Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Kasih Kabar


__ADS_3

"Wah, ini rumah Pak Raffa ya Bang? Beda banget sama rumah abang" ucap Sherly polos.


"Ya bedalah, kan duitnya beda hm" cengirku pada Sherly. Memang rumah orangtuaku cukup berbeda dengan rumah pribadiku. Disini lebih asri dan lebih kecil dari ukuran rumahku, ya walaupun begitu rumah yang kami kunjungi ini dalamnya cukup luas dan bertingkat juga.


"Yuk masuk!"


Kami masuk ke rumah di sambut asisten rumah tangga yang bernama Bi bla bla bla. Seperti biasa, aku lupa nama. Sebut saja Bi Mawar.


"Papa mama mana, Bi?" tanyaku setelah beri salam sembari melenggang masuk ke ruang tengah.


"Bapak di ruang kerjanya, Mas. Kalo Ibu, mungkin ada di kamar"


"Sher, mau ikut Abang ke ruang kerja atau mau duduk sini aja?"


"Aku disini aja Bang" jawab Sherly.


Ya sudah, aku pun menuju ruang kerja papa.


Tok tok tok


"Masuk" ucap papa dari dalam.


"Ah, ternyata kamu Zap. Tumben kesini" sambut papa berdiri karena tahu anak tunggal gantengnya ini mau salim. Setelah menyalaminya aku duduk di sofa depan meja kerjanya.


"Papa sehat?" tanyaku.


"Alhamdulillah sehat, seperti yang kamu lihat" ucap papa yang kembali duduk di kursi kerjanya.


"Maksud aku jantung papa"


"Jantung? Papa kan ga punya riwayat penyakit jantung. Ngapain nanya-nanya jantung?" tanya papa bingung.


"Aku gagal nikah pah" ujarku santai. Ya santailah, kan jantung papa aman.


"Astaghfirullah Zapata" papa mengusap dada.


"Dia bukan perempuan yang baik, Pa. Kalau Papa tau alasan aku batal nikah, Papa pasti bersyukur. Papa tenang aja, selama aku kaya gonta-ganti pacar pun aku bisa. Urusan jodoh, kita serahin ke Tuhan. Kalo Tuhan angkat tangan, kita serahin ke Rasul, Rasul ga bisa juga ke malaikat deh malaikat. Kalo ga bisa juga, minta tolong Fir'aun. Fir'aun yang kejam kaya gitu aja punya istri. Masa yang baik kek aku ga punya. Minimal jadi bahan rebutanlah harusnya. Ya 'kan Pa?"

__ADS_1


"Zap, yang gagal nikah kan kamu. Tapi kok rasanya kayak Papa yang nyesek"


"Pa, udahlah. Ini ujian aku. Aku aja tegar ngadepinnya, masa Papa loyo"


Papa mengangkat vas bunga untuk di lemparkan ke arahku, tidak serius, ia hanya capek mendengar ucapanku. Biasalah, sudah sering terjadi.


"Emm Pa, sampein sekalian ke Mama ya. Soalnya mungkin sekarang Mama udah tidur"


"Hm, paling besok Papa sampein"


"Harus persis kaya yang aku bilang ya!? Papa hapal 'kan? Ada Rasulnya, malaikatnya, sama Fir'aunnya" candaku.


Ya kali ngobrolnya serius mulu!? Udah gagal nikah, cadangan pun tak ada. Jangan sampe keriput ya Allah.


Di ruang keluarga


"Lho, ada tamu. Adek ini siapa?" ucap Mama Zapata pada Sherly.


Sherly berdiri lalu menyalaminya.


"Sherly tante, temennya Puput. Kesini nemenin Bang Ta aja"


"Katanya tadi mau ke ruang kerja Papanya" jawab Sherly.


"Oh gitu. Sama Puput juga?"


"Nggak Tante" jawab Sherly dengan wajah bingung.


"Kenapa nggak? Si Zapata gimana sih, calon istrinya ga pernah di bawa kesini" gerutu Mama Zapata pada anaknya itu.


"Anu Tante, kayanya ada masalah serius yang mau Bang Ta sampein"


"Bikin masalah apalagi dia? Kalo kamu tau mending cerita langsung Sher sama Tante"


"Gak enak Tante, lebih baik Bang Ta sendiri yang kasih tau"


"Tante mulai mencium aroma tak sedap nih" Mama Zapata menatap lekat pada Sherly sekian detik. Lalu kemudian berkata pelan. "Dia ga jadi nikah, ya?"

__ADS_1


Sherly mati kutu. Kok tepat sekali tebakan Mama Zapata ini. Sedangkan Mama Zapata mengerutkan kening menunggu jawaban Sherly.


"Tante, ini bukan urusan aku. Aku gak mau kasih tau. Biar Bang Ta aja yang bilang sendiri langsung sama Tante"


"Udahlah Sher, Tante udah tau. Firasat seorang ibu tuh kuat, kamu tau itu 'kan? Waktu Tante di kabarin sama dia kalo dia udah nemu calonnya, tante seneng sih. Tapi gak yang seneng banget, lebih ke biasa aja. Soalnya Zapata kan orangnya kamu tau sendirilah pasti. Dia tuh plin-plan, kekanak-kanakan, ga bisa serius. Makanya kalo ga langsung nikah, tante belum bisa senyum lebar. Masih senyum tipis-tipis"


"Ya udahlah kalo gitu, Sherly ga bisa ngelak lagi. Iya Nte, Bang Ta gagal nikah. Tapi aku juga belom di spill eh maksudnya belom di kasih tau alasannya kenapa" Akhirnya Sherly lepas beban.


"Ah dia tuh, udah di saranin Ruqyah sama Tantenya tapi gak mau. Tante tuh heran ya Sher, dia pontang-panting kerja tuh buat apa coba. Kerja sekeras itu yang mau di kasih makan cuma dia dan pengikut-pengikutnya. Ya si Eko tuh yang Tante kenal. Sama segambreng ART lengkap sama sopirnya. Anak istri belom ada. Di tawarin jadi dosen di kampus Papanya gak mau. Huh, susah di atur"


"Tapi Bang Ta baik, Nte. Aku di beliin mobil sama dia hehe"


Duh, ini bisa jadi salah paham gak ya? Ah tapi kan maksud dan tujuan aku mau belain Bang Ta.


"Kamu di beliin mobil? Wah, kalo pundi-pundi rupiah anak Tante udah ngalir ke kamu, bisa kali Sher kepingan-kepingan hatimu ngalir juga ke anak Tante"


Ya Tuhan, cobaan macam apa ini. Kok Tante ngomongnya gini sih? Emang udah agak laen ni firasat.


"He, hehe, aku ya?" tunjuk Sherly pada dirinya sendiri.


"He'em" jawab Tante kalem tapi sambil ngangguk dan tersenyum semringah.


"Aku, akuuu... Kan, kemudaan buat Bang Ta. Ya kali Tan Bang Ta mau sama aku hahaha"


Akhirnya lancar juga nih mulut.


"Ih si temen kamu aja bisa nipu dia, kamu tipu-tipu jugalah barangkali jodoh, hm!?"


"Nipu? Wah Tante, itu mah gak baik. Pernikahan 'kan ibadah, masa dengan cara nipu dulu"


Mama Zapata tersenyum, ia juga merapikan helaian rambut Sherly ke balik telinganya.


"Ternyata kamu memang baik ya, Sher. Tante tadi cuma ngetes doang. Menurut kamu, Bang Zapata itu kaya gimana? Maklumlah, dia jarang pulang. Tante ketemu dia aja paling sebulan sekali"


"Wajarlah Nte, Bang Ta kan sibuk kerja. Aku juga ketemu ga setiap hari kok. Biarpun gitu, kalo aku butuh pasti selalu di bantuin. Ya emang sih, kadang ada maunya. Minta di traktir inilah, itulah. Tapi gak yang mahal-mahal, biasa aku traktir dia makanan yang murah-murah, hehe. Dari situ aja kita bisa simpulin kan Nte kalo Bang Ta tuh baikkkkk banget"


"Ya syukurlah kalo dia baik sama kamu. Kalo kamu di usilin sama dia, lapor aja sama Tante"

__ADS_1


"Iya Tante"


Sherly pun berbincang santai dengan Mama Zapata terkait pendidikan. Yang akhirnya ia pun tahu kalau Sherly berkuliah di kampus yang sama dengan suaminya.


__ADS_2