Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Wanita Berkerudung Merah


__ADS_3

H-1 puasa, Zapata dan keluarga besarnya menuju ke makam sang kakek dan nenek, juga beberapa anggota keluarga lain yang di makamkan di tempat yang sama. Di keluarga itu, Zapata merupakan cucu laki-laki satu-satunya karena tidak ada satupun dari saudara papanya yang memiliki anak laki-laki. Itu sebabnya seluruh sepupu Zapata dari pihak sang papa adalah perempuan semua.


Dulu, nenek sempat meminta mama Zapata untuk segera memberikan Zapata adik lagi. Karena ia berharap cucu laki-laki lagi dari papa dan mama Zapata. Saat Zapata menginjak kelas 6 Sekolah Dasar (SD), mama Zapata sempat hamil anak kedua. Namun kehamilannya itu memiliki masalah sehingga membuat rahim sang mama harus di angkat.


Di pemakaman, Zapata duduk melingkar bersama keluarganya. Disana, tidak hanya keluarga Zapata saja melainkan ada juga peziarah lain yang tersebar tak jauh dari mereka.


"Ssttt, di kuburan gak boleh ribut" ucap seorang perempuan berkerudung merah yang juga peziarah seperti Zapata. Si wanita berada cukup dekat dengan Zapata sehingga suaranya terdengar sampai ke telinga Zapata.


Zapata pun berbalik melihat ke arah peziarah tersebut. Nampaklah seorang wanita muda berhijab yang sedang memperingatkan dua orang anak kecil yang sedang memperebutkan mainan. Wanita itu masih menempelkan jarinya ke mulut sembari melotot pada dua bocah tersebut.


Mungkin wanita itu sadar jika saat ini ada yang sedang memperhatikannya. Ia menurunkan jarinya lalu secepat kilat sudah bisa menangkap sorot mata Zapata yang sedang melihat ke arahnya. Wanita itu tersenyum sembari menganggukkan kepala.


Zapata kini bisa melihat dengan jelas wajah si wanita itu. Dan ia pun membalas senyuman dan anggukan kepala wanita itu. Lalu kembali menghadap pada pusara sang kakek.


Setelah usai berdo'a, Zapata dan yang lain pun pulang bersama-sama. Mereka berjalan kaki karena tempat kakek neneknya di makamkan tak jauh dari rumahnya (rumah kakek yang saat ini jadi tempat Zapata menginap).


Percakapan di bawah ini sudah Otor translate ke dalam B. IndonesiađŸ˜‰


"Uda, besok sudah mulai puasa. Mau aku ajak ngabuburit gak? Kita cari takjil" ujar sepupu Zapata yang berusia lebih muda darinya.


"Boleh, kemana? Terus pakek apa?"


"Kita jalan-jalan ke Kelok 9, pakek motor aku aja. Nanti aku kasih pinjam"


Ya iyalah, kalo lo ga minjemin ya gak bisa.


"Oke, kamu jemput Uda dirumah kakek ya. Uda tunggu"

__ADS_1


☆☆☆


Keesokan harinya, jam 4 sore Zapata sudah duduk di bangku teras depan rumah sembari menunggu Nadia yang mau mengajaknya ngabuburit. Ditunggu sekian lama, tapi Nadia belum muncul juga.


"Tek (Mak Etek, panggilan Zapata pada tantenya), punya nomer WA Nadia gak?" tanya Zapata ke Tantenya yang lagi masak di dapur.


"Ada, itu hp Etek. Kamu cari sendiri" tunjuk Etek karena tangannya kotor.


Setelah mendapat nomer Nadia, Zapata pun menghubunginya. "Halo Nad, Uda udah nunggu kamu daritadi kenapa belum jemput?"


"Lah, Uda kenapa cepat sekali? Kita otw jam 5, Da"


"Jam 5? Mepet banget. Keburu buka dong nanti"


"Uda, ini tuh Sumatera. Jadwal bukanya ga sama kaya di Jakarta. Jakarta cepet, sini agak delay"


"Oh gitu ya? Ya udah, berarti bentar lagi 'kan jemputnya?"


Dan jam 5 tepat akhirnya Nadia jemput Zapata. Perempuan usia 18 tahun itu nongol dengan NM*xnya. Nadia menurunkan standar motornya, dan tanpa turun dari motor langsung menggeser posisi ke belakang. Zapata pun gemas karena ulah sepupunya itu yang tak mau turun dari motor barang sebentar saja.


"Nad, arahin. Keluar pagar kita belok mana?" tanya Zapata karena rumah kakeknya itu memang terletak di pinggir jalan raya.


"Kiri, Da"


Zapata mengendarai motor sedangkan di samping wajahnya, tepat di atas pundak kirinya ada tangan Nadia yang akan kasih tanda harus belok kiri atau belok kanan. Sedangkan tangan satunya, sibuk bikin story dengan menyoroti spion yang menampilkan wajah sepupu gantengnya itu untuk di pamerkan pada teman-teman sekolahnya.


Selama tangan Nadia tidak memberikan tanda, itu artinya Zapata bisa fokus menikmati pemandangan kota Padang dengan tenang. Ia mengendarai motor dengan kecepatan sedang dan melihat pemandangan perbukitan dan air terjun di kiri dan kanan hingga sampailah mereka ke Kelok 9.

__ADS_1


Sampai sana, Zapata hanya sempat memfoto pemandangan alam dan lalu di ajak Nadia untuk cepat-cepat pulang. Karena katanya mereka masih harus berburu takjil lagi untuk di bawa pulang.


Sebenarnya sudah banyak tempat penjualan takjil yang mereka lewati sejak perjalanan tadi, namun si paling paham alias Nadia tidak mau beli yang disana, maunya yang dekat rumah saja. Ya sudahlah, kalau kata puteri daerah bilang begitu ya Zapata bisa apa. Kemungkinan Nadia memang sudah tahu kalau rasa makanan yang di jual dekat rumahnya lebih enak.


Sore itu, sudah mendekati pukul 18.00. Tanda-tanda hari mulai gelap pun sudah kelihatan. Zapata dengan pelan menyusuri jalanan yang sudah di penuhi penjual takjil di pinggir jalan.


Dari kejauhan, ia melihat sepasang paruh baya yang tengah kewalahan melayani pelanggan yang datang semakin banyak. Bahkan tak sedikit pula yang rela mengantre di luar angkringan. Ada yang memesan untuk makan ditempat, ada pula yang minta di bungkus untuk di bawa pulang.


Zapata yang merasa tempat itu sangat rame, berniat untuk membeli di sana juga. Tempat itu sangat laris pasti rasanya enak, pikirnya.


Motor berhenti di bahu jalan seperti pengendara yang lain, standarnya juga sudah Zapata turunkan. Nadia otomatis turun sembari menautkan alis pada Zapata. Lalu ia berkata, "Kok berhenti disini, Da?"


"Liat tuh, rame. Coba beli yuk!" ajak Zapata.


Mereka berdua pun ikut mengantre di luar angkringan. Hingga akhirnya tibalah giliran mereka untuk menyebutkan pesanannya.


"Uda sama Uni beli apa?" tanya seorang pramusaji perempuan berhijab lengkap dengan membawa pena dan buku kecil, yang bentuknya persis kaya buku kwitansi menurut Zapata. Ia menekuri buku ditangannya sampai tak melihat pada dua pengunjungnya itu.


"Semuanya" jawab Zapata.


"Semua, Uda?" tanyanya lagi sembari mengangkat wajah hingga wajah mereka bisa dengan jelas di lihat. Keduanya diam sejenak lalu perempuan itu menunjukkan senyum tipisnya pada Zapata. Belum sempat Zapata berkata apa-apa, suara nyaring di balik tubuhnya sudah lebih dulu terdengar.


"Uda, jangan banyak-banyak. Biar kita bisa beli yang lain lagi di depan sana" ucap Nadia dari balik tubuh Zapata.


"Semua jenis makanannya, bukan semua porsinya. Masing-masing satu, ya" ujar Zapata.


"Iya, tunggu sebentar ya" ucap pramusaji itu.

__ADS_1


"Uda, lama nanti kita nunggunya. Kan ada yang mau di masak dulu" ujar Nadia sembari melihat ke dalam angkringan ada 2 penggorengan besar.


"Ya udah, sambil nunggu kita liat-liat tempat lain dulu. Tapi bilang dulu sana sama mbaknya, sekalian ini kasih DP biar dia percaya" Zapata memberi uang 300 ribu pada Nadia yang harus Nadia berikan pada mbak pramusaji yang tadi.


__ADS_2