
Sehari sebelum akad nikah, Zapata masih menyempatkan waktu beraktifitas seperti biasa. Jam setengah 9 sampai di kantor, bekerja sampai sore, lalu pulang kerumah orangtuanya.
"Zap, gak mampir hotel? Gak mau cek-cek dulu apa? Nanti ada yang keteteran" ujar mamanya.
"Udah ma, tenang aja. Semua pasti beres"
Zapata pun naik ke kamarnya. Ia segera menghubungi sang asisten yang ia beri jatah libur kerja namun di alih tugaskan untuk memantau persiapan pernikahannya.
"Nasib, jadi babu. Diri sendiri belum nikah udah ngurusin pernikahan orang" gerutu Eko di aula mewah gedung hotel.
Tak berapa lama kemudian muncullah Bibin bersama Nanda ke aula tersebut.
"Gimana, Ko? Ada masalah?" tanya Bibin.
"Banyak. Si bos nelpon terus nanya ini nanya itu. Emangnya gue bisa terbang-terbang kesana kemari nurutin kehendak dia"
"Itung-itung lagi latihan buat nikahan lu besok" ujar Bibin.
"Nikahan gue aja masih entah kapan. Ya udah ya, gue mau ke ruangan manager dulu. Ada urusan dikit" ucap Eko. Tentu saja untuk menuruti perintah Zapata.
Bibin dan Nanda pun duduk-duduk sembari memperhatikan pihak WO (Wedding Organizer)nya mendekor dan menata meja kursi di aula tersebut. Keduanya berada di sana bukan tanpa tujuan, melainkan mereka memiliki ide untuk memberi kejutan spesial untuk calon pengantin baru itu.
Jadi Bibin, Nanda, Rama, dan juga Aidil ingin memberi kejutan spesial untuk Zapata dan Sherly. Sebagai bentuk rasa syukur mereka akhirnya Zapata nikah juga. Hanya saja yang bisa datang cuma Bibin dan Nanda. Sedangkan Rama tentu sangatlah sibuk, Aidil juga tengah berada di luar kota dan baru akan sampai ke Jakarta nanti malam.
Zapata dan Bibin pun menemui pemilik WO tersebut dan menyampaikan ide mereka. Sebab yang bisa mengatur bagaimana bisa berjalannya rencana mereka tentu hanya pihak WO karena mereka yang tahu cara mendekor dan lain-lain.
Setelah ide selesai disampaikan, mereka pun langsung pulang.
◇◇◇
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sherly dan keluarga besar bergegas iring-iringan menuju hotel tempat akan dilangsungkannya prosesi akad dan resepsi. Akad nikah akan dilaksanakan pukul 2 siang nanti. Lalu malamnya langsung dilanjutkan dengan acara resepsi.
__ADS_1
Sherly masuk ke sebuah kamar yang telah disediakan. Kamar yang cukup besar namun bukanlah kamar pengantinnya. Sebab kamar pengantin belum boleh dimasuki siapapun karena masih tahap di dekorasi.
Karena acara akad sebenarnya masih lama, Sherly pun masih berkesempatan untuk rebahan dan melanjutkan tidurnya. Dari kemarin malam rumahnya rame, itu membuat Sherly tak bisa tidur dengan nyenyak.
Jam 11 siang, Sherly dibangunkan agar segera mandi dan bersiap-siap. MUA (Make Up Artist) yang sudah akrab karena pernah menghias Sherly saat lomba nari pun juga sudah datang. Sherly pun segera ke kamar mandi membersihkan diri.
Pukul 12 siang, ia sudah duduk di depan cermin. Wajahnya di otak-otik sedemikian rupa hingga membuat wajah Sherly menjadi lebih cantik dan menawan. Membuat pangling siapapun yang melihatnya.
Kerabat dari kedua belah pihak nampak sudah memenuhi aula. Zapata dan Sherly seharian itu tidak saling memberi kabar karena sibuk dengan keluarga dan persiapan masing-masing.
Penghulu dan petugas KUA (Kantor Urusan Agama) juga sudah datang. Beliau duduk di meja akad yang telah disediakan. Kemudian disusul Zapata yang duduk dengan tegap sembari menghapal kalimat ijab kabul yang mendadak hari ini jadi lupa-lupa ingat.
Nanda datang kemudian duduk berhadap-hadapan dengan Zapata. Suasana mendadak jadi lebih khidmat kala pak penghulu menyatukan jabat tangan mereka di atas meja akad.
"Zapata Rismandanu, aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik kandungku yang bernama Sherly Shabrina Khansa Binti Lukman, dengan mahar seperangkat alat sholat dan mobil senilai tiga milyar rupiah, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Sherly Shabrina Khansa Binti Lukman dengan mahar seperangkat alat sholat dan mobil senilai tiga milyar rupiah, dibayar TUNAI!" sambut Zapata lantang dengan satu tarikan nafas.
"Sah?"
"Sah"
"Sah"
Zapata mengusap tengkuknya yang berkeringat. Ia hampir mati berdiri karena ini momen yang sangat membuatnya jantungan. Meski ia harus mengucap ijab kabul dengan menjabat tangan Nanda, sahabatnya sendiri tetap saja rasa gugup itu ada.
Sherly memasuki aula dengan di dampingin oleh Mamanya dan juga Dinda. Umar di pangkuan sang kakek terlihat menangis karena melihat bundanya berbeda. Tak biasanya Dinda berdandan ekstra, itu sebabnya anaknya sendiri sampai tak terima.
Setelah mengantarkan Sherly ke meja akad, barulah Dinda menghampiri sang anak yang malah memukulkan tangan ke muka bundanya. Nanda bahkan juga ikut menenangkan anaknya karena aula mendadak di dominasi oleh suara Umar saja.
Sherly duduk berdampingan dengan suaminya. Seluruh para hadirin dipimpin berdoa untuk kemaslahatan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah bagi Sherly dan Zapata. Usai berdoa pasangan suami istri itu di tuntun untuk menandatangani dokumen lalu di berikan buku nikah masing-masing.
__ADS_1
Usai ijab kabul selesai, pak penghulu juga terlihat sudah mau meninggalkan tempat akad, acaranya pun lanjut ke sesi yang lebih santai. Dimana seorang MC (Master of Ceremony) yang juga seorang ibu-ibu itu mulai mewawancarai pasangan suami istri baru itu. Keduanya pun tampak masih tegang, hal itu terlihat dari cara mereka memegang microphone.
"Mas Zapata, tolong di jawab dengan jujur ya!?" ujar MCnya.
Zapata ngangguk.
"Mas Zapata, sudah punya istri apa belum?"
"Belum" jawab Zapata dengan wajah tanpa dosa.
Sontak hal itu memancing gelak tawa para tamu dan keluarga. Apalagi saat Sherly terlihat menyenggol paha Zapata sebagai kode-Jadi aku gak dianggap nih?
"Eh eh udah" ralat Zapata kemudian sembari tangannya tampak menggenggam jemari Sherly yang geleng-geleng kepala dengan kelakuan Zapata.
Dan juga terdengar ucapan Zapata, "Maaf Yank".
Seluruh tamu pun menjadi terhibur dan gemas dengan pasangan baru itu. Dan MCnya pun seolah memberi ruang untuk para tamu menertawai pasangan suami istri itu. Setelah situasi mulai kondusif barulah MCnya melanjutkan misi menggoda Zapata.
"Jadi, beneran sudah punya istri ya!?"
"Sudah sudah" sahut Zapata sambil tangannya aktif meraih tangan Sherly. Walau kelakuan Zapata itu terhalang meja akad, tapi melihat gerak-gerik keduanya juga tamu pasti tahu.
"Kalau belum kita panggil lagi pak penghulunya kesini"
"Jangan jangan" jawab Zapata.
"Jangan ya, gak usah ya. Nikah cukup sekali seumur hidup aja ya"
"Iya" jawab Zapata senyum-senyum.
"Maafin suaminya ya Mbak, maklum masih berasa perjaka ting-ting" ujar MC kepada Sherly.
__ADS_1
Sherly tetap menatap lurus kedepan sembari tersenyum-senyum. Dalam hati, ada-ada aja kelakuan suami gue. Sedangkan Zapata melihat ke arah istrinya dengan wajah masih tanpa dosa. Kan Sherly jadi makin malu-malu. Apalagi sampai di ketawain seluruh tamu.
Saat acara akad dan sesi foto bersama sudah selesai, para sahabat Zapata mulai mengerumuni pasangan pengantin baru itu. Mereka mengolok-olok Zapata karena sempat menjawab belum punya istri. Sedangkan Sherly sudah merasa sangat-sangat malu. Kok bisa, gitu? Sedangkan Zapata santai, dengan wajah tanpa dosa dengan entengnya sempat bilang maaf yank terus micnya ga dijauhin. Kan, jadi makin di ketawain.