Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Parah


__ADS_3

Hari itu, Sherly sangat kelelahan. Ia punya jadwal kuliah yang full karena ada satu dosen yang meminta jadwal kuliah di ubah. Dan setelah perkuliahan terakhir, ia harus ke ruang senat karena ada rapat internal.


Seperti biasa, sepanjang rapat Sherly sering memperhatikan Tian. Walau Tian masih buang muka terhadapnya, tapi Sherly masih saja menaruh harapan besar pada lelaki itu.


Hingga saat hari sudah hampir maghrib, Sherly pun selesai rapat. Sebagai anggota perempuan, biasanya pulang paling belakangan karena harus membereskan sisa-sisa rapat. Entah itu menyusun meja ataupun membuangkan sampah.


Saat ruangan sudah kembali rapi dan bersih, Sherly pun bergegas pulang. Ia turun meggunakan lift bersama anggota yang lain. Sayangnya, mereka turun di lantai yang berbeda.


Saat lift berhenti di lantai 3, kedua temannya pun keluar. Mereka sempat berpamitan pada Sherly. Dan berbarengan dengan itu, ada pula gerombolan mahasiswi yang berjalan di depan lift yang Sherly gunakan. Terdengar perbincangan sekilas ditelinga Sherly.


"Couple goals banget Bang Tian sama Kak Puput" ujar salah satu dari mereka.


Pintu lift semakin tertutup, gerombolan mahasiswi itu juga sudah menjauh. Sherly memastikan dirinya, apakah yang ia dengar tadi salah?


Mengapa dua nama yang terdengar tadi adalah nama-nama orang yang ia kenal. Sherly bersandar ke dinding lift. Ia masih mencoba sekuat tenaga menampik sebuah dugaan yang muncul di kepalanya.


Tak lama, pintu lift pun terbuka di lantai dasar. Sherly berjalan gontai keluar dari sana. Ia hari ini memang sudah kehabisan energi, ditambah lagi mendengar sebuah kabar yang tidak mengenakkan hatinya.


Entah ada angin apa yang menyuruh Sherly untuk pergi ke rumah Puput senja itu. Seperti orang yang tak terkendali, Sherly membawa mobil dengan kecepatan penuh. Jalanan yang macet seolah memberi aba-aba pada hati Sherly untuk bersiap-siap akan sesuatu yang mungkin lebih parah dari ini.


Sherly sampai dirumah Puput. Salah, bukan dirumah Puput melainkan di tepi jalan yang tak jauh dari depan rumah Puput. Ia berhenti agak jauh karena matanya sudah melihat dengan jelas kalau di depan rumah itu sedang terparkir mobil Tian.


Sherly tersenyum, tapi sejurus kemudian ia menangis tertahan. Firasatnya mengatakan ia sudah di duakan. Sherly menenggelamkan wajahnya di setir.


Sebegitu rindunya Tian pada Puput, sempat-sempatin mampir kerumah Puput saat sudah hampir maghrib begini. Ia ingat betul, dulu dirinya sering dibuat mengemis perhatian pada Tian. Untuk sekedar memintanya jemput kerumah saja Tian banyak alasan. Mungkin inilah sebabnya.


Sherly masih menunggu Tian keluar dari rumah itu. Tapi, saat adzan maghrib sudah berkumandang Tian masih belum muncul juga. Lama-kelamaan Sherly bosan menunggu. Ia pun beranjak dari sana, bukan pulang kerumah melainkan berniat numpang sholat dirumah Puput. Agar dirinya memiliki alasan yang logis. Padahal tepatnya Sherly sudah tidak sabar untuk melihat wajah dua orang itu.


Tok tok tok

__ADS_1


Sherly berdiri membelakangi pintu. Sembari menghubungi orangtuanya kalau dirinya baru saja pulang dari kampus dan mampir kerumah Puput.


Asisten rumah tangga Puput sudah berdiri membuka pintu. Saat Sherly sudah selesai dengan panggilan teleponnya ia pun dipersilahkan masuk.


"Puput mana, Bi?"


"Saya juga ga tau, mbak. Mungkin dikamarnya"


Sherly heran dengan jawaban itu. Bukannya disini lagi ada Tian? Kok Puput malah dikamar.


"Bi, kok sepi. Tante sama yang lain pada kemana?"


"Lagi pergi kerumah orang tua Mbak Feza, Mbak. Mbak Sherly mau minum apa?"


"Ga usah Bi, aku ke kamar Puput aja langsung mau numpang sholat" ujar Sherly lalu pergi meninggalkan bibi diruang tamu. Ia segera berjalan menuju kamar Sherly yang terletak di dekat tangga utama.


Sherly menempelkan telinga, menajamkan indera pendengarannya. Samar-samar terdengar Puput sedang tertawa. Entah apa yang ia tertawakan. Tapi setelah tertawa, tiba-tiba di dalam kamar itu hening.


Sherly tidak dapat mendengar suara apa-apa lagi. Dengan sengaja ia membuka pintu itu cepat agar bisa melihat apa yang terjadi di dalam kamar.


"Surprise!" pekik Sherly agar kehadiran dirinya seolah memang ingin memberi kejutan pada Puput. Namun nyatanya, dirinyalah yang dibuat terkejut.


Pemandangan di dalam kamar membuat Sherly tertegun. Ada rasa benci sekaligus jijik pada dua orang dihadapannya itu.


Terlihat Puput duduk disamping Tian dengan kondisi kancing blousenya yang terbuka. Dan wajah Tian tepat di depan dada Puput.


Karena pintu dibuka cepat oleh Sherly, dia jadi bisa melihat apa yang Tian lakukan. Dan tak berapa lama, Tian pun menarik wajahnya dari depan dada Puput karena menyadari perbuatan sedang dipergoki. Sherly mengepal kuat. Ingin rasanya memaki sahabatnya itu.


Sherly berbalik. Tian mengejarnya. Saat Tian berhasil menangkap pergelangan tangannya, dengan cepat pula Sherly menghempaskannya.

__ADS_1


Sampai didepan rumah, Tian berlutut dihadapan Sherly. "Sher, maafin aku Sher".


Sherly melewati Tian begitu saja. Tapi Tian justru memeluk kakinya dengan sangat erat. Hingga Sherly tak mampu berjalan.


"Sher, ampun Sher. Jangan benci sama aku. Maafin aku Sher" Itu terus yang keluar dari mulut Tian.


"Kenapa minta maaf? Terserah aja kamu mau berbuat apa, kan kita udah putus!?" ujar Sherly.


Mulut Tian terbungkam. Ia juga baru sadar mengapa dirinya mengejar-ngejar Sherly.


"Kenapa? Karena sadar kalo kalian memang udah nusuk aku dari belakang?"


Tian melepas pelukannya pada kaki Sherly. Tanpa mau berdiri, ia justru kini mengatupkan kedua tangannya. "Sher, maafin aku. Aku sekarang sadar kalo udah keterlaluan sama kamu. Tolong jangan benci aku, Sher. Rasa aku buat kamu itu masih ada, aku cuma bosan dengan situasi hubungan kita yang gitu-gitu aja"


Puput berdiri depan pintu mendengar ucapan Tian. Ia sakit hati pada Tian namun tak berani mendekat karena ada Sherly.


"Tidak aku maafkan" Sherly berkata demikian sembari menatap ke arah Puput. Dimana Puput juga sedang manatap kearahnya. Seolah tak punya rasa bersalah.


Sherly beranjak dari sana. Di perjalanan, ia terus merutuki dirinya yang terlalu bodoh mencintai Tian.


Benar kata Kak Dinda, barangkali Tian sudah ada yang punya. Huh, bahkan sebelum mereka putus pun Tian sudah ada pengganti dirinya.


Yang membuat Sherly makin tidak menyangka, bagaimana bisa kalau selingkuhan Tian itu adalah Puput. Sedangkan Puput merupakan calon istri Zapata. Dan apakah Zapata sudah tahu?


●●●


Setelah kejadian memergoki Puput dan Tian kemarin, Sherly kini tidak pernah lagi curi-curi pandang pada Tian. Malah dirinya menjadi sangat tidak peduli pada Tian. Dan hal itu berbanding terbalik dengan sikap Tian yang justru selalu memperhatikan Sherly.


Sherly tidak menghiraukan Tian sekalipun, biar Tian tahu bagaimana rasanya ada tapi tak di anggap. Sedangkan hubungan Sherly dengan Puput, mereka seolah tak saling kenal. Persis seperti orang yang belum pernah saling mengenal. Sherly justru kini berteman akrab dengan Mia. Mia yang merupakan mantannya Tian.

__ADS_1


__ADS_2