
Hari demi hari aku lalui dengan setia mengikuti kegiatan para anggota TNI. Ikut apel pagi, blusukan ke beberapa titik untuk menjaga keamanan. Sedangkan Bibin kami tinggal di rumah warga agar menjadi juru bicara kami. Barangkali dengan begitu, kami bisa terbantu berkat informasi dari warga.
Kegiatan sehabis subuh biasanya kami olahraga ringan di sekitaran tenda. Lalu apel pagi, yakni bersih-bersih. Tapi kebanyakan aku tidak punya kegiatan. Sehabis apel pagi, aku biasanya juga menghubungi istriku.
"Selamat pagi, istriku" ucapku dengan heboh, tentu saja tanpa ada yang tahu.
"Bisa gak jangan neror pagi-pagi" kesalnya.
"Kenapa?" tanyaku dengan pura-pura bodoh.
"Aku masih ngantuk" ujarnya.
"Ish, kamu tuh ga pernah sholat subuh" omelku.
"Dibilangin, aku masih haid"
"Oh iya, lupa. Cieee, haid pertama setelah nikah"
"Berapa pin ruang kerja kamu?"
"Cieee, ngapain ke kantor aku? Hayooo, mau geledah semua aset berharga aku, ya? Buat balik nama jadi nama kamu"
"Apaan sih? Istri sendiri main ke kantor kenapa ga boleh?"
"Jelas ga boleh lah. Mau ngapelin si Eko?" gertakku.
"Kenapa kamu sewot begini"
"Ya kamu ngapain ke kantor sedangkan suami kamu gak lagi di kantor"
__ADS_1
Selagi aku berbicara di telepon dengan istriku, tiba-tiba kudengar heboh-heboh di belakangku. Aku mengernyit sembari mendengarkan situasi apa yang tengah terjadi. Ternyata, 5 orang yang dikirim untuk memantau kini sudah kembali. Mereka kembali dengan kondisi baik-baik saja. Syukurlah, ucapku dalam hati.
"Sttt, ngomel mulu. Aku matiin dulu, ya. Ada situasi genting nih" ucapku memotong celotehan istri.
"Genting? Ish, apa? Kasih tau aku. Kamu hati-hati di sana. Aku jadi nyesel sekarang udah setujuin kamu pergi kesana" ucapnya sedih.
"Bohong, orang kaya kamu mana pernah nyesal"
"Jangan bertele-tele deh, Yank. Kamu bilang tadi genting, genting kenapa?"
"Aku matiin dulu, ya. Dadaaa"
Usai mematikan panggilan aku langsung mengantongi ponsel dan menuju ke perkumpulan rekan-rekanku. Ponselku berdering, menampilkan nama istriku. Ku abaikan saja, biar tahu sejauh mana usahanya menunjukkan kepedulian padaku.
Rupa-rupanya, kelima anggota yang baru datang tadi menginfokan kalau komplotan bersenjata itu punya rencana mau menyerang warga sipil dalam waktu dekat ini. Tapi tidak tahu kapan mereka akan bergerak. Yang jelas kami diminta untuk segera berjaga-jaga.
Awalnya mereka menolak ideku, hanya Bibin yang setuju dengan ide gila tersebut. Aku sempat kecewa karena menurutku tidak penting bagaimana idenya, yang terpenting kita harus fokus pada peluang keberhasilannya. Aku tahu, mereka disini memiliki tugas dan tanggungjawab yang berat. Rela meninggalkan keluarga demi kecintaan pada tanah air. Tapi, aku datang jauh-jauh kesini bukan untuk bermain-main. Sayangnya, mereka tidak mengerti diriku.
Aku menjauh dari orang-orang itu. Kuhubungi Rama dan kuceritakan padanya bahwa sepertinya dia telah mengirim orang yang salah. Aku tidak bisa mencari cara lain, namun Rama tetap memberiku semangat dan ia yakin kalau ia tidak salah mengirimku kesini.
Badan terasa lesu, sambil aku berpikir-pikir lagi harus memikirkan cara yang bagaimana. Pola pikirku dan mereka tampaknya tak sama. Hingga dihari berikutnya, kami kedatangan bantuan tambahan. Aku dan Bibin hanya mendengar dari dalam tenda saja. Kami tidak ikut menyambut. Jujur saja, aku sudah mulai bete disini. Tapi, pulang tanpa bawa kabar gembira juga rasanya rada gimana gitu. Malu sih, lebih tepatnya. Malu pada diri sendiri.
"Woy, ngapain bengong disitu" ucap seseorang dari pintu tenda.
Aku dan Bibin tercengang, tidak menyangka kalau Nanda akan kesini juga. Kami bangkit dengan cepat lalu menghambur padanya. Kami saling rangkul.
"Lo kesini juga?" tanya Bibin.
Ia mengangguk lalu berkata, "Kata Rama ada yang mau bunuh diri disini. Maka dari itu, untuk menggagalkan upaya tersebut, gue diminta kesini nyusulin kalian. Tapi gak selamanya, ingat itu!"
__ADS_1
"Sialan si Rama" umpatku.
Kehadiran Nanda bagai energi tambahan buatku. Aku pun menyampaikan lagi ide gila yang sempat ditolak oleh para rekan-rekan TNI dan malah Nanda sangat menyetujui ide gilaku ini. Nanda pun mencoba bernegosiasi dengan atasan mereka, tentu dengan kalimat-kalimat yang sangat menguatkan kalau ideku ini pasti akan berhasil.
Tanpa ada penolakan, ideku yang disampaikan Nanda dengan mudah diterima. Akupun kemudian dihampiri oleh perwira tersebut, yang kemudian ia berkata kalau ia akan mempercayai segala keputusan ke tanganku terkait dengan rencanaku ini.
Aku mulai bersemangat lagi. Aku dengan gagah berani menghubungi istriku yang jauh disana.
"Halo, assalamu'alaikum" sapaku saat terdengar panggilanku sudah di angkat.
"Hm, wa'alaikumsalam" sambut Sherly.
"Yank, aku butuh bantuan kamu" ujarku.
"Bantuan apa?"
"Kirim tukang-tukang make-up yang kamu kenal kesini. Kalo bisa lebih dari 2 orang"
"Buat apa?" tanyanya penasaran.
"Pas pulang aja aku kasih tau" ucapku.
"Hm, tapi ada syaratnya"
"Apa?"
"Panggil sayang dulu, kamu selama disana sombong. Aku telepon-telepon ga pernah di angkat. Giliran kamu yang telepon harus serba cepat di angkat"
"Gitu doang syaratnya?"
__ADS_1