
Malam itu Zapata baru pulang kerja. Ia melewati sebuah toko bunga yang masih buka dan tanpa di rencanakan sebelumnya, tiba-tiba malam ini ia berniat membeli sebuket bunga untuk Puput.
Setelah membeli buket bunga itu, ia pun berangkat menuju tempat Puput biasa zumba. Karena malam ini, bertepatan dengan jadwal senam Puput.
Zapata parkir di depan ruko bertingkat yang memiliki pintu kaca gelap lengkap dengan tempelan tulisan Sanggar Senam Pitaloka. Zapata menunggu di dalam mobil sampai Puput keluar. Ia juga melihat mobil Puput yang terparkir tak jauh dari mobilnya.
Jam 9 malam, beberapa perempuan tampak keluar satu persatu dari pintu gelap itu. Lama-kelamaan, muncullah Puput dari balik pintu dengan sebuah handuk kecil yang menggelantung di bahu kirinya.
Zapata keluar dari mobil dan mencegat Puput.
"Sayang!" panggilnya.
Puput menoleh karena mengenal suara Zapata. Lalu ia pun tersenyum kala matanya sudah menangkap kehadiran Zapata di hadapannya.
"Kok kamu kesini?" tanya Puput dengan senang.
"Kangen aja. Emm, coba tebak aku bawa apa?" ucap Zapata dengan menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung.
Puput berusaha mengintip dari samping tubuhnya.
"Eh curang, ga boleh ngintip dong" ucap Zapata sembari memiringkan tubuh menghindar agar Puput tidak bisa melihat sekotak buket mawar merah itu.
"Aku liat kotaknya" ujar Puput.
"Kamu curang. Sekarang tebak, apa hayoo"
"Tas?" tebak Puput.
"Salah"
"Sepatu?"
"Salah"
"Ih apaan Yank, buruan kasih tau" ucap Puput mulai putus asa.
"1, 2..., 3. Taraaaa, aku beli bunga buat kamu. Tadi mau pesen kembang pasir, tapi katanya stoknya abis" ucap Zapata berkecil hati.
Puput tertawa lepas, lalu kemudian menyahuti candaan Zapata. "Padahal aku maunya kembang desa"
"Lah ini, kembang desanya di depan aku" gombal Zapata.
"Ih, bisa aja" towel Puput pada dada bidangnya.
"Yuk pulang, sekalian aku anterin"
Mereka pun menuju rumah Puput dengan mobil masing-masing. Setelah memastikan Puput aman sampai ke rumah, Zapata pun melanjutkan perjalanan menuju pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Di perjalanan, tiba-tiba mobilnya di serempet oleh mobil lain. Zapata pun berhenti dengan niat mengecek keadaan mobilnya. Yang mana, si pengemudi yang sudah menyerempet mobilnya tadi ternyata juga ikut turun.
"Mas, maaf Mas saya ga sengaja" ucap pria itu dengan tulus meminta maaf.
Zapata berbalik menatap ke arah pria tersebut.
Dia?
Zapata masih mengamati wajah pemuda itu.
"Mas, sekali lagi saya minta maaf. Berapapun kerugiannya akan saya tanggung" ucap pria itu sungguh-sungguh ingin bertanggungjawab karena ia menyadari kesalahannya sendiri.
"Gapapa, mobil saya cuma lecet sedikit. Kamu ga perlu tanggung jawab. Ini cuma kesalahan kecil" jawab Zapata.
"Serius Mas gapapa?" pemuda itu masih ingin memastikan Zapata sekali lagi. Sebab dari yang ia lihat, mobil Zapata bukan mobil biasa, lecet sedikit tetap mahal bayarannya.
"Iya gapapa"
"Makasih Mas udah maafin saya. Kalo begitu, saya pamit dulu ya Mas" ucapnya sebelum pergi menuju mobilnya.
Zapata hanya mengangguk. Ia melihat kemana arah mobil itu mengarah. Kemudian bergumam pelan, sehingga hanya dirinya dan Tuhanlah yang tahu.
Zapata masuk ke mobil dan berputar arah, ia mengikuti kemana mobil pemuda tadi pergi. Dan benar saja, dari jarak 20 meter ia sudah bisa memastikan kalau mobil pemuda tadi berhenti tepat di depan pagar rumah wanita yang Zapata sangat cintai.
Zapata maju pelan-pelan tanpa membuat curiga pemuda tadi. Saat dirasa jarak mobilnya sudah cukup dekat, ia kemudian mematikan mesin mobilnya.
Tepat disaat mesin mobil Zapata di matikan, nampaklah Puput berjalan dari arah rumah dan masuk ke mobil. Setelah Puput masuk ke mobil pemuda itu, Zapata berniat menyalakan kembali mobilnya karena ia sempat mengira kalau dua orang tersebut akan pergi ke suatu tempat.
Hingga sampai di sebuah taman yang memang menjadi salah satu fasilitas dari perumahan elit tersebut, mobil pemuda itu berhenti. Lagi, Zapata harus mematikan mesin mobilnya.
Ditunggu sekian lama, tidak ada satu orang pun yang keluar dari mobil itu. Kondisi taman yang cukup sepi di jam 21.30 itu, membuat Zapata kehilangan pikiran positifnya.
Zapata nyalakan lagi mesin mobilnya tanpa menyalakan lampu, sebab lampu taman yang remang-remang sudah cukup baginya sebagai penerangan jalan. Zapata mundur perlahan dan memutar jalan. Bagaimanapun caranya, ia harus memposisikan mobilnya berada di depan mobil pemuda itu tanpa harus lewat tepat di samping mobil itu.
Satu menit memutari jalan, akhirnya mobil Zapata berhenti kurang lebih tujuh meter dari depan mobil pemuda yang telah menyerempetnya. Kini mobil mereka sudah dalam posisi berhadap-hadapan.
Dengan satu cetekan...
Blam
Lampu jarak jauh yang Zapata nyalakan mengantarkannya pada pemandangan yang menjijikkan. Terlihat di dalam mobil pemuda itu, Puput sedang berc*mbu mesra persis seperti yang pernah ia lakukan dengan Zapata. Cumb*annya terkesan liar dan sangat berg*irah.
Tidak hanya itu, Zapata juga melihat kalau kini pundak Puput sudah sepenuhnya terbuka. Entah sampai mana baju Puput diturunkan, Zapata tak bisa melihatnya.
Sadar karena tindakan mereka ada yang mengetahui, kegiatan Puput dan pemuda tadi akhirnya berhenti dan juga mereka saling bebenah merapikan pakaian masing-masing. Zapata tersenyum meyeringai. Dalam hati mencaci maki kedua orang tersebut.
Zapata mengendarai mobilnya mendekati Puput. Tentu saja sorot lampunya sudah ia matikan.
__ADS_1
Ia turun dari mobil dan menggedor kaca jendela bagian penumpang depan. Puput memucat saat tahu kalau itu adalah Zapata. Puput tak mau membuka kaca jendelanya, ia tak mau hubungannya dengan Zapata berakhir.
"Buka aja, itu mas-mas yang tadi aku serempet mobilnya. Barangkali mau minta tanggung jawab" ucap Tian.
"Bukan, dia bukan mau minta tanggung jawab. Dia itu pacar aku" ujar Puput.
Tok tok tok tok tok
Klak klak klak
Zapata makin tak sabaran untuk minta di bukakan kaca jendelanya. Selain itu, ia juga mencoba membuka pintu dari luar namun tidak berhasil karena kondisi masih terkunci.
"Lah, terus kenapa kamu takut? Kamu udah ga ada hubungan lagi sama dia 'kan?" tanya Tian.
"Aku... Aku belum putusin dia"
Tian terperanjat mendengar jawaban Puput. Menurutnya, Puput sangat egois. Tian saja diminta untuk mengakhiri hubungannya dengan Sherly langsung nurut, bahkan Tian sangat ingat bagaimana Puput begitu menuntut dirinya untuk segera putus dari Sherly. Dan sekarang, Puput malah terbukti tidak mengindahkan ucapannya.
Akhirnya, Tian yang menurunkan kaca yang di ketuk Zapata itu.
"TURUN!" bentak Zapata pada Puput.
Puput hanya diam, menunduk tak berani berkutik.
"Aku bilang TURUN!"
Puput menangis sembari berharap satu di antara dua lelaki ini akan iba padanya. Namun harapan tinggallah harapan. Nyatanya Tian hanya diam kala dirinya di bentak Zapata.
"Buka kuncinya" titah Zapata pada Tian dan langsung di buka kunci pintu mobil itu.
Zapata menyeret paksa Puput untuk keluar dari mobil Tian. Mereka pun berdiri di depan mobil Tian sembari bertengkar.
"Jawab pertanyaan aku, sejak kapan kamu jadi kaya gini? Aku percayakan kamu buat jadi calon ibu dari anak-anak aku tapi kamu sendiri yang hancurin semua pandangan baik aku tentang kamu. Apa kurangnya aku sampe kamu setega ini sama aku?"
Sembari menahan isak tangis, Puput menjawab ucapan Zapata.
"Iya, aku memang gak baik. Memang cuma kamu yang paling baik. Asal kamu tau, waktu aku sakit aku berharap banget kamu datang jenguk aku. Tapi apa? Kamu entah dimana. Kamu ga peduli sama aku. Jadi jangan salahin aku kalo ternyata ada yang lebih peduli sama aku dibanding kamu. Dia lebih baik dari kamu. Dia lebih dewasa, gak kayak kamu yang tua tapi kekanak-kanakan" hardik Puput dengan menunjuk-nunjuk pada wajah Zapata.
"Itu yang kamu anggap baik? Cuih" Zapata meludah. Lalu ia kembali melanjutkan ucapannya. "Pria baik mana yang ngerebut pasangan orang lain. Dengar ya, aku kekanak-kanakan hanya supaya hubungan kita tidak membosankan. Asal kamu sadar, kalo bukan aku siapa lagi yang bisa nyairin suasana. Jangan terlalu percaya diri kalo kamu ga ada kurangnya. Kamu itu datar, membosankan. Aku yang cuma ngeluh perkara nunggu kamu bisa dinikahin aja kamu malah menghindar. Apalagi kalo aku harus curhat sepanjang jalan tol tentang bisnis aku yang bermasalah dan lain sebagainya. Kamu bukan tipe yang bisa menenangkan aku. Beruntungnya kamu karena aku terlanjur cinta aja sama kamu. Tapi sekarang jangan harap"
"Iya, aku memang udah gak berharap. Mau kamu bongkar kejadian aku sama Tian ke mama juga terserah. Kamu mau balas aku pakek cara apa aja terserah! Aku muak sama kamu"
Zapata mencengkeram mulut Puput yang terus berani menjawab perkataannya tanpa rasa bersalah.
"Mulut kamu ini emang lancang banget ya ternyata" Setelah berkata demikian Zapata melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
"Kamu tenang aja, aku ga akan bongkar aib kamu ke siapapun. Biarkan mereka tahu sendiri. Karena aku tidak serendah itu mau merepotkan diri untuk menghancurkan hidupmu. Karena aku yakin, kamu akan hancur dengan sendirinya" Zapata tersenyum sembari menengok ke arah Tian yang masih betah berada di dalam mobilnya.
__ADS_1
"Sana pergi, layani pria hidung belang itu. Daripada di suruh kembalikan uangnya" ejek Zapata pada Puput yang ia anggap sebagai wanita pem*as n*fsu. Dan Zapata pun bergegas menuju mobilnya. Namun, sesaat kemudian ia berhenti dan berkata, "Besok abang akan kerumah Puput, abang mau mengakhiri hubungan kita dengan layak"
Setelah itu barulah Zapata benar-benar pergi meninggalkan Puput dan pria hidung belang alias Tian itu. Sampai dirumahnya, ia membuang sim cardnya dengan niat yang sangat kuat untuk menjauh sejauh-jauhnya dari kehidupan Puput.