Caraku Menemukanmu

Caraku Menemukanmu
Sulit Kuterima


__ADS_3

Dua orang tersebut habis-habisan mengerjaiku, tapi aku tidak marah karena aku tahu semua hanya bercanda. Setelah kenyang, akhirnya Eko pamit kembali ke ruangannya yang berseberangan langsung dengan ruanganku.


"Bang, bangunan yang di samping ini baru ya?" tunjuk Sherly pada bangunan yang merupakan studio Puput. Sherly memang tidak tahu karena tidak datang ke acara perayaan semalam.


"Iya. Pengen liat kesana?" tawarku.


"Nggak ah" tolaknya lalu kembali duduk di sofa.


Akhirnya, sejak selesai makan siang itu aku kerja di temani oleh Sherly. Meskipun kehadirannya tidak membantu sama sekali, malah dia hanya sibuk mengutak-atik ponsel sambil sesekali tertawa.


"Sher" panggilku.


"Kenapa bang?" sahutnya tanpa mendongak ke arahku.


"Besok magang disini aja ya, bareng Puput"


"Masih lama bang" sungutnya.


"Iya, tapi 'kan yang penting udah ada jaminan kalo abang mau nampung kalian. Jadi kamu ga perlu sibuk cari-cari tempat asing, mending di perusahaan abang, dapet gaji"


"Emang iya?"


"Bukan gaji sih, tapi biasanya dari pihak keuangan anak magang dikasih uang transportasi. Karena kan udah bantu kerjaan di kantor ini"


"Emm, aku pikir-pikir dulu deh bang"


"Kok pikir-pikir dulu?"


Sherly tidak menjawab.


"Bang, udah sore. Aku pulang ya!?" Sherly menyalamiku dan langsung pergi dari ruanganku.


POV Zapata end

__ADS_1


•••


POV Sherly


"Masa iya gue harus magang ditempat yang sama dengan Puput. Maaf ya Bang Ta, aku ga bisa kasih tahu Bang Ta. Karena pasti Bang Ta juga belum siap atau bahkan ga akan pernah siap buat dengar info tentang Puput. Aku begini karena aku tahu Bang Ta cinta banget sama Puput, aku mau Bang Ta tahu sendiri. Aku ga mau ikut campur urusan kalian".


Aku menjalankan mobil perlahan keluar dari kawasan perusahaan Bang Ta. Sekali lagi, aku melihat ke tempat dimana gedung baru itu berada. Gedung itu sangat menarik perhatianku sejak kedatanganku kemari. Gedung yang hanya terdiri dari 4 lantai dan memiliki jembatan penghubung dengan gedung utama perusahaan Bang Ta, punya desain yang unik dan estetik. Sepintas dinding kaca besar di atasnya membuat gedung itu terlihat seperti sebuah hotel, namun di bagian bawah nampak seperti kantor biasa.


Kini aku sudah benar-benar keluar dari gerbang perusahaan tersebut. Gedung baru itu sudah tak nampak lagi.


Aku menjalankan mobil cukup pelan, sebab jalanan kini sudah mulai di penuhi kendaraan akibat sudah masuk jam pulang kerja. Sepanjang jalan yang penuh hiruk pikuk klakson dan bunyi mesin kendaraan tak memecahkan keheningan dalam kesendirianku di dalam mobil.


Aku termenung, ada perasaan hampa dalam diriku. Aku punya hewan peliharaan, aku punya orang tua, ponakan, mobil, tempat tinggal yang layak, tapi rasanya aku hanya seorang diri. Hidup ini rasanya datar sekali. Apa aku masih belum mengikhlaskan Tian? Apa jangan-jangan aku masih berharap? Oh, bukankah selama ini aku sudah tidak peduli lagi padanya. Bahkan dikampus aku selalu bertemu dengannya, dia selalu memperhatikanku, tapi aku selalu buang muka padanya. Terus kenapa? Kenapa aku belum juga bahagia? Bukankah ini yang aku mau, membalas kekejamannya padaku?


Aku sadar ini tidaklah baik, aku terus mendendam. Tuhan, aku sudah maafkan Tian. Hanya saja, untuk kembali berteman seperti sedia kala aku tidak bisa. Aku gapapa kalau dia memilih sahabatku, tapi caranya terlalu sulit untuk kuterima. Mereka menusukku dari belakang, mereka tidak memikirkan perasaanku.


Puput juga, jadi perempuan kok sama saja dengan Tian. Tak punya hati.


Apa kurangnya Bang Ta? Lelaki mapan, royal, pintar. Dia bisa saja mempermainkan Puput dengan modal fisik sempurna yang dia miliki, tapi malah Puput yang menurutku tidak tahu di untung. Sudah dicintai sebaik itu, malah kegatalan sama cowok lain.


Sedangkan aku? Perempuan biasa saja, hanya anak angkat, ya memang kedua orang tua kak Dinda itu kaya raya, tapi aku sadar diri, aku tetaplah orang biasa. Tidak ada yang bisa aku banggakan. Hanya berlampir-lampir kertas raport yang menunjukkan kalau aku selalu jadi peringkat pertama di sekolah. Tapi, Puput juga tak kalah pintar dariku.


"Kenapa tiba-tiba sakit sekali disini".


Aku menekan dadaku yang terasa sakit. Air mataku mulai tak terbendung. Ku hentikan mobilku dipinggir jalan, aku menjerit sekeras yang aku bisa.


"Haaaaaaaa. Kenapa tidak aku saja yang merebut Bang Ta dari Puput. Puput sudah terlalu enak hidupnya, terus kenapa dia yang merusak kebahagiaan aku. Apa yang kurang dari hidupnya? Kenapa Puput tega? Padahal Puput sudah sejahat itu sama aku, tapi aku masih aja terus-terusan memikirkan Puput seolah aku yang salah"


Aku berkali-kali meluapkan rasa kesalku dengan memukul-mukul setir.


"Aku kecewa sama Puput. Kenapa Puput tega sama aku? Aku salah apa?"


Jauh di dalam lubuk hatiku, aku sebetulnya tidak benar-benar benci pada Puput. Masih bisa aku memaafkannya, tapi begitulah. Sampai detik ini Puput tak pernah meminta maaf padaku. Kini rasanya, malah seperti akulah yang bersalah.

__ADS_1


Di kampus pun, malah dia yang lebih sombong daripada aku. Malah dia yang lebih jutek daripada aku. Kenapa bisa aku bersahabat dengan orang seperti itu.


Saat emosiku menggebu-gebu seperti saat ini, ingin rasanya putar balik, ngebut ke kantor Bang Ta demi bongkar kelakuan busuk Puput dibelakangnya. Tapi lagi-lagi, sisi baik dalam diriku tak sepenuhnya mengizinkanku untuk melakukannya.


Sejenak, aku berfikir.


"Kapan orang itu akan menikah? Bukankah sudah lama Bang Ta meminta Puput di depan keluarga besarnya? Tapi kenapa belum terlaksana juga sampai detik ini"


Aku menarik nafas dalam. Kembali kutancap gas menuju rumah Umar. Aku mau mengulik informasi dari Bang Nanda.


Sampai disana, Bang Nanda juga ternyata baru saja pulang ngantor. Kulihat ia sedang duduk di kursi depan sembari melepaskan kaos kakinya.


"Bang" sapaku.


"Kenapa Sher?"


"Mau nanya, kok Bang Ta gak nikah-nikah sama Puput?"


"Halah, kenapa gak nanya sama orangnya langsung?" ucap Bang Nanda seraya masuk kedalam dan aku mengekor dibelakangnya.


"Huft, mereka ga mau jawab" ucapku beralasan.


"Si Zapata dilarang nikahin Puput kalo belum 21 tahun"


"Siapa yang larang?" tanyaku.


"Undang-undang"


"Hm, pantesan ditunggu lama bener kok gak nikah-nikah. Ya udah Bang, aku pamit ya daaa"


"Eh Sher" Bang Nanda heran dengan aku yang datang tiba-tiba lalu pulangnya dadakan.


Sepanjang jalan kerumah, aku bersyukur Bang Ta nikahnya masih lama. Dengan begitu, ada kemungkinan Bang Ta akan tahu kelakuan Puput dibelakangnya.

__ADS_1


"Cepat selamatkan Bang Ta dari wanita ular itu ya Allah"


POV Sherly end


__ADS_2