
Malam harinya dilanjutkan dengan acara resepsi. Zapata dan Sherly mulai bersiap-siap sehabis maghrib. Keduanya bersiap di kamar yang sama karena sudah sah menjadi pasangan halal.
Zapata keluar dari toilet dengan setelan rapinya dan ia kedapatan mencuri-curi pandang saat Sherly di pakaikan gaun pengantin. Hanya sempat curi-cari pandang saja, karena disana tidak hanya mereka berdua melainkan ada Dinda dan dua orang periasnya. Kali ini perias Sherly bukan lelaki bertulang lunak seperti yang pernah godain Zapata dulu, kali ini perempuan tulen, berhijab, dan cantik pula.
Setelah keduanya selesai bersiap-siap, mereka pun menuju aula tempat resepsi. Zapata masuk ke aula dengan langkah tegap dan menggandeng istrinya mesra. Senyum bahagia selalu hadir di wajahnya. Sampai ke pelaminan, keduanya menyapa para tamu undangan sebab tema resepsi mereka mau yang santai-santai saja. Zapata mudah bosan dengan suasana formal, oleh sebab itu acara resepsi mereka jauh dari kesan formal. Sedangkan Sherly sejak awal menerima ide itu dengan senang hati. Karena yang terpenting baginya acara lancar sesuai keinginan.
Pukul 23.00 acara resepsi sudah berakhir. Sepasang pengantin itu juga sudah diberikan kartu akses kamar pengantin mereka. Zapata merangkul pundak Sherly yang terlihat kelelahan karena harus menyalami seluruh tamu yang hadir.
Cklek
Pintu kamar pengantin terbuka. Kondisi ruangan nampak gelap. Zapata meletakkan kartu akses pada tempatnya dan seketika itu juga seluruh ruangan menjadi terang benderang.
Di dalam kamar pengantin di penuhi kelopak bunga mawar merah. Zapata mengibas tempat tidurnya dengan jas agar ia bisa merebahkan tubuhnya dengan nyaman.
"Eh jangan di gituin lah Yank" ucap Sherly.
Istri Zapata itu berniat untuk mendokumentasikan kamar pengantin mereka, tapi malah suaminya memberantakkan itu semua.
"Nebarin bunga kok kaya orang emosi. Dikira kita makan bunga, apa?" tunjuk Zapata pada kelopak-kelopak mawar itu yang tidak hanya ada di tempat tidur tapi juga di seluruh lantai.
"Ya biar romantis. Kamu gimana, sih!?"
Sherly menuju ke kamar mandi. Di dalam bathub juga tersebar kelopak bunga mawar yang terendam di dalam air. Aroma di kamar mandi itu juga sangat menenangkan.
Sherly membuka gaunnya dengan usahanya sendiri. Setelah seluruh pakaiannya tandas, ia pun masuk ke dalam bathub dan merilekskan tubuhnya.
"Yank... Yank" panggil Zapata.
"Kenapa Yank?" sahut Sherly dari kamar mandi.
Zapata pun menghampiri istrinya yang tengah b*gil itu. Tentu pemandangan yang sudah lama Zapata tunggu-tunggu. Ia duduk di tepi bathub sembari menyipratkan air ke istrinya.
"Tentang anak, apa kamu masih belum mau berubah pikiran?" tanya Zapata dengan sangat lembut. Ia tak mau memaksa jikalau Sherly masih ngotot mempertahankan keinginannya untuk menunda momongan sampai nanti ia lulus kuliah.
"Yank, aku lagi cape banget. Kenapa kita harus bahas itu lagi, sih?" keluh Sherly.
__ADS_1
"Oke, aku gak akan maksa" Zapata berlalu keluar dari kamar mandi. Ia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Tak lama kemudian Sherly keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk. Ia duduk di samping sang suami yang juga terlihat sangat kecapean.
"Kamu mandi sana, nanti bajunya aku siapin"
Entah mengapa, setelah pertanyaan Zapata tentang anak tadi membuat situasi jadi terasa berbeda. Yang seharusnya mereka saat ini tengah berbahagia karena sudah resmi menjadi suami istri justru malah berubah menjadi kaku.
Zapata tidak menjawab, ia bangkit tanpa sepatah katapun. Sherly bergegas menuju closet room untuk memakai pakaiannya. Dan setelah itu ia mempersiapkan pakaian milik Zapata yang kemudian ia letakkan di atas tempat tidur.
Tok tok tok
Pintu terdengar di ketuk. Sherly menuju ke pintu dan membukanya. Namun tidak ada siapa-siapa. Ia pun menutup kembali pintunya dengan buru-buru.
Tok tok tok
Sherly mengintip di lobang kecil yang terpasang di pintu. Ia tidak melihat siapa-siapa. Dengan serius ia mengintip namun tetap tak ada siapa-siapa.
"Kamu kenapa disitu?"
"Tadi, ada yang ngetuk. Tapi begitu aku buka ga ada siapa-siapa"
"Hm? Masa iya?" tanya Zapata sembari memasang pakaiannya di depan Sherly. Sherly tidak begitu berani melihat Zapata karena ia sendiri merasa takut kalau-kalau Zapata akan meminta haknya sebagai suami malam ini juga.
Tok tok tok
"Tuh kan. Sekarang kamu periksa deh!" ucap Sherly.
Zapata yang sudah mengenakan pakaiannya pun mendekat ke pintu.
Cklek
"Surpriseeeee!!!! Selamat menempuh hidup baru kawanku" pekik Nanda, Rama, Aidil, dan Bibin yang berada di gendongan Nanda. Disusul kedatangan Dinda, Feza, dan Ayu yang membawa begitu banyak kotak hampers. Wajar jika Zapata menyebutnya hampers karena kotak-kotak tersebut tidak di bungkus dengan kertas kado. Betul-betul hanya kotak saja.
"Ayo masuk-ayo masuk" teriak Bibin.
__ADS_1
Kamar pengantin jadi semakin berantakan kala kedatangan tamu-tamu tak di undang itu. Mereka menjadikan kamar pengantin sebagai tempat nongkrong. Zapata yang masih lelah mau tak mau meladeni mereka meskipun moodnya sedang sangat buruk.
Sedangkan Sherly terlihat berusaha ramah dan mengabaikan rasa lelahnya pada orang-orang dewasa di hadapannya itu. Mereka membuka satu-persatu hampers itu yang ternyata berisi cookies dan cemilan lainnya.
"Ngapain bawa beginian sebanyak ini?" tegur Zapata.
"Ya buat nyemillah. Lu kira buat apa? Kita tau, disini pasti ga ada makanan, jadi kita bawa sendiri" ucap Rama.
"Ngapain musti kesini? Makan di bawah juga bisa" celetuk Zapata.
"Lu ga berterimakasih banget sih jadi orang. Kamar pengantin lu ini, dekorasinya pakek ide kita. Gimana? Bagus kan?" tanya Bibin.
"Hah? Begini bagus? Lu liat, buat ngelangkah aja musti mikir-mikir dulu. Sumpek banget liatnya"
Bibin dan teman-temannya yang lain pun tertawa. Mereka berhasil membuat Zapata marah-marah di hari bahagianya.
"Ini bagian dari kenang-kenangan kami. Kan lo udah punya istri, jadi kita udah ga bisa ngerecokin hidup lu lagi. Nah ini, yang terakhir kalinya" ujar Nanda.
"Gue gak yakin" seloroh Zapata sambil mengusap wajah.
"Sudah siap bersulang?" tanya Dinda.
Zapata mendongak. "Wah, kalian bawa minuman haram ya kesini?" tanyanya saat melihat gelas wine sudah tersusun di atas nampan. Warnanya tidak seperti anggur merah yang Zapata sering teguk. Kali ini, warnanya seperti ur*n.
Semua orang mengambil gelas masing-masing. Zapata pun ikut mengambil gelas yang tersisa satu itu. Ia menciumnya terlebih dahulu.
"Apaan nih?" tanya Zapata.
"Udah, minum aja. Mari kita nikmati malam ini brother" ucap Bibin seolah-olah lagi berada di sebuah club malam.
Yang lain lebih dulu menenggak minumannya. Mereka mengernyit karena pekatnya rasa minuman tersebut. Zapata melihat istrinya, Sherly juga sama ragunya seperti dia. Mereka sama-sama belum meminum minumannya.
Zapata pun mengkode Sherly agar jangan minum dulu, biar dia saja yang minum. Biar kalau ada apa-apa, istrinya tetap sehat dan bisa merawatnya.
Zapata perlahan-lahan mendekatkan gelas ke mulutnya. Dekat, makin dekat, dan... Glek.
__ADS_1
"Sialan...." amuk Zapata.