
"Besok kita takbiran on the road, yokk" ajak Zapata dalam panggilan video.
"Ga bisa, aku mau bantuin mama nyusun kue. Emangnya kamu ga bantuin tante, apa?"
"Oh, iya deh bantuin mama juga. Kamu jangan panggil mama aku tante, panggil mama aja"
Sherly tersenyum simpul. Uhh udah berasa dapet restu aja nih, batinnya.
"Iya. Nanti malam sibuk gak?" tanya Sherly.
"Nggak, 'kan aku udah libur jadi gak sibuk lagi. Kenapa?"
"Temenin ke butik yuk, aku belum nemu baju lebaran nih"
"Hayok, jam berapa aku jemput?"
"Jam 8 aja, sekalian nanti kita jemput kue pesenan mama kamu di rumah Umar"
"Okee"
◇◇◇
Malam harinya Zapata menemani Sherly pergi ke butik yang menjadi langganannya. Ia mencari-cari pakaian yang sesuai dengan keinginannya. Hingga Zapata kemudian menariknya ke sebuah rak gantung pakaian yang belum Sherly lihat.
"Ini, yang warna biru langit ini bagus gak?" ucap Zapata.
"Bagus, ya udah aku ambil yang ini ya tapi sambil liat-liat yang lain juga"
"Emang butuh berapa?" tanya Zapata.
"Satu aja, tapi masih mau liat-liat lagi"
Zapata pun mengekori kemana langkah Sherly. Sedangkan ia sendiri tidak membutuhkan pakaian lebaran karena sudah pasti mamanya yang menyiapkan. Karena di keluarga inti Zapata mereka selalu seragaman. Itu sebabnya Zapata tidak perlu repot-repot berbelanja.
Lama berkeliling masih belum ada baju lagi yang Sherly pilih. "Udah, itu aja. Soalnya dress yang itu buat pakaian cowonya juga ada. Jadi aku bisa beli yang ini" tunjuknya. Ternyata dress panjang yang Zapata pilihkan itu adalah setelan untuk pasangan.
"Bisa aja kamu ah. Ya udah, aku nurut sama kamu. Aku beli yang ini" ujar Sherly.
Sherly pun berjalan menuju ruang pas. Ia mencoba mengenakan dress pilihan Zapata. Setelah ia kenakan dengan baik, Sherly pun keluar dan memanggil Zapata.
Zapata datang dengan gaya coolnya. "Kenapa?" tanyanya.
"Bagus gak?"
"Bagus. Kamu pake apa aja pasti bagus"
"Alah, pasti kalimat itu juga pernah kamu bilang sama Puput"
Kok jadi gini? Perasaan ga ada bahas-bahas Puput. Auranya bakalan kena semprot lagi nih gue, batin Zapata.
"Gak pernah, orang aku ga pernah nemenin dia belanja" elak Zapata.
"Iya, ga pernah nemenin dia belanja. Tapi kamu belanjain dia yang mehong-mehong (mahal-mahal). Gedunglah, apalah" omel Sherly seraya berdiri di depan cermin besar.
"Ya wajarlah aku beliin dia yang mahal-mahal, dia 'kan sempet berstatus sebagai calon istri aku"
Hati Sherly mulai panas lagi. Ia benci dengan sikap Zapata yang terus-terus mendebatnya. Dengan ekspresi cemberut ia kembali masuk ke ruang pas dan melepaskan dress yang ia kenakan. Setelah itu, keluar dari ruang pas ia langsung berjalan melewati Zapata yang berdiri menunggunya sembari melipat tangan di dada.
__ADS_1
Namun, saat Sherly lewat di hadapannya Zapata pun mengekori lagi hingga ke meja kasir.
"Ini aja, Mbak?" tanya mbak kasir.
"Iya" jawab Sherly.
"Sama yang ini, mbak" Zapata pun menyerahkan setelan miliknya yang memang sepasang dengan dress milik Sherly.
"Semuanya jadi Rp.8.220.000,00"
Sherly mengeluarkan kartu Debitnya, namun Zapata cegah. Sebab Zapata sudah lebih dulu menyerahkan kartu Kredit Unlimitednya pada mbak kasir tersebut.
"Aku mau bayar sendiri aja"
"Ini mbak" Mbak kasir malah sudah menyerahkan barang belanjaan mereka.
"Oh, iya. Makasih" ucap Zapata yang menerima kantong belanjaan tersebut.
Sherly yang masih kesal pun langsung berjalan lebih dulu menuju mobil Zapata. Sesampainya di mobil, ia mencoba membuka pintu namun tak berhasil karena Zapata belum menekan kunci mobilnya.
Ia menggeplak-geplakkan kakinya kesal sembari berbalik ke arah Zapata yang masih menuruni tangga teras butik itu. Wajahnya semakin cemberut karena Zapata dengan santainya berjalan dan masih belum paham juga kalau saat ini Sherly ga bisa buka pintu mobilnya.
"Kenapa?" tanya Zapata sembari menuju bagasi mobilnya. Hanya dengan sekali tekan, pintu bagasi langsung terbuka dengan sendirinya dan Zapata memasukkan kantong belanjaan mereka disana. Sedangkan Sherly sudah berhasil masuk ke mobil. "Dari tadi kek buka kuncinya" rutuknya pada Zapata namun Zapatanya sendiri tidak mendengar.
Zapata menyusul masuk kemobil. "Kamu kenapa?"
"Gapapa" ujar Sherly acuh.
"Kenapa?" tanya Zapata menegaskan sekali lagi.
"Aku gak papa" ucap Sherly keras.
"Sher, kamu sama Puput itu berbeda. Dia sempat hampir jadi istri aku. Sedangkan kamu pacar aku. Aku belum bisa kasih kamu sesuatu yang sebanding sama yang aku pernah kasih ke Puput" ujar Zapata menjelaskan. Ia berharap Sherly bisa mengerti.
Sherly hanya diam.
"Lagipula kamu mengharap apa dari aku? Uang?"
Ucapan Zapata lagi-lagi melukai relung hatinya. Lontaran kalimat itu seolah menuduh Sherly matre dan hanya menginginkan uang Zapata saja.
Sherly sudah kebal dengan mulut pedas Zapata yang memang sudah menjadi ciri khasnya. Tak bisa lagi di ubah.
"Putus aja kalo kamu ngira aku cewe yang kaya gitu. Aku tau, Puput yang paling baik di mata kamu. Dia badannya bagus, banyak yang iri pasti sama kamu karena bisa dapetin dia"
"Stop ya Sherly, terserah kamu mau bilang apa. Yang aku mau saat ini cuma kamu. Titik!"
"Tapi aku cewe matre yang cuma mau duit kamu aja" ketus Sherly kesal karena sudah sakit hati.
"Ga papa, duit aku banyak bisa menuhin semua kemauan kamu" ujar Zapata.
"Tapi aku mau yang sebanding sama gedung yang kamu kasih buat Puput"
"Ga bisa, kecuali kamu jadi istri aku. Mudahkan syaratnya?" ucap Zapata sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Ya udah, ayo nikah" tantang Sherly.
"Kapan?" tanya Zapata serius.
__ADS_1
"Terserah kamu" ketus Sherly.
Mendadak Zapata menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia melepas seatbelt lalu mengubah posisi duduknya sehingga miring menghadap Sherly.
"Kita udah hampir sampai rumahnya Nanda. Apa kamu mau aku ngomong malam ini juga ke dia?"
"Terserah" jawab Sherly.
Zapata mengusap kepala Sherly lalu tersenyum meski Sherly masih cemberut padanya. Zapata kembali melajukan mobilnya. Zapata tidak tahu kalau pembahasan tentang Puput bisa membuat gadis kecilnya itu semarah ini, menurut Zapata. Padahal kenyataannya Sherly bisa menjadi semarah ini lantaran di anggap sebagai perempuan matre. Sherly juga selalu merasa Zapata terus-terusan mengagung-agungkan Puput. Giliran yang jelek-jelek saja, selalu dirinya. Begitulah pendapat Sherly tentang Zapata.
Sesampainya dirumah Nanda, Zapata dan Sherly turun dan segera menuju pintu utama. Mereka mengetuk beberapa kali hingga akhirnya pintu utama pun terbuka.
"Dek, eh sama lo Ta? Masuk-masuk" ajak Dinda mempersilahkan adik ipar dan teman suaminya duduk diruang tengah.
"Kak, Umar mana?" tanya Sherly.
"Ada di kamar, lagi main sendirian tuh" jawab Dinda.
Sherly pun menuju kamar bermain Umar. Sedangkan Zapata masih setia duduk di ruang tengah sembari menonton TV.
"Mau jemput kue kan, Ta? Bentar ya gue ambilin" kata Dinda.
"Iya, sekalian mau ketemu suami lo. Ada 'kan?"
"Ada, bentar gue panggilin" Dinda pun bergegas menemui Nanda di kamar mereka.
Setelah itu Nanda pun menemui Zapata diruang tengah. "Mau ngambil kue?" ujar Nanda yang baru saja muncul.
"Iya, sekalian gue mau minta izin"
Nanda terpaku, izin apa yang dimaksud oleh Zapata.
"Izin, mau lamar adek lo" sambung Zapata.
"Sherly maksud lo?"
"Ya iyalah, emang lo punya adek mana lagi?"
"Lo serius? Bukannya adek Rama?"
"Gue kan udah gagal nikah sama Puput"
"Iya, tapi bisa aja kalian balikan" sahut Nanda.
"Nggaklah. Jadi gimana nih? Boleh gak?"
Nanda berdiri, ia berpikir sembari berjalan mondar-mandir di depan Zapata. Zapata pun dengan setia menunggu jawaban dari Nanda.
"Woi Nan, lo gak capek apa mondar-mandir?" tegur Zapata karena sudah kelamaan nunggu. Bahkan kue yang mau ia jemput saja sudah layak buat di panasin lagi.
"Karena ini menyangkut masa depan Sherly, mending lo tanya dia aja. Kalo dia iya, gue iya"
Zapata mengepalkan tangan dan berkata "Yesss".
"Sher, Sherly" panggil Zapata.
"Kenapa si, Bang? Mau pulang sekarang?" tanya Sherly yang muncul sambil menggendong Umar.
__ADS_1
"Bukan, kamu mau gak nikah sama aku? Abang kamu udah kasih restu. Sekarang tinggal kamunya. Mau apa nggak sama aku? Kalo kamu mau, aku gak mau nunggu lama-lama, ya. Kalo bisa habis lebaran ini kita langsung nikah"