
Kembali pada Rama, ia yang sempat mempolisikan dokter yang bersekongkol dengan Om Romy untuk membunuh papa mereka kini sudah mendapatkan putusan tetap dari Hakim. Ia dijatuhi hukuman seumur hidup karena terbukti melakukan upaya pembunuhan. Tidak hanya itu, tetapi juga terbukti melakukan malpraktek yang merugikan banyak pasiennya.
Sedangkan Om Romy, ia juga telah mendapatkan vonis karena terbukti bersalah. Mendapatkan Pasal berlapis namun hukumannya lebih ringan dari si dokter. Rama hanya mampu mengepalkan tangan karena dalang dari kelumpuhan papanya hanya dijatuhi hukuman 7 tahun penjara. Belum lagi jika dalam masa penahanan tersebut si Romy mendapat remisi. Itu artinya, hukuman akan semakin lebih ringan lagi.
Zapata, Nanda, dan Bibin menemani Rama untuk hadir di sidang putusan kedua pelaku tersebut. Mereka bisa melihat kemarahan yang amat sangat dari kedua mata Rama.
Tapi setelah kepulangan dari pengadilan, Rama kembali terlihat baik-baik saja. Memang tidak mudah untuk menerima apa yang sudah mereka perbuat pada papanya, tapi mau bagaimanapun papanya sudah tenang di alam sana. Seharusnya Rama kini bisa tenang karena si pelaku telah mempertanggungjawabkan perbuatannya, tapi malah pertanggungjawaban itu tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Rama tahu, mengapa Romi Maha Jayardi itu mendapat hukuman yang ringan. Itu karena ia memiliki banyak uang dan kekuasaan. Malah, meski telah terbukti bersalah. Selalu ada saja simpatisan yang membelanya. Entah dibayar berapa mereka itu. Rama hanya tersenyum sinis.
***
Satu minggu kemudian, tahlilan kembali diadakan dirumah Rama dan Puput untuk mengenang 40 hari kepulangan papa mereka untuk menghadap sang Khalik. Semua kerabat keluarga, para sahabat, dan tetangga ikut hadir dalam acara tersebut.
Acara berlangsung dengan khidmat. Dalam acara sakral tersebut, Zapata curi-curi pandang mencari keberadaan Puput. Ia yang sempat berkeinginan untuk segera melamar Puput merasa mendapatkan kesempatan baik malam ini. Karena seluruh keluarga besar Puput hadir semua disini. Namun, Zapata belum meminta izin terlebih dahulu pada Puput. Sebab, setelah percakapan melalui chat untuk ngajak nikah waktu itu, Zapata belum ada lagi membahas kelanjutannya. Sehingga menggantunglah percakapan mereka tentang nikah. Saat bertemu pun, Zapata seolah lupa membahas tentang nikah.
Setelah acara usai, Puput terlihat menggendong Satya menuju teras samping rumahnya. Zapata diam-diam menyusul. Namun ternyata, disana juga ada Sherly yang tengah menggendong Umar. Meski begitu, Zapata tidak kehabisan akal.
"Put, bisa tolong ambilin kue lagi ga? Kue didepan abis" ucap Zapata dari arah pintu.
Puput hampir protes karena baginya, dipanggil nama oleh Zapata terasa agak lancang. Tapi setelah itu, ia sadar kalau saat ini mereka berada dirumah dan ada Sherly juga.
"Iya bang. Sher, gue masuk bentar" ucapnya pada Sherly.
Puput berlalu dengan disusul Zapata dari belakang. Lalu belum sampai dapur, Zapata menarik tangan Puput ke arah kolam renang yang hanya di sinari lampu temaram.
"Aku mau ngomong serius" ucap Zapata.
"Iya, tapi ambil kue dulu. Kasian tamu didepan pasti udah nunggu"
"Aku cuma alasan doang biar bisa ngobrol sama kamu"
__ADS_1
"Ya terus kamu mau ngomong apa?"
"Keluarga besar kamu lengkap semua kan sekarang? Boleh ga, aku minta restu buat ngelamar kamu depan mereka malam ini juga" ujar Zapata.
"Ha? Kamu serius?" tanya Puput.
"Ya seriuslah. Makanya sekarang aku mau izin dulu sama kamu. Boleh ga aku ngomong gitu ke keluarga kamu"
"Ya udah, terserah kamu aja. Aku kan udah bilang, aku ikut kamu pokonya"
"Yes, makasih sayang" Zapata masih sempat-sempatnya mencium bibir Puput sekilas. Satya yang masih berada digendongan Puput nampaknya tak jadi masalah.
"Sana Put, makasih kuenya" ujar Zapata dengan sombongnya.
"Pat put pat put" ujar Puput sembari pergi lebih dulu dari pinggir kolam renang.
Puput kembali ke tempat semula, dimana Sherly dan Umar berada. Ia sengaja akan duduk disana saja saat Zapata ngomong ditengah-tengah keluarga untuk meminta restu.
Biar Sherly ga tau dan ga boleh tau sampai hari lamaran tiba.
"Bang Nanda sama kak Dinda mana sih? Kok ga nyariin aku buat diajak pulang. Ini kan udah malem" tutur Sherly.
"Mungkin masih ngumpul didepan Sher, kan mereka akhir-akhir ini jarang kumpul. Biasanya tiap minggu" sahut Puput.
"Eh Sher, Tian kenapa ga diajak kesini?" tanya Puput mengalihkan pembicaraan.
"Udah gue ajak, tapi katanya tadi temen dia ada yang kecelakaan. Jadi ga bisa kesini, soalnya udah keburu lebih dulu janjian sama temen-temennya yang lain buat jenguk malam ini ke rumah sakit"
"Oh gitu"
"Put, di suruh mama ke ruang keluarga" ucap Kak Feza tersenyum-senyum sembari mengambil Satya dari pangkuan Puput.
__ADS_1
Puput langsung tahu apa yang tengah terjadi. Ia pun berdiri dan merapikan sedikit gamis yang ia pakai. Hatinya merasa was-was, takut, deg-degan. Semua campur aduk.
"Ayo Sher, kita ikut kesana" ujar Kak Feza pada Sherly yang masih terdengar ditelinga Puput yang sudah lebih dulu berjalan.
Puput sampai diruang tengah dengan disambut tatapan yang menurutnya aneh semua. Apa dirinya yang salah lihat atau memang begitulah adanya?
Puput duduk sesuai instruksi Mas Rama yang memintanya duduk disamping mama. Kemudian Mas Rama langsung bertanya, "Put, kamu beneran sudah siap dipinang sama Zapata?" tanya Mas Rama.
"Ha?" terdengar suara mencelos dari bibir Sherly.
Puput menatap kearah Sherly. Ia bingung mau jawab apa. Saat yang bertanya adalah Zapata, entah mengapa mudah sekali menjawabnya. Sekarang giliran ditanya Mas Rama, ia seperti kehilangan pita suara.
Puput menatap ke arah Zapata yang juga sedang harap-harap cemas menanti jawaban Puput. Mungkin ia takut kalau Puput akan berubah pikiran.
"A' i... Iya sayang, aku mau"
Semua orang diruang tamu tertawa pelan mendengar jawaban Puput. Sedangkan Puput sendiri, malah bingung mengapa semua orang tertawa.
Sherly mendekati Puput, ia berbisik "Lo ada main sama Bang Ta? Kapan? Kok gue ga tau?"
"Lo kasih tau gue, kenapa orang-orang ini pada ketawa?" sahut Puput balik bertanya.
"Ya iyalah ketawa, habisnya lo udah berani sayang-sayangan depan mereka" ucap Sherly.
"Ha?"
Rama mendekati Zapata. Memberikan ucapan selamat dengan nada tegas seolah mengancam Zapata jika berani menyakiti adiknya.
"Tenang bro, gue dapet jodoh aja susah jadi ga mungkin gue sakitin"
"Feza pernah bilang sama gue, waktu itu dia ngerasa ngeliat mobil lo parkir depan rumah tapi ga masuk gerbang. Gue bilang, mungkin mobilnya punya tetangga yang kebetulan mirip mobil lo. Oh, ternyata beneren mobil lo"
__ADS_1
"Gue sengaja jaga jarak, biar ada batasan antara adik ipar dan kakak ipar" sambut Zapata.
"Alah, nanti juga lo sendiri yang melewati batas"