
Sepulang kerja, Zapata menyisiri seluk beluk ibukota. Hal ini lantaran dirinya mematuhi mandat yang diberikan oleh sang istri untuk mengundang orang tua para sahabatnya. Sebenarnya Zapata bisa saja melakukan itu via telepon, tapi menurutnya lebih sopan saja kalau mengundang secara langsung.
Setelah berkendara dari ujung ke ujung, Zapata pun sampai kerumah orang tuanya. Terlihat halaman depan rumah bertingkat itu sudah dipenuhi kendaraan milik saudara mama dan papanya.
"Assalamu'alaikum" salam Zapata memasuki rumah yang sudah rapi khas rumah orang mau hajatan.
"Wa'alaikumsalam" jawab kerabat keluarganya yang tengah berkumpul di ruang tamu.
"Baru pulang kerja, Zap?" tanya Tante Jenny.
"Iya Tante" jawab Zapata sembari menyalami semua yang ada disana.
"Kamu gak sama istri?" tanya Tante Jenny dengan raut penuh kecurigaan.
Ini nih yang bikin gue males ketemu nih orang. Kalo bukan sodaranya mama udah lama gue suruh jangan kesini-sini lagi.
"Belom ketemu Sherly ya, Nte? Soalnya kita nginep sini dari semalam" jawab Zapata.
"Iya Jen, lu belum ketemu istrinya Zapata? Orang gue aja tadi makan siang dihidangin sama istrinya kok" timpal Tante Zapata yang satu lagi.
"Oh, ya bagus kalo gitu. Harus sering-sering ajak nginap disinilah, Zap. Jangan kamu buat kaya kamu dulu, anak kandung rasa anak tiri. Yang gak pernah nginap dirumah orang tua sendiri" celoteh Tante Jenny.
Jujur saja, kalau yang ngomong bukan Tante Jenny, aku pasti mudah memakluminya dan malah itu merupakan saran yang sangat baik. Tapi karena ini keluar dari mulut Tante Jenny, aku muak sekali mendengarnya.
"Ya udah, aku kedalam dulu ya Tante. Mau bersih-bersih" ucapku tersenyum tipis lalu melewati mereka satu persatu dengan sedikit merunduk, permisi dengan sopan.
Zapata dan Sherly menggunakan pakaian muslim senada. Zapata menyambut tamu di depan rumah dan terkadang ikut membantu para tamu memarkirkan kendaraannya. Sedangkan Sherly, bergabung dengan keluarga besar Zapata bersama mama papanya dan Dinda juga.
Acara dimulai pukul 19.30 dan tamu tampak sudah memenuhi seluruh ruangan yang telah disiapkan untuk mereka. Acara pengajian itupun berlangsung dengan lancar yang diakhiri dengan pembacaan tahlil. Setelah acara selesai, seluruh tamupun dipersilahkan menyantap hidangan berupa kue-kuean yang telah disediakan. Dan saat pulang, barulah dibagikan nasi kotak masing-masing satu.
Keluarga yang dari jauh juga akhirnya pamitan paling akhir, mereka kembali ke hotel dan berencana pulang esok hari. Papa dan mama Zapata ikut mengantarkan saudara-saudaranya sampai ke halaman rumah, mereka juga saling berpelukan sebelum kembali berpisah jauh.
Setelah rumah kembali sepi, mereka pun mulai berberes-beres. Sherly membantu bibi mengumpulkan piring-piring kue untuk dibawa ke belakang. Sedangkan Zapata sedang naik ke kamar untuk berganti pakaian dengan pakaian rumahan.
Sherly merunduk untuk meraih sebuah piring yang ia temukan dibawah meja, saat jemarinya sudah menyentuh piring tersebut tiba-tiba saja ia merasakan nyeri hebat di perut bagian bawah.
"Aah" rintih Sherly. Ia pun akhirnya berpegangan pada sofa untuk membantunya berdiri.
__ADS_1
"Mbak, mbak kenapa?" tanya Bibi khawatir melihat Sherly yang terlihat kesakitan.
"Mungkin karena kecapean, Bi. Udah, Bibi lanjut aja aku ga kenapa-napa, kok" jawab Sherly dengan senyum terpaksa.
Sherly pun duduk disofa sembari mengatur posisi nyaman agar perutnya tidak nyeri lagi. Hal itu kemungkinan karena dirinya akan datang bulan. Atau memang murni karena kelelahan. Ia pun tidak tahu secara pasti karena jadwal datang bulannya selalu rutin tiap bulan tetapi dengan tanggalan yang berantakan.
"Sher, kamu kenapa?" tanya Zapata yang melihat Sherly duduk bungkuk.
Zapata memang tidak terbiasa memanggil dengan panggilan sayang jika orang tuanya berada disekitar mereka.
"Bang Taaa, perut aku sakit, nyerinya gak ilang-ilang. Tapi mau berdiri makin sakit" rengeknya.
"Aku gendong ke kamar, ya?"
Tanpa menunggu jawaban, Zapata dengan sigap menggendong tubuh istrinya lalu menaiki tangga. Mama Zapata yang kebetulan lewat mau ke ruang tamu jadi tercengang melihat keberanian Zapata mengumbar kemesraan di hadapannya.
"Tumben kaya pasangan suami istri, biasa juga kelakuan kaya adek kakak". Setelah berucap demikian mama Zapata pun berlalu dan melanjutkan kegiatannya.
Zapata menurunkan tubuh Sherly ke tempat tidur dengan perlahan-lahan dan sangat hati-hati. Sherly pun setelah berada di atas tempat tidur langsung menggapai bantal milik Zapata untuk ia kekep di perutnya.
"Mungkin mau datang bulan, Yank"
"Tapi, bulan-bulan sebelumnya gak pernah kaya gini, kan?"
"Pernah, sesekali dalam setahun. Ada yang nyeri aja, ada yang nyeri banget kaya sekarang ini"
"Besok, gak usah maksain diri bangun pagi-pagi. Kamu istirahat aja, jangan banyak gaya"
"Iya Bang Taaaa" jawab Sherly.
"Gak ikhlas jawabnya?" tanya Zapata.
"Ikhlas. Udah Yank, katanya aku disuruh istirahat tapi kamu ngajak ngomong terus"
"Ya udah, aku turun ya mau bantu bibi gulung karpet"
Emmmuach, Zapata mengecup pipi istrinya sebelum turun kebawah.
__ADS_1
"Yank" panggil Sherly lemah saat Zapata hendak menutup pintu kamar mereka.
"Iya, sayangku cintaku bidadariku. Ada apa?" tanya Zapata dengan melongokkan kepalanya.
"Aku mau puding mangga mama yang semalam"
"Oke, aku ambilin ya"
Zapata turun ke bawah dan membuka kulkas. Beruntung puding mangga mama masih sisa dua cup di dalam kulkas. Ia pun membawanya ke kamar.
"Yank, sisa dua" ucap Zapata meletakkan puding tersebut di atas nakas yang tak jauh dari posisi Sherly berbaring.
"Makasih ya sayang. Nanti aku makan. Sebelum kamu keluar, lampunya tolong dimatiin, ya!?" Sherly menjawab dengan mata terpejam.
"Oke. Aku turun lagi ya"
Tidak ada jawaban, pikir Zapata mungkin Sherly memang tengah kesakitan sampai tidak berdaya lagi untuk menggubris ucapannya. Lalu ctek, Zapata mematikan lampu utama kamar itu dan turun kebawah.
pukul 23.00 Zapata sudah selesai menggulung karpet dan menyusunnya di gudang. Ia naik ke kamar lalu masuk ke kamar mandi. Ia bercuci tangan dan kaki serta mengambil wudhu untuk menunaikan ibadahnya yang tertunda.
Keluar dari kamar mandi, terlihat puding mangga atas nakas belum disentuh sedikitpun oleh Sherly. Niat hati mau membangunkan istrinya, tapi melihat Sherly yang begitu lelap, Zapata juga sedang berwudhu akhirnya memilih untuk sholat terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Zapata mengucap salam mengakhiri sholatnya. Lalu ia berdoa sebentar dan kemudian berdiri melipat kembali alat sholatnya.
Zapata duduk disamping tempat tidur, ia memperhatikan wajah Sherly yang begitu lelap. Ia terbayang bagaimana histerisnya Sherly saat mengatakan kalau kini ia sudah siap untuk mengandung buah hati mereka. Dan itu pulalah yang terus menerus Zapata gaungkan di sepertiga malamnya tanpa istrinya tahu.
Zapata mengarahkan tangannya untuk membelai wajah Sherly. Zapata mendadak panik saat tangannya menyentuh wajah sang istri yang terasa dingin dan lengket karena di basahi keringat. Sontak Zapata menyalakan lampu utama kamarnya dan membangunkan Sherly dengan menepuk-nepuk kedua pipinya. Tepukan semakin kencang karena Sherly tak kunjung tersadar. Namun usaha Zapata untuk menyadarkan sang istri tidak sia-sia, karena lambat laun Sherly menggeliat lemah dan membuka kedua matanya.
"Yank, kita kerumah sakit malam ini juga" titah Zapata.
"Nggak Yank, aku ga kenapa-napa. Aku telat makan aja" jawab Sherly lemah.
"Apa? Telat makan? Kok bisa?"
"Seharian aku bantu mama, keluarga besar datang satu persatu aku hidangin makanan. Terus karena sibuk ngelayanin orang-orang yang datang aku sampe gak ngerasain lapar. Terus pas tadi, aku juga gak makan malam. Aku gak selera aja"
"Ya Allah Yank" ucap Zapata dengan mengusap wajahnya. "Kamu jangan kaya gini lagi, jangan telat makan lagi. Kalo udah sakit parah gimana? Mertua aku bakal ngira aku gak ngerawat kamu dengan baik. Sekarang kamu tunggu disini, aku ambilin makan. Selama aku kebawah, kamu makan ini dulu" Zapata meminta Sherly makan puding saja terlebih dahulu. Sherly mengangguk. Ia pun dengan mudah bangkit dari pembaringannya karena rasa nyeri yang tadi sudah berangsur menghilang namun digantikan dengan rasa mual.
__ADS_1