Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Ulang Tahun


__ADS_3

Fokus untuk bekerja mendadak hilang, Zapata kembali ke kamar dan merebahkan tubuh di sisi istrinya. Tak berapa lama ia ikut terlelap.


Di keesokan harinya, Zapata berangkat kerja setelah mengantarkan istrinya ke kampus. Mereka biasa berangkat bersama jika Sherly masuk pagi.


"Selamat pagi, Pak" sapa Eko ramah.


"Hm" sahut Zapata sembari memencet pin ruang kerjanya.


"Oh jadi itu pinnya, Pak"


Zapata menoleh pada asistennya itu, "Jangan kamu sebarin ke istri saya".


"Aman, Pak"


Keduanya pun memasuki ruang kerja Zapata. Mereka seperti biasa selalu akur jika terkait pekerjaan, tiba-tiba saja bisa serius. Lain halnya jika sudah di luar kantor, sampai terkadang lupa batasan.


Di tempat berbeda, Dinda sedang sibuk-sibuknya membuat kue tart khusus untuk ulang tahun anaknya yang ke dua tahun. Ia akan menggelar acara perayaan ulang tahun secara sederhana saja, hanya mengundang orang terdekat. Acara akan digelar nanti malam sebab kalau siang atau sore pasti rata-rata masih berkegiatan. Itu sebabnya siang ini ia akan menidurkan anaknya agar nanti malam yang ulang tahunnya bisa menikmati acara sama-sama.


Dinda menghubungi Sherly, barangkali sepulang kuliah bisa membantunya masak atau dekor.


"Dek, kuliah sampe jam berapa hari ini?" tanya Dinda lewat telepon.


"Cuma sampe jam 2, kak. Kenapa?" tanya Sherly.


"Pulang kuliah kamu kesini, ya. Umar 'kan ulang tahun yang kedua, jadi mau dirayain nanti malam. Bantu kakak dekor sekalian siapin makanannya juga, ya!?" pinta Dinda lembut.


"Oh siap, aman kalo itu" jawab Sherly.


"Oke, makasih ya, dek"


Menepati ucapannya, Sherly sepulang kuliah langsung bergegas menuju kediaman abangnya. Sherly berangkat bersama sopir yang menjemputnya. Setelah sampai, ia langsung ikut bergabung bersama Dinda dan ternyata sudah ada mamanya juga yang tengah membuat adonan kue. Sherly memotong kue yang di khususkan untuk menjamu tamu. Potongan kue itu ia letakkan ke dalam piring lalu di tutup dengan plastik wrap. Kemudian, ia beralih menuju ruang keluarga untuk di dekorasi agar tampak meriah.


Sore harinya saat semua tugas-tugas Sherly selesai, ia pun pamit pulang dan akan kembali lagi sehabis maghrib.


"Iya, kamu pulang hati-hati" ucap mamanya yang memang akan nginap disana nanti malam.


"Huaaaa nda..." terdengar tangis Umar dari kamarnya. Sherly pun tak jadi pulang malah ia menghampiri kamar Umar.


"Umar udah bangun?" tanya Sherly.

__ADS_1


Ponakannya itu minta di gendong. Sherly pun mengangkatnya dari tempat tidur dan membawanya keluar kamar. "Kak, Umar udah bangun" ucap Sherly.


"Anak bunda udah bangun?" tanya Dinda yang kemudian menghampiri anaknya dan mencium pipinya.


"Kak, aku mandiin Umar, ya!? Kan kakak masih sibuk"


"Oh iya. Mandiin aja, Sher"


"Tapi habis itu aku bawa pulang, ya?"


"Terserah" jawab Dinda.


Setelah Sherly selesai memandikan Umar, ia pun memasangkan pakaian untuk Umar. Segala keperluan Umar juga sudah ia masukkan ke sebuah tas kecil yang tersedia di kamar Umar. Susu, botol susu, sama popoknya sudah Sherly siapkan. Sekarang tinggal angkut.


"Dadah bunda dulu" ucapnya pada ponakannya itu.


"Dadaa" ucap Umar mengikuti perintah Sherly.


"Kak, kita pergi dulu"


"Iya, hati-hati" ucap Dinda dan mamanya.


Tiba-tiba terdengar pintu terbuka. "Lho" kaget Zapata. "Kok ada Umar disini?"


"Yank, kamu ya?" tanya Sherly dari kamar mandi karena sempat mendengar pintu kamar yang terbuka.


"Iya, Yank. Kok tumben ada Umar, Yank?"


Sherly sudah selesai dari kamar mandi. "Iya, dia ulang tahun nanti malam. Tadi aku kan bantu-bantu kak Dinda dirumahnya buat nyiapin makanan sama dekor. Nanti malam kita kesana, ya!?"


"Oke, siap. Umayyy, main sama oom, yuk!"


Seolah tanpa lelah, Zapata menggendong Umar turun kebawah. Mereka bermain-main di taman belakang rumah. Sherly memperhatikan dari jauh melalui jendela kamarnya. Ia terenyuh melihat Zapata begitu dekat dengan Umar padahal mereka berdua jarang bertemu.


Selagi Zapata dan Umar bermain di taman, Sherly bergegas menyiapkan pakaian untuk Zapata nanti malam. Ia mengambil pakaian dalam suaminya, lalu kemeja dan celana panjang. Yang terakhir, ia ingin memilihkan sendiri jam tangan yang akan suaminya kenakan.


Sherly menarik laci sampai penuh. Ia mendapati sebuah kantong plastik kecil dan bening. Ia ambil plastik tersebut lalu ia periksa isinya.


"Obat-obatan?" Sherly membolak-balik obat tersebut. Rasa penasarannya sudah membuncah, tapi ia harus paham situasi untuk menanyakan perihal obat-obatan ini.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30, Sherly dan Zapata juga sudah siap untuk berangkat. Umar di pangkuan Sherly, mereka bertiga sudah layak disebut keluarga kecil. Zapata sambil nyetir juga sesekali sambil godain Umar.


"Umay kepengen ada temennya, gak?" tanya Zapata dengan maksud ngode Sherly buat punya anak.


Umar menggelengkan kepalanya. "Lho, kok gak mau?" tanya Zapata.


"Udah ada oom tama tante" jawabnya polos.


"Bukan di dalam mobil sini maksud oom" Zapata menurunkan lagi nada bicaranya demi bisa membawa Umar masuk ke dalam inti dari niatnya bicara. "Jadiiii, maksud oom... Umay mau gak punya temen main yang kurang lebih sebaya sama Umay"


"Emmm" Terdengar nada seperti orang tengah berpikir namun pada kenyataannya Umar sedang tidak berpikir. Malah bayi dua tahun itu tengah asik memainkan gantungan di ponsel Sherly.


"Umayyy, oom nih nungguin" ujar Zapata mulai kewalahan.


"Ngguin apa?" tanya Umar.


"Hahahhahaa" tawa renyah Sherly menghiasi percakapan tak berujung itu.


"Udahlah, oom ngambek sama kamu" ujar Zapata.


"Nti Umay kaci emen"


"Gak usah, permen oom jauh lebih enak daripada permen kamu" timpal Zapata.


Sherly spontan menjewer telinga suaminya. Yang membuat Zapata mengaduh dan Umar tertawa.


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Umar. Tampak berjejer beberapa mobil yang sudah mereka kenali. Ada mobil Feza, lalu mobil mertua Zapata, mobil Bibin, mobil Aidil, dan tentunya mobil milik tuan rumah.


"Ya ampun, yang ulang tahun malah baru datang" sambut Feza yang datang hanya bersama anaknya saja.


"Sini sini, Sher. Mau ganti baju dulu nih, guys yang ulang tahunnya" Dinda membawa Umar masuk ke kamar. Sherly dan Zapata bergabung bersama tamu yang lain.


"Ini hasil dekorasi kamu?" tanya Zapata di depan semua orang.


"Iyalah, siapa lagi" jawab Sherly.


"Bagus Yank, cocok kamu kalo disuruh ngias-ngias begini" puji Zapata.


Wanita mana yang tidak tersanjung oleh pujian dari suami sendiri. Buktinya pipi Sherly mulai merona.

__ADS_1


"Akibat terlalu jarang dipuji suami, giliran dipuji dikit langsung berubah jadi udang rebus" timpal Bibin yang membuat seisi ruangan jadi penuh tawa.


__ADS_2