
◇◇◇♡◇♡♡
3 hari sebelum kepulangan orang tua Zapata. Sherly juga sudah berkali-kali mengingatkan sampai sang mama mertua bosan meladeninya yang selalu nitip buah kurma muda dan buah zuriyat. Tapi sudah dicari-cari di seluruh tempat yang ia kunjungi, mama Zapata itu tak menemukan buah titipan menantunya. Ia bahkan juga meminta tolong pada pemandu travel umrahnya, tapi tetap saja tidak menemukan buah tersebut. Tapi ia sendiri sudah kepalang berkata "iya" pada sang menantu, yang mana pastilah Sherly sudah menanti-nantikan buah tersebut.
"Ma, sudahlah. Kalo capek istirahat. Jangan pula sampe kelelahan keliling nyari buah titipan Sherly" tegur papa saat mereka tengah menuju pulang ke hotel.
"Tapi selagi kita disini, Pa. Kita kan disini cuma sebentar, lagipula pasti ada jualannya disini"
"Ma, kita ini lagi di tanah suci. Semua daya dan upaya Mama kalo gak di ridhoi Allah, pasti gak bakalan dapet. Udah ya Ma, pasrahin aja. Nanti kalo memang rejekinya, pasti kita bakal ketemu sendiri sama penjualnya"
Mama pun menuruti kata sang suami. Ia memasrahkan semuanya kepada sang pencipta. Ia sudah tidak merepotkan dirinya sendiri demi mencari buah yang Sherly titipkan.
Sampai dihari kepulangannya, ia tampak merasa tak enakan karena jatuhnya ia sempat memberi harapan palsu pada Sherly. Karena sampai detik ini ia tak kunjung menemukan penjual buah-buahan tersebut.
"Ma, alhamdulillah Mama sama Papa pulang dengan selamat" ucap Sherly yang mencium kedua pipi sang mama mertua.
"Iya, alhamdulillah sampe sana juga gak ada kendala apa-apa. Malah Papa yang sedikit gak berselera makan waktu disana" ujar mama sedikit bercerita agar Sherly tidak buru-buru menanyakan perihal titipannya.
"Kenapa gitu, Pa?" tanya Zapata.
__ADS_1
"Entahlah, makan apapun rasanya hambar. Papa juga heran, kenapa Mama lahap terus makannya. Tapi itu cuma dua harian ya, Ma. Selebihnya aman-aman aja"
"Ma, titipan Sherly ada 'kan?"
Duh, Sherly ingat lagi.
"Yah, gimana ya Sher" gumam mama Zapata.
Sherly paham, dari raut wajah mama mertuanya ia yakin pasti titipannya itu tidak ada.
"Gak ada ya, Ma?" tanya Sherly.
"Ma, gakpapa kalo gak ada. Lagian kan aku nitip ya cuma nitip. Gak mewajibkan itu harus ada. Toh, buat cepet hamil kan masih banyak cara lain, Ma. Mama santai aja" ucap Sherly.
"Iya Sher. Mama cuma gak enak soalnya udah bilang iya-iya terus sama kamu. Kan pasti kamu udah berharap banget mama pulang bawa buah itu" sambut Mama Zapata.
"Udah-udah, mending oleh-olehnya dibuka aja. Ada sejadah buat kamu sama Zapata. Terus oleh-oleh lain juga ada buat mama papa Sherly juga, buat Nanda, Dinda, Umar pun juga kita beliin ya, Ma!?" ujar Papa Zapata.
"Iya, ada peci juga buat Umar. Pasti lucu si Umar pakek peci"
__ADS_1
Merekapun bongkar-bongkar barang belanjaan Papa dan Mama Zapata selama pergi umrah. Tentu saja, air zam-zam tak ketinggalan menjadi oleh-oleh mereka. Hanya saja karena ada keterbatasan persediaan, akhirnya mereka bisa membawa pulang 10 botol kecil saja.
Karena malam sudah cukup larut, Zapata dan Sherly memilih menginap dirumah kedua orang tua Zapata. Tapi, pagi-pagi sekali mereka akan pulang karena mereka tidak membawa pakaian sehelai pun. Sedangkan Zapata akan ke kantor dan Sherly akan ke kampus esok hari.
◇◇◇
Keesokan harinya, usai sholat subuh Zapata dan Sherly pamit pulang. Sesampainya dirumah barulah keduanya mandi dan bersiap-siap.
"Yank, aku nanti berangkat ke Bali sama Eko buat mantau proyek baru aku disana. Tapi aku langsung pulang malam ini juga, jadi kamu tenang aja, ya!?" ucap Zapata seraya mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Sherly.
"Kalo aku denger kamu mau pergi tuh selalu mendadak aku jadi negative thinking. Ada ketakutan kejadian kemaren bakal terulang"
"Sssttt, jangan khawatir sayang. Aku setia sampai mati sama kamu. Kejadian yang lalu itu pelajaran buat aku. Aku gak mau kehilangan kamu"
"Janji ya, gak ada nginep-nginep"
"Janji sayang"
Setelah mengantarkan istrinya ke kampus, Zapata langsung bergegas menuju kantornya terlebih dahulu baru kemudian menuju bandara bersama Eko. Keberangkatannya kali ini untuk memantau pembangunan rumah mewahnya yang ia khususkan sebagai hadiah ulang tahun untuk istri tercintanya. Ia masih merahasiakan hal ini dari Sherly agar menjadi kejutan di hari spesial Sherly nanti. Lagipula, ia sadar betul istrinya sangat cemburu dengan gedung pemberiannya pada Puput. Oleh sebab itu, rumah mewah ini dibangun tentu dengan nominal yang jauh lebih wah dibanding nominal gedung milik Puput.
__ADS_1