Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Kejelasan


__ADS_3

"Assalamu'alaikum" salam kedua orangtua Zapata.


"Wa'alaikumsalam. Mari masuk mbak, mas" sambut mama dan papa dengan mempersilahkan kedua calon besannya itu.


Para orang tua dan Zapata mereka duduk diruang tamu. Mama papa Sherly dengan hangat menjamu mereka dengan berbagai hidangan, mulai dari manisan khas dari kota kelahiran sang mama sampai kue kering juga rapi berjejer di atas meja.


Para orangtua asik berbasa-basi di hadapannya, membuat Zapata berkesempatan membuka ponsel untuk menanyai dimana keberadaan Sherly yang tak ikut menyambut kedatangannya.


Zapata


"Kamu dimana? Aku udah datang"


Sherly tengah selonjoran di kamar bersama Dinda. Mereka sengaja mengerjai Zapata biar ngeladenin para orang tua sendirian di bawah.


Sherl**y**


"Datang ya datang aja, aku di kamar"


Zapata


"Aku kesana😏"


"Wah gawat, liat kak balasan Bang Ta. Masa dia mau kesini. Emang berani? Izin dulu gitu sama mama papa? Apa dia gila?"


Dinda tertawa, tidak menyangka calon adik iparnya yang sudah tua itu ternyata jahil juga. "Ga mungkin. Dia baru datang tadi aja mukanya tegang" ujar Dinda yang mengintip kedatangan Zapata dari balkon.


Sherly


"Ayo sini, sekalian bawain toples nastar ya😚"


Zapata


"Alhamdulillah, besok udah di bolehin kawin😃😆😘😍😎😉😋😊😙😚🤗🙄"


"Ha?" kaget Sherly membaca pesan Whatsapp dari Zapata.


"Kenapa?" tanya Dinda sembari mendekat dan melihat pesan kiriman Zapata tadi.


"Masa iya sih kak?" ucap Sherly dengan raut wajah tak percaya.


"Apa kita turun aja biar tau langsung" ucap Dinda.


"Tapi aku malu"


"Ya udah kakak aja yang turun, ya"


Dinda pun turun untuk menguping pembicaraan dua keluarga itu.


Sherly


"Bohong, di lamar depan keluarga besar aja belum kenapa tiba-tiba besok dah boleh nikah"


Zapata mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Ia pun sengaja tak membalas lagi pesan Sherly. Karena ia mengira yang turun dari atas tadi adalah Sherly. Zapata pun berlagak seolah begitu masuk dengan pembicaraan para orang tua itu.


Sherly ➡Dinda


"Kak, beneran nikah besok?"


Kak Dind**a**


"Ga tau, yang kakak dengar lagi pada bahas suku-sukuan"


Sherly➡Dinda


"Bang Ta pegang hp gak kak?"

__ADS_1


Kak Dinda


"Nggak, hpnya ada di depan mata tapi dibiarin aja"


Sherly➡Dinda


"Dengar betul-betul kak ya. Masa ini hari terakhir aku hidup bebas"


Kak Dinda


"Iyaa"


Sherly tidak tenang menunggu kepastian dari konferensi para orang tua di bawah. Apa yang dibahas pun ia tidak tahu. Zapata juga tak kunjung membalas pesannya, sampai tiba-tiba.


Bang Bibin


"Cieee, yang akhir bulan mau lamaran. Demi apa Sher kamu sama Zapata? Gara-gara cium*n itu ya? wkwkwkwk"


Sherly


"Tau darimana akhir bulan mau lamaran wkwkwk" balas Sherly menggali info.


Bang Bibin


"Barusan Zapata chat, tanggal 30 mau lamaran"


Sherly


"Wkwkwk, harus datang ya bang bin. Awas kalo nggak😈😈"


Bang Bibin


"Tenang aja, buat kamu sama Zapata pasti abang datang"


Zapata


Sherly


"Otw" ujar Sherly.


Tak lama kemudian Sherly beneran turun ke bawah menghampiri Dinda yang malah asik di meja makan karena ternyata ia capek berdiri menguping tapi tak dapat info apa-apa. Setelah itu barulah Sherly menuju ke ruang tamu dimana Zapata berada bersama orangtuanya.


"Om, Tante" Sherly menyalami dan mencium punggung tangan kedua orangtua Zapata. Lalu saat ia hendak bersalaman dengan Zapata, ia tampak malu-malu untuk mencium punggung tangan Zapata namun justru Zapata menggerakkan sendiri punggung tangannya ke hidung Sherly. Hal itu membuat Sherly semakin malu.


Setelah itu Sherly duduk berhadapan lurus dengan Zapata. Keduanya sesekali saling melempar senyum dan hanya berani berbicara dengan menggunakan mimik wajah tanpa suara.


"Calbu apaan" tanya Sherly dengan mulut komat-kamit. Beberapa kali ia mengulang ucapannya, barulah Zapata mengerti.


"Ca-lon I-bu"


Sherly tak kuat mendengar jawaban Zapata yang suka gombal itu. Kepikiran saja Zapata membuat singkatan-singkatan seperti itu.


"Da-ri a-nak-a-nak-ku" sambung Zapata meneruskan kalimat sebelumnya.


"Te-rus a-ku pang-gil ka-mu a-pa?"


"Da-sar gak kre-a-tiffff" ledek Zapata dengan jempol mengarah ke bawah.


"Huft. A-ku pi-kir-pi-kir du-lu, ya!?"


"Kalian kalo terganggu mending pindah ke ruang tengah aja, ada Dinda juga di dalem" ujar papa Sherly.


"Eh, iya pa. Ayok" ajak Sherly ke dalam.


Zapata mengikuti langkah Sherly. Sampai di ruang tengah hanya ada Dinda yang duduk sembari makan kue lebaran.

__ADS_1


Dinda pun berdiri dan bersalaman dengan Zapata. Kemudian mereka duduk bertiga sambil menonton TV.


"Nanda sama Umar kemana?" tanya Zapata.


"Umar tidur, kalo Nanda lagi dinas mantau arus mudik" ujar Dinda.


"Ooh"


"Ya udah Ta, duduk aja dulu ya. Gue mau cek Umar"


Sepeninggalan Dinda, Zapata mulai melancarkan aksinya. Ia merentangkan tangan di belakang kepala Sherly.


"Sudah mulai berani!?" tegur Sherly.


Zapata pun membatalkan niatnya, ia menarik kembali tangannya sehingga kembali ke sisi tubuhnya.


"Siap-siap ya, awal bulan udah resmi jadi istri aku"


"Iyaaa" jawab Sherly panjang.


"Mau tinggal dirumah aku? Atau kita beli rumah baru?" tanya Zapata.


"Ga usah, nikmatin yang ada aja" ujar Sherly.


"Yakin? Gak mau rumah lebih gede lagi?"


"Ga usah, rumah kamu juga udah cukup buat kita"


"Ciee, KITA"


"Terus apa kalo bukan kita!?"


"Nggak papa. Eh, terus panggilan buat aku apa? Aku kan panggil kamu calbu"


"Emmmm... Calki, calon laki"


Keduanya kompak tertawa. "Aku setuju" ujar Zapata.


"Sher, orang tua Zapata mau pulang nih" panggil mama.


Sherly dan Zapata otomatis bangkit dan segera menuju ke ruang tamu.


"Udah mau pulang ya Tante?" ucap Sherly basa-basi.


"Iya, paling pas lamaran baru kesini lagi" ucap mama Zapata.


Sherly pun menyalami kedua orangtua Zapata. Yang terakhir, ia mencium punggung tangan Zapata. "Calbu, pulang dulu ya. Jangan marah aku pulang cepet" ucap Zapata pelan. Sherly menepuk lengan Zapata karena sembarangan bicara. Lalu ia ikut mengantarkan kepulangan keluarga Zapata sampai ke depan rumah.


Setelah mobil Zapata hilang dari pandangan, barulah Sherly masuk ke dalam rumah.


"Anak bontot mama mau nikah" ucap mamanya yang berjalan di belakangnya.


Sherly berhenti, lalu berbalik dan memeluk mamanya. Ia baru teringat kalau Zapata punya rencana akan membawanya untuk tinggal di kediaman pribadi milik Zapata.


"Ma, aku ga mau ninggalin mama. Tapi gimana kalo nanti ternyata Bang Ta minta aku untuk tinggal sama dia dirumahnya"


"Ya sudah, gak masalah. Kan kalian bisa ganti-gantian nengokin mama papa disini"


"Tapi mama bakal kesepian" rengek Sherly.


"Itu pasti. Tapi kamu jangan khawatir, kan ada Umar yang bakalan mama ajak nginap sini"


"Iya ma"


Setelah itu Sherly kembali naik ke kamarnya dan berkhayal menjadi istri Zapata. Ia mengimpikan memiliki keluarga yang bahagia dan memiliki momongan yang lucu-lucu.

__ADS_1


__ADS_2