
POV Sherly
Acara makan malam tepi pantai akan segera terlaksana. Aku sedang bersiap-siap karena sebentar lagi akan di jemput oleh Bang Ta. Sembari bercermin dalam hati aku merasa yakin, disana pasti ada Puput sebab semenjak Mas Rama menjadi sorotan Puput selalu nempel terus dengan Masnya itu. Seolah pandai membaca situasi kalau dirinya akan viral lagi karena selalu kelihatan mendampingi Masnya dimana-mana.
Sampai ke tempat acara, benar dong tebakanku. Puput sudah duduk disana bersama keluarga intinya. Ada Bang Nanda juga yang datang bersama Kak Dinda, Bang Bibin, lalu ada beberapa awak media yang meliput karena mereka memang makan di ruang terbuka. Makanya wartawan pada gercep meliput aktivitas Mas Rama di malam minggu ini.
Jujur saja, walau kami makan disatu meja tapi nampaknya kami terbagi menjadi dua kubu. Kubu pertama disebut dengan golongan anti Puput. Yakni aku, Bang Ta, dan Bang Bibin. Kami ngobrol bertiga aja. Alasan aku dan Bang Ta menjauhi Puput ya karena ditusuk dari belakang. Sedangkan Bang Bibin ikut-ikutan memusuhi Puput karena dirinya merupakan sohib Bang Ta bangeett, jadi ikut merasa sakit hati saat tahu kalau Bang Ta sudah di curangi oleh perempuan itu.
Sisanya ya jadi kubu kedua. Yang gak tahu apa-apa, anggaplah gitu ya.
Saat makan malam sudah usai, aku di hampiri oleh Kak Dinda. Tiba-tiba saja ia pindah duduk di kursi yang sebelumnya di pakai Bang Ta.
"Dek, kamu ada masalah sama Puput?" tanyanya.
"Enggak" jawabku bohong.
Ia mencubit lenganku, tidak sakit. Ia memang terbiasa mencubit aku kalau aku ketahuan berbohong atau terkesan menutupi sesuatu dengan tidak mau bercerita padanya.
"Jangan bohong!" gusarnya.
"Dia tuh selingkuhan Tian. Bener kata Kakak, Tian pasti udah ada yang punya" ujarku dengan mengingatkan lagi pada apa yang pernah Kak Dinda ucapkan padaku.
"Serius?"
Kak Dinda saja terkejut apalagi aku yang memergoki mereka secara langsung.
"Iya, udahlah Kak ga usah di bahas lagi. Intinya aku mah sekarang udah b aja. Nih buktinya aku dateng 'kan kesini meskipun aku tau udah pasti ada dia"
"Iya iya, terus kamu sama Zapata?" tanya Kak Dinda.
Aku terperangah. "Heh? Aku sama Bang Ta? Kakak mau mikir macem-macem ya? Ih, orang Bang Ta cuma aku anggep sebagai abang biasa"
"Kakak kira kamu mau bales main rebut-rebutan gitu. Tian direbut Puput, kamu rebut Zapata" ujarnya.
"Kaya bocil aja Kak Kak" ujarku dengan gelengan kepala.
"Sok dewasa banget kamu" ledek Kak Dinda.
"Emang udah dewasa" sahutku.
Kak Dinda pun balik ke kursinya. Lalu Bang Ta juga kembali duduk di sampingku.
"Habis dari sini mau ngapain?" tanya Bang Ta.
"Ya pulanglah"
"Ga mau main aer dulu?" Bang Ta menunjuk ke arah pantai yang menghampar di hadapan kami.
Aku melihat ke arah pantai dan mengangguk.
"Nanti kita main disitu"
Dan setelah semua beberes mau pergi meninggalkan pantai, aku izin pada Bang Nanda dan Kak Dinda untuk tetap disini lebih lama karena mau main-main di pantai dulu. Mereka pun mengizinkan dan kemudian mereka pulang.
Tinggallah kami bertiga disana. Aku, Bang Ta, dan Bang Bibin. Kami berjalan menyusuri tepian pantai. Kami berjalan dengan menenteng alas kaki masing-masing. Dinginnya air yang menerpa kaki jadi keseruan tersendiri.
__ADS_1
"Main lomba lari yok" ajakku.
"Ayo!" seru mereka.
Dengan tidak adil, mereka berlari meninggalkanku lebih dulu.
Aku yang ngajak, aku yang ditinggal.
Niat awalnya lomba lari biasa, tapi ujung-ujungnya malah tangkap-tangkapan. Kami tertawa puas karena selalu ada saja hal-hal yang diluar perkiraan.
Mulai dari terduduk di pasir sampe celana basah, terus celetukan Bang Bibin yang mau beli kolor sebelum pulang. Ah, pokonya malam itu kami puas tertawa sampai lupa sudah umur berapa dua orang yang aku ajak lelarian ini.
Sewaktu pulang, kami bersihin kaki dulu sebelum pakek sendal. Karena kondisi kaki basah membuat pasir-pasir nempel dengan setia.
"Awas ya, mobil gue jangan sampe kotor. Yang celananya basah jangan duduk.
Mampus gak tuh? Disaat kita nebeng sama orang yang kelakuannya kek Bang Ta, Ta, Ta, Ta, Tai.
Bang Ta kemudian masuk ke mobil. Aku dan Bang Bibin curiga bakal ditinggalin. Eh ternyata enggak dong, dia tidak seburuk itu.
Ya tapi...
"Bediri lu Bin, kan basah. Ah elah" dia terus mengomel sepanjang perjalanan karena jok mobilnya ikutan basah dan ditambah juga berserakan pasir-pasir di karpet mobil.
Lain halnya dengan aku yang duduk di belakang, tertawa ngakak karena menertawai nasib Bang Bibin yang kaya lagi diomelin emak-emak. Sedangkan aku aman duduk di belakang. Tidak kelihatan sama Bang Ta.
"Lu boleh duduk, giliran gue gak boleh" sahut Bang Bibin.
Mereka memang selalu ribut.
"Pelit banget lu. Ya udah, gue pindah belakang aja"
Bang Bibin udah mulai mau pindah ke samping aku.
"Lu jangan pindah, nambah kotor aja yang ada. Udah disitu aja diem" ucap Bang Ta.
Akhirnya Bang Bibin ga jadi pindah, aku ketawa-tawa.
"Gue disini lu omelin terus. Ya pindah aja"
"Kalo lu pindah, nambah-nambahin jok kotor"
"Si Sherly anteng bener di belakang" ujar Bang Bibin.
Ah akhirnya aku kena semprot juga.
"Sher, kamu duduk?" tanya Bang Ta.
"Nggak, jongkok" jawabku.
"Nggak nggak, dia duduk" sahut Bang Bibin ngomporin.
Aku pun akhirnya beneran mengubah posisi jadi jongkok, tapi lupa buka sendal. Terus gak lama, Bang Ta ngeliat ke belakang.
"Itu sendal, astagaaaaa"
__ADS_1
"Ih maap-maap lupa"
"Besok kalian berdua kerumah, cuci nih mobil. Gak ada yang beres kelakuannya"
Aku dan Bibin tertawa ngakak, bikin Bang Ta emosi kenapa jadi malah bikin kita sebahagia ini. Tapi aku dan Bang Bibin setuju, kami besok akan mencuci mobilnya. Hihihi
▪▪▪
Keesokan harinya
Aku sudah sampai dirumah Bang Ta, tapi Bang Bibin belom ada. Kukirimi chat sampe sepanjang jalan kenangan masih belom di baca juga.
Eh gak lama kemudian, nongol tuh Bang Bibinnya. Terus kami sengaja mau bikin Bang Ta lebih kesal lagi. Secara, kita berdua yang mau cuci mobil tapi si tuan rumahnya aja gak ada, lagi pergi keluar. Untung aja nih para ARTnya dah pada hapal sama kita berdua, jadi gak di usir malah di kasih makanan yang enak-enak. Jadi kenyang, tapi kita tetap bergerak dong. Bergerak untuk mencuci mobil Bang Ta.
Jadi, semalam itu kami ngotorin mobil Mercinya Bang Ta yang warna abu-abu. Tapikan kita berdua orangnya rese' ya, ditambah lagi tuan rumah juga gak terlalu baik hatinya dan lagi ga ada juga jadi kita bisa berbuat semaunya.
"Oke Bang Bibin, mari kita cuci mobil Audy yang itu aja"
Bang Bibin setuju, akupun mengeluarkan mobil Audy untuk di bawa ketempat pencucian mobil di belakang garasi.
Ya, kami akhirnya mencuci mobil Bang Ta yang lain wkwkwkw. Gak kotor lagi, jadi bersihinnya enak. Ga perlu tenaga ekstra.
Setelah cuci mobil selesai, kami duduk sebentar buat rehat sambil ngunyah-ngunyah. Terus baru pamit pulang sama ARTnya.
POV Sherly end.
•••
POV Zapata
Sore setelah aku silaturahmi ke rumah Aidil, aku pulang kerumah dalam keadaan sudah lelah pastinya. Lalu kemudian pas sampai rumah aku merasa heran, karena tumben sekali ada makanan enak. Biasanya pada nanya dulu minta dibikinin apa.
"Bi, kok tumben ya? Biasanya saya pulang juga kadang cuma ditawarin kopi doang"
"Tadi Mas Bibin sama Mbak Sherly kesini, Mas. Mau cuci mobil katanya" jawab Bibi.
Oh iya, aku lupa sudah nyuruh mereka untuk cuci mobil hari ini.
Aku pun pergi menuju garasi, untuk ngecek sudah seberapa bersih mereka cuci mobil. Kalau perfect bisa undang lagi.
Sesampainya di garasi, dua mobilku tidak ada ditempat. Audy dan Mercy yang di pakek semalam.
Giliran kucari di tempat pencucian mobil di bagian belakang garasi, ternyata Audynya disana dan Mercynya juga masih disana.
Tapi...
Kok gak berubah? Kulihat Mercyku masih begitu-gitu saja. Malah Audy yang kelihatan makin kinclong.
"Gak benar ini"
Zapata
Yang cuciin mobil gue, gue santet😈😈😈😈
Kukirim itu ke Bibin dan Sherly. Disuruh cuci yang mana malah yang lain yang di cuci.
__ADS_1