Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Duka


__ADS_3

Kubuang hp lalu bergegas mandi. Penat, kesal, dan sesal bersatu padu menerjang jiwaku. Amarah kutumpahkan dengan bebas. Tak ada yang tau aku penuh luka hari ini.


Setelah kulepas semua beban dihati, segera kumatikan shower yang membasahi tubuh. Ku keringkan dengan handuk dan kembali menuju kamar.


Baru saja langkah kakiku menyentuh keset di depan kamar mandi, aku mendengar jerit mama dari kamarnya.


Dengan rambut yang masih basah, terburu-buru aku keluar dan menuju kamar mama. Kulihat, mama menangis sesenggukan di ujung kasur. Dengan papa yang berbaring dibelakangnya tanpa ekspresi.


Tanpa perlu kubertanya, aku sudah tahu yang terjadi.


"Innalillahi wa'inna ilaihiroji'un" Aku terduduk di lantai. Menangis pelan tak bersuara.


Mengapa begitu cepat kau panggil papaku ya Allah? Bangunkan lagi dia, ganti dengan nyawaku saja.


POV GSP end


Dilain tempat, Nanda, Zapata, dan Bibin mendapatkan kabar duka. Papa Rama meninggal dunia sore ini tepat sebelum maghrib.


Mereka menyempatkan takziah malam itu juga. Ketiganya datang dengan pakaian serba hitam sembari ikut turut berduka dengan apa yang menimpa Rama.


Halaman kediaman orangtua Rama dipenuhi oleh kendaraan para pelayat juga kiriman bunga yang bertuliskan turut berduka cita. Terlihat mata Rama merah berair kala ia menyambut kedatangan para pelayat yang datang kerumahnya.


Zapata, Nanda, dan Bibin memilih duduk diteras depan. Jumlah pelayat yang datang ada begitu banyak karena papa Rama bukanlah orang biasa. Melainkan seorang mantan menteri di masa orde baru.


Didalam rumah, terdengar lantunan pembacaan surah Yaasin yang dibacakan oleh para pelayat. Mama Rama, Feza, dan Puput ikut duduk membaca surah Yaasin di samping jasad papa Rama.


Sedangkan Arse, adik bungsu Rama terlihat merenung di bangku samping rumah. Anak itu tampak bersedih namun memilih menyendiri.


Tak lama kemudian, orangtua Feza sampai di rumah besannya. Mama Feza memeluk erat mama Rama yang sesekali menangisi sang suami yang telah ditutupi kain jarik.


Turut pula hadir kedua orang tua Dinda yang datang bersamaan dengan Dinda dan Sherly. Mereka masuk kedalam rumah untuk bertemu mama Rama. Menyampaikan rasa turut berduka cita atas meninggalnya papa Rama juga sekaligus memberikan dukungan moril agar mama Rama, juga Puput bisa menerima cobaan ini dan diberikan ketabahan.


Rama dan keluarga sepakat akan memakamkan almarhum papanya esok pagi. Oleh sebab itu, Zapata dan teman-temannya memilih untuk tetap berada disana agar bisa menemani Rama menjaga papanya untuk yang terakhir kali.

__ADS_1


Tak ada yang bisa mereka lakukan selain membantu Rama. Karena sebetulnya saat ini tak ada yang Rama butuhkan kecuali dukungan. Mungkin saja jika dibiarkan sendiri, Rama akan menangis lepas. Tapi, kenyataannya pemuda itu selalu menampilkan wajah tegar dihadapan para pelayat. Usaha itu tampak sia-sia, karena terbukti sorot matanya tak bisa menutupi kesedihannya.


Keesokan paginya, pukul 08.00 semua orang sudah bersiap-siap untuk membawa jenazah ke tempat pemakaman elit yang memang sejak lama sudah di cicil oleh papa Rama sebagai jaminan hari tuanya. Mobil beriring-iringan keluar dari komplek perumahan.


Beberapa mobil polisi berjejer mengawal perjalanan. Sehingga jalanan menjadi lengang tanpa hambatan.


Sampai di parkiran area pemakaman, Rama menurunkan keranda sang papa dan juga ikut menggotongnya bersama yang lain. Lalu semua orang berjalan dibelakang Rama menuju ke tempat penguburan.


Rama menurunkan keranda disamping kuburan papanya. Lalu mengucap basmalah dan kemudian masuk kedalam galian kuburan disusul dengan dua orang pamannya.


Rama melihat wajah papanya sekilas nampak tersenyum. Lalu, ia menghadapkan wajah putih pucat itu ke sisi dinding kuburan lalu menata papan dan tanah sebagai penyangga di belakang tubuh sang papa.


Telah lepas kewajibannya pada sang papa, karena telah memandikan, menyolatkan, dan juga menguburkan sang papa yang kini telah bertemu sang khalik. Kuburan ditutup dengan tanah dan bunga yang ditebarkan oleh mama, Puput, dan Feza. Rama mengusap cepat air yang keluar dari pelupuk matanya.


Ia kira mungkin hal itu tak ada yang melihat, namun ketiga temannya selalu memperhatikannya sejak tadi. Acara pemakaman pun ditutup oleh do'a. Selanjutnya akan diadakan acara tahlilan tujuh hari tujuh malam dikediaman orangtua Rama.


Tentu saja Bibin dan yang lain akan selalu menyempatkan untuk hadir diacara tersebut. Sebagai sahabat karibnya, tentu akan selalu hadir menemani di segala kondisi. Terlebih, satu diantara mereka sedang kehilangan sosok yang begitu berarti.


Tahlilan tujuh hari tujuh malam telah berlalu, Rama juga nampak kembali ke kehidupan normalnya. Ia kembali aktif melayani pasien yang konsultasi padanya. Lain halnya dengan Arse, anak remaja itu kini seperti menutup diri. Tak mau berbaur dengan keluarganya sendiri.


POV Zapata


Selama acara kematian papa Rama, aku betul-betul menjadi sangat sibuk dan bahkan sampai tega mendiamkan kekasihku yang sempat memakiku karena gagal bertemu waktu itu. Aku sadar, aku memang keterlaluan saat itu. Maka, hari ini aku akan membujuknya. Aku ingin memperbaiki keadaan.


Kulihat jadwal kuliahnya yang pernah ia kirimkan padaku. Oke, dia pasti sudah pulang kerumah.


Tuuuut....tuuuut.....tuuuuut


Kuhubungi dia beberapa kali hari ini, namun masih diabaikan. Masih marahkah ia padaku? Bahkan ini terhitung sudah satu minggu, apa kemarahannya masih belum pudar juga?


Aku coba telpon lagi, kalau tetap tak diangkat maka tidak akan aku hubungi lagi untuk selamanya. Anggap saja semuanya memang harus berakhir.


Tuuuut....tuuuuut.....tuuuuut

__ADS_1


"Mau apalagi?"


Wow, kalau sudah begini tak perlu bertanya lagi. Dia masih marah padaku.


"Aku menyesal waktu itu sudah buat kamu terluka. Sebenarnya aku mau minta maaf, tapi aku sadar kamu pasti susah untuk maafin aku. Aku tidak sungguh-sungguh menuduh kamu waktu itu, aku malah juga gak bisa bertemu. Ada banyak pertemuan yang harus aku hadiri. Asisten aku juga lagi cuti, kamu tau itu 'kan?"


"Hiks"


Hening


"Halo, halo...." panggilku.


Terdengar ia mengatur nafas.


"Hm" ujarnya singkat.


"Kenapa menangis? Aku tidak berniat mengkahiri hubungan kita" hiburku.


"Kamu membentakku waktu itu, tepat 30 menit setelahnya papaku meninggal. Kamu tahu bagaimana perasaanku? Aku sedih. Aku menangis. Aku terluka tapi juga sekaligus berduka. Adakah kamu menghiburku dititik terendah hidupku? Kemana kamu waktu itu? Hiksss"


Jederrr


Mengapa tiba-tiba wajah seorang wanita yang kukenal tiba-tiba hadir dikepalaku. Tidak, tidak mungkin. Aku pasti salah.


"Tolong maafkan aku, aku tidak tahu kalau ternyata dosaku begitu besar terhadapmu. Beri aku kesempatan untuk menebus segalanya"


"Tidak ada yang perlu kamu tebus" ucapnya.


"Jangan berkata begitu, aku tau kamu menyayangiku. Jangan turuti keegoisanmu, biarkan hatimu yang mengambil keputusan. Sekarang jawab aku, masih adakah kesempatan untukku menebus segala yang telah kuperbuat?"


Dia hanya diam. Aku menunggu dengan sabar tanpa bicara. Aku tidak mau dia jadi terpaksa untuk menuruti segala ucapanku.


"Aku..."

__ADS_1


__ADS_2