
Keesokan paginya, rumah Puput sudah heboh karena tiba-tiba ada taksi yang datang kerumahnya dan mengantarkan banyak pesanan Puput. Tidak hanya mama yang bingung karena kebetulan dirinya yang menerima barang tersebut, tetapi Puput juga ikut bingung.
Sebab dia merasa tidak memesan apapun bahkan ia pagi itu belum pegang ponsel sama sekali. Puput pun membuka satu plastik untuk mengecek barang yang disebut-sebut sebagai pesanannya di depan mama juga sopir taksi tadi.
Ia melongo melihat semua barang tersebut adalah oleh-oleh yang ia pesankan pada Zapata.
Puput langsung tak enak hati pada pak sopir karena sempat menolak-nolak tak mau menerima barang tersebut.
"Dari Zapata ma. Duh, pak maaf ya saya ga tau kalo ternyata ini dari temen saya. Sekali lagi maaf ya pak, emm berapa pak biaya antarnya biar saya bayar"
"Ga usah mbak, biaya antar sudah dibayarkan lebih dulu sama pengirimnya. Kalau begitu, saya pamit ya mbak, bu"
Taksi itu pun berlalu dari rumah Puput.
Sembari antusias memeriksa semua pesanannya, Rama dan Feza turun dari kamar mereka dan menghampiri Puput di ruang tengah.
"Wah banyak banget Put, dari siapa? Temen kamu ada yang baru pulang dari Australi?" tanya Feza.
"Iya kak, kebetulan dia liburan sebentar kesana jadi aku nitip deh buat cemilan kita serumah"
"Ganti Put uangnya, pasti mahal ini" ujar Rama.
"Aman mas, aku udah nitip duit kok sebelum dia berangkat"
Akhirnya mereka menikmati beberapa makanan ringan yang Zapata belikan. Mas Rama tentu saja tidak tahu kalau Zapata pergi ke Australia karena mereka memang jarang kontekan semenjak Zapata jadi pacar Puput. Sebab kedua pasangan itu masih belum mempublish hubungan mereka.
Tuuut....Tuuuut....Tuuuut....
"Halo By, lagi dimana?" tanya Puput.
"Kantor, kenapa By?" jawab Zapata.
"Kamu sengaja mau kasih surprise buat aku ya? Ga bilang-bilang mau ada pengiriman oleh-oleh kerumah. Kamu tau gak? Aku ngotot ga mau nerima lho gara-gara ga tau itu dari siapa" celoteh Puput.
"Sengaja, biar kamu terkejut terheran-heran. Gimana? Suka sama oleh-olehnya?"
"Syuka bangeeeeetttt, aku bagi-bagiin ke Sherly juga ya, soalnya ada banyak banget nih yang kamu beli"
__ADS_1
"Gapapa By, itu kan punya kamu kenapa mesti izin ke aku"
"Uff, jadi makin cinta deh. Aku matiin ya, mau mandi nih sekalian ngampus"
"Ngampus sama siapa?" tanya Zapata.
"Dijemput Sherly nanti"
"Oh, ya udah sana. Aku mau lanjut kerja kalo gitu"
Setelah selesai berbincang dengan Zapata, Puput langsung bergegas mandi agar tak terlambat berangkat ke kampus. Ia juga tak mau jika Sherly menunggunya kelamaan.
Sesampainya di kampus Puput, Sherly, dan Tian duduk bersama sembari makan cemilan Australia yang Puput bawakan. Mereka sempat bertanya itu oleh-oleh dari siapa? Tapi Puput menjawab kalau itu dari sepupu Kak Feza. Sherly dan Tian percaya-percaya saja.
Sekepulangan dari kampus, Zapata menghubungi Puput untuk mengajaknya makan diluar nanti malam. Puput tentu saja dengan semangat mengiyakan ajakan pacarnya itu.
Saat malam harinya, Puput memoleskan bedak dan lipstiknya tipis-tipis agar terlihat natural. Lagipula ini bukan kali pertama mereka kencan.
"Kemana Put?" tanya Mas Rama kala ia sedang memasukkan mobil ke garasi dan melihat Puput hendak menuju mobilnya.
"Emmm, mau keluar Mas. Ada yang mau dititip?" tanya Puput gugup.
"Eh, iya Mas. Kan temen aku sekarang udah banyak. Jadi, ada aja yang ngajakin nongkrong"
"Ya udah, tapi jam 10 sudah harus dirumah ya" ucap Rama lalu berlalu kedalam rumah.
Puput pun menuju mobil miliknya dan segera pergi. Waktunya tak akan banyak, sebab saat ia berangkat waktu sudah menunjukkan setengah 8.
Zapata
"By, bisa cefat tyda? Aku solo disini"
Pesan Zapata baru saja dibaca oleh Puput saat dirinya telah sampai ditempat janjian. Mereka janjian disebuah kedai sederhana yang terkenal dengan menu sop daging sebagai menu andalannya. Harga sop daging disana memang terkenal lumayan mahal namun rasa yang tidak mengecewakan membuat siapapun akan tetap kembali kesana untuk menikmati sop dagingnya.
"Hai By, sorry telat. Tadi ngobrol sama Mas Rama dulu"
"Oh, kita langsung pesan aja ya aku udah laper banget nih By" ucap Zapata sembari mengelus perutnya yang keroncongan.
__ADS_1
Mereka pun makan dengan lahap. Terkadang jika ada yang bersisa dipiring Puput, Zapata dengan senang hati akan menghabiskannya. Ia benar-benar tidak gengsi untuk menghabiskan makanan bekas Puput. Zapata sedikit banyak sudah mulai terlihat berubah sejak dekat dengan Puput. Dalam hal memanggil nama orang juga sudah mulai normal.
"By, jalan yok" ajaknya setelah menghabiskan seluruh makanan.
"Ha? Malam ini?" tanya Puput.
"Iyalah"
"Tadi Mas Rama bilang, katanya jam 10 sudah harus dirumah" ucap Puput.
"Ya udah, duduk sini aja dulu biar ga rugi"
"Apanya yang rugi?" tanya Puput.
"Kan kalo kita jalan, bisa-bisa pulang dari batas waktu yang sudah ditentukan. Tapi kalo kita langsung pulang, masih ada lumayan banyak tuh sisanya. Jadi, biar ga rugi kita duduk sini aja" ujar Zapata.
Puput menggelengkan kepala mendengar penuturannya.
"By, gimana kalo kita main jelek-jelekan muka?" ajaknya.
"Ayo"
"Hitungan ketiga mulai ya. 1, 2, ... 3"
Puput memasang muka dengan ekspresi yang menurutnya sudah jelek. Sedangkan Zapata tidak merubah wajahnya sama sekali.
"Cieee, kamu menang" ujarnya. Puput tertawa miris. Dia telah dijebak oleh Zapata.
"Sekarang main cakep-cakepan ya? 1, 2, ... 3"
Puput menampilkan senyum terbaiknya sedangkan Zapata malah pasang wajah aneh.
"Oke, aku menang" ucap Zapata. "Aku muka jelek aja masih menang, aneh banget kan" ucapnya.
Ya, Puput hanya tertawa gemas dengan tingkah laku Zapata. Lelaki yang tampilannya sudah matang ini sebetulnya masih kalah dewasa dengan Puput. Selama mereka jadian, memang Zapata yang paling dominan. Sedangkan Puput yang paling banyak mengalah. Dan Puput bahagia-bahagia saja menjalaninya.
Setelah perhitungan waktu dirasa sudah pas, mereka pun pulang bersama-sama dengan mobil masing-masing. Tepat jam 10 kurang 3 menit, Puput sampai dirumah.
__ADS_1
Ia melepaskan outernya lalu merebahkan diri di kasur. Puput begitu bahagia karena bisa makan makanan yang ia suka. Lain halnya kalau yang menentukan tempat adalah Zapata, sudah pasti kalau tidak direstoran Chinesse pasti di restoran Jepang, atau bisa juga direstoran lain. Yang jelas tempat makan dengan kategori elit.
Sedangkan Puput, lambungnya tidak terbiasa dengan itu. Sebab terkadang, sekalipun restoran mewah itu menjual menu makanan Indonesia tapi rasanya aneh dilidah Puput. Seperti sudah tidak original lagi.