Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Gagal Nikah


__ADS_3

Setelah urusan perizinan waktu itu, Zapata merasa langkah kakinya jauh lebih ringan. Ia sudah mantap akan menikahi Puput kurang dari 3 bulan. Ia juga sudah memikirkan tentang mahar dan lain-lain.


Berbeda dengan Puput, kehidupannya masih nyantai. Pulang pergi ngampus dan hanya sesekali nongkrong bersama Sherly dan Tian. Selain itu, juga mengasuh Satya yang sudah sepenuhnya pindah kerumah mereka. Tidak tinggal di apartemen lagi. Itu karena Rama merasa mama dan adik-adiknya perlu ada yang menjaga.


Di suatu malam, tepatnya malam minggu. Zapata tengah memilih parfum yang akan ia pakai. Lalu datanglah Bibin yang meraung-raung dan mengucap kata sakit terus-menerus.


"Huaa... Sakit Ta, sakit" ujar Bibin.


Tentu saja Zapata menjadi cemas. Apa sebab temannya itu menangis-nangis kesakitan.


Bibin menekan dadanya. Zapata yakin, disitulah sumber rasa sakitnya.


"Bin, lo kenapa? Datang-datang kok begini? Bin, jawab gue, Bin.


"Bin, tenang Bin. Lo mau gue antar kerumah sakit aja ga?"


Bibin terus saja menangis bahkan berguling-guling diatas tempat tidur Zapata. Masih dengan menekan dadanya yang terasa sakit.


"Bin, lo kenapa sih Bin?"


"Hati gue sakit Ta. Cewe yang waktu itu gue ceritain sama lo ternyata istri orang. Padahal gue udah beliin dia cincin tanda gue serius sama dia, eh ga taunya dijual buat bantu usaha suaminya. Kenapa gue apes terus Ta? Gue memang ga sempurna kaya kalian, gue juga ga sekaya kalian. Tapi gue juga pengen punya pasangan Ta. Liat Nanda punya Dinda, liat Rama punya Feza, lo juga udah punya Puput. Gue sendirian Ta. Gak ada yang mau sama gue. Mobil lo juga ga membantu sama sekali. Nih Ta, gue balikin mobil lo. Hikss..."


Prooot


Bibin dengan leluasa menghapus ingusnya menggunakan sarung bantal milik Zapata.


Sedangkan Zapata meringis masam tapi tetap kalem karena saat ini Bibin tengah bersedih. Ia pasrah yang terpenting Bibin bisa tenang.


"Gue mau mati aja Ta. Gue hidup juga cuma bisanya nyusahin doang. Lo juga kalo punya istri pasti ga akan punya waktu buat gue lagi. Lo pasti bakal sibuk dengan keluarga kecil lo. Sama kaya yang lain. Udah Ta, udah cukup kebaikan lo selama ini. Diterima ya Ta, kuncinya" ucap Bibin karena sedari tadi Zapata belum menerima uluran kunci mobil itu dari Bibin.


"Bin, lo kan cuma patah hati. Kenapa merembet ke gue sih? Lagian, kalo pun gue udah nikah nanti. Lo bisa gue ajak tinggal disini Bin. Lo kan tau, istana gue punya ratusan kamar. Buat lo doang mah kecil"


"Gue tau gue kecil Ta, tapi gue juga butuh kamar ukuran normal hiks..."


"Gue ga bilangin ukuran badan lo, maksud gue nyediain kamar buat lo mah urusan gampang. Mau selamanya lo tinggal disini juga boleh. Puput kan udah kenal sama lo, dia juga pasti ga keberatan kalo lo ikut gue tinggal disini bareng gue. Udahlah, jangan dikit-dikit bilang mati. Nanti mati beneran. Gue kan masih butuh bantuan lo"

__ADS_1


Bibin mengusap kedua pipinya. Ia duduk dengan benar dan menatap lurus pada Zapata.


"Ta, minta kertas yang waktu itu dong?"


"Kertas apa?"


"Kertas yang lo ceritain waktu awal mula dapet nomor Puput"


"Ooh, kertas itu. Yah, gimana ya? Masalahnya habis gue ambil kertasnya si Puput, kertas yang lain gue biarin di meja kerja gue. Paginya udah ga ada. Kemungkinan dibuang sama OB tuh"


"Lo sih, giliran punya stok banyak lupa 'kan sama gue. Kenapa lo ga simpenin buat gue? Lo gitu ya Ta sekarang, apa-apa makan sendiri. Ga mau bagi-bagi"


"Lo kenapa jadi rewel begini sih? Waktu itu juga pas lo sibuk dengan wanita kecintaan lo, lo juga lupa sama gue. Ga mau bagi-bagi, maunya makan sendiri"


"Gue beda" tampik Bibin.


"Ini azab buat lo Bin, karena pas lo punya gandengan lo lupa sama gue. Giliran udah dicampakkan lo bagi-bagi ingus ke bantal gue. Lo ingat dengan sarung guling yang udah kena telor puyuh waktu itu? Siapa yang merendamnya di air berjam-jam sampe puyuhan? Lo 'kan? Akibat apa? Akibat lo ga nanya-nanya ke gue dulu tentang cewe yang lo deketin. Akhirnya dibelakang lo diselingkuhin. Nah sekarang, kejadian lagi. Ga tau kapan punya pacarnya, eh tau-tau meraung dikamar gue. Cuci tuh sarung bantal. Jangan sampe puyuhan"


Bibin menunduk selama dirinya kena semprot oleh Zapata. Memang salahnya yang tidak meminta pendapat Zapata terlebih dahulu tentang perempuan yang ia kencani. Sebab, Zapata punya relasi yang luas sehingga dengan mudah bisa mendapat info tentang siapapun. Lain halnya dengan Puput, ia sengaja tak mencari tahu karena Eko sudah bilang kalau perempuan itu anak dari keluarga baik-baik. Hanya modal percaya, yang ternyata malah adik temannya sendiri.


"Huah" Bibin menjatuhkan badannya ke kasur. Ia berbaring sembari menatap langit-langit kamar Zapata.


"Ta, lo kok rapi? Mau kemana?"


"Ya ngapellah, kemana lagi? Gue udah mulai harus pendekatan dengan calon mama mertua. Masa nunggu resmi jadi mantu dulu"


"Gue ikut ya Ta, janji deh ga akan gangguin lo malem mingguan"


Akhirnya mereka pun berangkat menuju rumah Puput. Sesampainya disana mereka langsung dibukakan pintu oleh Puput.


"Bang Bibin ikut juga?" ucap Puput.


"Iya Put, soalnya ga punya kerjaan"


Puput pun menyediakan minum dan makanan ringan untuk Bibin dan Zapata. Lalu menyusullah Rama ke ruang tamu.

__ADS_1


"Lho Bin? Ikut Zapata ngapel rupanya?"


"Gue ga ada yang mau diapelin, ya udah ikut Zapata ngapel aja"


"Ta, dicariin mama di meja makan" ujar Rama.


Sedangkan Bibin ditemani Rama diruang tamu.


Zapata menuju ruang makan dengan diantar Puput, sekaligus Puput juga ingin medengar apa yang hendak mamanya bicarakan dengan Zapata.


"Duduk Ta" ucap mama mempersilahkan Zapata.


"Iya Ma" jawab Zapata dengan berani memanggil mama juga.


"Ta, mama sempet browsing di internet. Bentar ya, harus ada bukti biar kamu percaya" Mama membuka ponselnya untuk menunjukkan hasil pencariannya.


"Nih, mama baca di internet. Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Disini tertulis kalo usia ideal untuk menikah sebaiknya laki-laki minimal berusia 25 tahun dan perempuan berusia minimal 21 tahun. Jadi Ta, kamu kan tahu Puput bahkan belum genap 20 tahun. Kamu sabar-sabar dulu, kalian nikahnya ditunda. Tunggu Puput genap 21 tahun baru kalian nikah, ya?"


Jderrr


Musnah sudah impian Zapata untuk menikahi Puput dalam kurun waktu 3 bulan ini. Raut wajahnya yang tadi berseri kini justru pucat pasi. Ucapan calon mama mertua bagai sembilu yang menghujam jantungnya.


Puput menggenggam tangan Zapata. Memberi kekuatan padanya agar tak gentar menunggunya genap 21 tahun.


Zapata pamit pulang setelah 30 menit berbincang dengan Puput di tepi kolam renang. Diperjalanan, ia menahan dirinya sekuat tenaga sehingga Bibin merasa ada yang mengganjal dihatinya melihat gerak-gerik Zapata yang mulai aneh.


Sampai kerumah, Zapata dengan cepat naik ke kamar dan meraung-raung persis seperti Bibin tadi.


"Huaaaa... Sakit Bin sakit"


Bibin melompat agar bisa naik ke kasur. "Lo kenapa?"


"Gagal nikah Bin, Puput belum legal age"


(((()))))

__ADS_1


Disini ada yang tahu puyuhan ga? Puyuhan itu, kalo kalian rendam cucian kelamaan, ntar timbul bercak-bercak kaya telor puyuh.


__ADS_2