa orang yang telah membuka pintu itu. Ditunggu sekian lama, masih tidak ada juga. Aku berusaha menggapai tirai yang biasa ada di dekat brankar pasien. Kucoba tarik agar terbuka sempurna. Dan...
"Haaa" jerit kami bersamaan.
"Lo udah sadar?" tanya Bibin.
"Udah dari tadi. Lo ngapain sih masuk ga permisi, gue kan cemas jadinya. Mana ga keliatan lagi" omelku.
"Ya biar ga ganggu istirahat lo. Gue berusaha pengertian malah ga dihargai" gerutunya.
"Pengertian sih pengertian. Cuman 'kan rumah sakit biasa ada setannya"
"Setan pada kabur kalo ada lo" timpal Bibin.
"Sialan lo" sahutku.
"Eh, jadi yang bawa gue kesini lo, Bin?"
"Bukan, waktu lo pingsan di depan kamar sebenernya di tolongin pak Suhai (supir pribadi Zapata). Terus Bibi hubungin Eko, kasih tau kalo lo dibawa kerumah sakit. Nah habis itu Eko yang ngasih tau gue kalo lo dirawat disini. Dapet kabar gitu, ya gue langsung kesini"
"Kalo gitu si Ekonya mana?" tanyaku.
"Udah pulang tadi pas habis urus administrasi lo"
"Oh"
"Kata Bibi lo pingsan tepat pas Sherly pulang. Emang iya?"
"Ya mana gue ingat. Kan gue pingsan"
"Maksud gue, emang Sherly ga cek kondisi lo dulu sebelum pulang. Kan kalo dirasa makin parah ya telpon gue kek atau telpon dokter"
"Bin, jangan bahas Sherly dulu ya. Pala gue puyeng ini"
Bibin pun nurut.
"Lo mau makan apa? Biar gue pesenin?"
"Gue ga nafsu"
"Di paksa dong Ta. Lo gimana sih? Gimana mau sembuh kalo begini" omel Bibin.
"Pertanyaan gue, emang gue sakit apa? Dan sekarang jam berapa?"
"Lo sakit DBD (Demam Berdarah). Terus sekarang jam 2 pagi"
"Jam 2? Kok mata gue rasanya kaya jam 7 pagi"
"Jangan bilang kalo lo minta ditemenin begadang. Sorry banget nih ya Ta, gue capek banget pulang kerja langsung kesini. Gue mau tidur sekarang juga"
"Ah, ga seru lu Bin"
"Bodo"
Bibin hendak tidur di sofa dekat brankarku. Ia menutupi wajahnya dengan selimut agar aku berhenti mengajaknya bicara.
__ADS_1
Aku menaikkan posisi brankar sehingga posisi berbaringku berubah menjadi orang duduk. Mataku tidak mengantuk, tapi aku kesepian kalau tidak ada teman ngobrol. Akhirnya tercetuslah ide agar Bibin kembali mau berbicara denganku.
"Bin, gue sama Sherly begini" ucapku sembari memperagakan dengan tangan bagaimana orang ci*man.
Bibin membuka wajahnya. "Begimana?"
"Begini" ulangku lagi.
"Ciu*an?"
Aku mengangguk pelan.
"Astaga. Lo ngapain anak orang?"
"Gue juga gak tau Bin. Reflek aja gitu nyosor bib*rnya Sherly. Terus nasib gue gimana ni, Bin? Sherly mau ga ya maafin gue?"
"Wah lo kacau banget. Udah adeknya Rama di pacarin, sekarang mau ngegaet adeknya Nanda segala"
"Bin, gue udah bilang ga sengaja. Reflek!"
"Gue gak yakin kalo Sherly bakal mau maafin lo. Apalagi kalo sampe si Nanda tau, lebih parah lagi"
"Ya lo jangan ngadu-ngadu sama Nanda lah, Bin. Bisa remuk badan gue dihantam sama Nanda. Apalagi sejak gue sakit badan gue jadi kurus kering begini" ujarku sembari memperhatikan seluruh tubuhku ini.
"Lu pikir aja sendiri. Salah lu juga sih, sembarang nyosor"
Huaaahhh, pengen nangis rasanya. Mikirin gimana nasibku kalo sempat di amuk sama Nanda. Mana curhat sama si Bibin malah di omelin, bukannya dapet solusi malah makin stres.
Aku pun memejamkan mata sembari mengingat lagi kenapa aku melakukan itu pada Sherly. Dan sekarang aku betul-betul menyesal. Aku harus cepat sembuh biar bisa nemuin Sherly.
•••
Keesokan harinya
Setelah pintu terbuka lebar, masuklah Nanda dan istrinya. Aku dan Bibin tersenyum menyambut mereka sekaligus cenat-cenut barangkali Sherly udah melapor sama abangnya itu bisa mampus aku.
"Nih, gue bawain buah-buahan. Sama buah tangan" Nanda menunjukkan kepalan tangannya ke arahku.
Astaga, apa Nanda udah tau?
Aku celingak-celinguk melihat Bibin. Bibin pun sama cemasnya denganku.
"Ini pada kenapa sih? Dijenguk kok malah gak bahagia. Lo sakit apa?" tanya Nanda.
"DBD" jawabku singkat ditambah dengan acting pura-pura lemes.
Tak lama kemudian, pintu kebuka lagi. Muncullah wajah Sherly disana. Ya Tuhan, cobaan macam apa ini. Bukannya lega aku malah semakin cemas saat kemunculan Sherly.
Sherly masuk dan langsung duduk di samping Bibin. Kalau saja tidak ada Nanda dan Dinda pasti sudah sujud-sujud aku dikakinya.
"Lo ga kerja Nan, Din?" tanyaku pada pasangan itu.
"Nanti, habis dari sini. Lo kenapa bisa pingsan sih? Ga nyangka gue orang gila kerja kaya lo bisa sakit juga"
"Namanya juga manusia" jawabku dengan sesekali melirik ke arah Sherly. Tapi yang dilirik sama sekali tak peduli padaku.
Duh, kok sakit ya💔
"Ta, kita berdua ga bisa lama-lama. Mau ke kantor soalnya. Lo cepat sembuh ya, si Rama katanya ga bisa jenguk hari ini. Kemungkinan besok katanya" Nanda menepuk punggungku seperti biasa.
"Iya, makasih udah sempetin kesini"
Setelah berpamitan akhirnya pasangan suami istri itu cabut. Disusul Sherly yang ikutan cabut juga setelah menyalamiku dan mengucapkan "Cepat sembuh ya, Bang". Aku cuma bisa senyum sembari berharap kalau Sherly menjengukku tulus, bukan terpaksa.
__ADS_1
•••
Aku kini sudah keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama tiga hari disana. Aku tidak pernah bertemu Sherly lagi sejak pagi hari ia menjengukku bersama Nanda dan Dinda. Kini, aku sudah kembali ke rutinitasku. Aku akan menemui Sherly dan meminta maaf lagi padanya. Aku tidak akan berhenti menemuinya sebelum ia memaafkanku.
Siang itu hari panas terik. Aku baru saja selesai makan siang bersama kolega. Diperjalanan aku melihat mobil Sherly. Kususul ia sampai ke kampusnya.
"Sher!" panggilku saat kami sama-sama baru saja keluar dari mobil.
"Abang ngapain kesini?" tanyanya dengan tidak suka.
"Sher, Abang mau ngomong serius sama kamu"
"Udahlah Bang, mau ngomongin apalagi. Mau minta maaf maksud Abang? Anggap aja aku udah maafin Abang"
"Anggap? Maksud Sherly apa?" tanyaku.
"Ga main anggap gitu dong, Sher. Pleaselah Sher, maafin Abang. Abang ga bermaksud berbuat ga sen*noh sama kamu. Abang juga ga tau kenapa bisa berbuat gitu ke kamu. Sher, selama ini apa pernah Abang berlaku kurang ajar sama kamu, Abang khilaf, Sher-..."
"Bang, aku ada kelas sekarang juga. Abang boleh pergi dari sini" ucapnya lalu pergi meninggalkanku.
Aku tidak bisa hidup tenang kalau belum medapat maaf dari Sherly. Aku pun kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang tak bisa aku tinggalkan.
Sesampainya di kantor, Eko memberi sambutan yang tak biasa. Aku memandang heran, akhirnya ia mendekat dan memberikan info penting padaku.
"Pak, gedung buat Bu Puput udah mulai beroperasi. Kayanya bakal ada yang sering ketemuan nih" ucap Eko sembari menggodaku.
"Ko, jangan sebut dia Bu Puput lagi. Tapi sebut saja dia Te-tang-ga" tegasku.
"Baik Pak. Te-tang-ga" ulangnya sesuai perintahku.
Hari demi hari berjalan selalu tidak sesuai harapan. Aku masih terus mendapat penolakan dari Sherly. Selain ajakan bertemu, telepon dariku juga selalu ditolaknya. Aku sampai kehabisan akal. Lagi pusing-pusingnya mikirin adik Nanda, eh si Tetangga malah enak-enaknya lewat di depan ruanganku. Makin sumpek pikiranku gara-gara dia.
Setelah bayangannya hilang, Eko langsung masuk keruanganku.
"Pak, Tetangga lewat barusan!?"
"Saya punya mata, Ko. Emangnya kamu doang?"
"Kenapa harus lewat sini ya, Pak? Kan lewat kantor dia sendiri bisa!?"
"Besok kamu stopin dia kalo lewat lagi disini. Tanya, kenapa lewat-lewat sini. Sekalian bilang jangan lewat-lewat sini lagi"
"Kalo tetangga nanya kenapa, jawab apa Pak?"
"Kamu terganggu, jawab gitu"
"Bapak enak banget ngadu domba saya sama tetangga. Gak mau ah Pak" elak Eko.
"Kamu pikir sendiri ajalah. Oh iya, saya pulang sekarang ya, ada urusan" ucapku lalu pergi membiarkan Eko sendirian di ruanganku. Niat untuk kembali melanjutkan pekerjaan mendadak musnah gara-gara lihat si Tetangga itu.
Aku pergi menuju kampus Sherly lagi. Dalam satu hari ini saja aku sudah mau dua kali kesana. Sengaja ingin menemuinya disana karena aku sudah tahu pasti dimana keberadaannya. Tepat di lampu merah aku melihat mobil Sherly lewat, langsung kukejar dan kusalip mobilnya dan setelah itu aku berhenti mendadak.
Sherly menghentikan mobilnya dan membuka kaca. Aku turun dari mobil dan mengajaknya untuk melipir ke area yang boleh parkir. Dengan malas, Sherly mengangguki ucapanku.
"Sher, Abang minta maaf banget sama kamu. Abang demi Tuhan ga niat yang macem-macem sama kamu, Sher. Tolong Sher, jangan benci sama Abang"
"Bang, bisa jangan temui aku terus gak? Lama-lama aku risih, Bang. Abang niat mau minta maaf atau mau nodong aku. Kalo cuma butuh maaf, oke. Aku maafin, tapi jangan pernah nongol depan aku lagi. Impas 'kan? Udah dapet apa yang Abang mau 'kan?"
"Sher, gak gitu Sher"
Sherly tidak mau mendengar penjelasanku. Ia langsung pergi meski aku sudah mencoba menggedor-gedor kaca jendelanya. Aku tidak tahu cara berusaha yang bagaimana lagi. Sherly masih marah padaku. Aku bosan seperti ini. Baiklah Sher, kalau kamu terganggu dengan kehadiran Abang.
POV Zapata end
__ADS_1