
Malam minggu kemarin adalah yang terburuk bagi Zapata. Hari ini, tepatnya hari Senin Puput sengaja mendatangi Zapata ke kantornya. Sebab setelah bicara dengan mama waktu itu, Zapata jadi uring-uringan. Dan benar saja, saat Puput masuk keruang kerjanya Zapata langsung mengeluhkan nasibnya yang tidak bisa menikah dalam waktu dekat. Ada saja ujian dalam hidupnya. Sedangkan Puput terus saja terkikik geli saat mendengar curahan hati Zapata yang menggerutu karena belum bisa menikahi Puput karena masih berusia 19 tahun 8 bulan 2 hari.
"Berapa lama lagi kamu masuk 21?" tanya Zapata lesu.
"16 bulan lagi"
"Males mikir. Itu sama dengan berapa tahun?" tanyanya lagi.
"1 tahun 4 bulan" jawab Puput lembut.
"Totalnya berapa hari?" tanya Zapata lagi sembari menjatuhkan wajahnya ke meja.
Puput dengan cekatan segera membuka kalender di ponselnya dan menghitung di kalkulator.
"Totalnya sekitar 485 hari lagi" jawab Puput dengan nada selembut mungkin.
"Mana buku diary kamu?" pinta Zapata pada Puput.
Puput memberikan buku diarynya pada Zapata. Tentu saja bagian curhatan tentang Tian sudah ia sobek sejak jauh-jauh hari.
Zapata pun membukanya. Namun ia tak berniat untuk membaca tulisan Puput dalam lembaran buku itu. Ia langsung saja mencari bagian yang kosong. Dan mulai menulis.
Hari ke-1 ✔
Hari ke-2 ✔
Tulisnya pada buku diary Puput.
"Kok udah 2 hari? Kan sehari dong harusnya?" tutur Puput memprotes hitungan Zapata.
"Ya kan hari pertamanya terhitung mulai dari kemaren. Hari pertamanya Minggu, terus sekarang kan senin. Jadi udah 2 hari"
"Oh iya iya" jawab Puput mengerti.
"Ini kalo kita ga ketemu, kamu sendiri yang contreng ya?"
__ADS_1
"Hm" jawab Puput.
Setelah kepulangan Puput dari kantornya, kini Zapata kembali murung. Teringat akan waktu yang harus ia jalani sebelum bisa menghalalkan Puput teramat sangat lama baginya. Zapata melihat kembali jadwal kunjungan kerjanya ke luar negeri. Ada beberapa negara yang akan ia kunjungi bulan depan. Ia berniat akan mempergunakan waktunya selama disana, tidak hanya untuk bekerja melainkan juga untuk bersenang-senang.
Zapata berniat akan mengajak Bibin untuk healing bersama-sama. Karena keduanya sedang sama-sama patah hati.
()()()()
Satu minggu telah berlalu, Zapata sengaja tak memberitahukan pada Puput tentang kepergiannya di awal bulan ini ke negara kincir angin. Tahu-tahu, disini Puput cemas karena Zapata menghilang tanpa kabar.
Puput jam 7 pagi sudah berada di rumah Sherly untuk minta ditemani ke rumah Zapata.
"Sher, udah dua hari Bang Ta tuh ga ada kabar. Gue hubungin hari Sabtu masih tersambung tapi ga diangkat. Pagi minggu udah ga bisa dihubungin. Sher, temenin gue ya. Gue beneran cemas ini. Ga biasanya dia kaya gini. Ayo Sher, lo buruan mandi. Temenin gue kerumahnya dulu baru kita ngampus"
Sherly yang melihat Puput pagi-pagi sudah nongol dikamarnya langsung paham. Pasti ada sesuatu, pikirnya. Ia pun bergegas mandi agar Puput diam dan tidak berceloteh panjang lebar lagi.
Mereka pun akhirnya sampai dirumah pribadi Zapata. Terlihat mobil Zapata terparkir lengkap disana. Ada sekitar 11 mobil sport milik Zapata yang tersusun rapi di dalam Garasi.
"Mobilnya ada semua. Pasti dia belum ke kantor" ucap Puput lalu bergegas masuk.
"Bi, Mas Ta belum berangkat kerja ya?" tanya Puput.
"Bukan belum berangkat kerja Mbak, tapi kan memang gak kerja. Mas Ta kan pergi ke luar negeri Mbak. Katanya mau hiling mbak. Tapi saya ndak ngerti hiling mbak, pokonya gitu Mas Ta bilang ke saya"
"Kapan Bi Mas Ta perginya?"
"Malem minggu mbak. Berangkat sama Mas Bibin sama Pak Eko juga"
"Oh gitu, ya udah makasih ya Bi. Saya pamit aja kalo gitu"
"Iya Mbak"
Diperjalanan Puput kesal setengah mati. Ia kesal lantaran dirinya di buat panik tapi ternyata yang bikin panik justru tengah healing ke luar negeri tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu.
"Apa coba maksudnya, Sher? Udah tua, masih sok mau healing-healing segala. Punya masalah apa sih sampe gue ga dikabarin dan terkesan mendadak tiba-tiba pergi. Gak dewasa!"
__ADS_1
"Udah Put sabar. Lo kan tau Bang Ta kaya gimana. Suka seenaknya aja. Lo jangan khawatir, dia bayi gede. Pasti bisa jaga diri. Minimal ada Pak Eko, yang masih waras diantara mereka"
"Awas aja, pulang gue bales. Kita pergi juga Sher, HP kita matiin. Bodo amat kelimpungan nyari gue. Salah sendiri cari penyakit"
"Emang mau kemana buk'e? Sejauh-jauhnya kita pergi bukannya masih deket-deket sini?"
"Lo tanya Tian aja tempat pelarian paling syahdu dimana"
"Gue ada ide, gimana kalo kita nginap di hotel aja. Kan deket kampus kita ada hotel tuh, Hotel GC, yang kalo anak-anak nyebutnya hotel gan*cet"
"Sembarangan aja" sambut Puput.
"Anak-anak dikampus bilangnya gitu tau. Kan tuh hotel bukan bintang 5, sering didatengin Satpol buat razia. Pasangan mesum banyak tuh disitu. Makanya jadi punya gelar gan*cet"
"Yang begitu-gitu lo kok tau aja"
"Gue dikasih tau Tian. Kita kan sama, sama-sama kurang pergaulan. Semua info ya gue dapetnya pasti dari Tian"
"Eh Sher, kita udah lama nih ga latihan nari lagi. DanTe kok hiatus gini ya? Padahal gue sempet baca brosur lho di mading kalo ada lomba nari. Tapi kok grup kita sunyi senyap?"
"Katanya DanTe lagi ada masalah internal. Udahlah, nikmatin aja selama DanTe hiatus. Nanti juga pasti ada job lagi"
()()()()()
Ditempat berbeda
Zapata baru saja sampai di Belanda. Ia mengucek mata karena selama perjalanan dirinya hanya menghabiskan waktu untuk tidur. Sedangkan Bibin begitu bersemangat karena diajak jalan-jalan sama Zapata. Sudah lama dirinya tidak pernah ikut Zapata ke luar negeri lagi.
Eko berjalan didepan memandu kedua orang tersebut ke mobil yang diperuntukkan menjemput mereka. Lalu mereka diantar menuju apartemen mewah milik Zapata.
Saat sampai, Eko memberikan dua kartu SIM untuk Zapata dan Bibin. Bibin menerimanya sedangkan Zapata menolak. Ia berniat memberi ruang dan waktu untuk dirinya sendiri agar tidak memikirkan Puput.
Karena semakin teringat Puput, semakin jelas juga bayang-bayang ratusan hari yang harus ia jalani untuk menunggu Puput. Semua orang tahu pasti, yang namanya menunggu, walau 5 menit sekalipun. Menunggu tetaplah menunggu. Dan itu sangat tidak enak untuk dijalani. Terlebih, semua orang disekitar Zapata juga sudah tahu betapa ngebetnya niat Zapata untuk menikah.
Kini, Eko dan Bibin mulai memesan makanan untuk mereka bertiga. Tapi Zapata justru mengurung diri dikamarnya.
__ADS_1