
Sherly pulang begitu saja, aku membiarkannya karena aku sudah tahu mau pergi kemana lagi dia selain rumah orang tuanya atau rumah Nanda. Aku membiarkannya sendiri dulu, karena aku sendiri pun juga ingin menata hati dan mengintrospeksi diri. Aku tahu kesalahanku, namun semua ini terjadi bukan karena kemauanku melainkan terjadi begitu saja.
Sore hari, saat jam pulang kantor aku tidak langsung pulang melainkan memilih tetap berada disana sampai malam lalu aku langsung kerumah Rama. Aku tahu aku akan semakin bersalah jika tidak mengabari Sherly.
Zapata
"Sher, aku hari ini pulang telat soalnya mau kerumah Rama"
Sherly
"Iya. Titip salam buat Puput"
Setelah mendapat izin dari Sherly aku lalu menyimpan ponsel dan duduk merenung di kantor yang sudah sangat sepi ini. Aku sudah membaca berlampir-lampir kertas yang merupakan file kiriman Rama tadi.
Lampiran itu berisi beberapa alasan tentang kelayakan pemberlakuan hukum kebiri menurut pandangan para ahli. Namun, disana juga tertera daftar nama tokoh penting yang sangat menentang pengajuan hukum kebiri pada pelaku kejahatan *****al ini. Tokoh-tokoh tersebut tergabung dalam suatu organisasi besar yang bergerak di bidang pembelaan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).
__ADS_1
Setelah menunaikan ibadah sholat Maghrib, aku segera pergi menuju kediaman Rama. Sampai disana aku dituntun masuk ke ruang tamu khusus.
"Ta" sapa Rama lalu kami bersalaman.
"Ada apa nih tiba-tiba minta gue kesini?" tanyaku.
"Langsung aja ya, gue ada meeting lagi soalnya. Jadi gini, gue selalu di debat sama orang-orang yang mengatasnamakan organisasi pembela HAM karena gue mengusulkan hukum kebiri. Jadi, menurut gue sekarang gue butuh bantuan lo supaya mereka gak mengacaukan niat gue. Enaknya di apain mereka biar gue bisa tenang dan bisa kasih hukuman berat buat para pelaku kejahatan *****al ini"
"Emh, gampang. Bikin sibuk aja" celetukku.
"Gimana caranya?" tanya Rama sembari menyilangkan kaki.
"Ke Papua? Jauh banget. Lo bisa bantu gak?" tanya Rama.
"Jangan gue deh, gue kan penganten baru"
__ADS_1
"Yah Ta, gue gak bisa seenaknya pergi. Lo tau sekarang kesibukan gue kaya apa"
"Gue pikir-pikir dulu deh" ujarku.
Aku pun pamit undur diri setelah menyampaikan masukan untuk Rama. Saat keluar dari ruang tamunya, aku berpapasan dengan Puput yang tengah memegang sebuah buku. Ia melihatku sekilas lalu aku memanggilnya sebelum ia benar-benar pergi.
"Put!"
Puput berbalik badan. Ia hanya mengangkat dagu.
"Sherly titip salam" ucapku. Lalu bergegas pergi dari sana.
Aku berani bersumpah dihatiku tak ada lagi nama Puput, tapi entah mengapa orang rumah selalu cemburu pada Puput. Dari sekian banyak mantanku hanya Puput yang membuatnya selalu berlaku keji padaku kala cemburu buta.
Aku sampai dirumah. Hening, ya iyalah. Aku kan menikahi satu orang bukan satu kampung. Menikahi perempuan yang doyannya di kamar terus pula.
__ADS_1
Aku membuka pintu kamar, kulihat Sherly tengah terlelap, aku pun akhirnya meletakkan tas kerja dan melepaskan jam tangan lalu turun dan makan malam sendirian. Usai makan aku kembali ke kamar, aku kecup pipi istriku lalu bergegas membersihkan diri sebelum bisa menyusulnya ke alam mimpi.
Setelah mandi dan sholat isya, aku tarik selimut dan memperhatikan wajah istri mudaku. Kuraba tangannya yang menelusup di bawah bantal. Kurasakan jemarinya, emmh, ada yang aneh.