
Waktu semakin cepat berlalu, hari Kemenangan tinggal satu minggu lagi. Zapata sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan agar dirinya sedikit lebih tenang setelah Lebaran nanti. Untuk itu, dirinya jadi lupa memberi kabar pada Sherly. Sedangkan biasanya ia selalu mengirim ucapan selamat pagi setiap hari.
"Ko, kamu temani saya lembur nanti malam" ucap Zapata.
"Ya Allah, giliran lembur aja cepet banget infonya"
Benar saja, sore harinya Zapata dan Eko mencari makanan dan minuman untuk mereka berbuka di kantor. Itu juga Zapata tidak sama sekali teringat untuk menghubungi Sherly. Zapata memang selalu abai akan hal-hal kecil yang mana bagi perempuan itu adalah hal yang sangat penting. Seperti memberi kabar.
Sepulang dari membeli takjil, Zapata lebih dulu masuk ke ruang kerjanya sedangkan Eko masih harus mengambil laptop dan berkas yang di perlukan di ruang pribadinya untuk di bawa ke ruang kerja Zapata. Usai menutup pintu ruangannya, nampaklah seorang wanita cantik dengan pakaian yang cukup ketat sedang berjalan ke arahnya.
"Mas Eko!" sapanya dengan tersenyum sopan.
"Emh iya" jawab Eko.
"Bang Zapata ada?" tanyanya.
"Ada apa cari Bapak?" tanya Eko balik. Sebab Zapata sudah mengatakan padanya berkali-kali untuk tak mau bertemu dengan Tetangga. Bahkan Tetangga tak boleh lewat di depan ruangannya lagi.
"Kantor aku ada masalah. Aku butuh bantuan Bang Ta. Dia ada diruangannya 'kan?" tunjuk Puput pada pintu ruang kerja Zapata yang tertutup.
"Ada, tapi-..." Belum selesai Eko bicara Puput malah sudah membuka pintu ruangan Zapata.
Eko akhirnya kembali masuk keruang pribadi miliknya agar tak kena semprot oleh Zapata. Seolah-olah dirinya tidak tahu kalau Tetangga datang.
"Bang Ta" ucap Puput. Zapata mendongak karena sebelumnya ia pikir yang membuka pintu adalah Eko.
"Ada apa?" tanya Zapata dengan wajah dingin.
"Kantor aku bermasalah, bisa tolong bantuin gak? Soalnya aku sama sekali ga ngerti tentang perlistrikan. Awalnya baik-baik aja tapi tiba-tiba mati total"
"Cek sekringnya!"
"Udah, tapi sekringnya gak turun"
Dengan berat hati, akhirnya Zapata berdiri dan membantu menyelesaikan permasalahan di kantor Puput. Mereka berjalan menuju kantor Puput melewati jembatan penghubung yang dulu Zapata rencanakan agar si (mantan) kekasihnya itu bisa dengan mudah menemuinya. Tapi kini, justru jembatan itu sedang Zapata lewati sambil ngedumel di dalam hati.
Sesampainya di kantor Puput, Zapata langsung menuju tempat sekring listriknya. Dilihat-lihat memang tidak ada masalah dengan sekring tersebut. Lalu di ceklah mesin pembangkit listrik lain yang di setting secara otomatis sehingga akan aktif saat mati lampu. Ternyata tidak berfungsi dengan semestinya.
"Coba telpon teknisi aja. Biar kalo ada apa-apa bisa langsung di bongkar" ujar Zapata.
"Aku ga punya nomernya, Bang" sahut Puput.
Akhirnya Zapata menghubungi teknisi di kantornya.
"Mereka baru bisa datang sekitar jam 7 nanti" ucap Zapata setelah menghubungi teknisinya.
__ADS_1
"Berarti aku harus gelap-gelapan disini, gitu?"
"Ya ga tau" usai berkata demikian Zapata langsung cabut kembali ke ruangannya. Namun, Puput malah menyusulnya dan ngotot ingin ikut dengan alasan takut di gedung itu sendirian.
"Ya kalo kamu tau disini kamu cuma sendirian, terus ngapain kesini?"
"Bukan gitu, di kantor ada kok OB (Office Boy) dan lain-lain. Tapi maksudnya, aku diruangan 'kan cuma sendirian"
"Ya minta temenin aja sama OB" ketus Zapata.
"Bang Ta, Bang Ta kenapa sih?"
"Apa? Abang ga kenapa-napa"
"Bang, apa ga bisa aku di anggap kaya Puput yang dulu? Aku liat-liat Bang Ta kaya ngejauhin aku, gitu. Aku ga nyaman Bang kalo kita kaya orang musuhan yang terus-terusan jaga jarak. Cape tau pura-pura baik-baik aja padahal ga saling sapa"
"Put, bukan salah Abang"
"Iya, tau. Salah aku. Aku minta maaf kalo gitu. Aku ga minta kita jadi pasangan kaya dulu, tapi aku cuma minta kita balik temenan kaya dulu. Di setiap acaranya Mas Rama kita selalu ketemu tapi ga pernah menunjukkan gelagat seolah sering ketemu. Malah lebih keliatan kek orang asing yang belum pernah ketemu"
"Begitu, ya? Tapi jujur Abang sih gak masalah ya kita ga saling sapa. Karena penghasilan Abang tetap segitu-gitu aja even kita berteman atau gak sekalipun. Lagipula, kalo kita balik temenan lagi itu artinya ada kemungkinan kalo kamu bakal ngerepotin Abang lagi kaya yang kamu lakukan sore ini"
"Bang Ta, kenapa mulut Bang Ta sekarang pedes banget? Iya tau aku ngerepotin, aku minta maaf karena aku ga tau harus minta tolong ke siapa sedangkan aku belum punya teknisi khusus di kantor aku"
Zapata hanya diam sambil terus berjalan. Sebentar lagi ia akan sampai ke ruangannya.
Sampai diruangannya ternyata sudah ada Eko. Pria itu tengah membuka laptopnya selayaknya ia sedang bekerja seperti biasa.
"Darimana, Pak? Saya masuk gak ada orangnya" ujar Eko.
"Dari tempat Tetangga" jawab Zapata sembari menuju meja kerjanya.
"Katanya gak mau ketemu lagi" ledek Eko.
Zapata cuma diam, malas membahas Puput yang kini bukan siapa-siapanya lagi.
"Katanya rabun biji matanya kalo liat-liat Tetangga" lanjut Eko meledeknya.
Zapata masih diam.
"Giliran sekarang aja, tetiba reuni. Mana tuh biji mata yang rabun?"
"Bisa diam gak kamu!? Saya juga malas ketemu dia tapi daripada dia gak keluar-keluar dari ruangan saya, ya udah. Mending turutin aja dulu maunya"
"Oh gitu" sahut Eko dengan manggut-manggut.
__ADS_1
◇◇◇
Ditempat berbeda, Sherly tengah uring-uringan tak jelas karena tak biasanya Zapata hilang tanpa kabar seperti hari ini. Sedangkan untuk bertanya sedang apa dan dimana, ia merasa sungkan. Sungkan karena merasa dirinya belum terikat apa-apa dengan Zapata. Di bilang pacar, bukan. Dibilang teman biasa, juga bukan. Lalu apa?
Sampai pulang tarawih pun tidak ada notifikasi satu pun dari Zapata. Sherly cemberut memandangi ponselnya hingga tiba-tiba layar ponselnya menyala dan menampilkan panggilan video call dari Zapata.
"Ih masih hidup rupanya" kata Sherly.
"Hahaha, jahatnyaaa. Kamu mau aku mati?" tanya Zapata yang kelihatannya baru pulang kerja.
"Mungkin. Kebetulan beras banyak nih" sarkas Sherly.
"Kamu duluan deh" ujar Zapata.
"Kok aku??"
"Ya aku akan mati jika hidup tanpamu"
"Hueeekk"
"Sok-sok muntah, padahal seneng 'kan?"
"Hahahah seneng bangettt" jawab Sherly dengan gaya gemoynya.
Zapata cengar-cengir melihat Sherly yang selalu bertingkah seperti bocah.
"Selamat pagi!" ujar Zapata dengan senyum lima jari.
"Eh, kenapa selamat pagi?" protes Sherly.
"Kan tadi pagi ga ngucapin"
"Ya kan sekarang udah malam, Sexy. Kenapa tidak di ganti selamat malam saja. Aaaa pengen nonjok" geram Sherly.
"Kebiasaan, dikit-dikit nonjok"
"Lagian kamu juga baru nongol udah bikin emosi"
"Namanya juga sibuk kerja, cari duit plus cari nafkah buat anak bini" ucap Zapata dengan lagak seperti orang yang beneran capeeee banget nyari duit.
"Benci banget denger kamu ngeluh. Padahal dia bosnya, bisa ho'a ho'e kemanapun tapi sendirinya yang gak mau"
"Liburan kalo gak ada temennya buat apa?"
"Kode. Cieee kode"
__ADS_1
Sherly menertawai kode Zapata yang terlalu jelas itu. Sedangkan Zapata sedang malu-malu kucing sampai kamera ponselnya ia arahkan ke langit-langit kamar. Ia tidak mau wajah malunya kelihatan oleh Sherly.
"Sher..."