Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Pesan Mama


__ADS_3

"Allahu Akbar... Allahu Akbar. Laa Ilahailallah Allahu Akbar" Kalimat takbiran terdengar dari setiap masjid. Keadaan di kediaman orangtua Zapata terlihat sedang sibuk-sibuknya. Setelah pulang dari sholat Eid mereka mulai menyusun toples-toples kue dan minuman kaleng ke atas meja. Lalu memotong kue basah yang selanjutnya di susun di piring-piring kecil beserta garpu kecilnya.


Zapata turun dari kamarnya sembari mengancingkan lengan bajunya. Ia sudah siap menjamu tamu dari keluarga besar mamanya.


"Masih belum pada datang, Ma?" tanya Zapata.


"Belum, katanya jam setengah 9 baru mau pada otw"


"Jangan lupa ma, bilangin ke seluruh keluarga kalo abis lebaran aku mau nikah. Biar ga ada yang keburu liburan keluar negeri"


"Iya. Kamu udah tanya Sherly mau mahar berapa?"


"Itu biar jadi urusan mama sama papa aja, ya. Biar mama sama papa aja yang tanya langsung sama orang tuanya atau bisa juga tanya Nanda"


"Kenapa gitu?"


"Sherly di tanyain malah ga minta apa-apa"


"Beruntung kamu dapet dia. Ga minta ini itu, coba kalo sama perempuan lain bisa jadi mintanya yang macem-macem"


"Ma, waktu aku milih Puput dulu mama setuju apa nggak?"


"Kurang lebih sama aja kok kaya yang sekarang. Bedanya sama Puput mama gak kenal, orang dia ga pernah kamu bawa kesini. Cuma ketemu formal pas dirumah dia aja"


"Terus sama yang ini, mama yakin gak?"


Mama tiba-tiba berhenti melakukan aktifitasnya. "Zap, jangan bilang kamu mau gagal nikah lagi? Mama bosan ya di kenalin sama cewe yang ini cewe yang itu. Satu pun gak ada yang jadi", omel mamanya.


Zapata tertawa, "Mama jangan su'udzon dulu. Aku kan cuma nanya. Lagian sama yang ini aku serius kok, soalnya ga ada laporan negatif kaya yang dulu"


"Syukurlah kalo kamu sudah menemukan yang tepat, biar mama juga bisa pamer cucu ke temen-temen mama"


◇◇◇


Sekitar jam 10, akhirnya seluruh kerabat dari keluarga mama Zapata mulai satu-persatu berdatangan. Tante Jenny yang biasanya sangat Zapata hindari kini sudah tidak lagi. Malah Zapata cenderung seperti minta di kulik kehidupannya saat ini oleh Tante Jenny.


Mereka saling bermaaf-maafan lalu menikmati hidangan sambil berbincang. Zapata yang biasanya cuma sanggup satu jam ikut nimbrung bersama mereka kini justru sanggup meladeni semuanya.

__ADS_1


Hingga tibalah saat-saat dimana para ibu-ibu mulai teringat akan sesuatu yang layak untuk di perbincangkan.


"Mbak, si Ani anak bude Ros mau nikah. Dapet undangannya? Seminggu habis lebaran acaranya" ucap salah satu adik mama Zapata.


"Oh ada, baru semalem di antar" jawab mama Zapata.


"Anak masih kecil udah di nikahin. Ani itu yang baru lulus SMA, kan?" sambut Tante Jenny.


"Iya, itu makanya kemaren agak bermasalah dikit. Kan kalo nurut kesehatan, harus nikah di atas umur 20. Tapi KUA ngebolehin aja asal nikahnya udah 19 tahun. Nah Ani itu, umurnya aja pas akad belum cukup 19 tahun. Dia ulang tahun ke 19 pas banget sama tanggal resepsinya"


"Emang akadnya kapan?" tanya mama.


"Akadnya 3 hari sebelum resepsi. Belom cukup 19 tahun. Sama orang KUA suruh cukupin dulu 19 tahun" jelas adiknya mama.


"Ooh. Nikah kok buru-buru banget. Di pikir nikah itu enak kali, ya?" ujar Tante Jenny.


"Anak jaman sekarang pada jago" timpal adik mamanya yang nomor 3 dengan mengacungkan jempol.


"Tetangga aku mbak, anaknya nikah masih kecil juga. Sekarang umur baru 22 apa 23, udah merana jadi janda" ujar Tante Jenny.


Tapi nyatanya masih tidak ada yang nyenggol dirinya. Semua asik menggosipi kehidupan para tetangganya.


Hingga tiba-tiba papa buka suara, Zapata mendadak deg-degan.


"Zapata inshaAllah habis lebaran nanti mau lamaran, kalo bisa datang semua, ya" ujar papanya.


"Serius, Zap?" tanya Tante Jenny.


"Iyalah Tante, masa main-main" jawab Zapata.


"Takutnya kaya yang kemaren lagi" sahut Tante Jenny.


"Jangan Tante, gagal cukup sekali aja", jawab Zapata.


Lebaran hari pertama dihabiskan oleh Zapata dan orangtuanya hanya di khususkan untuk keluarga besar. Rumah orangtuanya menjadi tempat berkumpul karena sang mama adalah anak pertama. Sedangkan keluarga papanya pulang kampung ke Padang.


Sehabis maghrib rumah sudah sepi, Zapata turun dari lantai 2 menuju ruang tengah. Saat lebaran memang mamanya mengerjakan apa-apa sendiri karena semua pekerja pada mudik. Zapata membantu membereskan piring kotor dan memunguti sampah-sampah tisu yang berserakan ulah para keponakannya.

__ADS_1


"Udah habis ma gak ada yang kotor lagi"


"Iya. Zap, besok mama mau silaturahmi kerumah Sherly"


"Sendirian?"


"Sama papalah. Pakek ditanya" kesal mamanya.


"Ikut ya ma"


"Ikut tinggal ikut, kamu kenapa sih?"


"Ga tau ni Ma, biasanya juga santai aja kalo mau kesana. Tapi sekarang mendadak gak berani sendirian kesana"


"Belum apa-apa udah ciut" olok sang mama.


"Rasanya nikah gimana, ma? Kasih wejangan kek!? Anaknya mau nikah kek gak ada apa-apanya gitu"


"Pesan mama, jadi suami yang bener. Kelakuan saat bujang jangan dibawa sampe nikah. Kurang-kurangin nongkrong sama temen-temen kamu"


"Gimana mau nongkrong, temen-temen aku juga udah pada nikah, ma"


"Itu si Bibin, si Eko"


"Udah jarang kumpul, ma. Apalagi Eko, makin tua makin liar"


"Nah itu, hindarin yang kaya gitu. Pokonya istri itu tergantung bagaimana suami. Kamu baik sama mama papa, maka harus baik juga sama mama papa mertua kamu. Ingat ya Zap, kata pak Ustadz yang di TV-TV, pernikahan itu kaya naik kapal. Mau sebesar apapun ombaknya, jangan pernah memilih turun dari kapal. Bertahan aja, nanti pasti sampai ke tujuan. Kemana tujuannya? Ke surga. Justru, kalo memilih turun dari kapal malah kemungkinan terombang-ambing, tenggelam, dan bisa lebih parah lagi. Jadi, mau sebesar apapun masalahnya harus tetap dihadapi sama-sama. Mama nikah sama papa sampe punya anak segede kamu bukannya di antara kami gak ada masalah apa-apa. Hampir bercerai pun pernah. Memang benar kata salah seorang Ustadz, dalam pernikahan memang selalu lebih banyak perempuan yang mengalah, yang sabar, di banding laki-laki. Itu sebabnya, kamu jangan memberatkan istri kamu. Sebisa mungkin, mau kemana atau ketemu siapa, kasih tau dia. Biar setan gak punya kesempatan buat menghasut. Jangan cuma istri aja yang apa-apa musti bilang ke suami. Paham itu!?"


"Paham, Ma"


"Jangan paham ma paham ma aja"


"Iya, Ma"


"Susun ini ke rak piring!"


Seusai membantu mamanya membereskan piring kotor, kini Zapata juga harus menata piring-piring yang sudah di cuci oleh mamanya. Sampai hari lamaran tiba, dirinya akan tinggal dikediaman orangtuanya agar kalau ada apa-apa terkait acara bisa langsung ngomong dengan kedua orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2