
Sepulang dari makan malam bersama kolega bisnisnya, Zapata mempersilahkan Eko untuk pulang ke villa duluan. Sedangkan dirinya masih ingin berjalan-jalan menikmati pemandangan sembari bisa mengobrol hangat dengan istrinya tanpa gangguan Eko yang seringkali tertawa terbahak-bahak sembari telponan dengan pacar barunya.
Zapata memposisikan ponselnya di udara dengan kamera belakang yang menyala. Suara sang istri yang memekik iri karena tidak bisa melihat langsung membuatnya gemas.
"Makanya, kalo suami pergi-pergi tuh ikut. Sekarang nyesel 'kan?"
"Nggak. Aku emang iri tapi nggak nyesel. Lagian nanti pas libur kuliah aku mau puas-puasin jalan-jalan"
"Kalo gitu gantian aku yang ga bisa" ucap Zapata.
"Kenapa ga bisa?"
"Aku sibuk. Pengusaha kaya aku mana bisa pergi sesuka hati. Mau jadi gembel?"
"Hisshhh, terus kapan bisanya?" gumam Sherly lirih.
"Nggak tau"
"Aku juga pengen healing, bukan kamu aja"
"Ya gimana, akunya ada waktu kamu yang ga bisa. Giliran kamu bisa, aku belum tentu bisa"
"Hufttt"
"Sekarang kamu tidur aja, besok kamu udah pergi ke kampus 'kan?"
"Hm"
"Jangan ngambek gitulah. Atau... Kita ke Villla aku aja. Malam mingguan sekalian nginap disana. Gimana?" bujuk Zapata.
"Ciyusss?"
"Serius"
Setelah usai menghubungi sang istri, Zapata pun pulang ke villa yang ia sewa. Sampai di villa, saat baru saja masuk ke halaman villa, Zapata mendengar percakapan beberapa orang yang membuat dirinya memutar kepala untuk mengetahui apa yang terjadi.
Terlihat seorang gadis dengan rambut panjang terurai dan hanya memakai setelan piyama (baju tidur) tengah berbincang dengan 3 orang staf villa. Samar-samar terdengar gadis itu tengah komplain pada 3 orang staf karena baru saja ia melihat seorang pemuda melintas di sekitar villa sewaan gadis itu. Dan pemuda tersebut tampak mencurigakan. Sedangkan setelah di cari-cari oleh staf villa, pemuda itu tidak kunjung ditemukan. Alhasil si perempuan yang membelakangi Zapata ini tidak mau kembali ke kamarnya karena masih merasa takut.
Zapata tiba-tiba melihat seorang pemuda mencurigakan lewat di belakangnya. Tanpa perintah dari siapapun Zapata malah memiting pria itu.
"Apa ini orangnya?" ucap Zapata lantang yang membuat gadis itu dan 3 staf hotel menatap ke arahnya.
__ADS_1
Zapata menahan upaya pemberontakan dari si pemuda itu. Staf villa berlari ke arahnya begitu juga si perempuan tadi.
"Lepaskan, Mr. Biar kita tanya dengan baik-baik" ucap salah seorang staf villa.
Zapata melepaskan pitingannya. Kepala pemuda itu tidak lagi menghalangi pandangannya. Kini, ia dengan jelas bisa melihat wajah dari perempuan korban penguntitan itu.
"Bang Ta?" kaget Puput.
"Miss, apa benar pemuda yang menguntit miss sejak sore tadi adalah dia?" tanya staf villa.
"Iya, saya ingat betul dengan hoodie yang dia pakai"
"Baiklah. Kalau begitu kami akan laporkan ke pihak berwajib"
Si pemuda di bawa oleh staf villa untuk diamankan di pos satpam. Zapata dan Puput hanya berdiri terdiam setelah kepergian staf villa.
Zapata hendak berbalik, Puput menahan tangannya. "Makasih" hanya itu yang Puput ucapkan lalu kemudian masuk ke villanya.
Zapata menatap Puput dalam. Ia belum sempat bertanya mengapa Puput ada disini. Apa yang sedang ia lakukan disini? Apakah Puput mengikutinya?
Keesokan paginya Eko lagi-lagi di ajak pulang dadakan ke Jakarta. Padahal seharusnya mereka masih punya satu malam lagi disana. Tapi karena dirinya hanya asisten biasa, ia pun mengikuti alur saja. Daripada gajinya yang kena.
Sampai di Jakarta, Sherly buka pintu dan langsung heran. "Loh, udah pulang? Katanya besok"
"Aku kangen istri makanya mau buru-buru sampe sini biar bisa ehem-ehem"
"Isshhh, kamu mau langsung mandi atau mau makan dulu?"
"Makan aja, tadi pagi gak sempet sarapan soalnya"
Zapata juga tidak cerita pada Sherly, dirinya takut sang istri salah paham terkait pertemuannya dengan Puput di Bali. Zapata mengubur cerita pertemuannya dengan sang mantan, biar cukup Tuhan dan staf villa saja yang tau.
◇◇◇
Zapata dan Sherly makin hari terlihat semakin bahagia. Keduanya tetap bisa menikmati waktu bersama meski keduanya memiliki kesibukan yang jauh berbeda. Zapata sesekali menjemput sang istri jika memiliki waktu luang yang cukup.
"Yank, jadi 'kan mau ajak aku ke villa?" tanya Sherly. Saat itu hari sabtu pagi.
"Jadi, tapi kita berangkatnya siang aja ya"
"Oke, aku ke atas dulu mau siap-siapin pakaian kita"
__ADS_1
Zapata mengangguk lalu istrinya pergi menuju lantai atas. Zapata menghubungi pihak penjaga villa miliknya untuk memberi tahu kalau ia dan istri akan berkunjung dan menginap disana. Ia juga meminta untuk di siapkan kejutan buat sang istri. Dan keinginannya itu di sanggupi oleh pengelola villa.
Siang harinya, Zapata dan Sherly berangkat menuju villa romantis milik suaminya. Sepanjang jalan mulut Sherly tidak berhenti bernyanyi karena terlalu bahagia. Zapata sesekali ikut memukulkan tangannya pada setir seolah bermain gendang mengiringi biduan disampingnya itu.
Tak terasa, perjalanan panjang itu berakhir kala mobil Zapata berhenti di tepi pantai. Di sana, Sherly melihat sebuah bangunan yang ia yakini pasti itu villanya.
Sherly turun dari mobil dan membantu Zapata menurunkan barang-barang. Zapata membawa koper sedangkan Sherly membawa tote bag. Mereka di hampiri oleh seseorang yang kemudian memberi kunci kamar.
Cklek
Pintu villa terbuka, menampilkan gambaran ruang tamu yang nyaman. Disusul dengan ruang-ruang lainnya yang tak kalah menakjubkan.
"Kamarnya dua?" tanya Sherly.
"Iya Yank"
"Terus kita pakek kamar yang mana?"
"Sini ikut aku"
Zapata menarik istrinya menuju kamar utama. Kamar yang ukurannya lebih besar. Disana terdapat balkon yang langsung menghadap pantai.
Saat pintu terbuka, Sherly makin bahagia lagi karena ada kue yang begitu cantik tersaji di meja. Ada pula hiasan-hiasan di tempat tidur yang kemudian Sherly baca.
"Wellcome to our Bride Ms. Puput and happy weekend😊" baca Sherly. Zapata terpaku mendengar istrinya menyebut nama Puput.
POV Sherly
"Puput?"
Aku meremas totebag yang masih menggayut di pundakku. Kutatap wajah suamiku yang sama terkejutnya denganku. Aku tidak tahu mengapa malah nama itu yang disematkan sebagai istrinya Bang Ta. Bukankah pernikahan kami bukan pernikahan yang diam-diam? Lalu bagaimana bisa pihak villa sampai keliru seperti ini.
"Kamu pernah bawa dia kesini?"
Bang Ta cuma diam, aku jadi menangis tersedu-sedu karena aku ternyata bukan yang pertama dibawa kesini. Aku menghempas totebag ke lantai dan berlari keluar villa.
Bang Ta mengejarku dan memelukku. Tentu saja aku berontak ingin lepas dari pelukannya.
"Lepasin aku! Aku ga mau punya suami kaya kamu. Bukannya sebelum kita menikah kita pernah buka-bukaan biar ga ada rahasia lagi diantara kita. Terus kenapa kamu ga cerita tentang ini. Kamu udah boongin aku. Aku gak percaya sama kamu lagi. Aku benci pembohong kaya kamu"
Muka Zapata kudorong karena aku sungguh sangat muak melihatnya. Saat ini aku ingin lepas dan menjauh darinya. Tapi ia mendekapku sangat erat. Aku terpaksa menangis sejadi-jadinya di pelukannya.
__ADS_1