
Hari sudah pagi, aku dan Zapata masih diam-diaman. Kami tidak akan berlama-lama lagi di villa ini, malah sekarang saat waktu masih menunjukkan pukul 07.00 aku sudah mengemasi semua barang-barangku. Zapata yang melihatku sudah rapi akhirnya turut mengemasi barang-barangnya.
Tanpa bicara, kami pulang kerumah sama-sama. Setelah sampai rumah, ternyata ada mama dan papa Zapata yang berkunjung kerumah. Mau tidak mau kami berdua harus kompak menunjukkan kalau hubungan kami baik-baik saja di depan mereka.
"Yank, sini tas kamu aku bawa ke kamar" ujar Zapata. Aku pun memberikan tote bagku padanya lalu duduk bergabung dengan kedua mertuaku.
"Mama sama papa kenapa ga bilang kalo mau kesini? Untungnya Sherly sama Bang Ta pulang cepet, coba kalo nggak pasti mama sama papa nunggunya lama" ucapku.
"Gapapa Sher, kita kesini cuma mau liat keadaan kalian aja. Mama takut kamu di apa-apain sama Zapata. Secara dia kan egois dan gengsinya tinggi banget, mama khawatir aja kalo dia nyakitin kamu"
"Nggak kok ma, Bang Ta baik banget sama aku. Apa yang aku mau diturutin. Pokonya manjain aku terus" pujiku terhadap Bang ta, yang orangnya lagi berjalan mendekat padaku.
"Iya Ma, mama ga perlu khawatir. Menantu mama bakal aku jaga sampe tua"
"Udah yuk ma, mau kondangan lagi kita" ajak papa.
"Ya udah ya, mama sama papa pamit dulu. Ada acara di tempat temennya papa"
Aku cipika-cipiki sama mama lalu menyalami papa mertua, mereka kami antar sampai ke teras rumah. Setelah mereka pergi, aku kembali bersikap dingin dan meninggalkan Zapata seorang diri di depan rumah.
Aku masuk ke kamar tamu untuk beristirahat. Aku juga minta makan siangku di antarkan ke kamar karena mendadak perutku terasa kram.
Selama aku beristirahat di kamar tamu, Zapata terus-terusan menelponku. Aku merasa sangat terganggu. Kalau memang ada yang ingin dibicarakan, apa susahnya mengetuk pintu kamarku.
"Hm" sambutku di telepon.
"****** ***** aku kamu susun dimana? kenapa di pindah-pindahin siiih?"
"Em, aku pindahin ke rak nomor 3 dari atas paling kanan. Soalnya aku risih liat isian rak-rak kamu yang gak rapi. Terus juga aku susun kemeja-kemeja kamu sesuai warnanya. Ngerti, gak? Kalo gak ngerti cek aja sendiri" Tut. Entah mengapa aku kesal sekali hari ini pada Zapata. Meskipun dia tidak ngajak ribut, cuma perihal nanya pakaiannyapun aku pengen sekali marah-marah.
Aku menggerutu di kamar, lalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Tapi aku merasa ada yang basah, ah ternyata aku datang bulan. Pantas saja moodku akhir-akhir ini sangat kacau. Kasian suamiku yang jadi korbannya.
Aku keluar kamar, ke dapur mencari cemilan. Eh ketemu suami.
"Hai musuhku" sapaku dengan sok jutek. Padahal sebenarnya pengen ngajak baikan tapi ga tau caranya. Aku gengsi mau minta maaf.
"Masih marah?" tanyanya.
"Emmm, gak tau"
"Pindah ya ke kamar kita, ngapain tidur pisah-pisah" ucapnya.
__ADS_1
"Iyaaa"
POV Sherly end
◇◇◇
POV Zapata
Keesokan harinya aku dan Sherly kembali ke kesibukan masing-masing. Kami sudah baikan karena semalam juga sudah tidur bareng, tidak ada lagi yang mengganjal di hati kami, semua sudah di luruskan.
Aku pergi ke kantor seperti biasa nyetir sendiri. Sedangkan Sherly, melihat caranya nyetir aku tidak yakin umurnya akan panjang. Itu sebabnya aku fasilitasi sopir karena aku tidak mau dia kenapa-napa.
Sampai kantor, ada hal yang mengejutkan. Tidak biasanya Eko berjalan mondar-mandir depan ruanganku.
"Kenapa, Ko?" tanyaku.
"Bos, ada tetangga di dalam"
Aku mengernyit heran sekaligus geram. Kenapa Puput seenaknya masuk keruangan kerjaku. Bahkan istriku saja tidak pernah seperti itu.
Aku mengambil langkah cepat, kubuka pintu dan melihat Puput tengah berdiri di depan sebuah lemari besar yang ada diruanganku.
"Aku cuma mau berterima kasih karena pemuda yang kemaren sempat nguntit aku akhirnya bisa di proses. Itu juga berkat Bang Ta"
Aku mengangguk sekilas dan berlalu menuju meja kerjaku.
"Kalau tidak ada urusan lagi, kamu boleh pergi" ucapku setelah duduk di kursi kebesaranku.
"Bang... Bang Ta, aku sekalian mau ngasih ini. Tolong diterima, ya" Puput meletakkan sebuah bingkisan ke atas mejaku. Aku hanya menatap sekilas lalu membuka laptopku.
"Aku pergi dulu" ucapnya begitu sopan. Aku tidak menjawab, ya kalo mau pergi, pergi aja. Simple.
Tak berapa lama, Eko masuk untuk mengingatkanku perihal meeting pagi ini. Meeting pagi ini tidak diluar kantor, hanya meeting dengan pihak cabang perusahaanku yang ada di Bali. Aku sengaja minta mereka datang ke Jakarta karena saat aku di Bali tidak sempat berkunjung ke kantor cabang yang ada disana. Dan aku tidak mau serba-serbi pengecekan lewat jaringan, aku mau tatap mata karena memudahkanku untuk berkomunikasi langsung. Aku pun bersiap-siap dan meminta Eko membawa semua berkas yang dibutuhkan.
Aku meeting cukup lama sampai-sampai perutku keroncongan. Seusai meeting aku kembali keruangan. Bingkisan dari Puput masih tergeletak di atas meja. Aku pun memeriksanya. Saat di buka, ternyata berisi makanan kesukaanku.
Aku pun langsung menyantapnya daripada mubazir. Saat tinggal satu sendok lagi, pintu ruanganku terbuka.
"Suam" sapa istri abegeku.
"Sini sayang duduk" sambutku yang gagal menghabiskan makanan.
__ADS_1
"Yah, aku bawain kamu makan siang lhoo. Aku masak sendiri" ujarnya dengan mulut yang maju-maju.
"Kenapa kamu ga bilang? Kan aku bisa nahan-nahan lapar dulu kalo gitu"
"Ya udahlah, kasih Mas Eko aja daripada ga di makan"
Dalam hatiku, ini aku harus jujur gak ya kalo makanan ini dari Puput. Tapi, aku kan baru aja baikan masa harus diam-diaman lagi. Argg, daripada jadi bom waktu mending jujur ajalah, pikirku.
"Yank, ini tadi di bawain sama Puput. Dia... (agshdydhdbdjxkdjfifnfjjffjddhdyfurkrofmxhxdhdnskkssywehedjd, omelku dalam hati)"
Belum selesai aku bicara istriku sudah marah-marah.
"Jadi gitu? Kamu milih makan makanan dari dia dibanding makanan yang dibuat sama aku? Nih, kamu liat" Sherly berdiri dan membuka kotak makan yang ia bawa lalu dengan kemarahannya ia menuangkan seluruh isinya ke dalam tong sampah.
Aku tidak suka dengan apa yang ia lakukan. Menurutku Sherly sudah keterlaluan. Itu makanan, masih bisa dimakan. Setidaknya kalau bukan aku yang makan, aku bisa kasih itu kepada Eko atau siapalah.
"SHERLY" teriakku marah.
"Apa? Kamu mau marah sama aku? Terus aja kasih kesempatan buat mantan kamu itu. Kamu sadar gak? Kamu itu suami aku. Kenapa kamu jadi laki-laki gak tegas. Harusnya kamu larang dia buat jangan seenaknya kesini. Harusnya kamu sadar kamu itu udah punya istri. Antara aku sama Puput, yang mana sebenarnya yang kamu pilih? Karena yang aku rasa, kamu memperistri aku tapi tetap memberi ruang buat Puput. APA KAMU GA BOSAN SETIAP KITA BERTENGKAR SELALU ADA NAMA PUPUT?" Sherly mengambil tasnya karena pasti mau buru-buru pergi.
"Oh, aku tau sekarang. Bukan dia yang datang seenaknya kesini, mungkin kamu yang dengan senang hati mengundangnya kemari"
Aku terpancing emosi. Sherly sudah terlalu jauh menuduh aku yang tidak-tidak.
"SHERLY, KAMU JANGAN SEENAKNYA BICARA. DIA DATANG CUMA UNTUK BERTERIMAKASIH KARENA AKU SEMPAT MENOLONGNYA WAKTU DI BALI. DIA CUMA KETEMU AKU SATU MENIT UNTUK NGASIH INI LALU DIA PERGI. DEMI TUHAN AKU UDAH MUAK SELALU BERANTEM SAMA KAMU. KAMU UDAH BANYAK BERUBAH, GA KAYA SHERLY YANG AKU KENAL DULU"
"APA? JADI KALIAN KETEMU JUGA DI BALI? OH, APA JANGAN-JANGAN KLIEN YANG KAMU BILANG ITU SEBENARNYA DIA, IYA?? BAGUS YA, KAMU BILANG AKU BERUBAH, PADAHAL YANG BANYAK BERUBAH ITU KAMU. MANA JANJI KAMU MAU BAHAGIAIN AKU? INI YANG KAMU MAKSUD BAHAGIAIN AKU? DEMI PUPUT KAMU RELA INGKAR DENGAN JANJI KAMU SENDIRI?"
Tok...tok...tok
Aku mengendurkan dasiku. Sebenarnya susah sekali mengatur nafas dan ekspresi wajahku saat ini.
"Masuk" ucapku.
"Eh, ada Buk Bos" ucap Eko dengan gaya seperti biasanya. Sherly hanya membalasnya dengan senyum tipis.
"Bos, ini ada email masuk dari Pak Rama. Dia minta Bos ke rumahnya nanti malam. Ini dia juga ngelampirin file. Sepertinya ada yang mau dibahas serius" ujar Eko padaku.
"Balas iya" titahku pada Eko.
Setelah urusan Eko selesai, suasana mendadak jadi hening. Aku diam, Sherly juga diam. Kenapa rasanya aku menjadi serba salah, jujur salah banget, bohong pun salah, tapi selama gak ketauan pasti aman. Lain cerita kalau ketahuan, akan salah banget juga jadinya.
__ADS_1