Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Operasi


__ADS_3

Pukul 06.00 pagi suasana dirumah Zapata masih tampak sunyi. Sejak selesai sholat subuh tadi Zapata terus-terusan membujuk Sherly yang menangis sesenggukan karena takut akan dioperasi. Apalagi detik demi detik semakin mendekati jadwal operasi.


"Yank, ayolah mandi. Jam 7 kita udah harus disana. Kamu katanya pengen kasih aku anak yang lucu-lucu, bisa gagal nih kalo kamunya gak jadi di operasi. Kamu pasti kepo kan gimana kelakuan anak kita kelak? Wajahnya, tindak-tanduknya. Kira-kira bakal dominan mirip aku atau kamu, ya?"


"Aku takut disuntik. Aku takut mati. Gimana kalo ternyata operasinya gagal? Aku kepengen hamil kaya orang-orang, tapi kenapa cara aku beda sama yang lain?"


"Ssttt, itu namanya perjuangan seorang ibu. Nanti anak kita pasti bangga punya ibu hebat kaya kamu. Yang berjuang promil dengan berbagai macam cara sampe operasi pun ditempuh juga. Gak semua ibu bisa kaya kamu. Ayo, aku siapin semua barang-barang kamu, sekarang kamu mandi dulu gih"


"Kamu jangan tinggalin aku dirumah sakit sendirian, ya!?"


"Iya sayang. Aku ga ngantor, aku bakal temenin kamu terus" ujar Zapata seraya membangunkan tubuh Sherly dari tempat tidur.


Setelah Sherly selesai bersiap-siap, keduanya pun tak ingin membuang waktu lebih lama, mereka langsung menuju rumah sakit tempat Sherly semula melakukan pengobatan rutinnya. Setelah turun dari mobil, mereka menuju resepsionis dan dari sana mereka dituntun untuk pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Setelah dipastikan kalau tekanan darah Sherly normal, Sherly pun diminta untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus pasien.


Lalu kemudian, Sherly di dorong menuju ruang perawatannya sembari menunggu dokter spesialis bedahnya datang.


"Bang Ta, deg-degan" ucap Sherly seraya menggenggam erat jemari suaminya yang senantiasa selalu berada disampingnya itu.


"Tenang, kamu dzikir aja terus. Atau kalo mau tidur dulu juga gak papa, nanti kalo ada susternya aku bangunin" timpal Zapata.


"Mana bisa tidur, orang lagi panik juga"


"Makanya aku suruh dzikir" ucap Zapata seraya tangannya mengusap kening sang istri.


"Mama udah kamu kasih tau belum kalo sekarang kita udah di rumah sakit?" tanya Sherly.


"Udah kok, dia bilang bakal kesini sama papa juga. Terus mama papa aku juga bakal nyusul kesini, papa sempetin gak ke kampus demi menantu kesayangannya"


Sherly mengangguk paham. Ia kemudian memejamkan mata sembari menenangkan degup jantungnya yang tak beraturan.


"Bang Ta"


"Iya sayang"


"Ini kali pertama aku operasi, semoga jadi operasi pertama dan terakhir aku, ya!?"


"Amin sayang. Dulu mama lahirin aku operasi, Yank"


"Terus, sakit gak?" tanya Sherly yang kini sudah kembali membuka matanya.

__ADS_1


"Duh, kayanya aku salah ngomong. Harusnya nenangin kamu" jawab Zapata dengan senyum meringis.


"Emmm, sakit ya?" tanya Sherly lagi.


"Katanya sih gitu. Makanya dulu tiap aku nakal selalu di ungkit-ungkit cara dia ngelahirin aku" ujar Zapata sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kaya gimana sakitnya?"


"Yank, gak papa nih aku cerita? Nanti kamu malah ga jadi operasi"


"Udah terlanjur disini juga, gak mungkin minta pulang lagi 'kan?" sungut Sherly.


"Hehe. Jadi, mama cerita. Pertamanya tuh disuntik di punggung. Eh kamu tau gak? Zaman dulu tuh operasinya sambil bugil lho, papa aja sampe c*kurin jemb*t mama sebelum operasi"


"Ihhh, kamu jangan cerita yang kaya gitu. Aku kan jadi kebayang mama sama papa"


"Eh tapi Yank, punya kamu gak perlu di c*kur ya?"


Mendadak pasangan suami istri itu berpikir sejenak.


"****r dulu aja kali ya? Daripada di c*kurin sama susternya" ucap Zapata.


Ia pun telaten membersihkan bu*u kemal*an istrinya. Tepat setelah semuanya terpangkas dengan rapi, pintu ruang rawat Sherly dibuka. Buru-buru Zapata membetulkan pakaian Sherly dan membuang bu*u-b*lu ke tempat sampah agar tidak ketahuan.


"Selamat pagi Ibu Sherly. Saya kesini ingin memberitahukan kalau Dokter bedahnya sudah datang. Beliau sudah menunggu di ruang tindakan. Apa Bu Sherly sudah siap?" tanya salah satu suster dari tiga suster tersebut.


Sherly hanya mengangguk pasrah.


Lain halnya dengan sang suami yang nyeletuk, "Siap gak siap lah Sus, mau gimana lagi. Mau mundur juga udah keburu ngabarin keluarga"


Sherly mencebikkan bibirnya sedangkan tiga suster yang menjemputnya tersenyum geli.Sherlypun dibawa oleh 3 suster itu menuju ruang operasi. Sampai diruang operasi ia sempat diajak bercanda oleh dokter yang ada disana ternyata hal itu untuk mengalihkan konsentrasi Sherly. Karena dengan di ajak bercanda, Sherly akan tanpa sadar sudah di suntik anastesi. Sehingga operasi pun bisa dimulai.


Operasi berjalan kurang lebih dua jam, sebab termasuk kategori operasi besar dan bius total juga. Zapata, kedua orangtuanya, dan mertuanya bersama-sama menunggui Sherly diruang rawat. Kadang sesekali Zapata pergi ngecek ke depan ruang operasi. Operasi tidak terlalu lama namun bagi Zapata itu sudah sangat lama. Dirasa operasinya masih lama ia pun kembali bergabung dengan yang lain. Di depan ruang operasi itu sendiri tidak ada kursi tunggu, sehingga ia harus tahan-tahan berdiri untuk mengetahui kondisi sang istri yang nyatanya belum juga keluar.


Zapata untuk yang kelima kalinya mengunjungi ruang operasi. Tepat saat itu pula pintu ruangan operasi terbuka. Beberapa suster keluar dengan muka lega.


"Bapak suami pasien?" tanyanya pada Zapata.


"Iya mbak" jawab Zapata.

__ADS_1


"Pasien sudah selesai operasi, sebentar lagi akan dibawa ke ruang rawat. Tapi kondisi pasian belum sadarkan diri dari efek anastesi" ucapnya cepat lalu pergi dari hadapan Zapata.


Sekian menit menunggu, nampaklah tanda kalau brankar Sherly akan di bawa keluar. Dengan langkah cepat, para suster yang tadi membawa Sherly kembali ke ruang rawatnya lengkap dengan tiang infusnya.


"Keluarga di mohon untuk tidak berisik ya, agar pasien bisa istirahat dengan nyaman" ucap salah seorang suster sebelum meninggalkan ruangan.


30 menit setelah operasi, barulah Sherly menunjukkan tanda-tanda bahwa kesadarannya mulai kembali. Sesekali ia meringis, barangkali efek biusnya perlahan-lahan mulai menghilang sehingga rasa sakit akibat operasi mulai terasa sedikit demi sedikit.


"Yank" panggil Zapata pelan di telinga Sherly yang meringis namun tak kunjung membuka mata itu.


"Ta, biarin aja dulu" tegur mama mertuanya.


"Tapi Sherly kesakitan Ma"


"Dia mungkin masih belum bisa dengar kamu"


Zapata dengan setia duduk di sisi Sherly, menunggui istrinya itu membuka mata. Sampai jam makan siang tiba, Zapata yang tengah menikmati makan siangnya mendengar Sherly bergumam.


"Yank, kamu udah bangun" ucap Zapata setelah meletakkan makanannya di meja lalu berjalan menghampiri Sherly.


"Ha-us" ujar Sherly.


Zapata pun dengan hati-hati memberikan minum air mineral menggunakan sedotan ke mulut Sherly.


Setelah minum, Sherly seakan baru mendapatkan kekuatan untuk membuka matanya. Ia samar-samar dapat melihat wajah suaminya yang sudah kusut dengan rambut yang acak-acakan.


"Bang-Ta" panggil Sherly dengan suara parau.


"Iya Sayang, aku disini"


"Sa-kit" keluh Sherly tanpa bergerak sedikitpun.


"Yang mana yang sakit, Sayang?"


"Perut aku"


"Yank, itu karena efek biusnya udah ilang. Aku bantu kipasin ya biar gak terlalu sakit lagi"


"Ya" jawab Sherly lemah.

__ADS_1


Zapata mengipasi bagian atas perut Sherly tanpa membuka pakaian dan selimut istrinya. Karena Zapata sendiri juga tak cukup berani melihat bekas operasi apalagi yang masih baru. Dipikirannya, takut masih ada bekas darah-darahnya.


__ADS_2