Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Cekcok


__ADS_3

Aku sudah sedikit tenang saat ini. Bang Ta mengajakku duduk di tepi pantai. Sampai ditepi pantai kami saling diam, tidak ada percakapan.


"Jadi..." ucapku kemudian menarik nafas. Bang Ta menatapku, penasaran apa yang ingin aku katakan.


"Kalian ngapain aja selama disini"


Jujur, ini adalah hal bodoh yang aku lakukan. Sudah jelas aku sendiri tidak siap mendengar jawabannya tapi malah tetap berusaha ingin tahu.


"Yank, kita kesini kan mau senang-senang. Kenapa jadi bahas itu"


"Kenapa? Memangnya aku gak boleh tau?"


"Yank, aku cuma gak mau kita berantem. Kita baru satu minggu nikah, masih terlalu dini untuk berantem. Apalagi karena ngebahas masa lalu"


"Jawab aja, apa susahnya, sih?" cecarku.


Bang Ta malah memain-mainkan pasir tanpa berniat menjawab pertanyaanku.


"Kalian tidur sekamar?" tanyaku langsung pada hal yang ingin kuketahui.


Aku memperhatikan gerak-geriknya yang terlihat kurang nyaman dengan pertanyaanku. Aku ini tidak bodoh, aku bisa mengambil kesimpulan sendiri. Aku bangkit, dengan cepat Bang Ta menarik tanganku sampai aku terduduk di pangkuannya. Air mataku jatuh, tanpa sepatah kata ia menc*mbuku.


C*mbuan itu sangat, bahkan amat sangat lembut berbeda dari yang pernah ia lakukan padaku sebelumnya. Sayangnya, hatiku perih saat ini.


Aku menjauhkan diri dan mencoba berdiri lagi. Ia masih manahanku agar tidak pergi.


"Jangan keras kepala, tetaplah disini. Memangnya kamu mau kemana?" ujarnya.


"Selama kamu ga jawab pertanyaan aku, selama itu pula aku ga mau dekat-dekat sama kamu"

__ADS_1


"Kami memang tidur satu kamar tapi kami ga ngapa-ngapain"


Aku tersenyum menyeringai. Zapata itu bukan pria polos yang belum pernah tidur dengan perempuan. Dia lelaki yang kurang lebih sama kelakuannya dengan asistennya itu. Playboy. Sekarang dia bilang apa? Gak ngapa-ngapain? Pria dewasa mana yang sudah pernah beg*tuan lalu saat ada kesempatan malah tidak di manfaatkan sedangkan ia sendiri pasti tahu bagaimana nikmatnya berc*nta. Ga mungkin nolak saat jelas-jelas cuma berdua.


"Bohong!"


"Aku berani sumpah" tegasnya.


"Ga usah munafik! Jelas-jelas sebelum nikah kamu mengakui kalo kamu berkali-kali pernah tid*r sama perempuan. Hanya saja kamu tidak pernah menyebut kalau salah satunya adalah Puput. Kenapa? Kamu masih terlalu cinta sampai-sampai lebih memilih bohongin aku demi jaga nama baik mantan kamu itu. Iya?? Begitukan??"


"Sher, kita udah nikah. Kenapa kamu terus-terusan menganggap aku masih cinta sama Puput. Hidup aku sekarang tuh buat kamu, dia udah bukan siapa-siapa aku lagi. Dan aku udah jujur sama kamu, aku ga ngapa-ngapain sama Puput"


Aku mendorong Zapata lalu berlari meninggalkannya. Ia mengejarku, tapi beruntunglah aku berhasil masuk ke kamar, menutup pintu, dan menguncinya.


Tok tok tok


"Sher, buka pintunya. Aku ga bisa tenang kalo situasi kita masih kaya gini"


Semua sampah aku biarkan berserakan di lantai. Kuperhatikan, pintu kamar juga sudah tidak di ketuk-ketuk lagi. Aku akan keluar, aku akan pindah kamar. Aku tidak mau tidur di kamar yang pernah ada kejadian yang tak ingin aku sebutkan. Malah mungkin saja selama aku melayan* sebagai seorang istri, Zapata justru teringat dengan wanita itu.


Aku membuka pintu, sepi tidak ada siapa-siapa. Begitu aku melangkah, aku tersandung dan akhirnya menabrak lantai. Batang hidungku rasanya pecah karena sempat mencium tangan kursi lalu jatuh ke lantai.


"Aawwww!" pekikku.


"Astaghfirullah Yank, kamu gak papa?" Zapata menuntun tubuhku untuk bangkit.


"Kamu ngapain tidur depan pintu?"


"Yank, aku kalo galau bisa ngelakuin apapun sesuka hati aku. Tidur depan pintu kek, nyabut rumput tengah malam kek, orang galau mah bebas"

__ADS_1


"Ini kan ada sofa, kenapa harus tidur di lantai. Aduhh, sekarang malah aku yang jadi korban" kesalku sambil menyentuh hidungku yang terasa sakit.


"Yank, aku gak mau kita berantem-berantem. Aku ga suka kita diam-diaman. Jangan marah lagi ya, Yank"


"Pernah ngapain aja sama Puput?"


"Ya Allah Yank, itu lagi yang ditanya. Kamu mau aku jawab apa sih? Aku jujur kamu ga percaya, habis itu kamu marah-marah"


"Tuh kan, kamu bertele-tele. Jawab aja langsung kenapa, sih? Ini hidung aku sakit lho, kamu mau nyiksa aku kaya gimana lagi? Orang aku cuma minta jawaban yang sebenar-benarnya malah panjang banget ceramahnya"


"Astaghfirullah" Zapata mengusap wajah. Tadi keliatan wajah ngantuknya masih ada, sekarang malah jadi merah seperti lagi nahan kesabaran biar ga gelut sama istri sendiri.


"Jawab Bang Ta!" paksaku.


"Bang Ta lagi, gak mau jawab kalo gitu"


"Oke, berarti kamu memang udah macem-macem sama dia. FINE! Mulai malam ini, kita tidurnya pisah aja"


"Sherly! Aku bilang gak ngapa-ngapain ya nggak ngapa-ngapain" ucapnya lalu Zapata memijit keningnya.


"Oh, sekarang udah nyaman ya manggilnya Sherly-Sherly"


Zapata makin kesal setelah kusindir seperti itu. Aku seumur hidup belum pernah melihat kemarahannya, jujur aku juga ada rasa takut. Takut kalau ucapanku malah seperti menyiramkan bensin ke dalam api.


"Dengar aku, sumpah demi Allah aku ga pernah macam-macam saat tidur di kamar ini berdua sama Puput. Aku dan dia hanya sebatas b*bir saja. Bertukar lud*h itu biasa, bukan? Atau kamu masih ingin marah-marah sama aku padahal kamu juga pasti pernah lakuin itu dengan mantan kamu dulu"


Miris, saat suami sendiri nuduh aku pernah berci*man dengan Tian padahal aku sudah terbuka padanya tentang apa yang pernah dan tidak pernah aku lakukan bersama mantan. Itu artinya dia tidak percaya padaku.


"Jadi, bagi kamu lumrah ya bertukar lud*h?... Sayangnya, bagi aku nggak. Aku ga sama kaya mantan-mantan kamu dulu. Aku juga terbuka seratus persen ga kaya kamu. Buktinya sekarang sudah ada satu yang terbongkar. Lebih baik, kamu bilang semuanya sekarang sekalian. Karena percuma juga kamu tutup-tutupi pasti suatu saat kebongkar"

__ADS_1


"IYA, INTINYA KAMU BAIK DAN AKU NGGAK. KAMU SUCI DAN AKU BANYAK DOSA. KAMU MAU KITA PISAH KAMAR MULAI MALAM INI? BAIKLAH, AKU TURUTI" Zapata mengambil bantalnya di lantai lalu pergi ke kamar yang satunya.


Aku terdiam ditempat setelah dibentak-bentak. Aku tidak sedih habis diperlakukan dengan tidak baik oleh Zapata. Karena ada yang lebih nyakitin dari ini. Dimana Zapata masih merahasiakan sesuatu yang harusnya aku tahu sejak sebelum menikah, dan dengan terbongkarnya rahasia itu malah menjadi luka yang teramat dalam. Dan masih ada satu luka lagi. Dimana aku, mau tidak mau harus tidur di kamar yang pernah ia pakai bersama Puput dulu.


__ADS_2