
POV Zapata
"Ko, bisa kamu percepat pembuatan gedung disebelah? Saya sudah tidak sabar mau kasih kejutan ini untuk calon istri saya"
"Tapi Pak, gedung itu baru di bangun satu minggu. Masih banyak yang perlu di atur lagi. Pemilihan furniture, pemilihan cat, elektronik apa saja yang mau di pasang juga belum bapak sampaikan ke saya"
"Untuk warna, kamu pilih yang warm saja. Mint boleh, atau cream. Furniture harus yang eksklusif. Lemari atau loker, terus mini bar, terus saya mau ada mesin kopi lengkap sama lemari pendingin, AC jangan pelit-pelit, saya percayakan ke kamu. Sound system harus yang paling bagus. Dan dinding full kaca 2 sisi. Ingat, pemandangan diluar harus bisa dilihat dari dalam biar ada kesan estetiknya" ujar Zapata. Lalu ia berpikir sejenak dan melanjutkan, "Saya mau ada jembatang penghubung dari gedung itu ke kantor ini. Agar saya bisa dengan mudah menemui calon istri saya"
"Iya Pak"
Sejak pergi ke villa kemarin, aku dan Puput jadi sering ngobrol tentang keinginan kami berdua. Termasuk perihal cita-cita Puput yang saat ini kepengin punya sanggar senam sendiri atau juga sanggar tari. Zapata memang tahu betul kalau kekasihnya itu pribadi yang tidak bisa diam. Bahkan saat DanTe hiatus, ia mengatakan kalau dirinya sangat stres.
Oleh sebab itu sebelum kepergianku ke Belanda, aku sudah sempat menghubungi rekan kerjaku yang memang ahli dalam pembangunan gedung teater atau sejenisnya. Tapi, karena beliau masih memiliki proyek diluar kota alhasil proyek pesananku ini tertunda. Baru dikerjakan seminggu yang lalu.
Aku sudah bisa membayangkan betapa bahagianya Puput saat nanti gedung itu sudah jadi dan Puput menerima bukti kepemilikan bangunan itu atas nama dirinya sendiri, detik itu juga aku merasa sangat puas. Karena bisa memenuhi keinginannya. Tidak ada yang berharga menurutku selain dirinya. Aku bisa bahagia, kalau melihat dirinya bahagia.
POV Zapata end
(()))(())
Berbeda dengan Puput yang punya kegiatan selain ngampus. Justru Sherly merasa dirinya tidak punya keahlian apapun. Ia belajar masak dirumah, tapi selalu bergantung dengan mood. Kalau tidak mood ya tidak masak.
Ia sampai mencoba segala kegiatan diluar rumah yang menurutnya cocok untuk ia tekuni. Memang sesekali ia ikut Puput Zumba, tapi karena tempatnya jauh dari rumah Sherly pun jadi tidak rutin menjalaninya.
Hingga lama kelamaan ia jadi penonton setia acara televisi dirumah. Kadang mengikuti tontonan mamanya, kadang pula mengikuti tontonan papanya. Sherly suka menonton acara debat politik. Papa menawarinya untuk ngambil ilmu politik lagi saja setelah lulus kuliah nanti.
Tapi Sherly menolak. Karena dirinya kini sudah bosan belajar. Lagipula, di universitas sistemnya belajar atau tidak nilainya sama saja. Beda dengan zaman ia sekolah dulu.
__ADS_1
Sampai di semester 3, ia ditawari salah satu temannya untuk bergabung menjadi anggota BEM, alias Badan Eksekutif Mahasiswa. Tanpa berpikir dua kali, Sherly menyetujuinya.
Singkat cerita, hari itu adalah rapat koordinasi pertama yang Sherly hadiri. Ia pun bertegur sapa dengan beberapa anggota BEM dari angkatan yang berbeda.
Saat rapat koordinasi sudah mau dimulai, masuklah ketua BEM yang menjabat kala itu. Disusul beberapa rekannya dan ada pula Tian dibelakangnya.
Sherly terkejut. Mengapa kemana-mana selalu bertemu Tian. Ia masuk BEM pun sebenarnya juga pelarian untuk melupakan Tian. Tapi justru dia bergabung dalam satu organisasi yang sama dengan Tian.
Saat Tian masuk, Sherly menundukkan wajahnya. Ia tak mau Tian tahu kalau dirinya juga menjadi anggota disana. Sepanjang rapat koordinasi, sesekali Sherly memperhatikan Tian yang berbicara tentang Tugas Pokok dan Fungsi dari organisasi ini. Barulah disitu Sherly tahu kalau ternyata Tian bagian penting dari organisasi ini. Banyak mahasiswi di deretan Sherly berbisik-bisik memuji Tian. Karena selain tampan Tian juga punya sisi kepemimpinan dalam dirinya. Karena Tian bisa dengan lugas bernarasi di depan mereka.
Hari demi hari yang Sherly jalani, ia mulai menyadari ternyata menjadi anggota BEM tak seindah yang dibayangkan. Seringnya rapat dan harus turun lapangan saat ada kisruh politik di negeri ini. Baru satu bulan jadi anggota BEM saja Sherly bahkan sudah 2 kali ikut demo turun ke jalan bersama perwakilan kampus lain dari seluruh Indonesia. Demo perihal rancangan Undang-Undang yang menuai terlalu banyak kontra dari seluruh lapisan masyarakat ataupun demo meminta keadilan atas ketidak-adilan di negeri ini.
Apapun kegiatannya, selalu saja menempatkan Sherly di situasi yang tidak nyaman. Kala rapat dalam ruangan ia bertemu Tian, saat demo turun ke jalan pun seringnya ia tak sadar bahwa sedang berjalan beriringan. Kadang merasa seolah Tian seperti menjaganya, tapi Sherly tidak mau cepat-cepat mengambil kesimpulan. Ia takut dibilang ke-GR-an.
Tapi seringnya bertemu dengan Tian membuat Sherly jadi susah move on. Sherly kini malah berani terang-terangan memperhatikan Tian. Tapi Tian tetap tidak peduli. Ia bersikap acuh, seolah tidak menyadari padahal Sherly yakin kalau Tian pasti sadar sedang diperhatikan olehnya.
POV Zapata
Gedung setinggi 4 lantai yang aku bangun di samping perusahaanku, khusus untuk mengabulkan keinginan Puput itu kini sudah rampung dikerjakan. Semua yang aku pesankan pada Eko sudah sepenuhnya sesuai permintaanku. Sertifikat kepemilikan bangunan juga sudah disiapkan pengacara pribadiku menjadi atas nama Puput.
Saat Puput hendak pulang kampus, diparkiran ia terkejut melihat aku yang sudah bersender di mobilnya dengan senyum tipis menyambut kedatangannya. Puput kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Lalu Sherly datang merangkulnya.
"Cie, tumben nih dijemput Ayang" goda Sherly.
"Kamu kok ga bilang aku kalo mau kesini?" tanya Puput tanpa menjawab ucapan Sherly.
"Biar surprise. Yuk, ikut aku!" Aku pun berjalan dan membuka pintu mobilku. Mempersilahkan Puput untuk masuk.
__ADS_1
"Mobil aku?" tanya Puput.
"Biar Sherly yang bawa" ujarku. Karena aku memang sudah kompromi terlebih dahulu dengan Sherly.
Sherly pun menerima uluran kunci mobil Puput. Puput lalu masuk ke mobilku dan kami pergi menuju gedung yang sudah aku rancang untuknya. Khusus untuknya.
"Kita mau kemana sih?" tanya Puput.
"Ini, kamu tutup mata dulu. Ada sesuatu yang udah aku siapin lama buat kamu"
"Aku jadi deg-degan. Kejutan apa sih?" tanya Puput sembari tetap menuruti ucapanku untuk menutup matanya dengan scarf yang sudah aku siapkan.
Sampai ditikungan terakhir sebelum gedung, aku memperlambat laju kendaraanku. Membuat Puput semakin penasaran aku membawanya kemana.
"Bentar ya, parkir dulu" ujarku.
Setelah mobil berhenti, aku turun lalu membantu Puput turun dari mobil dan menuntunnya menuju masuk ke dalam gedung yang masih berada dalam 1 kawasan dengan induk perusahaanku. Kami naik lift dan saat kami sudah berada di studio gedung yang berada di lantai 4 berdinding kaca, aku memilih untuk mengajak Puput berdiri tepat depan kaca bening itu.
"Aku akan buka penutup mata kamu. Saat kamu buka mata nanti, pasti kamu bakalan takjub sama apa yang kamu lihat"
Aku membuka penutup mata Puput. Ia pun dengan perlahan membuka matanya. Puput mengerutkan kening, melihat sekeliling, dan kemudian melihat kearahku.
"Ini dimana?"
"Ini, kita lagi berada di studio atau sanggar atau apalah itu. Tempat kamu bisa senam, nari, salto, jungkir balik sesuka hati kamu. Ini bukti kalo kamu sama aku, kamu tinggal minta apa aja pasti aku kasih" ujarku lalu menciumi puncak kepalanya. "Asem" ledekku mengomentari rambutnya.
Puput tersungut sebal. Tapi aku langsung mengajaknya untuk berkeliling melihat fasilitas apa saja yang telah aku sediakan disana.
__ADS_1
POV Zapata end