
Kedua mata Sherly terbelalak ketika mendengar suara Zapata yang menyebut namanya. Ia menggelengkan kepala karena sadar kalau saat ini ia tengah berhalusinasi. Tak mungkin orang yang telah tiada masih bisa memanggil namanya.
Zapata yang diabaikan pun berjalan ke sisi Sherly. Ia berdiri dengan raut wajah yang tampak lelah, lesu, dan matanya yang sayu. Gadis di hadapannya itu tampak syok melihat Zapata berdiri di dekatnya. Lalu, tak peduli rasa takut Sherly berdiri dan mendorong dada Zapata sampai menghantam dinding di belakangnya.
Awww, ringis Zapata dalam hati.
"BANG TA, KENAPA MENYERAH? KENAPA GA PERNAH TEMUIN AKU LAGI? AKU EMANG MARAH SAMA BANG TA YANG KELAKUANNYA KEK TAI WAKTU ITU. TAPI AKU CUMA MARAH, AKU CUMA MINTA BANG TA PERGI TAPI BUKAN SELAMANYA KAYA GINI. BANG TA JANGAN MATI DULU, AKU MASIH MAU MAAFIN BANG TA GAK KAYA WAKTU ITU. AKU SAYANG BANG TA! AKU MAU BANG TA HIDUP LAGI, JANGAN PERGI KAYA GINI. TOLONG... JANGAN PERGI KAYA GINI. KALO BANG TA MASIH HIDUP, KITA BISA TEMENAN LAGI KAYA DULU" Sherly memukul-mukul dada Zapata. Sepersekian detik, dia kemudian terkejut. Ia melihat kepalan tangannya lalu memeriksa dada Zapata. Dada Zapata bisa ia sentuh. "Logikanya kalau sudah jadi hantu pasti gak bisa di sentuh lagi kan?" gumamnya pelan setelah sadar Zapata bisa ia sentuh. Tentu saja hal itu bisa dengan jelas Zapata dengar. Tubuh mereka saja hanya berjarak 15 cm.
Zapata hanya diam dan memasang wajah polos. Biar semakin menyakinkan kalau dirinya memang adalah hantu. Sherly lamat-lamat memperhatikan wajah Zapata. Di uyel-uyelnya pipi, dagu, hidung, telinga, dan semua bagian dari wajah Zapata sambil menangis haru. Sejujurnya Zapata sudah tidak kuat menahan tawa, namun ia masih ingin menikmati kelakuan Sherly yang konyol ini. Sehingga dengan susah payah ia menahan tatapan kosong dan wajah tanpa ekspresinya itu.
Sedangkan Bibi yang baru kembali dari dapur setelah membuatkan minum untuk Sherly pun terkejut. "Waduh? Bang Ta habis ngapain ya sampe bikin si Mbaknya gemes gitu"
Tapi karena tak mau ikut campur urusan majikannya, Bibi cuma menaruh air minum yang dibawanya ke atas meja dan segera kembali ke dapur. Ia bergidik ngeri melihat tamu dari majikannya itu memain-mainkan pipi, telinga, dan lain-lainnya Zapata.
Kembali pada Sherly, ia masih bingung dengan yang saat ini ia alami. Secara sadar ia bisa menyentuh Zapata yang menurutnya kini mereka sudah berada di alam yang berbeda.
"Kata Pak Ustadz, kalo bulan ramadhan setan dikurung di penjara. Tapi kenapa Bang Ta bisa lolos?" gumam Sherly yang salah satu tangannya masih setia menyentuh pipi Zapata sedangkan tangan satunya berpegangan di pundak Zapata. Ia sendiri menunduk di dada Zapata.
"Itu karena kamu denger ceramah gak sampe akhir. Makanya info yang kamu dapet cuma setengah-setengah. Abang kasih tau ya, ternyata jarak per jeruji besinya lumayan jauh. Abang kan kurus, jadi bisa lolos"
Sherly mendongak, matanya masih basah. Ia tak menyangka selain bisa disentuh ternyata Zapata juga bisa berkomunikasi dengannya. Mengetahui hal itu, malah semakin membuat hati Sherly terpukul. Tangisnya pun semakin terisak-isak. Zapata merasa sudah cukup mengerjai Sherly, ia ingin mengakhiri drama ini biar bisa memeluk Sherly. Namun belum sempat Zapata mengungkap yang sebenarnya, dering ponsel Sherly tiba-tiba berbunyi. Ia membelakangi dan sedikit menjauh dari Zapata sembari berbicara di telepon.
"Halo, Bang" ucap Sherly.
"Kamu dimana? Kok malam-malam keluar"
Pasti Nanda yang telepon, ucap Zapata dalam hati.
"Aku dirumah Bang Ta, kenapa Abang gak kesini? Bukannya jenazah Bang Ta mau di bawa kesini? Atau, dibawa kerumah orang tuanya ya?"
__ADS_1
"Oh itu, yang meninggal ternyata bukan Zapata tapi sopirnya. Dia disuruh tarawih bawa mobil biar sekalian pulangnya langsung cuci mobil"
"Apa?" gumam Sherly pelan. Hilang sudah tenaganya karena menangis terus. Lalu sekarang abangnya tiba-tiba memberitahu kalau Zapata ternyata masih hidup. Itu artinya?
"Astaga, kamu gak denger? Yang meninggal itu sopirnya. Zapata sehat-sehat aja, kan tadi abang ketemu dia dirumah sakit"
Sherly memutar tubuh, ia melihat ke arah Zapata dengan sorot mata marah. Zapata lalu tertawa puas, ia tahu saat ini pasti Sherly sudah tahu yang sebenarnya.
"Bang, aku pulang sebentar lagi. Aku mau urus masalah aku dulu" Tut. Ia mengakhiri panggilannya.
"BANG TA!" Gertaknya kesal. Lalu berjongkok dan menutup wajahnya karena malu telah menangis sejadi-jadinya di hadapan Zapata seperti tadi.
Zapata berjalan mendekati Sherly dan menuntunnya berdiri. Sherly dengan nafas yang masih naik turun, hanya bisa menggerakkan bibirnya yang membuat ekspresinya semakin kelihatan. Kelihatan kesal, marah, pengen nonjok, pengen maki-maki, semua jadi satu. Sedangkan Zapata malah tertawa dan berkata, "Kenapa? Masih mau tau gimana cara abang lolos dari penjara?"
Setelah berkata demikian, dengan santainya Zapata melewatinya dan duduk di sofa. Sherly maju dengan cepat duduk sampai sekaki-kakinya ikut naik ke sofa dan memukul-mukul tubuh Zapata. Zapata hanya diam, ia tidak mengelak sedikitpun meski dadanya mungkin sekarang sudah mulai kebiruan karena dipukulin terus.
"Abang jahat, ngerjain aku sampe air mata aku kering. Liat sekarang, gak ada yang keluar lagi" tunjuknya pada mata merahnya.
"Aku tuh peduli sama Abang, makanya buru-buru kesini. Aku mau jadi orang yang paling duluan tau tentang kabar Abang" jeritnya kesal.
"Iya-iya. Udah jangan nangis" bujuk Zapata.
"Gak mau!"
"Ya udah, nangis aja terus" titah Zapata.
"Iya, Abang jahat sama aku. Kenapa ga pernah nemuin aku lagi? Udah ga punya salah lagikah sama aku?"
Zapata menoel pipi Sherly sekaligus mengusap pipi yang basah itu.
__ADS_1
"Bukan gak mau nemuin, tapi mau kasih jeda dulu. Kalo Abang terus-terusan nemuin kamu pasti yang ada kamu makin merasa terganggu dan makin marah sama Abang. Abang kasih kamu waktu buat meredam emosi kamu dulu, setelah dirasa kamu udah baikan, baru Abang mau nemuin kamu lagi. Jangan salah paham gitu dong!?" jelas Zapata.
"Bete" rengeknya lalu mengucek-ngucek mata.
"Jangan bete-bete gitu dong!?" Zapata merebut tangan Sherly. Digenggamnya tangan gadis itu erat.
"Kamu bilang... Tadi... Kamu, sayang sama Abang, ya?"
"Nggak, aku nggak ada bilang gitu. Aku cuma bilang Abang jahat Abang jahat Abang jahat"
"Ada, Abang aja denger"
"Gak ada" elaknya lagi.
"Ya udah kalo ga mau ngaku. Nih minum dulu, biar air matanya ga kering"
Zapata menyerahkan minuman yang sudah Bibi taruh di meja kepada Sherly. Sherly pun meminumnya karena tenggorokannya memang sudah kering.
"Mas Ta, ini susunya" ujar Bibi menaruh segelas susu di dekat minuman Sherly tadi.
"Aku ga mau minum susu. Ini aja cukup" ujar Sherly pada Zapata karena dirinya tau kalau Zapata tidak suka minum susu, jadi pastilah susu itu untuk dirinya.
"Siapa bilang buat kamu" Zapata lalu meneguk segelas susu itu sampai habis tak bersisa. Sherly mengernyit penuh tanya. Sejak kapan Zapata suka minum susu?
"Pasti kamu heran kan sejak kapan Abang suka minum susu?"
Sherly mengangguk mengiyakan.
"Sejak kamu ga mau liat Abang lagi. Cuma susu yang kamu kasih waktu itu yang jadi pengingat kalo kamu tuh berarti"
__ADS_1
Sherly menghambur memeluk Zapata. Entah mengapa, mendengar perkataan Zapata barusan membuatnya bahagia dan merasa tak mau kehilangan Zapata.