Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Menuruti Kehendaknya


__ADS_3

Malam mulai datang, sinar matahari tampak sudah kembali ke peraduannya, digantikan cahaya rembulan. Zapata tengah sibuk menyusun berkas di atas mejanya sebelum ia pulang.


"Ko, besok saya akan datang agak siangan. Kamu tolong urus beberapa pekerjaan saya"


"Baik Pak" sahut Eko tidak punya daya untuk menolak.


Sesampainya dirumah, Zapata langsung membersihkan diri. Setelah itu barulah ia makan malam di meja makan yang terlalu besar untuk dirinya yang hanya makan seorang diri itu.


"Mas Ta, mau dibikinin kopi?" tawar Bibi karena Zapata sudah selesai makan.


"Ga usah Bi, tapi tolong bikinin teh aja"


"Baik, Mas Ta" Bibi pun ke dapur dengan membawa piring kotor sisa Zapata.


Tak berapa lama, Bibi kembali lagi ke ruang makan dengan membawa secangkir teh panas.


"Ini Mas"


"Makasih Bi" Zapata menerima secangkir teh lalu beranjak pergi menuju bangku yang ada di pinggir lapangan badminton.


Zapata duduk di bangku itu dengan ditemani cahaya rembulan. Ia meletakkan cangkir tehnya disisi samping tubuhnya. Ia menghubungi Puput, merindukan sosok yang berbulan-bulan ini sudah menguasai hatinya. Puput sudah lama tidak pernah lagi kerumahnya, sudah lama juga ia tak merasakan perhatian Puput seperti dulu.


Panggilan Zapata yang berkali-kali itu tak kunjung terjawab oleh Puput. Raut wajah Zapata seketika berubah kesal. Puput sudah jauh berbeda, ia tak bisa diam saja. Sesekali ia harus bersikap tegas pada kekasihnya itu.


Zapata beranjak meninggalkan tehnya yang masih panas. Ia mengambil jaket dan kunci mobil untuk segera menemui Puput.


Zapata kesal bukan tanpa alasan, melainkan dirinya sudah terlalu sering kesulitan menghubungi Puput. Biasanya, Puput akan mudah dihubungi jika mereka memang sedang ada janji. Lain halnya jika sedang tidak memiliki janji, apalagi kondisi saat ini Zapata sudah membuktikan keseriusannya. Ia ingin timbal balik dari Puput.


Jangan karena ia sadar bahwa Zapata takkan meninggalkannya, lalu ia bebas bertindak sesuka hati begini. Ini yang membuat Zapata kesal pada Puput.


Mobil Zapata sudah berjalan masuk ke pekarangan rumah Puput. Pintu utama rumah itu tampak terbuka.


Zapata dengan satu tangan melepas sabuk pengaman dan segera turun dari mobil. Dengan langkah cepat ia sudah berdiri di ambang pintu.


"Assalamu'alaikum" salamnya dari luar.


"Wa'alaikumsalam" sambut Feza dari dalam rumah.


"Loh Ta, tumben malam-malam kesini. Duduk dulu Ta" Feza mempersilahkan Zapata duduk di sofa ruang tamu.


"Puput ada, Za?" tanya Zapata sembari duduk di salah satu kursi.


"Ada, bentar gue panggilin" Feza masuk ke dalam untuk memanggilkan Puput.

__ADS_1


Tak berapa lama Puput muncul diruang tamu dengan pakaian tidurnya.


"Put, kamu apa-apaan. Muncul nemuin aku cuma pakek pakaian tipis kaya gini?" Yang tadinya kesal, ditambah lagi dengan kelakuan Puput barusan membuat Zapata makin kesal.


"Ya emangnya kenapa? Lagian ini masih di dalam rumah 'kan?"


"Put, aku laki-laki normal"


"Tapi ini kan ga terlalu pendek" Puput membela diri dengan menunjukkan bagian ujung dressnya yang sebatas lutut.


"Huh, tapi Put ini bikin lekuk tubuh kamu kelihatan"


"Iya, aku ganti" jawabnya mengalah.


Akhirnya Zapata kembali harus menunggu Puput diruang tamu.


"Udah" sungut Puput saat baru tiba diruang tamu lalu duduk di samping Zapata.


"Kalo gini kan lebih sopan" puji Zapata.


"Kamu kenapa tiba-tiba kesini ga bilang-bilang?"


"Karena kamu ga angkat telepon aku. Kamu lagi ngapain emangnya? Sesibuk itukah sampe ga ada waktu buat angkat telepon aku?"


"Aku ngerjain tugas, terus ketiduran. Maafin aku ya sayang" Puput memainkan jemari Zapata sembari tertunduk.


"Besok ke kantor aku ya, kamu udah lama ga bawain aku makan siang" pinta Zapata.


"Jangan kaya Sherly yang datang malah merepotkan" sambungnya lagi dengan bercanda.


"Emang Sherly ada kesana?" tanya Puput.


"Ada, tadi siang" jawab Zapata.


"Ngapain Sherly kesana?"


"Ga ngapa-ngapain. Cuma mau numpang makan siang" ujar Zapata lagi.


"Ck, lama-lama aku cemburu kalo liat kamu terlalu akrab sama Sherly" ujar Puput dengan merubah posisi duduknya yang semula menghadap Zapata jadi menghadap lurus kedepan.


"Kenapa? Kan kamu tahu kalo aku anggap Sherly kaya adik kandung aku sendiri" Zapata mencoba menjelaskan walau sebetulnya ia pun senang di cemburui oleh Puput.


"Cinta bisa tumbuh karena terbiasa" ujar Puput.

__ADS_1


"Aku ketemu Sherly aja jarang, sayang. Gimana bisa disebut terbiasa"


Puput hanya diam. Ia merasa Zapata tengah membela Sherly karena terus-terusan menjawab ucapannya.


Zapata merapikan helaian rambut Puput ke belakang telinganya. "Kamu tenang aja, aku ga akan jatuh cinta sama Sherly. Sherly itu bukan tipe aku. Aku penyuka wanita yang sempurna kaya kamu. Masa wanita sesempurna kamu insecure sama Sherly yang tomboy kaya anak laki"


Lagi-lagi Puput hanya diam.


"Sayang, maaf ya kalo kedekatan aku sama Sherly bikin kamu ga suka"


"Ga aku maafin"


Zapata meraih pundak Puput agar kembali miring menghadap kearahnya. Namun Puput menolak dengan menegangkan tubuhnya.


"Sayang jangan marah dong. Setelah ini aku ga akan ketemu Sherly tanpa kamu lagi"


"Aku tetep ga mau maafin"


"Yang, aku harus kaya gimana biar kamu mau maafin aku?" ujar Zapata dengan kesabaran yang jarang ia tunjukkan pada lawan jenis.


"Kamu ga boleh deket-deket sama Sherly lagi. Pokonya harus menjauh, kalo pun kita mau kumpul-kumpul kaya yang waktu itu, Sherly jangan di undang, jangan di ajak pokonya"


"Iya sayang iya. Akan aku patuhi. Udah dong, jangan liat sana terus, sini liat aku" Zapata menarik pundak Puput untuk menghadapnya. Kali ini Puput tidak menegangkan tubuhnya seperti semula, sehingga dengan mudah Zapata mampu merubah posisi duduk Puput.


"Demi wanita yang aku cintai, apapun yang kamu mau pasti aku turuti. Dan aku punya satu permintaan, jangan pernah abaikan telepon dari aku. Kalo perlu nada dering kamu ngalahin toa masjid biar ga ada alasan ga denger lagi"


Puput tertawa mendengar ucapan Zapata, dan hanya menjawab dengan anggukan kepala. Setelah itu, Zapata mencuri kesempatan untuk menci*m bib*r merah menggoda itu. Puput membalas lum*tannya. Zapata memuji keahlian Puput, yang kini mampu membalas ci*man liarnya dengan lebih liar lagi.


Kewarasan Zapata kembali, ia sadar saat ini mereka tengah berada di rumah Puput. Buru-buru ia melepas c*mbuannya dan menghapus jejak bib*rnya dari bi*ir Puput.


"Kamu mulai jago ya sekarang. Aku sampe kalah" ucap Zapata.


Puput tersipu malu, ia mencubit kecil lengan Zapata yang membahas tentang c*umannya.


"Ciee malu, biasa aja sayang. Tapi jujur ya, aku suka banget sih" Lagi, tindakan Zapata membuat Puput semakin bern*fsu untuk mencubitnya.


"Ampun ampun, aku pulang dulu ya udah malem" Zapata berucap sembari berdiri dan merapikan jaketnya.


Puput mengangguk, "Kamu hati-hati dijalan ya" Puput ikut berdiri.


"Oke, kamu tidurnya jangan jalan-jalan ya!?"


"Mulai kan!"

__ADS_1


"Hehe"


Zapata pun pulang sekitar jam 10an. Pikirnya, rindu itu memang obatnya cuma temu.


__ADS_2