
Kantin terlihat sangat penuh. Sherly yang baru saja keluar kelas dan keroncongan segera mencari tempat duduk yang masih kosong. Tampak dipojokan kantin masih ada dua kursi yang kosong namun disana ada Mia.
"Sher, gakpapa nih duduk deket Mia?" tanya Puput.
"Gak usah peduli, yang penting makan" ujar Sherly.
Mereka pun memesan makan dan minum. Lalu duduk berdekatan dengan Mia dan teman-temannya.
"Ehem, pacarnya Tian kelaparan ya? Tiannya mana? Ih kok beda sih, dulu Tian posesif banget sama gue, kemana-mana ikut. Kok sama yang sekarang nggak?" celetuk Mia yang sengaja memancing emosi Sherly.
Sherly dan Puput tidak menghiraukannya. Mereka tetap duduk dan saling berbincang seolah Mia tidak ada dan tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan Mia, terlihat panas sendiri kala ucapannya diabaikan oleh Sherly. "Pura-pura gak denger padahal cemburu 'kan? Soalnya Tian lebih sweet ke gue daripada sama dia"
Makanan Puput dan Sherly datang, makin tidak digubrislah si Mia. Sampai lama-lama, Tian menghampirinya dengan membawa sekotak cokelat. Dan memberinya pada Sherly.
"Sher, nih buat lo"
"Hem, apa nih?" tanya Sherly.
"Cokelat" sahut Tian.
"Gue tau, tapi kenapa lo kasih ke gue"
"Gue gak suka cokelat. Jadi buat lo aja"
"Oke, makasih"
Tian lalu pergi lagi setelah memberikan cokelat itu pada Sherly. Sedangkan Mia menampilkan wajah sinis setelah melihat Tian memberikan cokelat pada Sherly. Setelah makan, Puput dan Sherly pun membayar dan meninggalkan kantin.
---***---
Tiba-tiba saja ada pesan masuk di ponsel seorang wanita dari nomor tak dikenal.
+628127279****
"Hai"
Siapa sih nih? Nomor gak jelas.
Ia menyimpan lagi ponselnya kedalam tas.
---***---
"Put, buruan. Gue udah gak sabar mau belajar nyetir" ucap Sherly yang sudah berdiri disamping mobil Puput.
"Iya iya" Mereka pun pergi pergi ke area sepi bagian belakang kampus. Halaman tempat praktek Fakultas Pertanian cukup luas. Akan mereka jadikan tempat Sherly belajar nyetir.
Berhari-hari Sherly dan Puput setiap kali pulang kuliah selalu menyempatkan waktu mengajar dan belajar nyetir. Sampai akhirnya Sherly sudah mulai bisa hanya saja tak pernah Puput biarkan dirinya untuk bawa mobil kejalan raya. Takutnya akan membahayakan orang lain.
----**--
Ting
+628127279****
"Anak mana?"
Lagi-lagi seorang wanita mendapati pesan dari nomor yang sama yang beberapa hari lalu juga pernah mengiriminya pesan.
Nih orang gak jelas banget sih. Mana gak ada profile picture lagi. Pasti modus penipuan!?
---***---
"Eh Sher, mending lo sekalian bikin SIM aja. Masa nanti punya mobil gak punya SIM. Bang Nanda kan polisi, malu ntar kalo adiknya sendiri jadi korban tilang" Saat mereka tengah berkemas karena jam perkuliahan telah usai.
__ADS_1
"Hm, tapi gimana? Ujiannya susah kan?" tanya Sherly dengan menggaruk kepalanya.
"Gak tau juga sih" ucap Puput.
"Lo kan punya SIM, kok gak tau?"
"Gue nembak hehe. Dibantuin sama kak Feza" ungkap Puput.
"Enak dong lo. Punya kakak ipar anak Jenderal. Mau juga dong dibantuin" sahut Sherly sembari menggoyang-goyangkan lengan Puput.
"Ya udah, ayo ikut gue pulang. Bilang dulu sopir lo minta jemputnya dirumah gue"
"Oke"
Keduanya pun pulang kerumah Puput untuk menemui Feza. Sesampainya dirumah Puput, kebetulan sekali Feza tengah berjalan-jalan di halaman rumah. Sherly yang baru saja turun dari mobil langsung menghampirinya dan berbasa-basi lebih dulu. Sedangkan Puput masuk kedalam mengambil minum.
"Assalamu'alaikum kak" salam Sherly.
"Wa'alaikumsalam Sher. Apa kabar kamu?" tanya Feza setelah mereka berjabat tangan.
"Baik kak. Kakak kok gak pernah main kerumah lagi nengokin Umar?"
"Susah Sher. Mau kemana-mana bawa perut gede gini. Sedikit-dikit engap. Belum lagi ngurus perizinan sama Mas Rama. Duh, susah banget"
"Ih, kasian babynya punya papa posesif. 11 12 tuh sama yang dirumah"
"Haha, kualat nanti kamu ngatain abang sendiri" canda Feza.
"Oh iya kak, aku kesini mau minta tolong sesuatu" ujar Sherly.
"Tolong apa?" tanya Feza.
"Aku sebentar lagi mau punya mobil nih kak. Tapi masalahnya aku belum punya SIM. Aku tanya Puput, katanya dia dulu dibantu kakak bisa bikin SIM nembak. Nah itu dia, aku mau juga kak. Boleh ya?"
"Ah gampang itu. Ayo masuk dulu. Kamu kan tamu" Feza pun mengajak Sherly masuk kedalam dan duduk di sofa tamu.
"Pak Agus, ini Feza. Maaf mengganggu ya, Pak. Saya ini... Emm mau minta tolong. Tolong bikinin SIM pak buat adik saya, adik ipar saya maksudnya. Bisa Pak?" tanya Feza dengan hati-hati karena tidak mau membuat Pak Agus merasa tercoreng martabatnya sebagai polisi.
"Mobil ya, Mbak?" tanyanya.
"Iya Pak"
"Oh, kalau begitu nanti kirimkan saja foto KTPnya ke saya ya, Mbak" sambut Pak Agus menyanggupi permintaan Feza.
"Baik pak. Nanti kalau SIMnya sudah jadi, segera kabarin saya ya Pak"
"Iya, baik Mbak"
"Makasih ya Pak"
Setelah panggilan itu berakhir, Sherly dan Puput langsung menghadiahi Feza ciuman jarak jauh. "Kak, makasih ya kak. Nanti kalo udah ada mobilnya, aku ajak kakak jalan-jalan pakek mobil baru aku" ujar Sherly.
"Hmmmm" sahut Feza mengiyakan dengan malas.
"Put, kalo gitu gue pulang ya. Sopir gue juga udah dateng tuh"
Sherly pun buru-buru pamit dan meninggalkan rumah Puput. Puput dan Feza masuk kerumah setelah mengantarkan kepergian Sherly.
"Kak, kata Mas Rama lahirannya kapan?"
"Katanya sih minggu ini Put. Tapi belum ada kontraksi sama sekali. Makanya kakak bawa jalan-jalan, biar mancing dede bayinya keluar" jelas Feza.
"Terus Mas Rama udah pulang? Atau masih di rumah sakit?"
"Masih dijalan pulang, kayanya bentar lagi juga sampe Put"
__ADS_1
"Ya udah kak, mending sekarang istirahat. Lihat tuh jidat sama hidung kakak udah penuh keringat"
"Iya Put, kamu juga jangan lupa istirahat"
Mereka pun berpisah menuju kamar masing-masing.
---***---
Ting
+628127279****
"Kok gak dibales?"
Anda
"Allahu laailaa haillaa huwal hayyul qayyum"
Si wanita itu tersenyum setelah membalas pesan dari nomor asing tersebut.
---***---
POV Zapata
"Bin, lo dimana? Kesini aja, gue lagi kesel"
"Gue dirumah"
"Buruan, gue tungguin"
Lama sekali aku menunggu Bibin datang, sampai-sampai kekesalanku keburu hilang.
Tingnung
Bel depan berbunyi, aku yakin itu pasti Bibin.
Cklek
"Lama banget sih lo" ketusku tapi sambil mempersilahkannya masuk dan kami langsung menuju kamarku untuk bermain PS (Play Station).
"Biasa, mandiin burung bokap gue dulu" ujarnya.
"Burung bokap lo kan punya nama, mending sebut namanya aja. Kalo lo pakek istilah -burung bokap gue-, pikiran gue menginterpretasikannya agak laen nih" sungut Zapata.
"Iya, gue tadi mandiin si Bubun dulu"
"Rajin amat burung bokap lo mandi" kataku. Kini kami sudah sampai kamar dan duduk di ujung kasur dengan stik PS ditangan masing-masing.
"Ck, tadi lo bilang jangan sebut dia -burung bokap gue- sekarang lo yang nyebut"
"Santai dong. Kan yang kesal gue"
"Lu makin tua makin gak mau ngalah"
"Lu gak ngerti sih masalah gue. Lo selalu sibuk dengan urusan lo, dengan burung bokap lo. Sedangkan gue terlupakan"
"Jadi, masalah lo sebenarnya tuh apa?"
Aku mengusap wajah kasar. Menyisir rambutku dengan jari. Dan mendekatkan diriku pada Bibin. Aku berbisik padanya, "Gue dibacain ayat kursi sama cewek".
Aku melihat Bibin, kami sama-sama saling menatap dan terdiam. Sejurus kemudian Bibin ketawa nafas. Ia kemudian mendekatkan wajah kami.
"Apa yang ia lakukan... Sudah benar!" ucapnya.
Aku menjatuhkan tubuh ke kasur. Banyak tanda tanya dikepalaku. Mengapa bacaan ayat kursi yang dikirim? Mengapa bukan surah yang lebih pendek? Mengapa bukan Al-Fatihah saja?
__ADS_1
POV Zapata end