
Kami mulai saling bercerita dari awal mula aku mendapatkan nomor ponselnya. Karena jujur saja, aku bilang bahwa aku mendapatkan nomornya dari selebaran kertas yang memang sudah tergeletak di atas meja kerjaku.
POV Zapata end
Flashback On
POV Puput
Setelah mendengar intruksi untuk mengumpulkan data diri beserta foto, aku langsung mengeluarkan secarik kertas juga pena. Kutulis data diri sesuai format yang diminta. Lalu, kucari-cari lembaran pasfoto yang biasanya selalu ada sisa kala aku mencuci foto. Namun, ternyata habis. Aku tidak punya stok pasfoto lagi.
"Sher, foto gue gak ada nih. Gapapa kali ya" ucapku pada Sherly yang sudah lebih dulu menyerahkan data dirinya pada ketua DanTe.
"Iya, yang penting ngumpul aja dulu" ujar Sherly.
Akhirnya lembaran itu aku kumpulkan juga. Aku yakin itu bukan untuk sesuatu yang formal.
POV Puput end
Flashback Off
"Aku juga heran, dari sekian banyak foto cewe cakep kenapa malah milih yang gak ngelampirin foto sama sekali ya?" Heran Zapata.
"Jadi aku jelek?"
"Nggak, maksudnya heran aja gitu. Kamu jangan ngambek gitulah. Aku ajak ketemuan kamu gini biar bisa menghibur kamu. Jangan sedih-sedih lagi ya. Kamu bisa mengandalkan aku untuk hal apapun. Kamu mau minta apa aja pasti aku kasih" ujarku sembari memberanikan diri menggenggam tangan Puput.
"Aku mau papa" ujar Puput lagi-lagi mata itu kembali berair.
Zapata pindah duduk di kursi samping Puput. Ia menyenderkan kepala Puput ke pundaknya.
"Aku bisa kasih kamu segalanya, kecuali papa. Bukannya tadi kamu bilang kalo kamu udah ikhlas? Atau kamu mau aku temenin jenguk papa? Kita ziarah kesana"
"Aku mau"
"Besok sore, sekitar jam 4 aku jemput ya" ujar Zapata.
"Iya"
Puput begitu betah menyandarkan tubuhnya di dada bidang milik Zapata. Zapata juga senang bisa memanjakan perempuan yang ia cinta. Perempuan yang biasanya selalu ceria dan nari-nari gak jelas.
__ADS_1
Setelah pertemuan itu, mereka pun pulang dengan mobil masing-masing. Namun, Zapata tetap ikut mengantarkan Puput. Setelah melihat mobil Puput masuk ke halaman rumah, barulah Zapata putar balik menuju kerumahnya.
Dikeesokan harinya, Zapata menepati ucapannya. Setelah urusan kantor selesai ia langsung menuju kampus Puput untuk menjemputnya. Mereka janjian di depan gerbang kampus agar tidak ketahuan Sherly.
Lalu keduanya pun pergi menuju tempat peristirahatan terakhir papa Puput. Disana Puput hanya diam sembari menunduk dan menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh Zapata. Lalu, secara tiba-tiba Zapata mengulurkan sapu tangan pada Puput. Tanpa mendongak, Puput menerima uluran sapu tangan tersebut.
"Kalau kamu mau nangis, nangis aja. Anggap aku gak ada" ujar Zapata.
Seketika Puput menangis terisak sampai Zapata ikut merasakan kepiluan hati Puput. Ia mengusap punggung Puput agar perempuan itu lega dan sadar jika Zapata akan selalu ada untuknya.
Senja telah tiba, Zapata menegakkan tubuh Puput dan mengajaknya segera pulang. Puput tidak menolak, ia ikut berjalan meski sangat pelan.
"Puput yang aku kenal, periang dan hiperaktif. Tapi setelah aku benar-benar masuk ke kehidupan kamu, aku jadi tahu lebih dalam kalo kamu ternyata orang yang suka menyembunyikan kesedihan"
"Aku cuma gak mau dikasihani sama orang-orang"
Zapata tersenyum lembut.
"Mau langsung pulang atau kemana dulu?" tanya Zapata.
"Pulang aja, bentar lagi maghrib" ucap Puput.
Sekepulangan mereka, tetap saja sebelum tidur mereka saling teleponan. Walau tadi sudah bertemu, keduanya tetap ingin melanjutkan perbincangan via telepon. Seolah ada saja hal yang bisa mereka ceritakan.
Dikeesokan sorenya, mereka bertemu lagi. Malah, kini Puput dibawa pulang kerumah Zapata. Mereka juga sempat membeli dua raket badminton dengan warna yang sama biar couple-an, kata Puput.
Zapata dulu sering bermain badminton dengan papanya kalau sedang berkunjung kerumah pribadinya. Tapi, sudah setahun ini Zapata tidak pernah lagi bermain badminton. Meski begitu, lapangan badmintonnya tetap terawat dan bersih.
Dan juga, keahlian dirinya bermain badminton sama sekali tidak berkurang. Hal itulah yang membuat Puput kewalahan bertanding dengannya.
"Kamu kok miring-miring terus sih. Lama-lama aku mainnya dari luar lapangan" sebut Zapata karena sebagus apapun servisnya tetap saja Puput mengembalikan Kok-nya dengan pukulan yang miring.
"Udah lama gak main" ujar Puput.
Hingga akhirnya mereka bermain tanpa net/jaring. Karena akan lebih memudahkan Puput mendapat poin.
Mereka terus bermain walau punggung mereka sudah dibasahi oleh keringat. Puput tak gentar melawan Zapata yang lari kesana kemari untuk menangkis pukulan darinya.
Hingga akhirnya Kok itu jatuh ditengah-tengah mereka.
__ADS_1
"Ambil, kamu yang nepuk kok" ujar Zapata sembari mengelap keringat di hidungnya dengan kaos tipis yang ia kenakan.
"Tapi kan lebih deket ke kamu" ucap Puput.
Akhirnya Zapata mengalah. Beberapa kali ia memungut bola yang jatuh di tengah-tengah. Hingga akhirnya ia pun capek juga.
Puput tergelak kala ia hendak menyuruh Zapata mengambil Kok yang barusan terjatuh tapi posisi Zapata sudah berubah menjadi patung. Ia sengaja begitu karena tidak mau terus-terusan memungut Kok.
Hingga lama-kelamaan keduanya akan sama-sama berubah menjadi patung kala Kok mereka jatuh. Sama-sama tidak ada yang mau mengalah dan akhirnya memilih untuk istirahat.
Zapata mengajak Puput duduk di sebuah bangku panjang di pinggiran lapangan. Ia memberikan handuk putih kecil untuk Puput. Sedangkan dirinya hanya mengandalkan kaos tipis ditubuhnya untuk mengusap keringatnya.
Zapata membuka kaos itu, tampaklah otot-otot perutnya yang berkotak-kotak. Puput memandang tanpa berkedip. Apalagi aroma maskulin dari kibasan kaos tadi menguar sampai ke hidung Puput, tetap wangi walau sudah di penuhi keringat.
"Terpesona 'kan?" ucap Zapata menggoda Puput.
"Ih" elak Puput dengan kembali mengusap keringatnya dengan handuk.
"Yah, gak mau ngaku"
"Sebenarnya b aja, tapi karena baru liat jadi terpesona" ucap Puput.
"Hah? Yang kaya gini kamu bilang b aja? Waw, aku tersinggung nih" ucap Zapata.
Puput terkikik geli saat pria dewasa dihadapannya tiba-tiba pamer kekuatan. Ia melakukan push up dengan atraksi lepas tangan.
"Gak usah berlebihan deh"
Zapata bangkit lalu duduk di ubin lapangan dengan meluruskan kakinya. Ia lalu menceritakan olahraga apa saja yang ia kuasai, yang ia sukai, dan yang sering ia praktekkan.
Puput mendengar sembari mengangguk-angguk. Tanda ia mengerti yang Zapata sampaikan. Sampai akhirnya perbincangan berakhir saat bibi datang mengantarkan minuman untuk mereka.
Keduanya pun melepas dahaga.
"Aku bentar lagi pulang ya" ujar Puput.
"Masih pengen kamu disini" bujuk Zapata.
"Ck, besok-besok kan bisa ketemu lagi"
__ADS_1
Akhirnya pukul setengah enam Puput pulang. Zapata kembali merasa kesepian. Dirinya pun masuk kedalam rumah untuk membersihkan diri.