Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Persalinan Feza


__ADS_3

SIM telah di dapat, kini Sherly hanya tinggal menunggu mobil pesanannya datang. Dan pastinya, seluruh anggota keluarganya tidak ada yang tahu jika dirinya telah memiliki SIM.


Hingga suatu hari, saat dirinya pulang dari kampus. Tampak didepan rumah ada sebuah mobil yang terparkir. Mobil dengan ciri-ciri yang sama persis dengan yang ia minta pada Zapata.


Baru saja Sherly turun dari mobil, papa dan mama sudah lebih dulu keluar rumah.


"Sher, ini beneran kamu yang beli?" tanya mama memastikan.


"Kamu punya uang dari mana? Papa kan gak pernah kasih kamu uang berlebih?" sambung papa.


"Ini dibeliin bang Zapata pa. Dia sendiri kok yang udah janji" ucap Sherly.


"Tapi Sher, ini kan mobil mahal. Gak enak dong kalo kita terima barang mewah kaya gini" ujar mama.


"Atau kamu sedang jalin hubungan sama bang Zapata?" tuding papa yakin.


"Ih pa, mana ada. Gak mungkinlah aku mau sama om-om"


"Tapi duitnya mau" sambung mama.


"Mama, suer deh aku sama bang Ta cuma dianggap adik. Gak lebih" tampik Sherly.


"Iya, terus ini mobil mau di apain? Kamu kan belum bisa nyetir" ujar papa.


"Udah pa, aku udah bisa. Aku udah belajar nyetir sama Puput" ungkapnya.


"Tapi kamu perlu bikin SIM dulu" sahut mama.


Sherly merogoh tasnya, mengeluarkan dompet lalu menunjukkan sesuatu pada kedua orangtuanya.


"Nih" ucapnya dengan sambil memegang kartu SIM ditangannya.


"Oh, udah dipersiapkan ternyata ma" ucap papa.


"Iya dong"


Setelah urusan mobil sudah jelas, akhirnya ketiga orang tersebut masuk rumah dan beristirahat. Sherly tersenyum semringah karena mobil impiannya sudah tercapai.

__ADS_1


Sherly pun menghubungi Zapata melalui panggilan telepon. Tapi berkali-kali panggilannya tak dijawab. Malah ia juga menghubungi lewat panggilan biasa, dan malah operator yang menjawabnya dengan kalimat "nomor yang anda hubungi sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi".


Dan Sherly akhirnya menunda niat berterima kasihnya pada Zapata. Tak lupa, ia mengabari Puput bahwa mobil baru mereka sudah datang.


Puput


"Wah, gak sabar pengen jalan-jalan nih"


Sherly


"Wah seru juga tuh. Tapi besok aja deh, lagi cape banget hari ini"


Puput


"Bawa ngampus ya besok, gue pengen liat"


Sherly


"Oke"


---****---


"Mas... ketuban aku pecah nih" ucap Feza dengan menunjukkan cairan bening di jarinya pada sang suami.


"Kamu masih sanggup jalan? Atau mau aku gendong aja?" tanya Rama.


"Aku bisa jalan kok. Gak sakit-sakit banget" ucapnya.


"Ya udah, ayo" ajak Rama yang langsung bergegas menuju garasi mobilnya.


Sepanjang perjalanan Feza hanya meringis sesekali, Rama juga sudah mengatakan bahwa itu memang sudah waktunya persalinan. Karena sebenarnya prediksi Rama waktu itu, minggu lalu jadwal kelahiran anak mereka. Tapi ternyata anaknya itu masih betah di dalam kandungan, sedangkan ditawari untuk operasi Caesar malah ditolak oleh Feza karena istrinya itu ngotot mau melahirkan secara normal. Dan Rama pun mengalah dengan memberikan waktu tempo satu minggu. Dan beruntunglah hari ini Feza sudah mengalami kontraksi, kalau tidak maka ia akan dipaksa Rama untuk operasi saja. Toh nanti yang mengoperasinya adalah suaminya sendiri.


Masuklah mereka keruang tindakan. Feza diminta berbaring di sebuah brankar yang terdapat bolongan. Disana juga sudah ada beberapa orang bidan yang akan membantu proses persalinannya.


Rama mendampingi Feza yang tengah meringis menahan sakit. Kini ia sudah bukaan tujuh, Rama dengan setia meminta Feza untuk terus menarik nafas lalu buang. Ia juga membalas genggaman tangan Feza ditangannya. Dari situlah ia tahu kapan Feza mengumpulkan tenaga dan kapan pula Feza lemas.


Hingga akhirnya seorang bidan mengecek kembali ke jalan lahir, dan mengatakan kalau bukaannya sudah lengkap. Feza pun diminta untuk mengikuti instruksinya. Sedangkan Rama fokus menyemangati istrinya yang tengah berjuang.

__ADS_1


Feza mendongakkan kepalanya bahkan sampai tengkuk lehernya terangkat seiring dengan kuatnya cengkeramannya pada Rama. Feza mengumpulkan sekuat tenaganya untuk mendorong sang bayi untuk keluar dari mulut rahimnya.


"Terus bu, terus. Rambutnya sudah kelihatan bu" pacu sang bidan yang berada diujung kaki Feza.


Feza yang sudah basah oleh keringat lagi-lagi harus mengumpulkan tenaganya untuk ngeden. Ia sempat salah ngeden hingga akhirnya terasa anaknya seperti masuk lagi ke dalam bukan malah terdorong keluar. Hingga akhirnya salah seorang bidan berdiri di ujung kepala Feza lalu membantu mendorong dari bagian atas perutnya karena cairan ketuban yang hampir habis. Lalu akhirnya terdengarlah suara bayi yang melengking memenuhi seisi ruangan.


"Alhamdulillah" ucap Rama lalu mengusap kepala Feza yang masih lemah. Bayi yang masih merah itu sama sekali tidak sesuai hasil USGnya.


Selama ini Rama selalu mendapatkan hasil USG bahwa anaknya berjenis k*elamin perempuan. Namun, ternyata salah. Saat ini, di depan mata kepalanya sendiri ia melihat bahwa anak mereka berjenis kel*amin laki-laki.


"Mas..." panggil Feza pelan.


"Iya Za, kamu istirahat aja. Pasti masih lemes kan? Anak kita udah lahir. Dia laki-laki ternyata" ucap Rama pada istrinya yang lebih memilih menutup mata.


"Dokter, saya jahit semua ya?" gurau seorang bidan, yang dulunya merupakan teman dari mantannya Rama.


"Sisain dikitlah" jawab Rama dengan wajah merona yang tak bisa ia sembunyikan.


Akhirnya bagian ke*wanitaan Feza harus dijahit sebab mengalami robek saat persalinan. Hal ini lumrah terjadi, para bidan juga sudah ahli dalam mengatasinya.


Sampai akhirnya Feza dibawa keruang rawat. Disana tidak ada satupun anggota keluarga sebab mereka memang pergi sebelum subuh dan anggota keluarga dirumah juga belum pada bangun.


Rama akhirnya menginfokan lewat pesan singkat ke mama, mama mertuanya, dan Puput bahwa pagi-pagi sekali mereka berdua pergi kerumah sakit dan kini telah lahir cucu kesayangan dua mamanya itu. Rama juga memberitahukan pada teman-temannya kabar bahagia ini.


Karena hari juga sudah lewat subuh, jadi sudah banyak yang membalas pesannya. Semua memberikan ucapan selamat dan juga mengatakan akan segera menjenguk.


Rama membantu Feza memakai popok dewasa. Karena memang Feza masih merasakan sakit setelah persalinan tadi. Ia juga menyiapkan seluruh keperluan baby mereka di lemari ruang rawat tersebut.


Feza bersyukur dalam hatinya, bisa diberikan jodoh sebaik Rama. Padahal dulu, mereka hanya bersahabat dan memiliki kehidupan asmara masing-masing.


Walau sampai detik ini Rama selalu memperlakukannya bagai ratu. Namun, Rama tak pernah mengatakan cinta pada Feza. Sampai lahir anak mereka, Feza masih mengharapkan pengakuan cinta dari Rama.


"Za, pompa aja. Liat tuh netes-netes mulu" tegur Rama karena melihat dada Feza mulai basah.


"Iya mas, tolong ambilin pompanya ya di tas yang gede" tunjuk Feza pada salah satu tas yang juga memuat perlengkapan bayi dan busui.


Rama membantu Feza, memijat sedikit bagian dadanya agar produksi ASInya jauh lebih lancar dan tidak kencang. Tak lama setelah itu, bayi mereka pun di antarkan keruang rawat Feza untuk di beri ASI.

__ADS_1


Rama dengan senang hati setia menemani istrinya dalam proses mengASIhi. Ia bahkan ikut duduk disamping Feza, membelai rambutnya dan sesekali mengganggu anaknya yang tengah berlatih menghisap pu*ing Feza.


__ADS_2