
Para banci itu dijamu tidak sama seperti kedatangan Zapata dan Bibin dulu yang disediakan makanan khas daerah, mereka justru langsung dikenalkan pada makanan kaleng yang memang sudah menjadi ciri khas makanan TNI. Lain halnya dengan Zapata, Nanda, dan Bibin. Mereka kini tengah memasak mie di belakang tenda dengan kompor portabel yang Zapata beli. Mie goreng yang mereka buat sudah siap tersaji di sebuah wadah yang kebetulan ada dan akan disantap beramai-ramai.
"Makan pake tangan juga, nih?" tanya Bibin ketika menyadari tidak ada sendok dan garpu di tempat tinggal mereka saat ini. Dan Bibin beneran mencapit mie dengan jarinya.
Nanda tertawa. Sejauh ini memang makanan paling nikmat adalah mie instan. Lidah mereka tidak terbiasa dengan makanan kaleng yang rasanya sulit untuk dijelaskan.
"Mulai saat ini, apapun itu, kita makannya pake tangan" ujar Zapata.
Mereka pun dengan santai menikmati makan malam bersama yang lain namun dengan kelompok masing-masing. Semua banci nampaknya sudah diberitahu oleh Sherly apa yang menjadi tugas mereka, oleh sebab itu Zapata bisa menjaga jarak aman dengan mereka.
"Mas Ta, kenapa makanan kita beda. Yang ini gak enak" ucap salah seorang banci dengan nada manja yang bernama asli Egi tapi panggilan malamnya Enji.
"Karena punya nutrisi yang bagus buat tulang. Jadi tulang kalian besok dijamin gak meliuk-liuk lagi. Iya kan, Pak?" jawab Zapata sembari minta persetujuan pada salah satu rekannya disana.
"Tapi gak enak, nanti cacing perut aku alergi gimana?" rengek bencong lain.
__ADS_1
"Ntar dulu, cacing perut apa cacing pita? Kalo cacing pita aman, disini masih banyak tanah kosong. Bisa dikubur dimana aja" timpal Zapata kesal. Dari tadi nyebut nama Mas Ta Mas Ta terus. Padahal ada banyak laki-laki disini kenapa harus Zapata terus yang kena.
Trio bencong itu masih merengek-rengek manja, namun diabaikan oleh Zapata. Hingga malam kian larut, Zapata masih enggan untuk tertidur.
"Lo mikirin apa?" tanya Bibin yang melihat Zapata daritadi gelisah.
"Gue takut mereka nekat terus gue di apa-apain"
"Astaghfirullah, gue kira apa. Gue cek tenda mereka dulu, kali aja mereka memang lagi nyusun rencana"
Bibin mengendap-endap membuka resleting tenda para banci, ternyata mereka sudah tertidur pulas. Bibin memperhatikan ketiganya lalu berkata, "Ternyata aura jantannya keluar pas lagi tidur aja".
Bibin kembali ke tempat semula. "Gue liat-liat, lebih berotot paha mereka daripada paha lu"
"Jangan menilai seseorang dari bentuk pahanya, tapi nilailah seseorang dari..." Zapata menyentuh dadanya.
__ADS_1
"Dari hatinya" sambung Bibin melengkapi kalimat Zapata.
"Dadanya" sahut Zapata dengan tertawa.
"Sialan. Tapi istri sendiri datar" sambar Bibin meledek Zapata.
"Lu jangan bawa-bawa istri gue dong. Kan jadi bingung nih ngeresponnya" sahut Zapata.
"Udah ah, ayo tidur"
◇◇◇
Keesokan harinya semua banci sudah bersiap-siap dengan senjata mereka. Beberapa anggota TNI tampak pasrah dengan keadaan. Bagaimana tidak, rencana gila yang Zapata maksud waktu itu adalah dengan jalur fitnah. Dimana para TNI ini akan di dandani seolah babak belur setelah dihabisi oleh para komplotan bersenjata yang sering kali mencuri perhatian satu Indonesia.
Lalu kemudian, para anggota TNI ini akan di rekam menggunakan ponsel Bibin dan mereka harus totalitas berakting sehingga semuanya akan terlihat sangat natural. Dengan begitu, desakan tentang pemberian hukuman berat pada anggota kelompok bersenjata itu akan membuat organisasi pembela HAM kewalahan dan lupa akan masalah hukuman kebiri yang Rama usulkan.
__ADS_1
"Guys-guys, ingat nanti ya kalian harus terlihat mengenaskan. Terus jangan lihat ke kamera biar mata ga keliatan bohongnya. Dan satu lagi, jangan terlalu banyak improvisasi, takutnya malah bikin jadi ketahuan" tegas Zapata mengingatkan sekaligus berperan sebagai sutradara. Sedangkan para anggota TNI yang sudah di make-upin dengan pasrah manggut-manggut saja karena atasan mereka juga sudah memberi mandat untuk mereka patuh pada Zapata.