
Bulan bersinar terang dengan bentuk bulat sempurna. Seorang pemuda duduk berpangku tangan dengan wajah muram di bangku taman belakang rumahnya. Pria itu sudah satu jam duduk termenung sendirian di malam yang hampir larut ini.
Suara jangkrik setia menemaninya dikeheningan malam. Angin berhembus tak jadi masalah untuk tubuh yang diwajibkan mengkonsumsi vitamin itu.
"Mas Ta, masuk Mas. Udah malem, nanti sakit lagi, Mas"
"Iya Bi, bentar lagi"
"Mas, jangan kaya gini. Kita semua kepingin Mas Ta kaya biasa. Yang pulang kerja kadang suka cerewet atau malah suka merintah yang gak jelas"
"Saya lagi pengen sendiri, Bi"
"Mas Ta kenapa? Sejak pulang dari rumah sakit Mas Ta sekarang banyak diem"
"Biasalah Bi, lagi ada masalah aja"
"Masalah itu harus dihadapi Mas Ta, harus semangat. Jangan menyerah"
"Maunya saya juga begitu, Bi. Tapi masalahnya, orang yang sedang berurusan sama saya maunya saya ga menghadapi masalah. Alias nyuruh saya jangan temui dia lagi"
"Orang biasanya ngomong begitu karena sedang dalam kondisi marah, Mas. Jangan terlalu di pusingin. Tunggu deh sampe marahnya reda"
"Iya Bi, saya memang sekarang menyerah tapi tidak selamanya"
Pria itu kembali merenung sendiri karena sang asisten rumah tangganya sudah kembali masuk ke dalam rumah tak mau mengganggu sang majikan yang sibuk tenggelam dalam masalahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam, tapi ia masih terus saja menikmati cahaya bulan purnama yang bersinar terang namun tak menembus sampai ke sudut gelap dihatinya.
Malam semakin sepi. Pria itu sesekali mengusap lengannya yang kedinginan. Ia menatap sekeping roti yang tersaji di hadapannya.
__ADS_1
Sekeping roti tawar yang merupakan kepingan terakhir dari sebungkus roti pemberian Sherly waktu itu lengkap dengan selainya. Dan segelas susu segar, yang ia minta pada ARTnya untuk membeli yang sama persis seperti yang di beli oleh Sherly waktu itu.
Ia mengunyah pelan dan menghabiskan susu segar itu dalam sekali teguk. Lalu ia beranjak pergi masuk kerumah dan menuju kamarnya.
Zapata menatap ponselnya, terus menimbang-nimbang haruskah menghubungi Sherly? Ia tahu kini sudah larut malam, ia tak mau mengganggu. Menghubungi Sherly justru malah akan semakin membuat Sherly tak mau melihat dirinya lagi.
Zapata membaringkan tubuh di ranjang kebesarannya. Ia mencoba memejamkan mata dan menata mimpi indahnya.
¤¤¤
"Siapin ruang meeting. Jam 10 saya sudah sampai di kantor" ucap Zapata melalui panggilan.
Setelah itu, tepat pukul 5 sore, ia sudah menyelesaikan segala pekerjaannya. Ia berencana mengunjungi Rama untuk sekedar berkunjung ke tempat kerjanya, sebab sejak dilantiknya Rama menjadi seorang menteri belum pernah sekalipun ia bertandang ke sana.
Ia mengikuti segala protokol sebelum menemui Rama. Barulah setelah itu ia bisa bertemu Rama diruang kerjanya.
"Maklumlah, selain sibuk saya juga sekarang suka sakit-sakitan, Pak" canda Zapata.
"Sorry ya, kemaren gue ga sempet jenguk waktu lo sakit. Padahal gue udah kosongin jadwal, cuman ada aja kejadian mendadak" ujar Rama tak enak.
"Santai ajalah. Ngomong-ngomong, gimana sejauh ini rasanya jadi menteri? Ga ada masalah yang berarti 'kan?" tanya Zapata peduli.
"Ada sih, cuman belum terpublish aja. Paling nanti kalo udah sampe ke telinga rakyat baru deh berubah jadi masalah besar" tutur Rama.
"Apa?"
"Ini masalah kebijakan. Jadi, gue lihat data di beberapa tahun terakhir. Ternyata kejahatan sek*ual terhadap anak dan perempuan terus meningkat. Ada banyak desakan dari beberapa pihak untuk gue ikut menyuarakan ini dan mulai berbicara dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) perihal hukum kebiri atau hukuman mati untuk pelaku kejahatan sek*ual. Hanya saja baru gue mau mengatakan persetujuan gue untuk itu, pihak oposisi yang mengatasnamakan organisasi pembela Hak Asasi Manusia mencegah gue untuk datang ke DPR dan mengatakan bahwa hukum kebiri di nilai tidak manusiawi. Dan hukuman mati dianggap seolah tidak memberikan kesempatan hidup yang lebih baik bagi si pelaku. Gue banyak tekanan sekarang Ta, kalau boleh nurutin kata hati gue. Ya gue setuju untuk hukuman berat itu. Tapi lagi-lagi pihak yang tidak setuju ini selalu meneror dan meminta gue untuk mundur dari jabatan. Karena katanya gue gak becus"
__ADS_1
"Jangan mundur. Maju terus, bikin yang ga suka sama lo makin kepanasan. Apalagi pakek nekan-nekan orang segala. Makin besar kepala kalo kita mengalah sama orang kaya begitu. Kebetulan gue juga punya pengalaman kaya gini" cecar Zapata memberi dukungan.
"Kalo gue kenapa-napa lu bantuin gue ya!?"
"Tenang aja. Bokap lo aja dulu pernah ketemu di acara debat sama gue. Dan dia kasih gue banyak pelajaran, jadi sekarang gue harus balas kebaikan dia lewat lo"
"Makasih ya, Ta. Sekarang gue jadi merasa sedih kenapa lo gagal jadi adik ipar gue"
"Jodoh itu ditangan Tuhan. Gue bisa apa kalo yang adek lo inginkan ternyata bukan gue"
"Maksudnya?" tanya Rama.
"Puput gak cerita?"
"Waktu lo datang kerumah dan menjelaskan kalo lo ga bisa sama Puput lagi. Setelah lo pulang ya kita semua nanya ke dia. Tapi dia cuma jawab kalo lo salah paham. Dan dia ga mau mencoba jelaskan ke lo. Karena menurut dia biar waktu yang menjawab. Sebab katanya, sejauh apapun terpisah kalo udah jodoh ya pasti balik lagi. Betul kaya gitu?" tegas Rama meminta keterangan kali ini dari Zapatanya langsung.
"Ma, dia adek lo. Percayai saja. Apapun yang gue katakan pasti lo akan tetap berpihak pada adek lo sendiri. Lagian, kita ga perlu bahas itu lagi. Gue sama Puput baik-baik aja. Kami nyaman satu sama lain walau keadaannya seperti sekarang ini"
"Oke-oke. Siapapun cewek yang berhasil mendapatkan lo pasti beruntung banget"
Zapata pulang setelah berbincang panjang dan sholat maghrib berjamaah bersama Rama dan stafnya. Sepulang kerumah, lagi-lagi hatinya dirundung kehampaan. Ia membersihkan diri berharap ketenangan hati segera menghampiri setelah tubuhnya bersih.
Lagi, ia tak bisa tidur sampai larut malam. Duduk mendongakkan kepala dibawah bintang-bintang. Sejenak kemudian ia mengeluh pada langit yang terbentang.
Sebentar lagi masuk bulan ramadhan, aku masih sendiri. Kenapa rasanya ramadhan jadi semenakutkan ini. Apa karena selain belum nikah, aku juga gagal nikah?
Selain merasa bersedih karena belum nikah, ia juga sedih karena kehilangan dua orang yang biasa menantikan THR darinya. Puput dan Sherly.
__ADS_1
Aku, Puput, dan Sherly adalah tiga orang yang masih sama. Tapi kini keadaannya yang tak sama. Kita masih hidup di alam yang sama, tapi seolah terhalang untuk bersua. Salah aku?