Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Mulai Proses


__ADS_3

Setelah acara selesai, Zapata dan Sherly ikut berpamitan menyusul tamu-tamu yang lain. Keduanya berjalan-jalan menikmati quality time sepulangnya dari rumah Umar.


"Yank, kayanya kita udah jarang ngobrol ya sekarang" ucap Sherly saat mereka berkeliling menikmati pemandangan kota di malam hari.


"Aku kira cuma aku yang mikir gitu" ucap Zapata.


"Ya habisnya kamu kadang pulang disaat aku udah tidur. Terus paginya kita malah sibuk masing-masing. Kamu pergi kerja aja kadang aku ga tau"


"Itu karena kamu masih tidur, aku males bangunin kamu. Lagian aku ga mempermasalahkan kamu suka bangun kesiangan atau ga bisa menyiapkan segala kebutuhan aku, karena aku bisa nyiapin sendiri. Dan itu juga udah kebiasaan aku dari dulu. Kamu kan tahu, aku lajang sampe tua. Dan kamu yang menyelamatkan aku dari kepanikan usia"


"Ciee, akhirnya ngobrol juga nih kita"


"Apasih" ucap Zapata tersenyum lalu mengusap wajah istrinya.


"Orang tuh kalo mau so sweet yang diusap kepalanya bukan mukanya" protes Sherly.


"Itu kalo mau so sweet, tapi aku kan beda. Maunya yang sooo sweeeeet banget, ada bangetnya"


Sherly tertawa riang mendengar ucapan suaminya. Ia sampai gemas dan memukul suaminya sesekali.


"Ketawa tuh biasa aja, jangan mukul-mukul" tegur Zapata.


Sherly masih saja ketawa.


"Eh, simpan dulu ketawanya buat besok-besok. Jangan dihabisin semuanya"


"Yeee, emang bisa gitu"


"Kamu ga mau cari cemilan buat dimobil?" tanya Zapata.


"Ga usah, aku udah kenyang. Kamu masih laper, ya?"


"Kenyang juga sih"

__ADS_1


Sherly pun mengangguk. Terdiam sejenak lalu kemudian berkata, "Yank, waktu aku buka laci jam tangan kamu. Aku nemu obat-obatan. Kamu sakit, ya?"


"Oh, kamu udah liat, ya?"


Sherly mengangguk dengan wajah menunggu penjelasan.


"Aku gak sakit apa-apa. Itu obat dari mama sebenarnya. Dia kasih obat itu waktu aku main kesana pas pulang kerja. Kamu jangan marah ya, jangan tersinggung"


"Iyaaa". Ada sesuatu yang seolah menyentil Sherly untuk bersiap-siap mendengar kalimat selanjutnya dari Zapata.


"Itu obat kesuburan. Mama berharap kita cepat-cepat kasih cucu. Aku gak enak nolaknya, akhirnya aku terima. Tapi aku juga gak mungkin kasih ke kamu karena kamu belum siap hamil. Ya udah, aku simpan ditempat yang aman aja. Karena aku ngerasa jahat sama mama kalo buang obat itu"


Sherly diam seribu bahasa. Diamnya Sherly membuat Zapata merasa bersalah. "Yank, kamu marah, ya?" Zapata menghentikan mobilnya. Ia meraih dagu Sherly agar berhadapan dengannya.


"Yank, dengar aku. Makanya aku ga cerita perihal obat itu biar kamu gak marah, gak tersinggung sama aku ataupun sama mama. Mama sampai detik ini gak tau kalo kita mau nunda kehamilan. Aku juga sekarang udah ga mau nuntut kamu untuk hamil lagi, aku serahin semuanya ke kamu. Karena kamu yang punya rahimnya, kamu juga yang punya badan. Aku menghormati keinginan kamu. Udah ya, kita jangan berantem gara-gara masalah ini"


Sherly memejamkan matanya erat beberapa saat. Hingga sampai mata itu terbuka, bersamaan pula dengan setetes air mata yang jatuh ke pipi. Jemari Zapata dengan sigap menghapusnya.


"Yank, malam ini kita ngobrol dari hati ke hati. Tapi aku ga mau liat kamu nangis" Zapata menarik Sherly ke dalam dekapannya.


"Mau ngomong apa, sayang?" tanya Zapata lalu mengurai pelukannya.


"Aku mau hamil" ucap Sherly yakin.


Zapata tersenyum seperti biasa. "Iya, kamu memang sudah berulang kali ngomong gitu. Tapi nanti, saat udah lulus kuliah. Gitu 'kan ujungnya?" Zapata mengusap puncak kepala Sherly. "Aku akan selalu setia sama kamu, apapun yang terjadi" sambung Zapata lagi.


"Yank, kali ini beda. AKU MAU HAMIL, SEKARANG JUGA. BUKAN NUNGGU LULUS KULIAH" teriak Sherly dengan wajah berbinar.


Zapata tertegun mencerna kalimat istrinya. Saat sadar pada apa yang Sherly ucapkan, pria itu langsung menarik istrinya dan menc*mbuinya mesra.


"Jadi...." jemari lentik Sherly bermain-main di dada bidang suaminya. "Kamu beneran udah siap mau jadi ayah?" tanyanya dengan senyuman nakal.


"Udah. Kamu sendiri udah siap kalo aku mau cetak timnas sepak bola?" candanya.

__ADS_1


Sherly langsung lemes. "Gak usah banyak-banyak, kamu kira ngurus anak itu gampang?"


"Cup cup cup, gimana kalo lima tahun sekali sebelum menupause? Eh bener gak sih? Menupause apa menopause?"


"Aku juga gak tau" jawab Sherly dengan tertawa.


"Tapi, menupause atau menopause kan sekitar umur 40an ya. Berarti kalo di itung-itung kita bakal punya lima anak?"


"Heem" jawab Zapata dengan anggukan mantap.


"Banyak banget. Gak mau, Yank. Aku maunya dua sampe tiga aja. Nih gini ya, kalo kita udah dapet anak sepasang, berarti cukup dua aja. Tapi, kalo anak kita udah dua, cuman belom dapet sepasang, kita tambah lagi. Jadi tiga 'kan? Nah, kalo anak ketiga jenis kelaminnya masih sama aja kaya anak satu dan dua...-"


"Berarti nambah anak empat" sambar Zapata.


"Ishh, bukan gitu" kesal Sherly.


"Hahahah" Emmuach kecup Zapata pada pinggir bibir Sherly. "Iya iya gimana?" tanyanya pada sang istri.


"Pokonya, anak ketiga kalo jenis kelaminnya sama aja kaya anak satu dan dua. Ya udah, ga akan ada anak keempat dan seterusnya. Mentoknya batas tiga"


"Iya sayang iya. Ayo pulang, kita proses langsung, mumpung kamu belum berubah pikiran"


Keduanya pun pulang menuju rumah mereka. Setelah sampai rumah dan setelah memarkirkan mobilnya, Zapata menggendong Sherly turun dari mobil sampai ke kamar layaknya pengantin baru.


Asisten rumah tangga mereka saling bisik berbisik mengosipi majikannya. Mereka ikut bahagia kalau rumah tangga majikannya adem ayem dan selalu romantis. Mereka juga berharap secepatnya akan mendengar tangisan bayi dirumah itu.


Guncangan hebat terjadi di dalam kamar Zapata. Sherly melenguh hebat saat Zapata dengan lihainya bermain di area-area sens*tifnya. Tubuh proporsional Zapata yang basah karena keringat makin seksi di mata Sherly. Wanita itu semakin terpacu untuk membalas perbuatan suaminya yang pandai mem*askannya.


Pukul 03.00 pagi, Sherly memutuskan untuk mandi tepat setelah permainan mereka usai. Berbeda dengan Zapata yang memilih untuk wudhu saja dan mandi sebelum subuh.


Setelah Sherly selesai mandi, Zapata menggeliat di tempat tidur. "Udah selesai mandinya?" tanya Zapata yang melihat Sherly masih menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya.


"Udah" jawab Sherly sembari mengumpulkan pakaian mereka yang berserakan di lantai.

__ADS_1


"Mau lagi Yank" rengek Zapata.


Sherly mendadak berkacak pinggang. "Yank, aku tau ya kalo nolak ajakan suami itu dosa. Tapi aku udah mandi, demi apapun Yank dingin banget meskipun mandinya pake aer hangat. Tetep aja pas keluar kamar mandi menggigil. Kamu ga kasian sama aku kalo harus mandi lagi? Udah-udah, ga ada ronde-rondean lagi. Pokonya kita tidur. Kamu besok harus bangun pagi, mau kerja"


__ADS_2