
Jawaban Zapata cukup untuk membungkam mulut Sherly. Wanita itu kini terdiam bergelut dengan pikirannya sendiri.
Sebelum senja, hujan mulai mereda berubah menjadi rintik-rintik tak seirama. Mengantarkan pasangan yang diam seribu bahasa itu sampai kerumah.
Setelah sesaat mobil berhenti, Zapata dan Sherly masih sama-sama belum memilih turun dari mobil. Keduanya sadar bahwa saat ini mereka sama-sama diperbudak oleh egonya masing-masing.
Zapata membuka pintu, diikuti pula oleh Sherly. Setelah turun, Sherly dengan langkah cepat mendahului Zapata. Sherly pergi menuju kamar mereka berdua.
Cklek
Sherly membuka laci dimana tempat mereka menyimpan berkas-berkas penting.
Begitu Zapata masuk ke kamar...
"Ah" kaget Zapata karena mendapat lemparan buku nikah dari Sherly.
"Itu. Silahkan kamu pergi ke pengadilan dan ceraikan aku!" gertak Sherly kasar.
"APA MAKSUD KAMU? SIAPA YANG MAU BERCERAI? KAMU JANGAN KEKANAKAN TERUS!"
"HALAH, KAMU SENDIRI MENGAKUI KALO KAMU NYESAL NIKAH SAMA AKU. JANGAN KAMU PIKIR AKU NGGAK! AKU BAHKAN SANGAT-SANGAT-SANGAT MENYESAL NIKAH SAMA KAMU. KAMU SELALU MENTINGIN DIRI KAMU SENDIRI, KAMU GA PEDULI PERASAAN AKU" Sherly menghapus air matanya dengan kasar. "WAJAR YA, SETELAH MENIKAH KAMU TETAP BERTEMU SAMA MANTAN KESAYANGAN KAMU ITU. AKU CAPEK MAAFIN KAMU TERUS. MALAM INI JUGA AKU MAU PULANG KE JAKARTA" sambung Sherly.
Zapata mencoba menangkan dan membujuk Sherly untuk tetap disini. Ia juga menyesali ucapannya yang menyinggung hati Sherly. Zapata rela bersujud di kaki istrinya demi agar Sherly tidak mengepakkan seluruh barang dan pakaiannya.
"Yank, tolong jangan pulang dalam keadaan kaya gini. Apa kata mama papa kalo liat kamu pulang dalam keadaan kacau begini. Aku juga yang bakal kena karena ngebiarin kamu pulang ke Jakarta sendirian. Kalo memang kamu mau pulang, kita pulang sama-sama, tapi jangan malam ini. Karena aku butuh kita untuk bicara baik-baik"
Sherly tidak mengindahkan ucapan Zapata. Ia tetap bersikeras dengan keputusannya untuk segera pulang malam ini juga. Tak ada yang bisa menghentikannya.
"Sherly, aku suami kamu. Bisa nggak kalo aku ngomong tuh di dengar, di patuhi. Kamu gak bisa seenaknya pergi tanpa izin aku, kamu tanggung jawab aku. Kalau kamu kenapa-napa, pasti aku yang salah. Sekalipun terbukti kamu sendiri yang ceroboh, kamu sendiri yang salah, tetap aku yang kena. Sher, please"
Sherly menghentikan aktifitasnya memasukkan pakaian ke dalam koper. Ia duduk di pinggir tempat tidur. Lalu Zapata pun ikut duduk disampingnya.
__ADS_1
"Jawab dengan jujur, apa kamu bahagia dengan pernikahan kita?"
Zapata mengusap wajahnya kesal.
"Sher, pertanyaan macam apa itu?"
"Jawab! Aku butuh tau jawaban kamu"
"Aku... Aku, bahagia"
Sherly memukul dadanya sendiri. Sembari menangis tertahan.
"Sejak kamu terlalu sering membiarkan aku kesepian dirumah ini, aku jadi pribadi yang sensitif. Karena aku ga punya kegiatan, aku jadi punya banyak waktu luang yang aku habiskan untuk keluar masuk sosial media. Bagusnya, keahlian aku jadi bertambah, aku jadi bisa bedain mana orang yang kehidupannya sama persis antara postingan sama real lifenya, dan mana yang nggak. Antara bohong sama jujur. Kalau berkata, KAMU BOHONG! terlalu kasar, maka akan aku perhalus. Kamu gak jujur" ucap Sherly yang mana kali ini ia menghadapkan wajahnya langsung pada Zapata.
Sakit sekali hati Zapata saat ini karena ucapan menohok Sherly. Ia masih gamang untuk membela diri. Tak sanggup untuk melihat Sherly menangis lagi. Tapi tak sanggup juga mengeluarkan sepatah katapun untuk membantah ucapan Sherly yang mana pastilah hanya kebohongan semata.
"Akui saja, kamu gak bahagia nikah sama aku. Aku tau kok, kamu memang setia selama ini sama aku. Kamu gak ada main gila sama perempuan manapun. Tapi, faktanya kita sama-sama gak paham sama apa yang diinginkan masing-masing dari kita dalam hubungan ini. Entah karena kamu segan atau sungkan sama aku, sehingga kamu enggan untuk bilang dan berharap kalau aku suatu saat akan paham dengan sendirinya"
"Nyontoh? Ini hubungan dibangun berdua bukan sendirian. Kamu taunya cuma kerja, kerja, dan kerja. Memangnya gak pernah terpikir di kepala kamu tentang pernikahan kita? Kalo kamu ga bahagia, pasti ada dong terbesit di pikiran kamu alasannya kenapa, terus solusinya gimana. Jangan apa-apa di limpahin ke aku. Kamu kan pintar, buktinya punya bisnis dimana-mana. Masa mau enaknya aja, tinggal nyontoh"
"Bisnis sama pernikahan itu beda. Bisnis aku bisa bangun karena pengalaman dan pengetahuan. Sedangkan pernikahan, aku bukan duda ya sebelum nikah sama kamu. Dan ingat satu hal, aku gak masalah kalau kita pisah kamar. Tapi tidak untuk..." Zapata tidak meneruskan ucapannya.
"Cerai maksud kamu?"
"Aku gak mau mengeluarkan kata itu dari mulut aku. Selamanya, tidak akan pernah mau"
Zapata bangkit lalu keluar kamar. Tapi sebelum itu, ia sempat mencabut kunci pintu yang menggantung lalu keluar kamar dengan mengunci Sherly didalamnya. Hal itu untuk mencegah Sherly meninggalkannya.
"Zapataaaaaaaa!!! Apa maksud kamu kurung aku disini? Aku mau keluar!"
Zapata berjalan santai tanpa memperdulikan teriakan Sherly dari dalam kamar. Ia menuju ke kamar yang sebelumnya Sherly tempati untuk beribadah dan beristirahat sejenak.
__ADS_1
Saat makan malam tiba, ia membawakan sepiring nasi lengkap dengan lauknya, ada pula potongan buahnya, plus segelas susu, dan air putih. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk istri kesayangannya.
Zapata meletakkan nampan ke atas meja terlebih dahulu sebelum membuka kunci kamar Sherly. Saat pintu terbuka, nampak jelas Sherly tengah berbaring di atas tempat tidur mereka.
"Sher" panggil Zapata seraya membangunkan Sherly yang tertidur begitu lelap.
"Heh, baru jam berapa kok udah tidur" ucap Zapata lagi.
Setelah di tepuk-tepuk oleh Zapata, barulah Sherly terkejut dan terbangun.
"Ngapain disini?" tanya Sherly sembari mengucek mata.
"Nih, aku udah baik bawain makanan buat kamu. Kita damai, ya!?" ucap Zapata tulus dari hati yang paling dalam.
"Gak, aku masih kecewa karena kamu ga bahagia nikah sama aku"
"Astaghfirullah, perasaan dimobil aku bilangnya gak gitu deh. Aku bilang, Kok bisa ya aku nikah sama kamu? Kenapa melebar jadi aku gak bahagia nikah sama kamu?"
Nampan di pangkuan Zapata yang ada gelasnya itu tiba-tiba bergetar. Bergetar karena ulah Zapata sendiri.
"Tuh kan, hampir aja tumpah" kata Zapata.
"Terus kalo bukan nyesel, apa?"
"Cuma gak nyangka aja, ternyata aku nikah sama orang yang mulutnya pedes juga. Kamu lupa? Kamu bilang aku mandul"
Sherly meraih nampan dari pangkuan Zapata dan memindahkannya ke atas nakas. Kemudian ia menyandarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya.
"Oke, kita damai. Karena aku sadar aku juga punya salah sama kamu. Aku sayang kamu, aku kalo lagi emosiiiii banget, aku ga bisa ngontrol mulut aku lagi. Bahkan aku bisa ngeluarin kalimat yang sebenarnya aku ga mau ngomong itu. Kamu mau maafin aku, kan?"
"Tadinya aku mau maafin, tapi karena aku liat kamu masih bisa tidur nyenyak setelah ribut sama aku, kayanya aku gak mau buru-buru maafin kamu. Enak aja, setelah ngancam mau ninggalin aku eh malah enak-enakan tidur. Kok bisa ya kamu tidur nyenyak setelah adegan lempar-lempar buku nikah ckckck"
__ADS_1
Sampai geleng-geleng kepala Zapata dibuatnya.